#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"He!" seru Jel kepada Haz dan Whisk yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Oh, Jelkesya," Haz menyapa. Dia tidak terkejut sama sekali dengan seruan Jel. Pria di seberangnya pun sama.
"Alkaf menyuruhku mengatakan kepada kalian untuk membuatkan vanilla latte," ujar Jel.
"Tidak ada lagi, Nona. Dia telah menghabiskan bungkus terakhir tadi sekitar jam dua subuh subuh setelah kalian pulang ke apartemen kalian sendiri," Whisk berkata tanpa melihat ke arah Jel. Dia sibuk dengan Americano racikannya.
"Oh, astaga. Ya sudah, sebentar. Aku akan bertanya kepadanya dia menginginkan apa," ujar Jel seraya membuka lock-screen ponselnya.
~
Jel: Alkafff...
Jel: Tidak ada vanilla latte lagi!
Jel: Kamu lupa membelinya ya?
Jel: Ingin diganti dengan apa?
Jel: Atau kamu ingin jasmine tea?
Jel: Balas!
Pesan terkirim.
Alkaf: Americano?
Jel: Oh, ada.
Jel: Mau Americano?
Alkaf: Ya, itu saja.
Alkaf: Jangan terlalu banyak gula.
Alkaf: Kalau bisa pakai creamer saja.
Jel: Okay!
Pesan dibaca.
~
"Kata Alkaf dia ingin Americano dengan creamer tanpa gula," ucap Jel.
"Bagaimana dengan kamu sendiri? Apa yang kamu inginkan?" tanya Whisk.
"Teh manis," jawab Jel singkat. "Baiklah. Aku akan bergabung dengan Alkaf dan Andrian di balkon. Cepat datang ya!"
Jel menghilang dari dapur.
Suasana di dapur begitu hening. Tidak ada orang yang membuka suara. Hanya terdengar dentang-denting peralatan yang saling bertubrukan. Antara gelas, sendok, dan hal yang dibuat oleh Whisk. Antara wajah teflon, adonan pancake, dan spatula yang digunakan oleh Haz. Hanya sebatas itu. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Jika mereka berdua membuka sebuah kafe, pastinya akan sukses besar. Mereka memiliki kemampuan unik tersendiri dalam melakukan sesuatu.
Namun, setiap kali Haz memasak dan akan menghidangkan sesuatu, dia selalu saja dihantui oleh masa lalunya. Mengingat bagaimana Ric memperlakukannya di hadapan teman-temannya, itu sungguh membuatnya trauma!
Flashback...
"Ayo pakai ini!" Ric memberi Haz sebuah pakaian maid ala kafe Jepang.
Haz menggeleng tegas, menolak permintaan Ric. "Untuk apa aku memakainya? Ric, apa yang ingin kamu lakukan?"
Haz sudah merasakan firasat buruk saat Ric mengatakan dia ingin membawa Haz ke rumahnya.
"Oh ayolah... Aku hanya ingin melihatnya," ucap Ric.
"Tidak! Aku bilang tidak mau. I'm out!" Haz ingin membuka pintu di hadapannya. Namun pintu tersebut tak bisa terbuka.
"Kunci pintu tersebut adalah sidik jariku, honey. Kamu tidak akan bisa membukanya tanpa sidik jariku," kekeh Ric geli melihat aksi Haz.
Grrr... Ternyata benar kata Rika, kakak perempuan Ric. Aku seharusnya tidak menyukai adiknya yang seperti mafia ini! ucap Haz menyesal dalam hati.
"Apa yang kamu inginkan Richard?" tanya Haz enggan.
"Gampang sekali. Kamu memakai baju ini, kamu pergi ke dapur dan memasakkan sesuatu untuk makan siangku," kata Ric enteng.
"Apa maksudmu memberikanku sebuah baju seperti ini? Ini terlalu vulgar!" hardik Haz. "Kamu anggap aku apa?"
