Hari demi hari telah Jamal lewati. Semakin banyak pula kenalannya di pesantren yang masih dalam kondisi liburan itu dikarenakan masih bulan syawal. Dan pada biasanya, pengajian dimulai di bulan Dzul-qo’dah awal atau pertengahan. Tergantung apa yang dikehendaki abah yai. Jamal banyak melihat santri-santri baru yang juga diantarkan oleh orang tuanya masing-masing layaknya ia pada waktu itu.
Jamal disamping dia pandai berbicara, pemikir tinggi dan jenius, sebenarnya ia juga sosok yang suka bercanda, riang, dan bahkan tertawa. Akan tetapi, jikalau ia mengetahui suatu perkara atau kejadian yang menyayat hati, tak jarang pula ia menitihkan air mata berliannya.
Tepatnya hari minggu pukul 10:00 pagi, ia duduk sendiri tertegun. Hatinya penuh kegamangan melanda. Raut wajahnya pun kelihatan agak murung dan disertai matanya yang berkaca-kaca bahkan meleleh.
Melihat hal itu, Arif yang merupakan tetangga kamar sebelah buru-buru menyapanya.
“Kang Jamal!”
“I-iyan” Jamal terkaget dan gagap dalam menjawab. Secepat kilat dia menghapus genangan bening dimata dan pipinya.
“Kenapa kang? Kok dilihat-lihat kamu dari tadi melamun terus? Itu sampai menangis pula!” tanya Arif sambil menunjuk bulir air mata yang tersisa pada pipi Jamal.
“Eh.. Nggak apa-apa kok kang Arif! Hanya saja saya teringat sama masa lalu saya! Masa dimana saya hidup penuh ketidakaturan, semaunya sendiri! Pokoknya parah!” jawab Jamal jujur.
“Owh.. Memang melakukan apa saja sih kang? Sampai-sampai kang Jamal melamun dan nangis seperti itu!” penasaran Arif.
“Emmm.. Ehehe.. Sebenarnya ini sesuatu yang sudah lampau sih kang! Bahkan sudah sangat lama! Hanya saja, bukan berarti yang sudah lampau dengan mudahnya kita lupakan! Lebih-lebih jika itu dosa!" kata Jamal.
'Menurutku, jika seorang manusia melakukan suatu dosa, walaupun dia sudah istighfar atau taubat sekalipun tapi dia kemudian melupakan perbuatannya itu, menurutku dia orang yang terbujuk setan!" kata Jamal lagi.
“Lho? Kenapa bisa demikian?” tanya Arif semakin penasaran.
“Iyaa, dia terbujuk setan! Karena padahal secara hakikinya dia tidak tau dan tidak akan pernah tau apa dosanya benar-benar sudah dimaafkan oleh Allah atau masih terjaga disisi-Nya,” ungkap Jamal.
“Iya-iya! Lalu dosa apa yang kang Jamal lakukan?” tanya Arif berulang kali.
“Ya pokoknya ada lah! Hehehe.." cengengesan Jamal.
“Owalah.. Kang.. Kang! Kirain melamun-melamun terus sedih sampai menangis sebab tidak betah di pondok! Hehehe,” Arif ikut cengengesan tidak jelas.
"Halah! Aku mah betah banget kang Arif! Orang hidup di pesantren itu pilihanku sendiri. Jangan-jangan kamu paling kang Arif yang belum betah! Hayo ngaku!” ucap Jamal menatap Arif dengan tatapan agak tajam.
Arif terlihat begitu cengengesan saat dilontarkan pertanyaan itu.
“Hehe.. Iya sih kang Jamal, aku kurang bisa menerima hidup dilingkungan seperti ini! Mau makan harus masak sendiri, makannya bareng-bareng satu nampan, cuma pakai tangan lagi! Haih.. Ngenes pokoknya!" ujar Arif.
"Belum lagi besok kalau sudah mengaji, katanya ada pelajaran inilah, itulah, macam-macam! Yang mana sama sekali saya belum pernah mendengarnya apalagi mempelajarinya!” ungkap Arif lagi dengan jujur penuh dengan keluhan.
"Hadeh! Gini lho kang Arif! Kita itu kan para pemuda! Penggemblengan manusia itu harusnya ada diwaktu muda seperti kita ini! Jadi saat tua nanti tinggal menikmati usaha hasil gemblengan masa mudanya!.."
"Intinya, kita ini hidup di pesantren bukan hanya untuk mengaji saja! Tapi juga dilatih kemandiriannya! Mungkin juga agar kita tahu betapa susahnya orang jaman dulu yang tidak ada kompor gas dan tidak ada perlengkapan-perlengkapan seperti sekarang ini. Hingga lantunan bersyukur akan dapat keluar dari mulut dan diri kita. Mungkin seperti itu kang Arif!" ucap Jamal memberi nasehat kepada Arif.
“Owh..” faham Arif.
“Jadi.. Berpandai-pandailah mengatur batin kita! Lakukan sesuatu yang menuntun jiwa kita untuk merasa betah dilingkungan ini! Kang Arif tahu bukan? Bahwa pondok pesantren itu secara pandangan syari’at adalah suatu tempat yang baik! Jadi, kita betah bertempat ditempat ini adalah merupakan suatu kebaikan juga lo kang! Yakin! Hehehe..” kata Jamal yang semakin terlihat bijak.
“Terus bagaimana caranya supaya saya bisa kerasan disini? Tempat ini begitu asing dihidupku. Apa yang harus kulakukan?” tanya Arif.
