#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI PENDAPAT DAN PROFILE YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Jakarta, 08 April 2020
Tepat seminggu setelah Haz masuk ke list tim medis rumah sakit...
"Ha! Sungguh melelahkan! Padahal baru saja seminggu kita berada di sini! Banyak sekali pasien yang harus kita tangani!" keluh Jel. Dia menyeka keringat yang mengalir membasahi keningnya. Dari dulu Haz tahu kalau Jel memang memiliki masalah dengan kelenjar keringat yang memproduksi keringat secara berlebihan. Jika Jel melakukan pekerjaan yang menurutnya melelahkan, maka keringat akan membanjiri sekujur tubuhnya meskipun ruangan itu dingin sekalipun.
"Sepertinya, kamu harus menemui dokter kulit untuk mengecilkan pori-porimu, Jel. Mengingat ketika bermain bulu tangkis selama lima menit saja keringat sudah membasahi tubuhmu," ujar Haz.
"Tidak perlu! Lagipula, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini," sanggah Jel. Jelas dia tidak terbiasa sama sekali. Sebentar lagi Jel akan merengek ingin mandi. Juga, jika dalam keadaan seperti ini, ruam-ruam merah akibat iritasi akan segera muncul di permukaan kulit Jel. Terutama area leher dan tangan.
"Jangan bandel! Kamu seharusnya pergi menemui dokter kulit! Jika kamu merengek minta mandi, aku akan menyeretmu ke hadapan dokter kulit sesegera mungkin!" Haz menasehati.
Cring! Cring!
Bel pintu masuk terdengar nyaring. Whisk masuk ke ruangan Haz dan Jel. Dia sudah mengunjungi tempat itu selama seminggu semenjak pertama kali Haz dan Jel bekerja di sana. Dia terang-terangan sekali menyatakan bahwa dia suka sekali mengunjungi tempat itu melalui gerak-geriknya. Dan seperti biasa jika Whisk masuk ke ruangan, Jel pasti mengatakan berbagai alasan agar bisa membiarkan mereka berdua di dalam.
"Baiklah! Sudah aku putuskan aku akan menemui dokter kulit sekarang!" seru Jel ketika mengetahui Whisk yang datang.
"Ada apa denganmu? Kamu bilang tidak ingin menemui dokter kulit," sahut Haz jengkel.
Jel langsung menyikut bahu Haz dan berbisik padanya, "Lihat siapa yang datang! Tentu saja aku harus memberikan quality time kepada kalian! Oh ya soal pergi ke dokter kulit, kurasa kamu benar! Keringat ini benar-benar menggangguku! Aku ingin segera mandi!"
Selesai mengatakannya, Jel langsung berjalan cepat menuju pintu dan membukanya. "Semoga hari kalian menyenangkan!" Begitu katanya.
Whisk hanya menatap datar kepergiaan Jel, tidak seperti Haz membentaknya, "JELKESYA!"
Whisk menatap Haz dengan tatapan tidak percaya. Wanita barbar, begitu dalam pikirannya.
"Apa?" tanya Haz ketus sambil memelototi Whisk.
"Tidak ada. Aku hanya ingin konsultasi seperti biasa," jawab Whisk datar sambil duduk di hospital bed.
Haz memutar bola matanya. Jelas sekali kamu di sini untuk melihatku!
"Jangan terlalu percaya diri... Aku di sini tidak untuk melihatmu," kata Whisk seakan tahu isi pikiran Haz.
"Terserah... Bagaimana keadaanmu?" tanya Haz. "Apakah kamu masih sering tidur larut?"
"Em..."
"Jelas sekali kamu tidak akan menghilangkan kebiasaanmu tidur larut malam," ucap Haz.
"Sulit untuk tidak tidur selarut itu. Aku memiliki insomnia yang sangat akut. Aku selalu tidur jam empat pagi dan selalu terbangun jam enam pagi," ujar Whisk.
"Itu tidak akan terjadi jika kamu memasang lagu-lagu yang bisa menenangkan pikiran kacaumu. Lagipula, kamu seperti orang yang tidak memiliki emosi, ingin memasang lagu seperti apapun itu tidak akan membuatmu berubah," Haz menarik kursi pengunjung, lalu meletakkannya di samping tempat tidur, tepat di samping kepala Whisk. "Kamu tidak akan sembuh dari insomniamu jika kamu bersihkeras. Setidaknya, coba cari lagu-lagu yang dapat mengontrol dirimu."
