"Itu ada syari'atnya kang Jamal, kita mencium tangan ulama' itu bisa dengan dua niat. Pertama saat mencium punggung tangannya diniati ta'dzim ke beliau. Dan kedua mencium telapak tangan beliau untuk niat tabarrukan," Jelas Ustadz Maulana.
"Iya tadz, faham. Lalu saat duduk bersama Abah Yai saya harus bagaimana tadz? Dan bagaimana saya harus berbicara?" Tanya Jamal lagi.
"Bicaralah yang secukupnya dan jangan sekali mengangkat pandanganmu ke wajah Abah Yai. Itu tidak sopan!" Jawab Ustadz.
"Iya tadz," Faham Jamal.
"Yasudah sana, berangkatlah!" Perintah Ustadz kepada Jamal.
"Iya, saya pamit,"
"Silakan!"
"Wassalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam."
Jamal semakin kalut dalam kegundahannya. Rasa bimbang semakin menggelayut dibenaknya. Juga seolah mengikis semua keyakinan serta kepercayaan dirinya. Namun dia bertekad harus berani. Dengan langkahan penuh harap akan kepastian, ia menuju ke ndalem Abah Yai nya.
Tak butuh waktu lama dia pun sampai di pintu masuk. Dengan jantung yang berdetup kencang dan dengan mengucap basmalah ia salam
"Assalamu'alaikum," Ucap Jamal namun belum ada jawaban. Dan dia mengulanginya,
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam." Jawab dari dalam.
Mendengar jawaban atas salamnya, jantung Jamal semakin terasa berguncang. Seolah hampir terdengar jelas di gendang telinganya. Jawaban salam itu tak lain dari Abah Yai.
"Siapa?" Tanya Abah Yai
"Jamaluddin Abah," Jawab Jamal.
"Oh kang Jamal, masuk saja kang, kemari!" Perintah Abah Yai.
"Injiih Abah." Jamal Menurut.
Jamal pun membuka pintu dan masuk dengan perlahan. Ia sama sekali tak pernah mengangkat pandangannya dalam berjalan membungkuknya. Ia menuju Abah Yai dengan mempraktikan apa yang telah disampaikan oleh ustadz Maulana. Tubuhnya gemetar hebat kala itu.
"Kang Jamal," Buka Abah Yai
"Iya Abah," Jawab Jamal.
"Kamu tau kenapa kamu Abah panggil kesini?" Tanya Abah Yai.
"Tidak Abah!" Jujur Si Jamal.
"Jadi gini Jamaal. Tapi sebelum Abah mau tanya dahulu sama kamu," Ucap Abah Yai.
"Iya," Singkat Jamal.
"Kamu mondok disini niatnya apa?" Tanya Abah Yai dengan raut wajah berubah serius.
Jregg, Jamal bingung hendak menjawab bagaimana. Mental dan kefasihannya dalam berbicara seolah jatuh habis dan dalam titik terendahnya. Dia menjawab seadanya yang terbesit di benaknya.
"Saya niat mondok disini untuk menghilangkan kebodohan saya Abah," Jamal menjawab sebisanya dan yang dia yakini benar.
"Emm, yayaya. Itu bagus, tapi masih kurang!" Ujar Abah Yai.
"Maksudnya kurang? Bisakah Abah menyempurnakan? Maaf," Tutur Jamal menundukkan kepala dalam-dalam.
"Iya! Niat demikian memanglah bagus! Tapi masih kurang sempurna! Jamal, andai kata niatmu hanya itu maka ketika kamu sudah tidak lagi bodoh, Allah takkan lagi memberikan ilmu lagi kepadamu. Terlepas meski kamu selalu mengaji!" Ucap Abah Yai dengan tegas.
"Lalu, benarnya saya harus niat yang bagaimana yaa Syaikhi?" Tanya Jamal berharap.
"Niatkan mengajimu untuk bertujuan untuk umat!. Kamu tahu ada berapa banyak permasalahan dalam umat ini?" Tanya Abah Yai.
