#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI PENDAPAT DAN PROFILE YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Jakarta, 10 April 2020
"Selamat pagi..."
Kali ini Whisk datang lagi. Entah apa yang diinginkannya, Haz juga tidak tahu dan tidak mau tahu.
Tidak seperti biasanya, hari ini Jel tidak membiarkan mereka berdua. Tentu saja karena Haz memintanya jangan meninggalkan mereka berdua di dalam! Haz merasa sangat canggung dengan keadaannya dan Whisk.
"Tidak menghindar lagi, Nona?" tanya Whisk pada Jel yang wajahnya cemberut.
"Apa sih?!" Jel terlihat sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil. Itu sering terjadi pada wanita setiap satu bulan sekali.
"Hazelnut, lagu-lagumu membantuku tidur," ucap Whisk keceplosan.
Haz dan Jel langsung menatap Whisk bersamaan. Lalu Haz menatap Jel, dan Jel menatap Haz.
"Apa? Ingin tahu mengapa aku tahu julukan kalian? Hazelnut dan Jelly?" tanya Whisk.
Ugh! Itu memalukan! seru Haz dalam hati.
"Darimana kamu tahu sesuatu yang bahkan tidak diketahui lebih dari tiga orang?!" tanya Jel setengah berteriak.
"Alkaf," jawab Whisk singkat.
"Apa?!"
Ditempat Alkaf...
"Hatchi!" Alkaf tiba-tiba saja bersin. "Sepertinya aku harus check-up apakah aku sudah kena virus itu atau belum."
Balik lagi...
"Bagaimana cara kamu mengenal Alkaf?" tanya Jel.
"Oh, itu mudah! Alkaf pernah bertanya tentang seseorang yang mengumpat dalam hatinya kepada pelayan wanita di Texas Chicken kemarin dan sekarang aku sepertinya tahu tersangka di sini..." Haz mengingat sesuatu tentang Alkaf yang menanyakan sesuatu padanya tempo hari.
"Ya, tidak malu mengakui, itu memang aku," Whisk mengangkat bahunya seakan merasa tak bersalah telah mengumpat pelayan wanita di Texas Chicken itu.
"Sepertinya pelayan wanita itu kehilangan pekerjaan dan harga dirinya karena umpatanmu," tebak Haz tepat sasaran.
"Tidak akan pernah malu mengakui, itu memang benar terjadi. Dia kehilangan pekerjaannya tempo hari karena menabrak teman Nyonya pemilik restoran cepat saji itu," sahut Whisk.
"Lalu, pertanyaannya adalah... Bagaimana bisa kamu mengenal Alkaf?" tanya Haz sambil memelototi Whisk tajam.
"Alkaf adalah seorang senior yang datang ke tempat ibadah kami. Dia memberikan ceramah tentang Perbedaan Agama. Sayangnya karena sebuah kasus, aku tidak bisa ikut-serta," jawab Whisk mengabaikan tatapan tajam Haz untuknya.
"Dia pasti menggoda pelayan itu kan... Awas saja dia," gumam Jel yang terdengar oleh Haz dan Whisk.
Haz dan Whisk lalu bertatapan. Haz memberi isyarat untuk memberitahu Jel sebuah kebohongan yang manis seakan mengatakan: Kasihan Alkaf sering sekali dimarahi olehnya. Whisk menangkap tatapan Haz, lalu menunjuk dirinya sendiri dan Jel: Aku? Memberitahunya? Haz memelototi Whisk tajam: Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu?!
"Apa sih kalian tatap-tatapan begitu? Sementang Alkaf tidak ada di sini," Jel menggembungkan pipinya, cemburu dengan Haz dan Whisk.
"Aku ingin konsultasi tentang insomniaku. Sekarang sepertinya membaik karena lagu-lagumu," ujar Whisk mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu bagus. Jadi, waktu tidurmu bertambah berapa jam?" tanya Haz.
Haz segera bangkit dari kursi meja kerjanya dan berjalan menuju Whisk yang sedang duduk di atas hospital bed.
"Waktu tidurku bertambah sekitar lebih kurang dua jam," jawab Whisk bangga yang langsung mendapatkan jitakan di kepalanya dari Haz.
"Itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan!" seru Haz kesal.
"Hei! Setidaknya ini adalah pertama kalinya aku tidur nyenyak setelah bertahun-tahun menghadapi insomnia akut!" Whisk menyeru balik dan mengelus kepalanya yang sakit karena jitakan maut Haz.
"Pria aneh..." celetuk Haz.