"Loh? Aku kan hanya ingin melihat kamu memakainya. Apakah pacarmu ini salah?" tanya Ric. Pria tersebut melempar baju ke atas sofa. "Itu terserahmu sih. Kamu memakai ini, melakukan hal yang kusuruh, lalu aku akan melepaskanmu dari kamar ini. Atau kamu memilih tinggal di kamar ganti ini bersamaku dan ke depannya tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Iblis!" seru Haz.
"Kamu mencintai iblis ini, bukankah begitu?" ujar Ric gampang.
Akh! Sialan! Ponselku juga ditahan olehnya. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia bermacam-macam? Haz menatap tajam ke arah Ric.
"Baiklah. Aku akan memakai setelan itu dan melakukan apa yang kamu katakan. Setekah itu, jangan aneh-aneh lagi," Haz memilih keputusan pertama pada akhirnya.
"Oh tentu saja," Ric menunjuk ke arah setelan yang menurut Haz menjijikan tersebut.
Haz mau tak mau mengambil setelan pakaian tersebut, lalu masuk ke dalam salah satu bilik ganti. Kediaman Vinzeliuka sudah seperti sebuah mal. Sangat besar dan megah. Bahkan ruang makan sendiri pun ditata seperti restoran.
Haz benci mengakuinya, namun karena dia juga anak orang kaya, dia tidak begitu menyukai kekayaan, tapi dia harus menyukainya. Mengingat dia tumbuh besar di 'rumah' bersama Alkaf, ya dia jadi sedikit memiliki rasa penolakan terhadap 'kekayaan'.
Haz menatap pantulan dirinya di depan cermin sana. Oh astaga! Aku sungguh buruk memakai pakaian ini, Haz memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Dia lalu keluar dari bilik ganti.
"Oh, sudah? Nah, hal selanjutnya adalah pergi ke dapur dan memasakkan makanan untukku. Mudah sekali bagimu kan? Mengingat kamu berada langsung di bawah pengawasan Senior Alkaf di bagian dapur," kata Ric.
Tidak heran Ric tahu. Karena Ric juga sering mengunjungi 'rumah' Alkaf dulunya. Tapi, semenjak masuk SMA, dia menjadi jarang mengunjungi tempat tersebut, dikarenakan dia sibuk dengan urusan klub basket dan debut pertunjukan nyanyi solonya.
Haz mau tidak mau harus mengikuti perkataan Ric.
"Ini bagian dapurku," Ric bercicit.
Aku tahu, batin Haz. Dia sudah memperkirakan letak dapur dan bentuknya. Katakan saja dia seperti seorang peramal. Tanpa mengenal orang atau mengunjungi sebuah tempat, dia akan langsung tahu nama orang atau letak serta bentuk tempat tersebut.
"Silahkan menebak kesukaanku," Ric meninggalkan Haz seorang diri di sana. Tidak tampak pelayan-pelayan rumah tersebut ada dimana.
Sepi sekali. Aku menebak rumah ini sebentar lagi akan menjadi rumah bersejarah keluarga Vinzeliuka, batin Haz.
Apa yang kupikirkan? Aku harus segera menyiapkan apa yang diminta Ric dan segera keluar dari sini! seru Haz pada dirinya sendiri.
Jujur saja, aku tidak pernah tahu apa yang disukai oleh Ric. Dia pria yang aneh. Dia mengatakan dia menyukai semua yang kusukai. Namun, tidak sepenuhnya pernyataan itu benar, Haz menghela nafas panjang memikirkan hal tersebut. Gadis remaja itu benar, Ric tidak bersungguh-sungguh menyukai apa yang disukainya. Dia hanya mengatakannya saja. Kebenaran? Siapa yang tahu.
Melihat tipe orang seperti Ric, aku yakin sekali dia menyukai makanan ala Barat. Namun, itu juga tidak sembarangan. Mengingat di benua Eropa dan benua Amerika juga memiliki perbedaan yang mendalam. Salah satunya pada bahan bumbunya. Makanan di Eropa lebih condong memakai rempah-rempah seperti di Asia. Meski nasi bukanlah makanan pokok mereka, namun tetap saja beberapa rempah pasti dimasukkan ke dalam untuk memperkuat rasanya. Sepertinya Ric tidak akan begitu menyukainya, Haz membuka pintu lemari es dan melihat ke dalam isinya.