"Aku menyukai lagu-lagu yang ada di MP3 Player-mu," sahut Whisk.
Pria ini terang-terangan sekali... Haz memutar bola matanya malas seraya berbatin dalam hatinya jengkel.
Haz mengulurkan tangan.
Whisk menatap ularan tangan Haz, pura-pura tidak mengerti dengan apa yang diminta oleh gadis itu.
"Jangan berpura-pura!" seru Haz. Dia memelototi Whisk.
"Galak sekali," Whisk berkata seraya menyerahkan sebuah flashdisk dari saku jaketnya.
Bress!!!
Hujan lebat terdengar di luar sana. Mengguyur dengan hebatnya, membasahi segala sesuatu yang dilewatinya. Jendela ruangan Haz basah oleh air hujan yang diterpa angin.
"Pancaroba?" tanya Whisk seraya melihat butiran-butiran air yang menempel di jendela yang perlahan-lahan turun membentuk aliran air. Ada puluhan di sana.
"Ya, sekarang musim pancaroba. Beruntung kamu memakai jaket. Mengingat pria insomnia sepertimu akan mudah terserang flu di saat-saat seperti ini," ledek Haz. Dia membuka laptopnya, menunggu layar monitornya membukakan layar utama.
"Pertama, aku memang seorang pria insomnia. Kedua, sistem imun tubuhku sangat bagus. Aku bahkan sudah hampir enam bulan tidak terkena flu sama sekali!" Whisk mengelak dari ledekan Haz.
"Sebentar lagi, Whisk... Kamu akan flu sebentar lagi... Meskipun mengingat bahwa kamu sudah dua puluhan tahun di negara dengan empat musim, namun kamu tidak akan bisa menghindari musim pancaroba di garis khatulistiwa akut seperti itu," decak Haz.
"Tidak apa. Aku memiliki seorang dokter yang sangat hebat di sini. Sepertinya malam ini insomniaku akan berhenti," ujar Whisk.
Haz tidak menanggapi perkataan Whisk. Dia sibuk memindahkan lagu ke dalam flashdisk Whisk.
Whisk tentu saja merasa sangat jengkel diabaikan oleh Haz.
"Jangan mengabaikanku!"
"Apa yang harus kujawab, Mr. Whisky Woods? Itu adalah sebuah pernyataan, bukan sebuah pertanyaan! Pernyataan yang sedikit tidak berguna," kata Haz.
"Makjleb hati anak orang..." Jel yang barusaja datang tiba-tiba ikut menimbrung di sana.
"Oh hai! Bagaimana dengan perawatan kulitmu?" tanya Haz tanpa menatap ke arah Jel. Dia sibuk dengan layar monitor.
"Sangat buruk. Dia mengatakan diriku sangat jelek dan tak bisa menjaga diri sebagai seorang wanita!" seru Jel jengkel.
Whisk tentu saja sangat paham bahwa itu adalah pembicaraan buruk dari wanita. Sebenarnya dia merasa bahwa Jel sedikit menghindari dirinya. Seperti ada yang ditutupi Jel. Namun Haz begitu santai dengan keberadaan Jel. Tidak dengan Whisk.
"Memang benar seperti itu!" Haz malah setuju dengan pernyataan yang dikatakan oleh dokter kulit dan membuat orang yang telah lama dikenalnya semakin jengkel.
"Apa kamu bilang?!"
Whisk merasa akan ada Perang Dunia III di sini. Dia ingin segara keluar dari ruangan. Menikmati sisa harinya di apartemen yang disewakan untuknya di kota itu.
"Dokter kulit itu benar. Kamu adalah seorang wanita barbar. Aku masih ingat kelakuanmu di bangku SMA enam tahun yang lalu. Kamu sering memarahi dan memukul pria-pria yang mengganggumu," oceh Haz.
"Hei! Aku tidak... Maksudku aku memang melakukannya! Tapi, itu salah mereka menggangguku!" sanggah Jel.
"Hoi!" Haz melemparkan flashdisk ke arah Whisk. Dengan gerakan refleks Whisk menangkapnya. Akan sangat disayangkan jika Whisk tidak segara menangkapnya. Flashdisk kesayangannya bisa mencium tanah.
"Pergilah," Haz berkata dengan nada mengusir.
"Ada apa dengan wanita-"mu", Mr. Woods?" tanya Jel.