"Wanita barbar," balas Whisk.
"Aku setuju dengan Haz. Itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Haz pernah tidak tidur selama seminggu dan kemudian tidur hanya sekitar sejam lebih setelahnya. Kantung matanya bahkan lebih parah darimu! Tapi, lihat dia sekarang! Tidur bahkan tidak melebihi jam sebelas malam," oceh Jel.
"Tidak tidur selama seminggu? Dan tidur hanya satu jam setelahnya? Wanita macam apa dia hingga bisa melakukan hal semengerikan itu?" Whisk menatap Haz tidak percaya.
"Karena tugas yang diberikan. Dia tipe yang sangat rajin. Hari ini diberi tugas, besok sudah selesai," ujar Jel.
Whisk hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan tidak suka bersekolah! Belajar itu sungguh membosankan."
"Tapi, dalam menangani kasus tidak membosankan sama sekali ya?" ledek Haz.
"Tentu saja! Kasus dan tugas adalah dua hal yang berbeda. Aku adalah detektif konsultan. Bisa memilih client yang menurutku penting dan tidak penting. Itu kelebihannya menjadi seorang detektif konsultan seperti tokoh detektif buatan Sir Arthur Conan Doyle," balas Whisk.
"Bukankah kamu sedang menangani kasus beku dunia?" tanya Haz.
"Tepatnya Boy In The Box. Aku yakin kamu pernah melihat artikel tentang potongan tubuh bocah yang tak teridentifikasi ditemukan dalam sebuah kotak kardus. Itu cukup mengaduk isi perutmu," jawab Whisk.
"Bolehkah aku melihat ringkasan informasinya?" tanya Haz lagi. Dengan mata berbinar terlihat tertarik.
Whisk mengambil sesuatu dari tasnya yang berada di bawah kolong hospital bed. Setumpukan arsip-arsip yang belum sempat dirapikan dikeluarkan begitu saja dari dalam tasnya. Seperempat dari kertas-kertas itu ujungnya terlipat.
"Dasar tidak sayang informasi!" seru Haz.
Jel yang berada di sana hanya bisa mendengarkan ocehan mereka berdua. Dia tidak berniat keluar dari ruangan arau melakukan apapun. Perutnya sangat sakit sekarang.
Haz mengambil sebuah campus ukuran HVS dan sebuah mesin pencatok rambut. Dia menyalakan mesin pencatok rambut, lalu mencatok ujung-ujung seperempat kertas yang terlipat itu.
Whisk menggelengkan kepala melihat 'kreativitas' yang menurutnya aneh dan ajaib.
Haz merapikan arsip-arsip tersebut pada campus miliknya. Dari awal hingga akhir. Baginya tidak sulit untuk menemukan bagian yang teracak-acak.
"Ha! Begini lebih baik!" seru Haz.
"Kamu sungguh rajin, Nona," ujar Whisk.
"Menjadi seseorang itu harus rapi. Bagaimana caramu membaca kertas acak-acakan seperti itu?" Haz mulai membaca profile yang dibuat dalam kasus itu. Mungkin ditulis oleh beberapa profiler terkenal, namun tidak begitu lengkap karena Boy In The Box adalah kasus yang tingkat kesulitannya mencapai kelas S.
Bagaimana tidak? Siapa yang bisa mengidentifikasi mayat pada tahun 1957? Bahkan prototype untuk mengidentifikasi DNA saja belum ada! Disebut-sebut satu keluarga memutilasi anak mereka lalu memasukkannya ke dalam sebuah kardus dan meninggalkan kardus tersebut di daerah hutan di dekat Susquehanna Road, Philadelphia, Amerika Serikat. Kasus ini adalah kasus beku yang sangat sulit untuk dipecahkan, karena tidak ada kasus yang sama pada tahun itu. Bocah yang dibunuh juga masih berusia sekitaran enam tahun dan meski polisi sudah menyebarkan foto anak ini, tidak ada satupun orang yang mengaku mengenalnya.
Tahun 1957 belum ada alat pendeteksi sidik jari. Meskipun kasus ini dibuka kembali pada tahun 2020 dengan teknologi canggih sekalipun, sidik jari yang berusia 63 tahun tidak akan pernah ditemukan sama sekali. Juga DNA bocah tidak akan teridentifikasi dalam data, karena pastinya data-datanya sudah menghilang tidak ada jejak.
