Pagi yang indah! Kicauan burung-burung liar mulai bersautan disana-sini. Ditambah tumbuhan bambu yang rindang yang menurut pelajaran IPA merupakan jenis rumput raksasa.
Juga pepohonan jati yang dedaunannya basah bekas hujan gerimis semalam. Belum lagi terbitnya sang mentari pagi dengan kemilau cahaya jingganya, menjadikan nuansa awal hari begitu menakjubkan dan indah berseri-seri.
Begitulah kata orang-orang. Lain halnya dengan santri baru putra kiai Syakur ini. Yang pura-pura tersenyum menyapa tiap kali berpapasan dengan santri-santri lainnya, padahal hatinya tertegun dan gundah segundah-gundahnya. Hal itu terjadi sebab terhujani besatan juta pertanyaan didadanya buah dari dua ungkapan.
Ia hanya terus berjalan-jalan tak terarah hendak kemana ia bertujuan. Menutupinya dengan alasan melihat-lihat pesantren barunya itu dengan mulut yang senantiasa selalu terbungkam.
Padahal gumaman batinnya selalu mengatakan ingin melawan, namun begitu susah ia jalankan. Hingga luapan allohumma paksa lah yang akhirnya ia lakukan.
Ia ayunkan kaki, menuju dan menjumpai teman-teman seniornya yang sedang duduk-duduk santai di emperan depan komplek dengan suguhan satu gelas kopi dan rokok lintingan tembakau jawa.
Dia nekat berkenalan dengan mereka. Hitung-hitung juga untuk menambah daftar nama kenalan baru. Karena yang dia kenal di pesantren barulah hanya tiga orang saja. Ridwan dan Ghoffar teman kamarnya yang berdomisili dari daerah yang sama, juga merupakan santri baru sama seperti dirinya. Dan yang terakhir adalah kang Rahmad, si lurah pondok yang menghantarkannya bersama Aby ke kamarnya.
“Assalamu’alaikum kang!" sapa Jamal membuka kata.
“Wa’alaikum salam!" jawab semuanya.
"Siapa namamu kang?" ucap salah satu diantara mereka bertanya tiba-tiba.
“Saya Jamal, lengkapnya Muhammad Jamaluddin!” ungkap Jamal.
“Lha asalnya darimana kang Jamal?” tanya dia lagi.
“Saya dari Ambarawa bagian barat kang!” jawab Jamal.
“Owalah.. Berarti dekat! Jalan kakinsaja bisa sampai dengan cepat! Oiya, namaku Fahmi! Trus ini Irfan dan dia Barok!” kata dia yang ternyata bernama Fahmi.
Jamal pun bersalaman dengan kesemuanya. Dia berusaha ramah dan murah senyum dengan mereka. Begitu pula sebaliknya.
Obrolan demi obrolan perlahan terobralkan. Saling tanya ini itu tentang kehidupan masing-masing sebelum akhirnya semua orang pemuda itu menjadi santri di satu pondokan itu.
Jamal banyak dihujani pertanyaan yang menurut fikirnya agak-agak aneh oleh seniornya. Bahkan diajaknya juga untuk meracik lintingan rokok namun Jamal belum mau.
“Lha kenapa nggak merokok?” tanya Fahmi.
“Nggak tau lah kang! Tapi mungkin belum! Yang jelas untuk sekarang ini saya pribadi belum tertarik!” jawab Jamal mengungkapkan.
“Hehehe.. Jika belum, itu berarti suatu saat bisa tertarik dong?” tanya Fahmi yang disahut tawa teman-teman lainnya setuju.
“Kang Jamal tahu tidak? Didalam racikan sebuah rokok ini ada makna yang yang mendalam!” ungkap Fahmi.
“Makna yang mendalam?” bingung Jamal.
"Iya! Makna yang mendalam!” jawab Fahmi serius.
"Makna apa itu kang Fahmi?” tanya Jamal memastikan.
“Begini kang Jamal.. Rokok itu komposisinya terbuat dari kertas papir, tembakau atau mbako jika dalam bahasa jawa, dan cengkeh!.."