Wajah Whisk merona sejenak ketika Jel menyebutkan kata "wanitamu" untuk mengatakan Haz. Dia hanya mengangkat bahunya, lalu segera pergi dari sana.
"Haz... Kamu sengaja kan?"
Haz menatap Jel sebentar, lalu menjawab, "Entahlah..."
Cerita Whisk...
"Whisk! Kamu akan mengunjungi Indonesia loh!" seru seseorang takjub dalam bahasa Prancis beraksen Mandarin-Melayu kental melalui sebuah telepon.
Whisk tengah membaca buku. Seraya membaca, dia mendengarkan ocehan pria di telefon.
"Apa yang perlu dibanggakan dari hal itu?" tanya Whisk. Dia yang semula membaca buku tidak berniat membaca lagi karena perkataan orang itu.
"Tentu saja kamu harus mengunjungiku dulu! Aku akan menunggumu di bandara. Ketika sudah sampai kamu harus menelepon! Paham?!" ancam pria di telepon ketus.
"Aku paham! Kamu seperti seorang Ayah saja! Ribut sekali!" seru Whisk datar.
"Kamu akan menyukai seseorang dalam satu pertemuan langsung. Dia adalah wanita yang sangat pandai," goda pria di telepon.
"Dengar Senior Alkaf, aku tidak tertarik pada seorang wanita! Kamu tahu aku adalah insan paling dingin di dunia. Aku tidak mungkin bisa menyukainya!" sanggah Whisk. Dia mencari posisi duduk yang nyaman. Sebenarnya dia penasaran dengan wanita yang dimaksud pria bernama Alkaf itu. Dia telah bertemu banyak wanita, namun tidak ada yang membuat dirinya puas sama sekali. Kebanyakan wanita yang dia temui berparas cantik, namun kosong di dalam.
"Wanita yang sangat sederhana dalam penampilan, namun akhlak dan otaknya sangat menakjubkan! Aku yakin sekali hanya satu pertemuan kamu akan meleleh!" kekeh Alkaf.
"Apakah kamu juga demikian?" tanya Whisk.
"Dulunya... Namun sekarang aku menyukai sahabatnya. Meski begitu, aku tetap saja kagum!" jawab Alkaf meyakinkan.
"Jadi, siapa nama wanita yang kamu maksud?" tanya Whisk.
"Namanya Hazelia Lify. Aku dan sahabatnya sering memanggilnya Haz atau Hazelnut, hahaha..." Alkaf tertawa renyah. Itu terasa lucu baginya. Namun tidak dengan Whisk. Dia merasa itu biasa saja.
"Aku akan menunggu pertemuan dengan gadis itu. Semoga dia seperti apa yang kamu ucapkan," kata Whisk.
"Tentu saja seperti yang aku ucapkan! Ketika bertemu dengannya, kamu akan tahu mengapa aku mengatakan hal ini padamu," ujar Alkaf.
"Kebetulan, dia akan berada di ibukota Negara karena panggilan pemerintah. Kamu tahu kan sekarang virus itu mewabah. Aku juga terkadang takut keluar rumah," oceh Alkaf.
"Kamu memang makhluk penghuni rumah, Senior Alkaf. Aku hampir tidak pernah melihatmu mengatakan bahwa kamu akan keluar dari rumahmu," ledek Whisk.
"Kamu tahu, aku sibuk di sini... Lagipula ini 'rumah' yang tidak bisa sembarangan kutinggalkan begitu saja," ujar Alkaf.
"Aku paham. Jadi, wanita bernama Haz itu sealiran denganmu? Maksudk-"
"Kamu siap dengan perbedaan?" Alkaf balik bertanya.
"Jika dia siap, aku pun demikian. Aku rasa perbedaan tidak akan memisahkan dua insan yang saling mencintai," jawab Whisk.
"Kedengaran seperti dirimu ya!" kekeh Alkaf. "Baiklah, aku akan menutup telefonnya. Semoga harimu menyenangkan!"
Klik! Telefon langsung ditutup tanpa menunggu balasan dari Whisk.
Ah... Senior yang satu ini benar-benar menyebalkan ya? decak Whisk kesal dalam hatinya. Padahal dia ingin berbicara lebih lama dengannya. Menurut Whisk berbincang lama dengan Alkaf tidak akan membuat seseorang bosan karena Alkaf punya daya tarik tersendiri.
Whisk merebahkan dirinya ke atas sofa. Apakah wanita itu benar-benar seperti yang dikatakan Senior Alkaf?
