Setelah beberapa jam menggunakan Saipi Angin, kini Langlang Cakra Buana sudah cukup jauh dari tempat tinggal Wijaya. Tapi yang dia temukan tetap hutan dan hutan, paling hanya ada beberapa rumah warga saja disana. Itupun dalam jarak tertentu.
Karena memang kondisi saat ini belum banyak rumah penduduk, paling hanya beberapa rumah saja, lalu dipisahkan kembali dengan hutan dan begitu seterusnya. Bahkan saat ini belum ada lampu, yang ada hanyalah penerangan dari obor ataupun lampu minyak tanah.
Saat ini Langlang Cakra Buana sudah sampai di sebuah hutan, hutan itu lebih menyeramkan daripada hutan sebelumnya. Terlebih karena sekarang sudah tengah malam ditambah hujan gerimis.
Hutan itu bernama Hutan Pasiraga, dinamakan Pasiraga karena menurut cerita nenek moyang zaman dahulu, kelak suatu saat nanti hutan itu bisa berjalan sendiri seperti mempunya nyawa. Memang dahulunya hutan itu sebuah keramat tempat bersemedi para pendekar.
Langlang Cakra Buana terus menysuri hutan dengan santainya, tak lupa pemuda itu juga meminta izin kepada para penghuni setempat karena takut ada yang keganggu akan kehadirannya.
"Sampurasun, permisi kakek, nenek, eyang, dan semua yang ada disini. Terkhusus bagi kalian yang tidak bisa terlihat oleh mata lahir, perkenalkan nama saya Langlang Cakra Buana. Saya berniat untuk melewati hutan ini, mohon maaf kalau ada yang tersenggol," kata Langlang Cakra Buana seperti sedang bicara bersama seseorang, padahal disana jelas tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya.
Hal itu dia lakukan karena tak lain menurut Eyang Resi Patok Pati, kita haruslah berlaku sopan walau di mana pun berada. Terlebih ketika melewati tempat-tempat yang dirasa angker, karena menurutnya yang hidup di muka bumi ini bukanlah binatang dan manusia saja. Melainkan ada juga para makhluk ghaib lainnya baik yang dapat dilihat oleh mata batin maupun yang tidak.
Dugaan Langlang Cakra Buana tidak salah, tak lama setelah dia selesai berucap demikian tiba-tiba saja ada angin besar yang mengarah kepadanya. Langlang Cakra Buana menutup wajahnya dengan sikut tangan, lalu tak lama dia disuguhkan dengan pemandangan yang baru pertama kali dia lihat.
Tepat didepannya saat ini ada seekor kucing hitam yang sangat besar, kucing tampak memperhatikan ke arah Langlang Cakra Buana dengan tatapan mata yang tajam.
"Mau kemana kau anak muda?" tiba-tiba kucing hitam itu bicara layaknya manusia.
Langlang Cakra Buana yang melihat kejadian ini awalnya cukup terkejut, tapi dengan segera dia memahami situasi. Dengan tenang pemuda itu segera menjawab, "perkenalkan namaku Langlang Cakra Buana eyang, aku numpang lewat saja disini. Aku berniat untuk mencari sebuah desa untuk sekedar singgah sebentar," kata Langlang Cakra Buana dengan sopan.
"sekarang bukan bagian manusia yang berkeliaran, sekarang bagian kami. Lebih baik kau cepat pergi dari sini. Aku penguasa hutan ini," kata kucing hitam yang mengaku sebagai penguasa Hutan Pasiraga.
"Tapi … aku sudah terlanjur eyang, sungguh … aku tidak akan berbuat apapun. Aku hanya ingin numpag lewat saja," kata Langlang tetap menolak untuk kembali.
"Manusia keras kepala, jangan salahkan aku jika harus menggunakan cara kasar," kata kucing itu marah.
Dengan segera dia berniat untuk menyerang rangga dengan cakarnya yang sangat tajam, tapi sebelum kucinh hitam itu menyerang, tiba-tiba sesosok orang tua dengan pakaian serba putih muncul ditengah mereka.
Kucing hitam yang mengaku penguasa itu kaget bukan main, dia buru-buru hormat saat melihat orang tua tersebut. Langlang Cakra Buana pun mengikutinya lalu memberikan salam.
"Sampurasun eyang, mohon maaf kalau aku telah mengganggu istirahat eyang. Aku tidak bermaksud mencari keributan disini, aku hanya numpang lewat saja. Tapi eyang itu menahanku dengan sebuah alasan," ucap pemuda itu hormat.
"Tidak papa anak muda. Kau tidak salah, yang adalah kucing ini. Cepat minta maaf kepadanya," kata orang tua tersebut menyuruh kucing hitam untuk meminta maaf kepada Langlang Cakra Buana.
Kucing hitam itu pun tidak membantah, dia dengan segera menunduk dan meminta maaf kepada Pendekar Maung Kulon itu.
"Perkenalkan, nama orang tua ini Eyang Banu Raga, aku pemilik Hutan Pasiraga. Dan kucing ini adalah bawahanku, aku menyuruhnya untuk menjaga Hutan Pasiraga," kata orang tua itu memperkenalkan diri.
"Baik eyang, perkenalkan aku Langlang Cakra Buana, murid dari Eyang Resi Patok Pati," kata Langlang.
"Baiklah, sebenarnya kemana tujuanmu? Kenapa kau malam-malam begini tidak istirahat?" tanya Eyang Banu Raga.
"Aku berniat untuk melakukan pengembaraan eyang. Aku mendapatkan titah dari guruku untuk menghapuskan keangkara murkaan diatas bumi, sekaligus berjuang untuk menyatukan kerajaan di tatar Pasundan," Langlang Cakra Buana menjelaskan tujuan dan niatnya kepada Eyang Banu Raga.
"Niat yang sungguh mulya, mari ikut ke alam eyang. Eyang akan memberikan bekal untukmu," kata Eyang Banu Raga mengajak Langlang Cakra Buana menuju ke suatu tempat.
"Baik eyang." jawabnya.
Eyang Banu Raga langsung mendekati Langlang Cakra Buana dan segera memegangi pundaknya. Pemuda itu hanya memejamkan matanya, dia tidak tahu dibawa kemana. Yang jelas, dirinya merasa kini telah dibawa dan berada ditempat yang asing.
###
Mohon maaf jika novel ini benar-benar bernuasa zaman dahulu, sebab nama yang author gunakan konon memang pernah ada dan dipercaya di desa-desa tertentu, terlebih di daerah author sendiri.
Kenapa author mengangkat novel bernuansa jadul seperti ini? Karena warisan budaya kita ini sangat kaya, dalam hal ini ilmu silat dan sejenisnya ya. Selain itu, author juga berusaha menyampaikan bahwa setiap nama yang ada di nusantara biasanya mengandung makna tersendiri.
Semoga sesuai dengan selera kalian ya, novel fantasi nusantara juga tak kalah hebatnya dengan fantasi China. Tinggal bagaimana penyampaian dan penulisannya saja😁🙏🙏
Jika da kritik dan saran silahkan disampaikan dengan bijak ya😁janhan lupa like dan votenya😁🙏
Salam manis☕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 380 Episodes
Comments
Wan Trado
ya iyalah ga ada lampu, ini cerita settingnya jaman kerajaan kaann.. 🤔
2024-12-08
0
Johan Gunadi
tapi novelnya banyak yang ngak tamat,kalu kato wong kami nanggung nian cerito tu
2024-01-27
0
Roni Sakroni
mantap thor novel Nusantara juga banyak yang bagus
2024-01-25
0