Setelah melihat pendekar yang selama ini meresahkan penduduk setempat tewas, mereka bersorak-sorai sangat gembira karena sekarang tidak akan ada lagi pendekar yang meminta jatah.
Sebenarnya pendekar Setan Kembar sudah cukup lama melakukan hal serupa, sudah ada beberapa pendekar pendatang yang mencoba untuk membunuhnya. Tapi sayang, dari semua pendekar tidak ada yang bisa mengalahkan ataupun membunuhnya, yang ada malah para pendekar pendatang yang tewas ditangan Setan Kembar.
Perwakilan dari penduduk setempat menghampiri Langlang Cakra Buana, dia berniat untuk berterimakasih sekaligus memberikan imbalan atas jasanya karena berhasil membunuh Setan Kembar.
"Terimakasih pendekar muda, akhirnya ada juga pendekar yang bisa membunuh Setan Kembar. Paman mewakili warga Desa Pangarengan benar-benar berterimakasih. Kami harap pendekar muda sudi menerima imbalan dari kami," kata salah seorang warga setempat mewakili yang lainnya dengan menaruh rasa hormat.
"Ahhh … tidak paman, aku tidak berhak mendapatkan semua imbalan ini. Kebetulan aku memiliki perbekalan yang cukup, bagiku menghancurkan keangkara murkaan diatas bumi adalah hal yang wajib. Jadi aku tidak mau menerima semua ini," balas Langlang Cakra Buana dengan ramah.
Bagaimanapun juga dia sudah berjanji kepada gurunya Eyang Resi Patok Pati, untuk menjalankan semua titah termasuk memberantas keangkara murkaan diatas bumi dengan ikhlas, bagaimana bisa dia menerima semua imbalan ini?.
Tapi meskipun Langlang Cakra Buana sempat beberapa kali menolak, para penduduk setempat tetap memaksa supaya pemuda itu menerima imbalannya.
"Jika pendekar muda menerima imbalan ini, sungguh kami merasa sangat dihargai. Ini murni dari hati kami tanpa ada sedikit paksaan ataupun lainnya," ucap perwakilan penduduk tersebut.
"Baiklah, jika paman terus memaksa. Aku akan menerima imbalan ini. Aku harap Sang Hyang Widhi selalu melindungi desa ini dari mara bahaya," kata Langlang Cakra Buana sembari menerima imbalan yang berupa satu kantong keping emas tersebut.
Setelah menerima imbalan dari penduduk setempat, Langlang Cakra Buana berniat untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Dia tidak jadi makan di kedai tadi karena takut menjadi perhatian orang-orang.
"Paman dan bibi sekalian. Aku mohon pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan, terimakasih untuk semuanya," kata Langlang Cakra Buana sembari membungkuk hormat.
"Hati-hati pendekar muda. Jaga dirimu baik-baik, kami tidak akan melupakanmu," kata salahsatu perwakilan penduduk sedikit berteriak.
"Baik paman, bibi. Sampurasun," ucap Langlang Cakra Buana.
"Rampes." jawab penduduk setempat secara serempak.
Selesai berpamitan, pendekar muda itu segera pergi meninggalkan Desa Pangarengan, dia langsung menggunakan ilmu Saipi Angin miliknya. Entah kemana tujuannya, dia sendiri bahkan tidak mengetahui.
Langlang Cakra Buana terus berlari dengan cepat, saking cepatnya pemuda itu benar-benar terlihat layaknya angin, hanya sekelebat-sekelebat saja yang terlihat, itupun harus dilihat dengan sangat teliti.
Selang satu jam kemudian pemuda itu telah sampai di sebuah hutan yang cukup rimbun nan luas. Suasana disana sangat sunyi sekaligus sedikit menyeramkan, suara binatang-binatang terdengar ramai, padahal saat ini masih siang hari.
Langlang Cakra Buana terus berjalan didalam hutan itu secara perlahan sembari memandangi sekelilingnya, di pinggir hutan tersebut ada sebuah sungai yang airnya cukup deras. Airnya berwarna hijau jernih, ada beberapa pohon bambu yang condong ke tepian sungai.
Cukup lama pemuda itu berjalan pelan sembari menikmati sejuknya udara dibawah suasana hutan yang mencekam, hingga akhirnya Langlang Cakra Buana mendengar suara dari kejauhan.
Dia mendengar seperti adanya pertarungan dengan menggunakan senjata, sebab beberapa kali dirinya mendengar suara yang terdengar nyaring ditelinga. Perlahan-lahan Langlang Cakra Buana mendekat ke sumber suara tersebut, dari jarak sekitar tiga puluh meter dirinya melihat ada dua orang yang sedang bertarung dengan sengit.