Di Amerika, orang-orang sering memakan makanan yang gurih. Tapi, maaf kata termasuk junk food. Itu sesuai dengan kriteria, mengingat Ric suka sekali membeli burger ketika dia hang-out di kawasan elite ibukota provinsi, Haz ragu ingin memilih fish dish yang disulap ala makanan Eropa, atau meat dish yang disulap ala Amerika.
Haz menutup pintu lemari es, lalu memikirkan apa yang akan dibuatnya baik-baik. Haz memang mempelajari hal tersebut dari Alkaf. Kata pria berkacamata: "Ingat Hazelia Lify, tidak semua orang memiliki kriteria suka 'memakan segala hal' seperti ehem... Alm. Ibundamu. Tapi, kriteria orang berbeda-beda. Terlihat dari makanan keseharian dia. Apa yang dia pilih, dan apa yang membuat ekspresinya merasa jijik akan suatu makanan. Saat memasakkan sesuatu kepada seseorang, kamu harus memilih kriteria yang sesuai dengan lidahnya. Itu akan sedikit menampilkan kharisma."
Baiklah, aku akan memilih meat dish saja. Mengingat Ric terkadang mengeluh soal ikan yang amis dan sayuran yang tidak cocok dengan lidahnya, Haz akhirnya memilih makanan yang di-serve dengan daging. Haz membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebungkus daging sapi yang dibalut plastic wrap dengan rapi.
Sekarang aku tinggal menentukan tingkat kematangannya. Ric pernah pergi ke Amerika Serikat, tepatnya kota New York. Di sana, dia pasti telah hanya mencoba dua jenis masakan daging: half-raw dan cooked. Half-raw memiliki kesan untuk memastikan kualitas keaslian daging. Sedangkan cooked memiliki kesan gurih serta lembut saat dicicipi. Sepertinya, aku harus memastikannya sendiri, mengingat aku tidak terlalu suka daging karena sudah lama bervegetarian, Haz memakai sarung tangan plastik yang tersedia di dapur rumah Ric. Dapur itu terlalu besar untuk dirinya sendiri, namun dia tetap memperlakukan layaknya dapur di 'rumah' Alkaf.
Setelah beberapa saat...
Haz membawa sepiring steak yang dimasak ¾ matang. Dia tahu Ric akan menyukai hal tersebut mengingat dirinya pernah mengunjungi Amerika Serikat.
Perasaan Haz sedaritadi sudah tidak nyaman. Dia merasakan hal yang sangat buruk akan menimpanya. Dugaannya diperkuat saat dia memasuki ruang makan keluarga Vinzeliuka. Ric tidak sendirian di sana, ada teman-teman satu sekolahannya, termasuk Jel, dan beberapa anak siswa dan siswi dari sekolahan lain yang merupakan sahabat akrab dari Ric.
Ric terkekeh mengejek melihat Haz yang datang.
Tangan Haz sudah gemetar, menahan rasa marah dan malu. Sialan... Sialan... Sialan... Sialan... Sialan... Dia merapalkan kata-kata tersebut bagaikan sebuah mantra.
"Perkenalkan, maid baruku!"
Haz langsung membanting pecah piring kaca di tangannya setelah Ric selesai mengucapkan kata-kata tersebut. Semua orang tentunya kaget dan langsung menatap ke arah Haz. Wajah gadis remaja itu sudah merah padam. Menahan air mata, rasa malu, dan juga kemarahannya.
Jel yang melihat hal tersebut, sigap naik pitam. Dia menggebrak meja di hadapannya, lalu mengambil segelas air putih di tangannya dan mendatangi Tuan Rumah.