Sebenarnya teori yang paling menarik dari kasus ini adalah 'Teori Wanita Berinisial M'. "M" bersaksi pada polisi bahwa ia memiliki seorang Ibu yang sangat temperamen dan ibunya membeli (mengadopsi) seorang anak laki-laki dari keluarga kandungnya. Berdasarkan kesaksian "M", anak lelaki ini sering mengalami kekerasan fisik maupun seksual setelah diadopsi (dibeli) oleh Ibunya. "M" mengatakan bahwa anak itu telah tinggal di rumahnya selama kurang lebih dua setengah tahun. Lebih aneh lagi adalah kesaksian "M" nyaris sama seperti informasi yang berhasil ditemukan oleh polisi pada mayat bocah lelaki dalam kardus itu: Rambutnya yang barusaja dicukur, jemari tangannya yang mengkeriput seperti habis mandi, bahkan hasil autopsi yang menyatakan bahwa di dalam perut mayat bocah lelaki itu masih ada sisa kacang polong panggang. Apakah "M" merupakan seorang saksi yang menyaksikan pembunuhan itu? Atau "M" adalah pelaku pembunuhannya? Entahlah... Tidak ada yang tahu soal itu. Kasus ini menjadi kasus beku.
"Satu hal yang kupikirkan..." gumam Haz.
"Pasti kamu memikirkan "M" adalah pelakunya?" / "Aku rasa "M" adalah pelakunya," ujar Whisk dan Haz bersamaan.
Whisk dan Haz terkejut dan saling bertatapan.
"Aku juga memikirkan hal tersebut dari kemarin. Hal yang paling tidak bisa dihilangkan adalah bahwa ia merupakan saksi atas kekerasan fisik dan seksual bocah itu," kata Whisk datar.
"Kamu benar. Dan tidak mungkin juga seorang pembunuh akan memberikan kesaksian kecuali dia sangat nekat. Kasus ini sebenarnya bisa dipecahkan, polisi hanya tidak menyadari bahwa "M" memberikan kesaksian untuk melepaskan dirinya," Haz memberikan asumsinya.
"Sepertinya aku akan muntah mendengarkan pemikiran kalian berdua," potong Jel di sela-sela perbincangan seru mereka.
"Istirahatlah di ruangan sebelah. Aku sudah menyiapkan hospital bed di sana. Kamu terlihat pucat, Jel," Haz menyarankan.
Jel mengangguk, lalu segera menuju ruangan sebelah untuk beristirahat di sana.
"Tapi, setelah dipikir-pikir, bagaimana kalau dia adalah kunci satu-satunya saksi atas pembunuhan yang dilakukan?" tanya Whisk.
"Yang jelas dia adalah satu-satunya orang yang menjadi kunci kasus mutilasi yang satu ini. Sulit untuk tidak mencurigainya. Dugaan kita bisa saja benar ataupun salah," jawab Haz.
"Ini kasus yang terjadi enam puluh tiga tahun yang lalu, kasus ini benar-benar tidak ada jalan keluar selain wanita berinisial 'M' itu," sahut Whisk.
"Bagaimana dengan alm. Mr. Bristow? Investigator medis yang satu itu sedikit mencurigakan... Membela-bela untuk mengungkapkan kasus ini sampai akhir hayatnya. Bahkan menuduh seseorang di panti asuhan," celetuk Haz.
"Tidak ada yang mencurigakan darinya. Ia hanya merasa simpatik atas perginya bocah kecil itu. Dia berusaha mengungkap alasan di balik kematiannya karena dia adalah seorang investigator medis. Dia telah mengautopsi berbagai jenis mayat karena pembunuhan, namun untuk anak kecil, dia hanya pernah melakukannya beberapa kali, dan yang satu ini adalah yang paling parah," kata Whisk.
"Aneh... Apakah mungkin alm. Mr. Bristow juga mengetahui sesuatu di balik kasus ini?" Haz terlihat memikirkan sesuatu.
"Sepertinya begitu. Tapi, ini hanya asumsi, kenyataan siapa yang bisa menebaknya," ujar Whisk.
"Sulit untuk memecahkan sebuah kasus yang masa waktunya sudah berakhir. Lagipula, mereka sebagai saksi sudah tidak dapat memberikan kesaksian meskipun kasus ini dibuka kembali," Haz mengembalikan arsip-arsip itu kepada Whisk.
"Jadi, apa rencanamu jika kamu menjadi diriku dan mendapatkan peranan dalam kasus ini?" tanya Whisk.