"Hampir tak terbatas Abah," Jawab Jamal.
"Ya kamu tepat!. Maka jika kamu niat mengaji untuk umat maka senantiasa Allah akan selalu menambah terus pengetahuan kepadamu. Karena masalah dalam umat hampir tak terbatas. Kamu faham Jamal?" Abah Yai memastikan.
"Faham Abah," Ucap Jamal.
"Lalu Jamal, Abah ingin memberi tahu sedikit sesuatu. Jadi jika berbicara tentang santri. Santri itu siapa sih bagi masyarakat? Santri itu adalah orang yang dianggap bisa memecahkan masalah apa saja! Santri itu tendensi pembuka masalah bagi masyarakat. Kamu harus tau itu! Jika masyarakat ingin mengaji maka kamu harus bisa membelajari mengaji. Jika mereka ingin dido'akan sebab suatu hajat atau apa maka kau pun harus mampu mendo'akan mereka. Bahkan jika mereka menginginkan sesuatu yang agak nyeleneh kedengarannya namun tak melanggar syare'at, misal meminta diajari ilmu kekebalan atau lainnya maka kamu pun harus bisa berusaha mengabulkannya. Begitulah sedikit banyaknya peran santri didalam masyarakat," Jelas Abah Yai.
"Iya Abah," Faham Jamal.
"Jamal!"
"Iya,"
"Jadi santri jangan separuh-separuh! Umpama menggoreng sesuatu maka jangan belum matang sudah diangkat atau pulang untuk santrinya," Kata Abah Yai menasehati.
"Iya," Angguk Jamal.
"Kamu disamping harus bisa mengaji, kamu juga harus jadi pendekar dan faham alam gaib!" Ujar Abah Yai.
"Hah!" Jamal kaget.
"Iya. Kamu harus jadi pendekar juga! Abah izinkan kamu untuk belajar Pencak silat. Belajarlah dengan kakak Abah, Pendekar Jibril. Kamu tau beliau bukan?" Tanya Abah Yai.
"Tau Abah," Jawab Jamal jujur.
"Iya. Nanti Abah bilangin ke kakak Abah minta membelajarimu teknik-teknik pencak silatnya," Kata Abah Yai.
"Jamal ikut apa kata Abah," Turut Jamal.
"Bagus Jamal. Kamu harus bisa dan bisa! Ada banyak yang harus kamu lewati untuk kedepanmu. Yasudah, mulai nanti malam sehabis mengaji, kamu berangkatlah ke tempat kakak Abah. Belajarlah dengan giat dan jangan ragu!" Ucap Abah Yai.
"Insyaallah Abah," Kata Jamal yakin.
"Yasudah. Silakan kembali ke asrama. Itu dulu yang Abah sampaikan untuk saat ini," Ujar Abah Yai.
"Sendiko dawuh Abah."
Jamal pun segera menyalami Abah Yai dan berpamitan. Ketegangan itu seolah hilang seketika dari tubuhnya. Dia benar-benar lega perasaannya. Namun, hatinya juga bertanya besar. 'Apa maksud Abah Yai menyuruh saya belajar pencak silat dan bahkan mempelajari ilmu kebatinan?'
"Aaahhhh." Ia segera menghilangkan semua pertanyaan itu dengan ******* panjangnya. Ia harus siap dan mampu mempelajari teknik-teknik silat. Ia juga harus tidak mengecewakan Abah Yai. Ia sepenuhnya telah dipercaya, pantang bagi santri mengecewakan Gurunya, batin Jamal.
"Hei Kang Jamal!" Suara Ridwan mengangagetkannya
"Astaghfirulloh kang Ridwan! Kamu selalu mengagetkanku!" Ujar Jamal.
"Ahahaha. Abisnya kamu ngelamun terus ku perhatikan. Ada apa? Ngomong, ceritalah sama ahlinya. Hahaha," Ridwan tertawa terbahak-bahak.
"Ahli?" Jamal mengerutkan keningnya.
"Iya lah aku kan ahli memecahkan masalah. Hahaha," Ridwan masih terus tertawa terbahak-bahak.