“Mungkin jika baru pertama kali merasakan mondok memang demikian kang Arif! Hawanya pingin pulang terus! Tapi yakinlah! Dengan sedikit allohumma paksa, pasti kang Arif akan betah disini! Juga kita ini belum mulai mengajinya alias masih dinuansa liburan. Jadi kang Arif belum tau keindahan-keindahan mengaji. Khususnya ngaji bareng Abah yai! Iya kan?” kata Jamal masih dengan kebijaksanaannya.
“Iya kang Jamal! Berarti itu tadi ya.. Allohumma paksa?” ucap Arif memastikan.
“Nah.. Cocok itu kang Arif!” jawab Jamal sambil menepuk pundak Arif.
“Terima kasih kang atas nasehatnya! Sekali lagi terima kasih!” ucap Arif dengan tulus.
“Iya kang Arif! Sama-sama.” jawab Jamal juga penuh dengan ketulusan.
Arif pun berlalu dengan kepuasan batin atas kata-kata yang terlontar dari Jamal. Bahkan sangat puas hingga keyakinan betah mondoknya Arif tertanam di jiwanya. Ya! Walaupun harus dimulai dengan sedikit paksaan!
Lain halnya dengan batin si penanam kebetahan itu. Ia memang pandai dan sangat lihai menasehati orang dan mengudari masalah. Namun begitu susah menasehati untuk dirinya sendiri.
Tiap kali teringat dua pesan Sang Maha Guru dan Abinya, hati Jamal kembali murung dan bertanya-tanya sekali. Padahal tiap kali ia bertanya pada teman-temannya perihal pesan Abah Yai ketika awal mondok dan mendaftar, pastilah mereka diwasiati untuk rajin mengaji serta rutin jama’ahnya. Tapi mengapa ia tidak? Begitu terasa tak adil gumamnya.
“Ahh!"
Dia membuang mukanya tersendiri untuk menghindarkan perihal su’udzon atau nerburuk sangka pada gurunya.
Tampaknya, setelah dia rasa dan telaah dengan mendalam. Dengan segenap keyakinan dan pemahaman yang ia punya, juga hikmah percakapannya dengan Arif, ia menyimpulkan:
“Sepertinya saya juga harus adaptasi juga untuk sementara waktu dan menerima ketidakpuasan jiwaku. Alangkah tidak malunya aku! Aku sudah bisa mengeluarkan kang Arif dari masalahnya, tapi malah aku sendiri jiwanya masih terpenjara dalam jeruji kebimbangan. Astaghfirulloh, astaghfirulloh, astaghfirullohal ‘adziim.” sebutnya sembari memejamkan kedua pelupuk matanya.
Hari-hari terus berjalan. Masa dan nuansa liburan pondok itu sebentar lagi akan segera usai. Jamal menikmatinya dengan asik membaca buku-buku sejarahnya. Menurutnya, daripada hanya sekedar nganggur dan berdiam diri, lebih baik dia gunakan untuk menambah wawasan sejarahnya
Membaca dan menulis adalah hobinya. Tiap kali selesai membaca satu sejarah dan menemukan hikmah yang tersirat didalamnya, ia tulis dan kumpulkan hasil penemuannya itu.
Tak sedikit dia juga mengarang hikayat-hikayat dan cerpen yang berisikan inspirasi-inspirasi hidup. Hobinya itu sudah muncul sedari ia duduk di bangku Mts. Hingga ia pernah ditawari salah satu guru Bahasa Indonesianya untuk karangannya dikirim di majalah anak bangsa. Namun ia selalu menolaknya dengan alasan tidak mau terkenal.
Karena kejeniusannya dalam memahami tiap-tiap persoalan dan juga keaktifan jiwanya, ia selalu menorehkan juara pertama dikelasnya. Bahkan setelah duduk dibangku kelas 9 Tsanawiyah, ia dinobatkan menjadi ketua OSIS.
Dan saat-saat ujian nasional telah selesai pelaksanaannya, ia mendapat predikat siswa terbaik di sekolahnya dan mendapat banyak penghargaan serta tawaran beasiswa diberbagai sekolah SMA dan Madrasah Aliyah.
Namun, lagi-lagi putra kiai Syakur itu menolak semua tawaran menggiurkan itu. Dia lebih mencondongkan jiwa serta ketertarikannya untuk melanjutkan rihlah pembelajarannya di pesantren. Akhirnya, ketika ijazah belum lagi keluar, ia sudah menyebrang ke tanah jawa untuk berburu ilmu disana.
.
.
Adzan ashar mulai bergema, disusul musholla dan masjid-masjid disekitarnya. Bersaut-sautan indah melantunkan kalimat suci. Jamal yang telah selesai mandi dan bersuci sesegera mungkin menuju aula utama pondok untuk berjama’ah.
Sore itu Jamal begitu tertegun hatinya. Mendengar puji-pujian penyela sebelum sholat didirikan sembari menunggu datangnya Abah Yai.
Kang Junaid, anggota sekaligus vokalis hadrah pondok bersenandung indah.
“Allohumma sholli wasallim ‘ala… Sayyidina wamaulana Muhammadin…"
“ ‘Adadama fii ‘ilmillahi sholatan… Daimatan bidawami mulkillahi”
“Ilahii lastu lil Firdausi ahlaa… Walaa aqwa ‘alannaaril jahimii”
“Fahablitaubatan waghfir dzunubi… Fainnaka ghofirudz-dzambil ‘adzimi”
“Duh gusti kulo sanes ahli suargo… Nanging kulo mboten kiat wonten neroko,”
(Wahai Tuhan, aku bukanlah ahli surga… Tapi aku juga takkan kuat masuk neraka).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep
2023-12-11
1
nasrul
lanjut kare udah ad yg meluruskan kesalahan sedikit
2023-07-03
2
GS 1-16-5
pernah denger...
2023-06-11
2