Tak terasa Langlang Cakra Buana sudah beberapa hari melakukan pengembaraan, kini pemuda itu sudah berada di kota yang berdekatan ibukota kerajaan.
Sebenarnya keadaan kota dan desa pada zaman ini tidaklah jauh berbeda, bedanya jika di kota penduduk sudah mulai padat. Banyak orang-orang berdagang di pinggir jalan, kedai makan, penginapan, dan lainnya sebagainya bisa banyak ditemui.
Sedangkan dikampung? Kampung pada zaman ini tak lebih dari seperti kondisi hutan, rumah penduduk masih jarang, jarak antar satu rumah ke rumah lain juga lumayan renggang, ditambah kurangnya perhatian pemerintah menjadi alasan tersendiri.
Karena hal itulah, para pendekar lebih memilih untuk membuka padepokan-padepokan silat mereka di kota. Selain karena kondisinya jauh lebih baik, para murid yang akan daftar juga dipastikan bisa lebih banyak beberapa kali lipat daripada di kampung.
Saat ini seorang pemuda tampan dengan tubuh berotot dan memakai pakaian pendekar serba putih sedang menyusuri kota itu secara perlahan. Benar, dia tak lain adalah Langlang Cakra Buana, dia berjalan santai seraya memperhatikan setiap sudut kota.
Kota yang dia datangi kali ini bernama Batu Lawang, kota ini diberi nama demikian karena tak lain pada zaman dahulu ada sebuah batu yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Batu itu berbentuk persegi panjang dan sangat mirip seperti sebuah pintu, karena itulah diberi nama Batu Lawang (Batu Pintu).
Langlang Cakra Buana sudah berjalan perlahan seperti itu cukup lama, dia berniat untuk segera mempercepat langkahnya. Tapi sebelum dia melakukan hal itu, tiba-tiba ada suara minta tolong dari salahsatu restoran setempat.
"Tolong … tolong … ada yang bertarung di tempat usahaku … tolong," suara teriakak penduduk setempat meminta tolong.
Mendengar suara teriakan itu, tanpa menunggu lama lagi Langlang Cakra Buana langsung melesat menggunakan Ajian Saipi anginnya menuju ke tempat sumber suara.
Hanya beberapa menit saja, pemuda itu sudah sampai di tempat asal suara tadi. Ternyata suara itu berasal dari sebuah penginapan. Disana tiga orang pendekar yang sedang bertarung sengit, meskipun pertarungan itu tidak berjalan dengan jumlah seimbang, tetapi kenyataannya pendekar yang di keroyok itu bisa mengimbangi lawannya dengan mudah untuk saat ini.
Disana terlihat ada juga para pendekar lain yang sedang melihat pertarungan tersebut, tapi anehnya tidak ada yang berani memisahkannya.
Karena penasaran, Langlang Cakra Buana lalu bertanya kepada seseorang untuk memahami situasi yang terjadi saat ini. "Sampurasun …" kata Langlang Cakra Buana kepada seseorang.
"Rampes …"
"Maaf paman, siapa ketiga pendekar yang sedang bertarung ini? Kenapa tidak ada yang memisahkannya?" tanya Langlang penasaran.
"Mereka bertiga adalah guru besar anak muda. Yang dua guru besar Padepokan Goa Neraka, dan yang satu lagi guru besar dari Padepokan Kuda Sembrani," kata orang itu menjelaskan.
"Hemmm … maaf paman, bisa paman jelaskan tentang dua padepokan itu? Aku belum mengetahui dunia persilatan secara luas," kata Langlang Cakra Buana meminta orang tersebut untuk menjelaskan tentang Padepokan Goa Neraka dan Padepokan Kuda Sembrani.
"Padepokan Goa Neraka adalah salahsatu padepokan besar aliran hitam. Sedangkan Padepokan Kuda Sembrani adalah aliran putih. Keduanya sama-sama kuat, apalagi Padepokan Kuda Sembrani terkenal dengan jurus tendangannya," kata orang tersebut menjelaskan kepada Langlang Cakra Buana.
"Hemmm … begitu ya. Terimakasih paman sudah mau menjelaskan," kata Langlang Cakra Buana.
"Sama-sama anak muda,"
Pertarungan itu masih saja berlangsung, padahal cukup lama juga mereka bertarung. Langlang Cakra Buana terkagum-kagum melihat jurus silat ketiga pendekar itu. Gerakannya sangat rumit untuk ditiru.
Guru besar dari Padepokan Kuda Sembrani terus menyerang dengan ganas, serangannya sangat mematikan. Terlebih tendangannya, dia sama sekali tidak kewalahan menghadapi dua guru besar dari padepokan aliran hitam sekalipun.
Sayang, namanya manusia sudah pasti ada lelahnya. Begitupun dengan guru besar dari Padepokan Kuda Sembrani, kini serangannya tidak sehebat tadi, bahkan secara perlahan dia mulai terpojok oleh kedua musuhnya.
Melihat lawanya mulai kelelehan, kedua guru besar aliran hitam semakin menyerang dengan brutal. Mereka mulai mengeluarkan jurus-jurus yang lebih hebat lagi. Sampai sejauh ini pun tidak ada yang berani memisahkan mereka. Orang-orang takut akan menjadi buronan nantinya.
Seiring berjalannya waktu, ketidakseimbangan dari pertarungan itu mulai terlihat. Hingga pada akhirnya …
"Ahhh …"
Sebuah luka sayatan pedang yang diberikan salahsatu guru besar Padepokan Goa Neraka terlukis di bagian dada kanan guru besar Padepokan Kuda Sembrani. Darah segar mulai keluar dengan deras, dia memegangi dan segera menghentikan darah yang terus keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Jidan geming Geming
,,
2022-11-01
1
Jidan geming Geming
,
2022-11-01
1
akp
sampai saat ini semua cerita hanya fokus pada membesarkan nama MC tanpa ada alur peristiwa apapun...
2022-08-16
2