Jamal menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Jamal, sebelum kamu melanjutkan pelatihan. Sekarang kau bantu guru dulu memperbaiki semua kerusakan ini,"
"Baik guru."
Keduanya saling bahu membahu memperbaiki area sekitar yang hancur dengan tenaga dalam elemen tanah. Beberapa saat kemudian pemberesan pun usai. Keduanya menghela nafas.
"Silakan kau lanjut lagi latihanmu. Oiya, jika kamu hendak uji coba lagi hasil pusaka buatanmu. Jangan lupa buatlah formasi perlindungan dulu supaya area kehancuran terbatas. Apa kamu mengerti?"
"Saya mengerti guru,"
"Baiklah, guru pergi dulu,"
"Iya guru silakan," sopan Jamal.
"Wassalamu'alaykum,"
"Wa'alaykumussalam warohmatulloh."
Jamal kembali menghela nafas lega, dia bersyukur tidak mendapat marah dari gurunya. Dia juga tidak bisa membayangkan jika dimensi yang dia pijaki hancur, akan terbawa kemana dia itu?
'Baiklah, mari kita istirahat sejenak lalu lanjutkan ke bahan kedua,' gumam Jamal.
Hari-hari berlalu, Jamal sudah banyak membuat berbagai macam senjata pusaka, mulai dari pedang, tombak, busur panah, belati, hingga senjata rahasia seperti shuriken dan jarum-jarum. Tingkatan senjata buatannya juga bukanlah senjata kaleng-kaleng, Jamal berhasil menempa pusaka tingkat saint, selangkah dibawah pusaka dewa. Sungguh bakat yang mengagumkan!.
'Dengan pusaka tombak nirwana atau pedang dewa pembantai ini, mungkin aku bisa menghancurkan dimensi ini. Hehehe,' gumam Jamal. Dia masih ingat jelas waktu itu, saat dia memperagakan jurus puncak Kitab Pedang Awan dengan pusaka tingkat merah. Pendekar Jibril atau gurunya datang dengan muka muram dan marah padanya. Apalagi kedua pusaka yang ditangannya itu adalah pusaka tingkat saint. Jamal tak mau itu terjadi lagi.
Dia memang berhasil membuat beberapa pusaka selain pedang, namun karena tak memiliki jurus, Jamal hanya meletakkan karyanya itu di cincin penyimpanan sebagai koleksi.
***Di dunia nyata
Pendekar Jibril kembali mendatangi Abah Yai nya Jamal. Dia mengatakan bahwa Jamal sudah selesai dalam semua pelatihan pendekarnya. Mulai dari berlatih tenaga dalam, jurus-jurus, segel formasi, alcemis, dan juga penempaan senjata.
"Hmm, itu berarti sudah waktunya dia dikirim ke dimensi alam Azraq," kata Abah Yai.
"Kamu benar, ini sudah waktunya,"
"Apa abang sudah merubah kepribadiannya?"
"Apa maksudmu bertingkah konyol juga bicara seenak jidat?"
"Hahahaha. Iya, itu maksudku,"
"Cih, Kamu tenang saja, dia sudah berubah dan bahkan sangat berubah! Murid sialan itu juga malah sekarang memanggilku dengan sebutan guru tua,"
"Pufffff. Hahaha... Abang memang terbaik dalam mendidik,"
"Tch," gerutu Pendekar Jibril.
"Sudahlah bang, itu juga untuk kebaikan dia juga. Santai lah. Santai,"
"Cihhh, santai gundulmu." lemas Pendekar Jibril.
Kedua kakak adik itu terus membicarakan sosok murid berbakat mereka. Gelegar tawa sering menghiasi obrolan dua sosok besar dan berwibawa tersebut. Andai ada orang lain tau jika Abah Yai yang sangat dihormati semua orang di ejek dan bahkan di katakan gundulmu oleh Pendekar Jibril malah tertawa terbahak-bahak, mereka pasti mengira bahwa itu tidaklah nyata alias mimpi. Namun nyatanya demikian.
"Yasudah, besok akan abang bawa Jamal kesini untuk mempersiapkan semuanya. Juga izinkan dia menginap di dunia dimensi untuk hari ini," kata Pendekar Jibril.
"Oke bang, saya pasrah saja sama abang bagaimana baiknya,"
"Baiklah, abang pamit sekarang,"
"Siap bang,"
"Asaalamu'alaykum,"
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh."
Pendekar Jibril membuat gerakan tangan rumit lalu menghilang seperti hantu. Dalam sekejap, dia muncul di dalam dunia dimensi pelatihan Jamal dan melayang tinggi diatas langit. Dia melihat Jamal sedang tiduran santai dibawah pohon besar.
"Yo, sepertinya lagi santai nih," sapa dia ke Jamal.