Orang-orang sudah berbisik sana-sini, ada yang terkekeh, ada yang tertawa mengejek, namun juga ada yang diam saja—menganggap itu adalah sebuah penghinaan, bukan lelucon. Yang lebih parahnya lagi, ada yang memotret Haz.
Jel menumpahkan air putih di gelas tepat di wajah Ric. "SIAPAPUN YANG BERANI MENGUSIKNYA, ITU BERARTI INGIN MENYATAKAN PERANG DENGANKU!"
Tak puas hanya membasahi Ric, Jel bahkan membanting pecah gelas dan menampat pipi kanan Ric. "INGAT ********! JANGAN PERNAH LAGI KAU MENGANGGU SAHABATKU, JIKA KAU INGIN MENGGANGGUNYA, LANGKAHI DULU MAYATKU!"
Jel mendatangi Haz, lalu memakaikannya jaket. Ukuran tubuh Haz dan Jel tidak terlalu beda jauh. Orang-orang sering menyebut mereka "Serupa Namun Tak Sama", karena kedekatan mereka berdua sudah bagaikan kembaran.
" Ada apa ribut-ribut?" Kedua kakak perempuan Ric, Rika dan kembarannya Riko turun kw bawah. Melihat Haz sudah menangis.
"Ric!!! Apa yang kau lakukan ha?!" teriak Rika.
Riko sendiri tidak berkata apa-apa dan hanya menatap ke arah adiknya yang tidak tahu malu tersebut.
"Mulai saat ini, aku, Liulaika Jelkesya, tidak akan menganggap keluarga Vinzeliuka sebagai saudaraku lagi! Lihat saja kalian. Mau dimanapun bertemu tidak akan pernah kuanggap," Jel menyatakan perang dengan tatapan dingin.
Rika dan Riko mengejar Haz dan Jel. Terutama untuk membujuk Jel untuk tidak memusuhi mereka. Jel adalah insan yang sangat keras dan tegas. Sekali berkata begitu, selamanya akan dilakukannya.
"I'm out!" kata Galih—Gal—salah satu sahabat Ric, dari sekolah lain. Merasa itu tidak pantas untuk dipertontonkan.
"Baby! Wait!" Florista atau Flo, pacar dari Gal berseru pada lelaki remaja tersebut. "Ini sungguh tidak pantas."
Beberapa juga pergi dari sana. Namun kebanyakan tinggal.
"Wah ini sih pertunjukan bagus! Nice, Ric! Mengingat seorang Hazelia Lify selalu mencari wajah di hadapan para guru. Hahaha!"
Flashback off...
Whisk merebut spatula dari tangan Haz. Pria bersurai merah menubruk tubuh wanita yang tengah tak fokus dan mematung, dengan lembut menggeser posisinya ke samping, menyadarkan wanita tersebut.
"Jika kamu memiliki trauma dengan dapur dan sebagainya, jangan dipaksakan. Wajahmu sungguh pucat sekarang. Pancake ini hampir saja gosong karena kamu memikirkan hal yang sungguh tak diperlukan!" Whisk membalikkan pancake. Untung saja tepat waktu sehingga pancake tersebut tidak jadi gosong dan harus dibuang.
Haz menepuk kedua pipinya. Astaga, Hazelia Lify, apa yang kamu pikirkan? Kamu harus sadar! Sekarang dia juga tengah menunggu kejatuhanmu untuk kedua kalinya! Kamu tidak boleh lemah seperti dulu!
"Maafkan aku... Aku..." Haz terdengar gagap.
"Diam, Hazelia Lify. Basuh wajahmu dan kembali bergabung bersama mereka. Urusan di dapur, serahkan kepadaku saja!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Arik Marselino
Dasar orang kaya bego Ric,,, seenaknya saja bersikap buruk sama orang,,,
2020-08-15
4
Kim Halia - Bye
Si Ric ini kenapa seh... Ada yang ga beres dengan tuh orang... Sumpah, bagus banget dijadiin karakter paling dibenci... Fakboi detected... Gemesshh...
2020-04-22
6