"Euuuu …" pemuda itu bersendawa cukup keras, segera saja dia menutup mulutnya karena takut ada yang mendengarnya.
"Ahhh … enak sekali." ucap Langlang Cakra Buana sembari mengusap-usap perutnya.
Pemuda itu segera membayar biaya makanya, dia ingin cepat-cepat menuju ke rumah kepala desa setempat untuk menggagalkan aksi kejahatan yang sudah direncanakan oleh dua orang pendekar tadi.
"Berapa bi?" tanya Langlang kepada pemilik kedai.
"10 keping perak den," ucap pemiliki kedai tersebut.
"Ini," Langlang Cakra Buana memberikan 10 keping perak sebagai bayarannya.
Terimakasih den," jawabnya sembari membungkuk sedikit ketika menerima bayaran.
"Bibi, dimana rumah kepala desa ini?" tanya Langlang Cakra Buana.
"Aden tinggal lurus dari sini, lalu belok kiri, lurus lagi terus belok kanan. Disana ada rumah paling besar, itu rumah kepala desa," kata pemilik kedai tersebut.
"Baiklah terimakasih bi. Sampurasun," ucap Langlang seraya berpamitan untuk pergi.
"Rampes." jawabnya.
Dengan segera Langlang Cakra Buana menuju ke rumah kepala desa. Hanya perlu waktu sebentar saja dirinya sudah tiba di rumah yang cukup besar, halaman rumahnya juga lumayan luas. Langlang Cakra Buana naik ke atas pohon untuk memantau situasi didalam sana.
Didalam rumah kepala desa …
"Mana upeti untuk kami?" bentak kedua pendekar tadi dengan nada tinggi kepada kepala desa.
"Am-ampun tuan, baru beberapa hari lalu kami sudah memberikan upeti kepada petugas kerajaan," kata kepala desa dengan ketakutan.
"Aku tidak mau tahu, cepat berikan!!!" dua orang pendekar itu menggertak kepala desa dengan nada lebih tinggi.
"Sungguh tuan, kami sudah menyetor kepada kerajaan," ucap kepala desa memohon kepada dua pendekar tersebut.
Tapi meskipun sudah memohon ampunan, tetap saja dua pendekar itu berlaku kasar. Bahkan mereka mendorong kepala desa yang sudah berumur itu hingga terjatuh, keduanya lalu mengobrak-abrik dan mencari harta yang mungkin bisa mereka bawa.
Tak lama, dari dalam kamar rumah itu keluar seorang gadis cantik yang umurnya kira-kira sekitar 19 tahunan. "Ayahh .…"
Gadis itu berlari ke arah ayahnya sembari menangis, dia segera membantu ayahnya untuk berdiri dengan benar.
"Siapa kalian? Mau apa? Tolong … tolong," teriak gadis itu dengan harapan ada orang yang akan menolongnya.
Melihat ada seorang gadis cantik, tiba-tiba saja naluri untuk mencicipi gadis cantik itu muncul di benak kedua pendekar. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan harta berharga lainnya, yang terpenting adalah gadis cantik yang ada didepannya saat ini.
Karena sekarang Langlang Cakra Buana selalu menggunakan Ajian Sapta Panguru, pemuda itu segera mengetahui apa saja yang terjadi di dalam rumah kepala desa.
Karena mendengar dan mengetahui langkah yang akan dilakukan dua pendekar tadi, dia langsung segera turun dari pohon dan dengan segera masuk ke dalam rumah.
"Hentikan!!! Dasar iblis," Langlang Cakra Buana langsung geram saat melihat aksi mereka yang kini sedang membaringkan seorang gadis cantik dan bersiap untuk menyetubuhinya.
Kedua pendekar itu terkejut bukan main ketika menyadari ada seorang pemuda berpakaian pendekar serba putih. Mereka dengan buru-buru membetulkan celananya yang sedikit sudah melorot.
"Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusanku," kata salahseorang dari mereka dengan marah.
"Aku Langlang Cakra Buana, Pendekar Maung Kulon, cepat pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!" ucap Langlang Cakra Buana mencoba mengancam mereka.
"Sombong sekali kau bocah. Kau pikir kami takut?" ucapnya.