"Eh guru, hehe begitulah,"
Jamal langsung berdiri dan memberi hormat ke guru nya itu.
"Baiklah Jamal, jadi bagaimana latihanmu selama ini?"
"Yaa begitulah guru, aku berhasil membuat senjata pusaka tingkat saint," ucap Jamal lalu mengeluarkan beberapa pusaka tempaannya. Dua diantaranya tingkat saint.
"Hmm, bagus-bagus. Guru bangga kepadamu,"
"Aiiih, apa yang mau guru banggakan? Bahkan aku belum bisa membuat pusaka tingkat dewa seperti guru, meski itu memakai bahan bintang pelangi," lemas Jamal.
"Hahaha. Sabarlah, suatu saat kamu pasti bisa. Oiya, tadi guru sudah bertemu Abah Yai.mu, guru juga minta izin ke dia agar kamu hari ini menginap disini,"
"Lho? Ada apa lagi guru?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja hari ini guru akan mentrasfer seluruh pengetahuan tentang jurus-jurus ilmu beladiri kepadamu. Jadi kamu harus menyerapnya dengan baik,"
"Benarkah itu?" mata Jamal bersinar terang.
"Ya, setelah itu kamu akan guru bawa menghadap abah yai mu. Ada beberapa hal yang hendak kami katakan denganmu. Sekarang duduk dan bersiaplah,"
"Baik guru."
Jamal segera duduk mengambil sikap lotus. Dia mulai memejamkan mata saat Pendekar Jibril memegang keningnya. Perlahan cahaya putih terang keluar dari ujung jari telunjuk sang guru dan masuk.
"Aaaaackkkk."
Teriak Jamal karena merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Sakit itu membuat kepala Jamal seperti hendak pecah.
"Santai saja, rilexan fikiranmu dan seraplah secara perlahan." kata Sang Guru.
Pengetahuan tentang cara berpedang, memakai tombak, menarik busur panah, melempar jarum dan semua jenis jurus ilmu beladiri perlahan terserap oleh Jamal. Dan benar, butuh waktu satu hari di dunia nyata untuk Jamal menyerap semuanya.
Setelah selesai, perlahan Jamal membuka matanya dengan bibir tersenyum cerah. Bagaimana tidak? Dia telah mewarisi semua jenis ilmu beladiri. Hal itu benar-benar membuatnya bahagia. Ya, sangat bahagia.
Pendekar Jibril kemudian menyuruh Jamal untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sowan atau menghadap Abah Yai yaitu Abah Saggaf.
"Sudah siap?" tanya Pendekar Jibril.
"Siap guru." mantap Jamal.
Lalu Pendekar Jibril membuat segel formasi ruang dan waktu untuk mempersingkat perjalanan. Tak berselang, lorong dimensi ruang sudah ada dihadapan mereka berdua.
"Ayo masuk!"
"Mari guru."
Keduanya memasuki lorong, lima menit kemudian di ruang tamu milik ndalem atau rumah Abah Yai terjadi retakan ruang.
'Hmm. Sepertinya segera sampai' gumam Abah Yai.
Lima menit kemudian, lorong ruang dimensi telah terbuka sempurna. Pendekar Jibril dan Jamal pun keluar.
"Assalamu'alaykum,"
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh." jawab Abah Yai.
Abah Yai dan Pendekar Jibril yang statusnya adalah kakak saling bersapa basa-basi. Lain dengan Jamal yang kemudian bersungkem dengan Abah Yai nya. Jamal bersikap sopan sekali. Dia menundukkan kepala dan tak berani melihat wajah Abah Yai.
'Tch, dasar murid bermuka dua' gumam Pendekar Jibril melihat tingkah Jamal.
"Kenapa bang?" tanya Abah Yai.
"Haaah. Nggak papa." lemas Pendekar Jibril.
Jamal yang melihat ekspresi Pendekar Jibril kepadanya hanya bisa berdecak kesal dibatinnya.
'Cih, guru sialan! Kamu kira aku nggak tau apa yang kamu omongin di hatimu. Ciih, awas saja nanti' gumamnya.
"Baiklah Jamal, Apa kamu tau kenapa kamu kami bawa kesini? Dan juga kenapa kamu dilatih ilmu beladiri?" tanya Abah Yai.
______&&&&
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"kesempatan memang tak datang dua kali, tapi kesempatan akan datang pada orang yang selalu mencobanya lagi dan lagi" ....waaah😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep.. baru kali ini ada kultivator SHOLEH - nyantri
2023-12-12
3
Yudhita Al-Jabbar
Baru kali ini Thor..gw baca Novel Dunia Kultivator..Basicnya dari Pesantren...hehehe....
2023-05-02
2
glanter
mantap....
2023-05-01
1