"Ahli memecahkan apa ahli buat masalah?" Tanya Jamal dengan nada mengejek.
"Sialan! Hahaha.. Kamu bisa aja kang Jamal,"
"Yaa emang setahuku begitu. Haha!"
" Kamu terlalu jujur kang,"
"Hahaha,"
"Ngomong-ngomong ada apa to. Ngelamun bae," Ekspresi Ridwan menjadi agak serius.
"Ah. Nggak ada apa-apa kang!" Elak Jamal.
"Kamu selalu begitu kang Jamal! Mana mungkin nggak ada apa-apa. Hingga si Jenius Jamal sendirian ngelamun. Haha" Kata Ridwan menggoda Jamal.
"Isssh. Sampeyan ini!" Ucap Jamal.
" Eh. Tadi kan kamu habis dari ndalem Abah Yai kan? Apa ini ada hubungannya sama Beliau?" Tanya Ridwan
"Enggak kok," Jawab Jamal menutupi.
"Halaah kaang kaang. Aku tau kook," Ujar Ridwan.
"Tau apa? Kan aku belum cerita," Sanggah Jamal.
"Yaa tau aja. Hahaha," Ridwan kembali terbahak.
"Kamu ini kayak Tuhan aja. Udah tau sesuatu yang belum diceritakan!" Geleng Jamal.
"Maka dari itu ceritalah! Biar aku nggak dianggap Tuhan," Ucap Ridwan enteng.
"Hadeeh," Jamal memutar bola matanya dengan malas.
"Ayolah, ceritakan! Meski cuman secuil. Hehe,"
"Emmm," Jamal berfikir.
"Amm emm amm emm apaan! Mana tau aku kalo ceritanya amm emm amm emm!" Gerutu Si Ridwan.
"Gimana ya kang Ridwan?" Ucap Jamal.
"Gimana apanya? Issh! Nggak jelas sampeyan ni!" Ridwan semakin kesal dan kesal.
"Aku disuruh Abah Yai belajar silat sama ilmu kebatinan!" Jawab Jamal.
"Whatt?!" Kaget Ridwan.
"Iya. Aku disuruh itu," Lemas Jamal.
"Kok aneh ya?" Ridwan menjadi sangat penasaran.
"Mene gewe tehe!" Malas Jamal memutar bola mata dan melioat tangannya didepan dada.
"Makanya dari itu kang Ridwan. Aku sedari tadi memikirkan keanehan ini. Kenapa aku harus belajar ilmu itu?" Lanjutnya dengan bertanya.
"Emmm,"
"Emm apa? Kamu ini malah ikut-ikutan emm emm," Kata Jamal.
"Ahehe. Untuk masalah ini, kayaknya aku nggak tau jalan keluarnya deh kang," Ungkap Ridwan.
"Helleh. Aku sudah tau itu mah!" Ejek Jamal.
"Tapi menurutku ya kang Jamal," Kata Ridwan.
"Apa?" Tanya Jamal.
"Sampeyan ikut saja apa yang Abah Yai katakan. Mungkin beliau mengetahui dan merencanakan sesuatu di masa depan, dan mungkin ada hubungannya denganmu," Jelas Ridwan.
"Mungkin saja. Tapi kenapa harus saya?" Tanya Jamal lagi.
"Untuk masalah itu maah, aku juga nggak tau lagi kang. Kamu tanyakan saja sama Abah kalo berani. Ahahahaha," Jawab Ridwan santai dan tertawa.
"Hissh. Mana berani aku!" Kata Jamal.
"Ya sudah. Manut dan ikut wae! Hahaha," Ujar Ridwan.
"Pasti!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
anonim
mksi thor
2023-06-12
2
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
Abah yai nyuruh kamu belajar silat dan ilmu kebatinan itu jga demi kebaikan mu jamal, ayoo turuti aja dengerin pepatah orang tua apalagi guru kita
2023-06-11
2
RayiRaka Chan
hahahaha......lanjutkan
2023-03-16
0