Di Kerajaan Kawasenan …
Kerajaan Kawasenan dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana, raja itu bernama Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma, sedangkan istrinya bernama Ratu Kencana Wulan.
Mereka dianugerahi dua orang anak, yang pertama laki-laki dan diberi nama Mandala Jaya Dewata, sedangkan yang kedua adalah wanita dan diberi nama Rengganis Ratna Ayu. Umur mereka sekarang sekitar 22 dan 20 tahun, keduanya tumbuh menjadi sosok pria dan wanita yang berbudi pekerti luhur sebagaimana kedua orang tuanya.
Situasi di dalam Kerajaan Kawasenan tidaklah berjalan mulus, banyak masalah-masalah internal yang tidak diberitahukan kepada rakyatnya. Contoh misalnya tentang para pejabat yang melakukan korupsi dan lain sebagainya.
Selain itu, hubungan diplomatik antara Kerajaan Kawasenan dengan kerajaan tetangga lainnya tidaklah berjalan baik. Meskipun sudah beberapa kali negosiasi dengan tiga kerajaan tersebut tapi tetap tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Ketiga raja dari kerajaan tetangga tetap tidak mau bersatu dengan Kerajaan Kawasenan. Meskipun Kerjaan Kawasenan adalah kerajaan terbesar diantara keempat kerajaan yang ada di tanah Pasundan, tapi tetap hal itu tidak menyurutkan niat kerajaan lain untuk tidak mau bersatu.
Ditambah lagi, munculnya para tokoh-tokoh aliran hitam disemua penjuru tanah Pasundan menjadi masalah tersendiri. Dalam keadaan terpecah belah seperti sekarang, banyak para tokoh besar aliran hitam yang membuat sebuah padepokan silat untuk kemudian melakukan pemberontakan kepada pihak kerajaan dan tentunya melakukan kejahatan lain seperti merampok, menculik, dan lain sebagainya yang membuat situasi bertambah kacau balau.
Namun di sisi lain, para tokoh aliran putih juga membangun padepokan-padepokan silat guna membantu menghalau niat aliran hitam sekaligus nantinya akan menyalurkan murid-murid mereka untuk menjadi punggawa kerajaan masing-masing.
Menurut informasi yang diketahui, saat ini jumlah padepokan aliran putih di wilayah Kerajaan Kawasenan hanya sekitar dua padepokan saja, sedangkan padepokan aliran hitam berjumlah sekitar tiga padepokan. Bahkan, pendekar aliran hitam ataupun putih banyak yang tidak berasal dari sebuah padepokan, biasanya mereka yang seperti ini berlatih dengan guru ataupun eyang.
Jadi, tak heran jika pendekar yang tidak berasal dari padepokan bisa lebih kuat daripada mereka yang berasal dari padepokan, termasuk Langlang Cakra Buana adalah contoh pendekar kuat yang tidak berasal dari sebuah padepokan.
Tapi meskipun begitu, padepokan dari masing-masing aliran selalu melahirkan pendekar-pendekar yang mampu mengguncangkan dunia persilatan tanah Pasundan.
Terlebih mereka yang berasal dari aliran hitam, hal itu terjadi karena tak lain padepokan aliran hitam selalu menciptkan ajian baru yang dahsyat karena mereka biasanya bekerjasama dengan para dedemit.
###
Beberapa hari yang lalu Kerajaan Kawasenan mendapatkan suatu kabar baik, dimana tawaran raja kepada Eyang Resi Patok Pati untuk menjadi penasihat kerajaan diterima. Kabarnya kurang dari dua hari lagi Eyang Resi mulai bekerja membantu jalannya pemerintahan.
Tentu saja hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kerajaan Kawasenan, pasalnya karena mereka percaya dengan bergabungnya Eyang Resi Patok Pati maka akan mempermudah tujuan Prabu Ajiraga untuk menyatukan kerajaan.