Medan, 31 Mei 2020
Di bandara...
"Woods! Di sini!"
Whisk bisa mendengar suara familiar memanggil namanya. Dia menoleh dan menemukan bahwa orang yang meneleponnya beberapa hari lalu sedang melambaikan tangan ke arahnya sekarang. Orang itu adalah Alkaf.
Whisk menatap Alkaf dari atas sampai bawah. Bukan pria yang mencolok, begitu yang dapat disimpulkan olehnya. Alkaf juga terlihat beberapa centi lebih rendah dari Whisk, namun itu bukan menjadi sebuah masalah. Alkaf terlihat sedang melakukan hal yang sama. Pria berkacamata itu menatap tas camping dan koper yang dibawa okeh Whisk, serta penampilan Whisk yang terlihat... Sangat mencolok!
Dia terlihat lebih tampan daripada di foto. Caranya melambaikan tangan menunjukkan bahwa dia seorang yang sangat jujur dan terbuka. Meskipun tidak pernah bertemu dengannya langsung sebelumnya, sepertinya tidak buruk juga, batin Whisk.
Alkaf bergegas menghampiri Whisk.
"Aku kira kamu akan melewatkan kesempatan ini," kekeh Alkaf. "Selamat siang, Woods. Mungkin kamu akan cepat beradaptasi dengan waktu di negara ini, mengingat kamu adalah seorang penderita insomnia!"
"Senior Alkaf, apa maksudmu dengan panggilan 'Woods'?" Tidak membalas sapaan Alkaf, Whisk bertanya padanya. Dia membenarkan posisi maskernya.
"Ada beberapa polisi yang cuti dan akan berlibur. Jika mereka mengenalmu, kamu akan ditahan sebulan di sini. Kamu tidak ingin hal itu terjadi bukan?" Alkaf mengangkat bahunya, tersenyum pada Whisk.
"Ya, aku tidak ingin hal itu terjadi," balas Whisk jujur.
"Ayo ikut aku! Kamu bahkan terlihat belum sarapan sama sekali," Alkaf tanpa basa-basi langsung meninggalkan Whisk di sana, berjalan terlebih dulu.
Whisk menatap punggung lebar Alkaf. Pria blak-blakan, pikirnya.
Whisk mengikuti Alkaf dari belakang. Sepanjang perjalanan banyak orang menatapnya curiga. Karena memang style Whisk sekarang sangat aneh, seperti seorang buronan, memakai masker dan kacamata hitam, membawa tas camping dan koper, serta memakai jaket musim dingin yang sangat tebal. Belum lagi rambutnya yang kemerahan seperti dicat sangat menonjol. Whisk tahu apa yang mereka pikirkan: Apakah pria ini barusaja kabur dari negaranya karena menjadi seorang buronan?
Whisk mengabaikan tatapan orang-orang dan matanya mulai menggerayangi seisi bandara seraya mengikuti Alkaf.
Whisk menatap seorang pria botak dengan wajah sangarnya tidak terlihat begitu tua, namun juga tak lagi muda. Dia melihat adanya bekas luka bakar di wajahnya. Jelas sekali pria itu adalah pensiunan seorang tentara. Berumur sekitar lima puluh tujuh atau lima puluh delapan. Wajah dan badannya sangat terawat karena sering lari pagi atau ke gym mungkin? Dia tidak terlihat seperti pria yang jahat melihat bagaimana dia berbicara dengan istrinya sekarang.
Di belakang pria botak yang dilihat Whisk, seorang wanita berusia dua puluh lima tahunan sedang duduk dan menelepon seseorang. Wanita itu memiliki kulit putih dan rambutnya tertata rapi, serta make-up yang sangat mencolok. Seorang wanita yang bekerja di sebuah beauty shop. Melihat ekspresinya mungkin itu adalah telefon dari pasangannya dan mereka sedang mengalami masalah. Miskomunikasi antara mereka seharusnya dihilangkan agar hubungan mereka harmonis.
Di samping wanita itu ada seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun. Jelas sekali bahwa anak itu tengah bersama ibunya yang duduk di sampingnya dan menunggu seseorang. Keluarga yang sedang menunggu kepulangan anggotanya. Gadis itu terlihat cemas. Berharap bahwa Ayahnya pulang secepatnya. Ini pasti karena virus baru. Para tenaga kerja luar negeri diharuskan pulang ke negaranya.