"HIYAA …"
Keduanya langsung menyerang Langlang Cakra Buana secara bersamaan. Pemuda itu langsung membawanya keluar rumah, halaman rumah yang luas itu akhirnya menjadi ajang pertarungan seorang pendekar muda.
Kedua pendekar itu kini terus menyerang Langlang Cakra Buana dengan jurus-jurus silat yang dimiliki. Tapi dengan mudah pemuda itu bisa menghindarinya, puluhan jurus sudah berlalu tapi belum ada yang terpojok.
Langlang Cakra Buana tak mau diam, dia kini mulai menyerang balik kedua pendekar itu. Pendekar Maung Kulon itu mulai mengeluarkan jurus silat yang tercantum didalam Kitab Maung Mega Mendung.
Pertarungan yang cukup sengit itu bertahan cukup lama, hingga akhirnya Langlang Cakra Buana mengeluarkan ajian yang baru dia miliki sekaligus ingin mencobanya, yaitu Ajian Dewa Tapak Nanggala.
Langlang Cakra Buana terus menyerang tanpa henti dengan mengkombinasikan Ajian Dewa Tapak Nanggala dan jurus Harimau Mengejar Mangsa.
Gerakan tangan dan kakinya terus mengejar kemanapun musuh menghindar, gerakannya cepat dan tajam. Hingga pada akhirnya salahsatu dari mereka terkena tapak milik Pendekar Maung Kulon itu.
"Ahhh …" mati.
Salahsatu dari mereka terpental beberapa meter karena kerasnya tapak Langlang Cakra Buana. Dia mengeluarkan darah segar dari mulutnya sebelum akhirnya tewas dengan lidah terjulur keluar.
"Kadal buntung, rasakan ini …"
"HIYAA …"
Pendekar yang tersisa kembali menyerang Langlang Cakra Buana, gerakannya kini berbeda dengan sebelumnya. Sekarang setiap gerakan dialiri tenaga dalam yang besar.
Langlang Cakra Buana pun tak tinggal diam, dia terus menangkis dan menyerang balik musuhnya. Adu pukulan dan tenaga dalam terus terjadi, karena dilanda emosi, pendekar itu gerakannya kini menjadi tidak karuan.
Tentu saja hal ini menguntungkan Langlang, dia dengan segera menggunakan Ajian Dewa Tapak Nanggala kembali untuk mengalahkan mushhnya. Dan …
"Ahhh …" mati.
Pendekar itu tewas menabrak benteng halaman rumah, dia tewas dengan beberapa tulang rusuk patah. Terlebih dagunya hancur karena terkena Ajian Dewa Tapak Nanggala.
Melihat pertarungan sudah selesai, gadis cantik yang merupakan anak dari kepala desa langsung menghampiri Langlang Cakra Buana dan segera berterimakasih.
"Terimakasih kakang sudah menolong kami, perkenalkan aku Sri Ayu," kata gadis itu berterimakasih dan memperkenalkan diri.
"Sama-sama Sri. Perkenalkan aku Langlang Cakra Buana, aku mohon pamit." kata Langlang, tak lama dia langsung pergi dari tempat itu.
Sri Ayu hanya bisa melihat kepergian pemuda tampan yang barusan menolongnya. Mulutnya tidak berkata, tapi hatinya sangat terkagum-kagum melihat pendekar tanpa pamrih itu.
"Ayah tidak papa?" tanya Sri Ayu kembali menghampiri ayahnya.
"Tidak Sri, siapa pemuda tadi?" tanya ayahnya.
"Dia mengaku bernama Langlang Cakra Buana, tapi setelah aku berterimakasih pemuda itu langsung segera pergi," jawab Sri Ayu.
Setelah merasa kondisinya sudah membaik, kepala desa dan anaknya itu mulai membereskan barang-barang yang tadi berserakan karena dua pendekar tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
nggambleh
tiap ketemu lawan jarak kekuatan ky nya gk beda jauh siapapun lawan nya
2024-12-02
0
KuPenjahatUsil
Jangan terlalu banyak complain pada autor. Seharusnya banyakkan beri saran2 yg membuat cerita lagi menarik dibaca. Teguran biar berasas dan berhemah dan membantu. Senang cerita kaki complain cuba buat cerita sendiri yg rasa lebih hebat... 😬
2023-06-05
0
Jidan geming Geming
,,
2022-11-01
1