"Tentu saja aku akan menolaknya!" jawab Haz cepat. "Itu sebuah kasus yang menyia-nyiakan waktu. Kasus yang kurang lebih umurnya sudah enam puluh tiga tahun dimana para saksi sudah tiada adalah sebuah kasus yang meski dapat dipecahkan sekarang, juga tidak bisa lagi mendapatkan perhatian publik. Karena tidak ada orang yang mengenal anak tersebut, bahkan kasus ini di tahun segitu pun tidak menggemparkan masyarakat."
"Karena kebetulan polisi melakukan investigasi tertutup. Masyarakat ditanyai secara diam-diam. Tentu saja tidak begitu menyebar. Meskipun begitu, investigasi ini benar-benar tidak membuahkan hasil sama sekali," kata Whisk.
"Tentu saja. Berdasarkan kesaksian..." Haz mengatup mulutnya rapat-rapat. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang menarik. "Hei! Bukankah polisi tahun 1000-an hingga 2000 awal menggunakan saksi sebagai bukti mereka dalam menangkap pelaku?"
"Ya, itu benar. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Whisk balik. Dia menemukan senyuman tipis di wajah Haz.
"Dan kenapa tidak ada yang ditangkap waktu itu? Bukankah jelas ketika wanita berinisial "M" mengatakan bahwa bocah itu mendapatkan kekerasan secara fisik maupun seksual oleh ibunya? Ini sangat menarik!" seru Haz. "Aku barusaja memikirkan hal itu! Sepertinya kamu boleh menangani kasus ini!"
"Maksudmu adalah mengapa tidak ada penangkapan terhadap pelaku padahal ada saksi?" tanya Whisk.
"Tentu saja! Mengapa tidak ada penangkapan pelaku padahal 'M' sudah memberikan kesaksiannya kepada polisi? Bukankah ini aneh? Mengapa dia bisa melaporkan bahwa anak tersebut mengalami kekerasan fisik dan seksual pada pihak berwajib jika dia bukan saksi yang dicari-cari selama ini? Bahkan kesaksiannya pun sama seperti apa yang terjadi pada anak tersebut! Usut kasus ini, aku yakin sekali ini akan menjadi perbincangan yang sangat panas," Haz meneguk secangkir jasmine tea yang diseduh oleh Jel sejam yang lalu.
"Aku sudah bertanya akan hal itu. Menurut informasi yang kudapat, kesaksian 'M' tidak cukup kuat untuk menangkap ibunya sendiri karena ibunya memiliki alibi saat itu," sahut Whisk. Whisk merebut cangkir yang sedang dipegang oleh Haz dan meminumnya di sisi yang berbeda.
"Hei! Tehku!" seru Haz.
"Tidak masalah bukan? Kukira wanita barbar sepertimu tidak akan masalah secangkir dibagi dua," goda Whisk.
Ah! Sial! Senior Alkaf benar. Gadis ini menarik, batin Whisk sambil tersenyum menatap Haz yang menatapnya balik dengan kesal dan jengkel.
"Aku memang tidak masalah, dalam artian tidak untukmu!" Haz melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mengapa demikian?" tanya Whisk. "Kamu takut indirect kiss? Pfttt... Itu tidak membahayakan dirimu kan, Miss Lify?"
Haz makin jengkel dibuatnya. "Tentu saja itu menjadi sebuah masalah."
"Masalah? Aku kira jika menyukai seseorang itu tidak masalah," ujar Whisk.
"Apa aku terlihat menyukaimu, Mr. Sok Tahu?!" tanya Haz ketus.
"Oh jelas sekali kamu menyukaiku. Buktinya, wajahmu merona sekarang," jawab Whisk santai. Dia senang menggoda Haz.
"Hei! Aku memang memiliki rona wajah alami," Haz menatap Whisk tajam.
Haz benar, dia memang memiliki rona wajah yang alami. Namun, Whisk tidak sepenuhnya salah karena Whisk bisa melihat perbandingan rona wajah alami dengan wajah merona Haz.
"Jika aku mengajakmu makan malam di apartemenku, apakah kamu mau?" tanya Whisk tanpa basa-basi.
Haz termenung dibuatnya. Apa...?? Apa barusan dia bilang?! Makan malam?! Di apartemen seorang lelaki yang bahkan aku sendiri belum kenal sepenuhnya?! Oh God... Sepertinya aku memiliki masalah pendengaran...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
roses`
Lumayan
masih gue pantengi..
2020-10-31
1
L A
Thor Felisha .....kamu hebat nak....masih SMA udah bisa bikin cerita ini 👍👍👍❤️
2020-08-26
1
альфа
beeh ,keren ter the best dah nii novel
suka kalii😍😍😍😍
2020-08-23
1