Banyak sekali orang-orang yang dilihat oleh Whisk. Bahkan ada narapidana yang kabur, mantan narapidana, penjual narkoba, dan beberapa tipe manusia lainnya.
Di negara manapun, bahkan orang saja bisa dibeli memakai uang. Bukankah begitu? Mantan narapidana yang kabur itu tentu saja melepaskan dirinya dengan menyogok. Keluarganya lumayan berada karena sukses menjalankan bisnis online, batin Whisk.
Whisk melihat ke depan lagi. Alkaf sudah memasuki Texas Chicken.
Bukankah Senior Alkaf bilang dia vegetarian? Mengapa dia memasuki Texas Chicken? Sungguh pria yang aneh... batin Whisk.
Whisk mengikuti Alkaf masuk ke dalam Texas Chicken. Dia melihat Alkaf menaiki tangga.
Dia terlihat sering memasuki tempat ini. Melihatnya berjalan dengan santai ke lantai dua...
Whisk menaiki anak tangga. Puluhan pasang mata menatapnya sama seperti di luar tadi. Aneh dan mencurigakan. Namun Whisk adalah tipe manusia yang tidak memiliki emosi dan tidak benar-benar peduli dengan pandangan orang lain. Hanya saja... Mungkin dia merasa sedikit risih ditatap puluhan pasang mata seperti itu. Mengintimidasi, juga penasaran dengan wajah di balik masker itu. Jika dia melepas maskernya begitu saja, dia akan berada dalam masalah besar seperti kata Alkaf. Dia melihat beberapa pensiunan polisi dan tentara, serta beberapa mantan narapidana yang cukup mengerikan.
Di lantai dua sana tidak banyak pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang tampaknya sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Whisk sudah menduganya: Bahwa Alkaf adalah orang yang suka menyendiri di sisi lainnya yang terlihat terbuka dengan orang-orang.
Whisk dapat melihat Alkaf memilih spot di dekat jendela. Itu memudahkan dirinya dalam mengamati orang-orang yang masuk. Sepertinya Alkaf berusaha membaca kesenangan Whisk. Dalam hal mengamati tentu saja.
Alkaf sudah duduk terlebih dulu dan Whisk mengikutinya. Whisk duduk tepat di hadapan Alkaf setelah dia melepas jaket musim dinginnya dan menggantungkannya di kursi. Whisk juga melepas masker dan kacamata hitamnya, lalu memasukkan benda-benda itu ke dalam tas.
"Aku membelikan pesananmu, juga, ini tiketmu dan ini kartu untuk ponselmu, aku yakin kamu belum sempat pergi me-roaming kartumu agar bisa digunakan secara internasional," Alkaf memberikan Whisk sebuah tiket pesawat atas nama dirinya dan sebuah kartu ponsel. "Pesanlah sarapan. Ini barusaja pukul delapan pagi dan jadwal keberangkatanmu adalah pukul dua siang. Kamu bisa menggunakan waktumu yang singkat untuk berjalan-jalan dan membelikan ehem... Hazelnut hal yang dia suka."
"Senior, kamu terlihat yakin sekali bahwa wanita itu akan menarik perhatianku," Whisk menaikkan sebelah alisnya.
"Pria sepertimu, jika belum bertemu dengannya akan dapat mengatakannya. Namun setelah bertemu dengannya, maka kamu akan mengerti mengapa aku bisa mengatakan bahwa Hazelnut yang satu ini sangat menarik!" seru Alkaf.
Alkaf mengangkat satu tangannya memanggil pelayan di seberang sana.
"Selamat pagi! Apa yang Tuan Muda sekalian inginkan?" sapa pelayan sekaligus bertanya pada Alkaf dan Whisk.
Pelayan wanita itu sepertinya sangat senang melihat dua pria tampan ada di hadapannya. Alkaf tersenyum padanya, sementara Whisk tidak peduli dan sibuk dengan menunya. Sangkin seriusnya menatap Whisk yang tampan, pelayan itu sampai tidak sadar bahwa Whisk sudah memesan. Tentu saja tanpa melihat ke arahnya! Whisk bukankah tipe pria seperti Alkaf yang akan tersenyum pada wanita manapun dan kapanpun itu.