Yang satu merupakan seorang pendekar muda dan satu lagi seorang pendekar tua. Beberapa luka sudah terlukis di masing-masing tubuh pendekar itu, tapi yang paling parah adalah pendekar tua.
"Sudah kubilang menyerah dan lebih baik cepat kau beritahu dimana mustika itu!" pendekar muda tersebut berkata dengan nada tinggi kepada pendekar tua.
"Cuihh …" pendekar tua meludah kebencian ke tanah. "Daripada aku memberitahu dimana letak Mustika Kahyangan kepada manusia jahanam sepertimu, lebih baik aku mati saja." kata pendekar tua tetap teguh pada pendiriannya.
Karena pendekar tua tetap keras kepala, akhirnya mereka kembali melanjutkan pertarungan yang tertunda beberapa saat, Langlang Cakra Buana masih memperhatikan dibalik batang pohon saat ini.
Dia masih belum bertindak lebih jauh lagi, tapi menurut pendengaran dan penglihatannya pendekar muda itu seperti mencari-cari dimana letak sebuah Mustika tersimpan. Langlang Cakra Buana sendiri tidak tahu mustika yang dimaksudkan mereka.
Pertarungan sengit itu cukup lama, hingga akhirnya pendekar tua semakin terpojok karena luka di tubuhnya semakin banyak. Pendekar muda tersebut ingin segera mengakhiri pertarungannya, dia berniat untuk membunuh pendekar tua.
Tapi sebelum hal itu terjadi, Langlang Cakra Buana yang sedari tadi diam akhirnya turun tangan untuk membantu pendekar tua yang terpojok. Tepat sebelum pedang pendekar muda menebas kepala pendekar tua, Langlang Cakra Buana melesat dengan cepat dan menggagalkan pembunuhan tersebut.
"Siapa kau? Berani sekali ikut campur dalam urusanku," ucap pendekar muda ketika menyadari ada sosok pemuda yang umurnya tak jauh dia sendiri.
"Siapa aku itu tidak penting. Yang terpenting aku adalah malaikat kematian yang akan mengambil nyawamu karena telah berlalu kasar kepada orang tua," jawab Langlang Cakra Buana dengan wajah serius.
Pendekar muda tersebut semakin geram karena sosok pemuda yang beberapa tahun lebih muda darinya tetap bersikeras untuk ikut campur urusannya.
"Besar juga nyalimu, apa kau tidak tahu siapa aku? Perkenalkan aku Gatot Adikusuma, aku dijuluki Pendekar Tanpa Ampunan," kata pendekar muda itu memperkenalkan diri dengan sombong.
Dari nama julukannya saja sudah jelas, bahwa dia merupakan pendekar yang tidak mengenal kata ampun kepada siapapun. Pendekar Tanpa Ampunan berpikir bahwa saat dia memperkenalkan diri sosok pemuda yang ada didepannya saat ini akan ketakutan, sayang … yang terjadi malah sebaliknya.
"Aku tidak takut akan gelarmu, gelarmu bagus tapi jika tidak memiliki tata krama semua itu hanyalah sia-sia," kata Langlang Cakra Buana dengan tenang.
"Monyet buntung … jangan coba-coba menceramahiku heh … mati kauu."
Pendekar Tanpa Ampunan sangat geram ketika dirinya diingatkan oleh Langlang Cakra Buana, dengan segera dia menyerang pemuda itu. Serangannya dibarengi dengan kebencian, benci karena diceramahi dan benci karena orang lain ikut campur dalam urusannya.
Hingga pada akhirnya, pertarungan ditengah hutan pun tak terelakkan lagi. Kedua pendekar muda tersebut mulai bertarung bertukar jurus dengan ganas.
Gatot Adikusuma atau Pendekar Tanpa Ampunan terus menyerang Langlang Cakra Buana dengan memburu, dia mengincar bagian rawan musuhnya. Kakinya berkelebat kesana kemari, tanganya memukul dengan gerakan lumayan cepat.
Tapi di sisi lain, Pendekar Maung Kulong atau Langlang Cakra Buana masih tenang, pemuda itu belum terpojok sama sekali. Bahkan dia masih bisa menahan serangan lawan dengan mudahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
FHVTXYCJV
Langlang gk jadi makan????
🤭🤭🤭
2023-02-19
0
Iing Nasikhin
lurus banget jalan cetitaya dan polos
2023-01-03
0
akp
lanjut
2022-08-16
3