Waktu terus berputar. Hari-hari berjalan selalu tak pernah berhenti. Pagi siang sore malam, pagi siang sore malam, terus tiada bosannya.
Seperti biasanya, sore itu Abah Yai mengimami sholat 'asyar. Selesai sholat, Beliau juga berpidato memberikan pencerahan seperti sebelum-sebelumnya.
Tiap hari, materi yang beliau bahas selalu berbeda-beda, menandakan beliau adalah seorang yang sangat alim dan berwawasan luas.
“Para santri yang dirahmati Allah. Didalam kitab-kitab milik ulama salaf maupun kholaf diterangkan, bahwa hari minggu adalah hari awalnya pembangunan!.."
"Jadi, hendaknya jika kalian hendak membangun rumah misalnya, alangkah baiknya diawali peletakan batu pertamanya dihari minggu.."
"Abah pun demikian, dengan niat tafa’ulan atau ikut pada para ulama’ salaf. Dan alhamdulillah bangunan itu bisa bermanfaat sekali bagi Abah khususnya, dan bagi umat umumnya!.."
"Ada lagi hari rabu!.."
"Didalam kitab ta’limul muta’allim diterangkan, bahwa hari rabu adalah yaumun-nahs. Apa itu yaumun-nahs? Yaumun-nahs adalah hari dimana tiada keberkahan dihari itu untuk umat-umat selain islam.."
"Setiap umat itu ada satu hari yang diutamakan! Cntoh umat nasrani mengutamakan hari minggu dan umat yahudi hari sabtu!. "
"Sementara untuk islam, semua hari adalah baik! Tergantung pada manusianya itu sendiri dalam mengisi hari tersebut.."
"Dan masih kata Syaikh isma’il dalam kitabnya ta’limul-muta’allim, bahwa hari rabu adalah hari dimulainya suatu kajian atau pembacaan kitab!.."
"Berhubung ucapan beliau demikian, maka besok rabu, Abah umumkan semua jadwal pengajian mari kita mulai! Insyaallah semoga kita bisa istiqomah. Allohummaa…”
“Aamiiin!” sahut para santri.
“Mungkin hanya itu yang bisa Abah sampaikan! Kurang dan lebihnya minta maaf! Abah akhiri wabillahi taufiq wal hidayah tsummas-salamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh!" tutup Abah Yai.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh.” jawab semua santri.
Para santri masih duduk ditempat masing-masing sembari menunggu Abah Yai keluar aula. Sungguh tidak sopan bagi santri jika ada kiainya masih di aula, santri pada bubar dan berdiri dihadapan kiainya.
Menurut akhlak, itu merupakan suatu hal yang sangatlah buruk. Maka santri pondok pesantren al-Mukhlis pun tak ada yang melakukan hal demikian. Jikapun ada, mungkin santri itu adalah santri baru yang belum tau adat istiadat dan peraturan dipesantren, yang kemudian cepat-cepat akan ditegur dan dinasehati seniornya untuk tidak melakukan hal demikian lagi.
Begitu indah menurut Jamal dalam batinnya. Hidup bersandangkan akhlakul karimah itu.. Wow pokoknya! Maka sangat tak heran jika pondoknya itu terkenal dimana-mana tentang keunggulan akhlaknya.
Abah Yai sudah kundur (pulang) ke ndalem (rumah). Para santri lekas kembali dimasing-masing kamarnya. Tersisa di aula hanya segelintir orang dan diantaranya adalah Jamal.
Ia masih terduduk ditempat sambil memikirkan ucapan Abah Yai sebelumnya. Ia sangat tak sabar untuk mengikuti dan memulai pengajiannya. Ngaji sorogan ataupun ngaji diniyyahan.
Jamal menyapa salah satu teman seniornya yang ada di aula itu. Dia juga termasuk pengurus pondok.
“Maaf kang! Apa benar? Katanya kalau diniyyahan itu bareng sama mba pondok kah?” tanya Jamal.
“Iya kang! Betul sekali!" jawab si senior.
“Apa bisa saling pandang?” Jamal bertanya lagi.
“Tentu saja tidak lah! Kan ada penutupnya! Jugaan kalau bisa saling pandang, itu bukan pesantren namanya! Tapi sekolahan!” ucap senior sebagai jawaban.
“Hehehe.. Saya kira kang!” cengengesan Jamal.
“Kamu yang namanya Jamal ya?” tanya si senior tiba-tiba.
“Oh. Iya kang! Ada apa?” jawab Jamal.
“Tidak ada apa-apa! Oiya, saya Mahbub!” katanya memperkenalkan diri.
“Iya kang Mahbub!" tanggap Jamal.
“Sampeyan itu lho Mal, pas selesai malam tes menjadi buah pembicaraan serius di kumpulan kepengurusan,” Kata Mahbub.
“Lha kok bisa kang?” Tanya Jamal heran.
"Iya, kata pak lurah, sampeyan itu pura-pura ndak bisa baca kitab. Padahal sangat lancar!” Jawab mahbub to the point.
“Ah biasa wae kang Mahbub. Jangan berlebihan. Wong saya emang belum bisa apa-apa kok,” Jamal menyangkal.
“Memangnya rumahmu itu dimana to Mal?” Tanya Mahbub yang mulai ingin mengetahui asal-muasal Jamal.
Mahbub didalam pesantren menjabat menjadi Humas, ia banyak mengenal dan tau betul nama-nama orang yang masih dilingkungan kecamatan Ambarawa. Dia mengira bahwa Jamal memang hidup dari keluarga pesantren.