Alkaf mencolek lengan pelayan itu, membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Aku pesan sandwich tanpa selada porsi besar, morning tea, kentang goreng porsi besar, salad sayur tanpa bawang, dan French toast cinnamon," ucap Whisk tanpa basa-basi dengan Bahasa Indonesia dalam aksen Prancis yang sangat kental, sebelum pelayan wanita itu larut dalam lamunannya yang menurut Whisk tidak berguna sama sekali.
Whisk mempelajari beberapa bahasa sebelumnya, termasuk Bahasa Indonesia. Tidak heran jika dia bisa berbahasa Indonesia meski aksennya kurang bagus.
"Tuan Muda ini ingin memesan apa?" tanya pelayan. Pelayan wanita itu tersenyum balik menanggapi senyuman Alkaf.
"Saya akan memesan French toast cinnamon dan jasmine tea," jawab Alkaf.
"Baiklah, saya akan membawa pesanan Tuan Muda sekalian secepat mungkin," ujar pelayan itu.
Sudah pergi pun, dia tetap menatap Whisk dengan tatapan yang menurut Whisk sangat membuatnya risih.
Kapan wanita itu akan berhenti? Semoga saja dia tertabrak seseorang karena kecerobohannya, umpat Whisk dalam hati.
Yang benar saja, saat Whisk selesai mengumpat, pelayan wanita itu bukan tertabrak seseorang melainkan terpeleset jatuh dari tangga dan menabrak seorang wanita yang bisa diasumsikan Whisk sebagai wanita menor yang haus akan kekayaan.
Pelayan itu sangat malu tentu saja, dibentak kasar oleh wanita itu di hadapan publik seperti ini. Whisk tidak peduli dan malah memasang telinganya dengan airpods. Tidak ada musik di sana memang. Dia hanya sengaja menyumpal telinganya. Dia paling benci keributan. Dia menutup matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Meski telah menyumpal telinganya, dia masih saja bisa mendengar suara orang-orang. Bahkan sekarang terdengar lebih jelas.
Ternyata wanita yang ditabrak pelayan itu adalah teman Nyonya pemilik tempat ini. Tentu saja dia dimaki begitu kasarnya.
"Ha... Dunia kerja memang keras ya!" Whisk dapat mendengar Alkaf menghela nafas. Dia terlihat tegang sekaligus lega.
"Bagaimana rasanya?" tanya Whisk. Whisk membuka matanya perlahan.
"Rasa apa?" Alkaf menatap Whisk bingung.
"Berpura-pura ramah dengan wanita menyebalkan tadi," ujar Whisk.
Alkaf menatap Whisk, lalu tersenyum. "Kamu menyadarinya ya?"
"Kamu benar-benar kejam, senior Alkaf," sahut Whisk.
"Ya, aku tahu. Setidaknya biarkan mereka senang sejenak sebelum dijatuhkan kembali seperti itu," kata Alkaf.
"Sepertinya, wanita itu menyadari kelicikanmu!" ledek Whisk.
"Hei! Soal Jelly, teman Hazelnut, aku benar-benar serius!" seru Alkaf.
"Hazelnut juga tidak akan membiarkan orang sepertimu dekat dengan sahabatnya," Whisk mencopot airpod dari telinganya ketika dia mendengar dengan seksama sudah tidak ada lagi kegaduhan.
"Bagaimana dengan kamu yang mengumpat pelayan itu di hati tadi?" tanya Alkaf. "Apakah itu merupakan sebuah kepuasan bagimu?"
Whisk menatap Alkaf sejenak. "Sepertinya kamu tahu dari seseorang yang pandai membaca situasi dari smartphone-mu, Senior Alkaf."
Whisk berhasil menebaknya, memang benar, Alkaf tengah membalas pesan seseorang juga secara bersamaan dia menanyakan orang tersebut apakah bisa membaca situasi Whisk.
"Jawabannya, aku lega sekali," lanjut Whisk.
"Kamu lebih kejam dariku, Woods!" Alkaf menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Dan sedikit hal yang kamu harus tahu. Orang yang memberitahuku soal umpatanmu dalam hati adalah Hazelnut. Sudah kukatakan dia sangat menarik!"
"Ah! Aku sangat lapar sekarang! Kapan makanannya akan datang?" keluh Whisk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
L A
bukan seperti novel percintaan yg biasa......semoga 🤔
2020-08-26
1
альфа
beeh keren banget.....bisa menganalisis orang hanya melihat gerak gerak orang tersebut
aku suka sama story nya
semangat terus yaah
2020-08-23
1
1
ceritanya seru banget panjang lagi semangat kak!
2020-08-17
1