Terlebih karena nama Eyang Resi Patok Pati sudah sangat terkenal di dunia persilatan, khusunya tanah Pasundan. Tidak ada yang tidak kenal kepada Eyang Resi Patok Pati, semua orang pasti mengenalnya.
###
Tak terasa begitu Langlang Cakra Buana kembali ke raganya hari sudah pagi, matahari mulai muncul dan memberikan sinarnya, meskipun masih malu-malu.
Suasana di Hutan Pasiraga masih sama menyeramkan seperti malam hari, hal ini tak lain karena hutan ini memang masih banyak ditumbuhi pohon beringin yang bahkan sampai seukuran dua lingkaran tangan orang dewasa.
Langlang Cakra Buana segera bangkit dari tempatnya, pemuda itu ingin segera melanjutkan perjalanan kembali. Terlebih saat ini perutnya sudah merengek terus minta diisi, Langlang Cakra Buana langsung melesat menggunakan Saipi Angin.
Setelah menggunakan Saipi Angin beberapa saat, pemuda itu kini telah sampai di sebuah desa. Desa itu cukup ramai, berbeda dengan desa-desa yang ada disekitar Hutan Pasiraga yang jarak dari rumah satu ke rumah lainnya cukup jauh. Sedangkan di desa ini rumah penduduk lumayan padat.
Langlang Cakra Buana berniat untuk singgah di kedai makan yang ada didepan sana. Kira-kira jaraknya hanya 50 meter dari tempat dia berdiri sekarang.
Tak perlu waktu lama, hanya beberapa saat pemuda itu sudah tiba di depan kedai yang dimaksud. Dengan segera dia memesan makanan kepada pemilik kedai tersebut.
"Bibi, aku pesan satu porsi makanan yang enak ya, kalau bisa nasinya ditambah," kata Langlang ketika memesan makanan.
Akibat kurang lebih dua hari tidak makan, pemuda itu benar-benar merasa kelaparan. Karena alasan itulah dia memesan makanan dengan porsi banyak.
"Baik den, sebentar ya …" kata pemilik kedai tersebut.
Suasana disana tidak terlalu ramai, paling hanya sekitar ada lima orang saja yang makan. Tapi menurut penglihatan Langlang Cakra Buana, tiga dari yang makan tersebut merupakan pendekar.
"Kakang, aku dengar kepala desa disini memiliki puteri yang sangat cantik. Bagaimana kalau kita mencicipinya, tapi sebelum itu kita harus meminta upeti seperti biasanya. Kalau kepala desa itu tidak memberikan upeti maka kita habisi saja dia," kata salah seorang temannya sembari menyeringai.
Meskipun mereka bicara dengan nada pelan dan hanya didengar oleh mereka saja, tapi lain ceritanya bagi pemuda bernama Langlang Cakra Buana. Setelah memiliki Ajian Sapta Pangrungu, pendengarannya kini sudah beribu-ribu kali lipat lebih tajam.
Langlang Cakra Buana masih tetap diam dan hanya mendengarkan rencana mereka untuk menculik dan meminta upeti kepada kepala desa. Dia ingin mengetahui rencana mereka lebih jauh lagi, tak lama makanan yang dia makan telah disajikan didepan mejanya.
Makanan itu bukan disajikan diatas piring ataupun lainnya, melainkan disajikan diatas tampir (nampan bulat dari bambu) yang sedang, lengkap bersama lauk, nasi, dan juga beberapa buah pisang ambon.
Tanpa menunggu lama, Langlang Cakra Buana yang sudah merasa kelaparan langsung saja memakannya dengan sangat lahap, dia tidak perduli keadaan sekitar. Tapi meskipun begitu, telinganya masih tetap tajam untuk mendengar rencana selanjutnya dari para pendekar tadi.
###
Kalau ada saran dan kritik silahkan sampaikan di kolom komentar dengan bijak ya😁🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Bayu
masuk
2023-12-24
0
Jidan geming Geming
,,
2022-11-01
1
Jidan geming Geming
,
2022-11-01
1