“Ambarawa bagian barat kang,” Jawab Jamal.
“Nama bapakmu?” Mahbub seperti mengintrogasi.
“Pak Muhammad S kang,” Jawab Jamal menggunakan inisial sehingga terkesan misterius.
“Muhammad S siapa?” Tangkas Mahbub.
Jamal semakin terpojokkan. Ia tak lagi bisa berkutik lagi
“Muhammad Syakur kang,” Lemas Jamal.
“Owalaaah, sampeyan putrone pak kiai Syakur to, yang terkenal kiai sederhana dan ahli zuhud itu?” Tanya Mahbub memastikan.
“Hee. Jangan berlebihan kang, wong Aby Cuma orang biasa kok, bukan kiai apalagi ahli zuhud,” Sanggah Jamal dan merendah.
“Helleh, sampeyan ini guus gus, saya itu meskipun bukan berasal dari daerah ini, tapi saya kenal banyak orang didaerah ini,”
Jreeg, hati Jamal rasanya seperti tersentak, mendengar Mahbub memanggilnya dengan sebutan gus.
Ia malu bukan main, ia merasa panggilan itu teramat sangat tak pantas ia sandang. Cepat-cepat ia sangkal ucapan Mahbub,
“Ah kang Mahbub ini. Ndak boleh gitu kang. Nama saya Jamal, bukan gus, panggilan saya juga Jamal, ndak ada embel-embel lainnya,” Kata Jamal yang terus merendah.
“Ehehe, iya gus, eh Jamal.” ledek Mahbub.
Hari berganti dengan cepat, rasanya baru kemaren Abah yai mengumumkan dimulainya pengajian. Padahal itu dihari kamis sore, dan ini sudah sampai diwaktu yang diungkapkan beliau, yaitu hari rabu.
Rabu pagi yang cerah, Secerah hati semua santri baru. Hati mereka dipenuhi kegembiraan. Semangat mereka begitu menggelora, bagaikan seorang mempelai pengantin pria hendak mendatangi si wanitanya untuk sesegera mengucap ijab qabul. Ah penggambaran yang aneh, intinya mereka begitu bersemangat.
Pagi-pagi buta mereka sudah membuat antrian dikamar mandi. Ya, demikianlah santri. Semuanya serba ngantri. Hitung-hitung juga untuk melatih kesabaran mereka.
Tapi tetap saja ada yang tidak sabar, dengan menggedor-gedor pintu atau apalah yang lain
“Dor dor dor!” suara pintu itu
“Kang, kang, cepetan dikit dong kaang!”
“Sabar too, aku juga baru masuk kok,” sahut yang didalam
“Wes nggak ketahan iki kaang. Pliiis, wes dipucuk!” Teriak yang didepan pintu.
“Hahaha, podo wae kang, aku tadi juga gitu. Sabar-sabar!” Sahut yang didalam.
Jamal hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Begitu melucunya mereka. Tiba-tiba Ghoffar datang.
“Waduh, panjang banget ngantrine. Iki mah ngantri wong ngantri jenenge,” Kata Ghoffar.
“Hehehe, kang Ghoffar telat sebentar wae, terakhir sampeyan. Untung saja sampeyan nggak kebelet! Hehehe,” Sahut Jamal tertawa ringan.
"Iya kang, untuuung wae nggak. Coba kalo iya. Bisa mati sambil mringding-mrinding saya kang,” Ucap Ghoffar lebay.
“Hahaha, ada-ada wae mah sampeyan kii,” Kata Jamal sembari memutar bola matanya.
“Kreeeeek,” suara pintu terbuka
“Ya sudah kang Ghoffar, duluan yaa,” Ucap Jamal dam masuk kedalam.
“Iya kang, monggo." Jawab Ghoffar.
Setelah semua selesai dalam bersuci dan bebersihnya. Para santri kesemuanya diwajibkan memakai baju putih. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08:00 tepat. Itu tandanya setengah jam lagi pelajaran dimulai. Jamal menyiapkan kitabnya.
Hari rabu untuk kelas lima adalah pelajaran mukhtarul-ahadits yang diampu oleh ustadz Maulana.
Kata teman-temannya, ustadz Maulana adalah sosok yang kocak, beliau suka agak ngelawak dikelas.
“Ada saja pokoknya, tingkah atau ucapannya yang bikin kita ketawa.” Ungkap salah satu temannya.
Waktu berjalan dengan cepatnya. Bukan, bukan karena waktu yang berjalan dengan cepat, tapi karena perasaan hati yang begitu bahagia hingga tak sadar akan terus berjalannya waktu dan terasa begitu cepat. Tak terasa lima menit lagi kelas akan dimulai.
Jamal pun mengayunkan kakinya untuk berangkat. Sesampainya dikelas, ia sudah melihat teman-teman sekelasnya sudah duduk rapi didampar masing-masing. Ia kebagian dipaling belakang. Ia juga merasa bahwa dibalik satir hijau itu mba-mba pondok sudah semuanya berangkat.
Pukul 09:33, ustadz Maulana datang dan segera duduk di depan.
“Monggo dungo riyin.” Ucapnya.
PLIISS.. BUAT AUTHOR SEMANGAT DENGAN (...........) 🤗🤣 LANJUT.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
Hari AHAD
2023-12-11
1
Sogol Shinko
di kamar mandi sambil ngeokok,,,nikmattttt🤣
2023-07-24
2
nasrul
lanjut
2023-07-03
1