"Maksudnya papir itu sebenarnya adalah fafirru ilalloh! Yang artinya maka berlarilah kalian semua ke Alloh! Jadi kita disuruh untuk cepet-cepat kembali ke Alloh, dalam artian taubat dan ibadah-ibadah lainnya!.."
"Kemudian yang kedua dari komposisi rokok adalah tembakau atau mbako. Dan kata mbako sebenarnya adalah diambil dari bahasa arab yaitu lafadz baqo’ yang artinya kekal atau terus-terusan ada..."
"Nah.. Kang Jamal.. Setelah kita tadi disuruh fafirru ilalloh, kita juga disuruh untuk baqo’ alias terus menerus dalam melaksanakan fafirru ilalloh nya! Buat gampangannya adalah istiqomah!.."
"Dan arti atau maknanya cengkeh dari komposisi yang terakhir adalah rasa manis! Karena cengkeh adalah pemanis bagi rokok!.."
"Dalam peribadatan yang istiqomah sebelumnya, sebisa mungkin kita rasakan rasa manisnya alias tanpa adanya keterpaksaan!.."
"Kemudian kita bakar rokok itu dengan korek lalu kita hisap dan rasakan kenikmatannya. Maka akan keluar untuk kita asap atau dalam bahasa jawanya kebul atau qobul yang artinya diterima! Maksudnya diterima disisi Allah ibadah kita! Hehehe.. Kurang lebihnya begitu kang Jamal!” jelas Fahmi panjang kali lebar ples kali luas juga.
“Emm… Cukup menarik juga ya! Tidak kusangka ada-ada saja arti didalam sepuntung rokok itu! Hehehe..” jujur Jamal.
“Dan satu lagi kang Jamal!” ucap Fahmi.
“Iya?” kata Jamal memiringkan kepala penuh tanya.
“Saat menghisap rokoknya, kita barengilah dengan membaca dzikir atau shalawat didalam hati! Kan lumayan bisa sedikit-sedikit dzikir nafas seperti dzikirnya para wali!" ungkap Fahmi.
“Hahaha! Atau memang jangan-jangan kamu juga termasuk wali ya kang Fahmi? Hahaha..” Jamal tertawa terbahak-bahak diikuti oleh yang lainnya saat bertanya.
“Wali talkeh alias leh nguntal mangane akeh! Haha..” sangkal Fahmi. (Wali talkeh alias jika makan porsinya banyak!)
Mereka tertawa dengan serentak. Tiba-tiba Irfan melontarkan pertanyaan ke Jamal yang agaknya membuat ia terdiam sejenak dari kekehan tawanya. Begitupun dengan si Fahmi dan Barok.
“Kang Jamal kok lebih milih mondok? Tidak sekolah saja? Kan enak kalau sekolah! Bisa melihat banyak cewek disana-sini. Lain halnya dipondok! Iyaa sih, duduk bersama disatu ruangan, tapi terhalang oleh satir atau penutup!”
Mendadak suasana menjadi begitu senyap dan tidak lagi asyik. Namun dengan agak bernafas berat dan menghelanya, Jamal pun memberikan jawabannya,
“Hehehe.. Kang.. Kang.. Aku sudah telat untuk sekolah!" jawab Jamal jujur.
“Kenapa?” tanya Irfan.
“Iya kang Irfan! Orang saya lulus Mts sudah empat tahun silam!” ujar Jamal.
“Lha kok?” Fahmi penasaran.
“Iya! Saya sebelum mondok disini pernah main ke tanah jawa empat tahun! Hehe.. Tapi hanya sekedar main-main! Juga saya tidak suka sekolah! Pusing merasakannya! Aku sampai lulus Mts saja sembari dipaksa-paksa sama Aby! Coba saja tidak, pasti sedari SD aku tidak mau sekolah dan hanya mondok saja!” cerita Jamal.
“Kenapa bisa demikian?” tanya Fahmi yang berambut gondrong.
“Kalau menurutku, sekolah sama mondok itu lebih dominan dan penting mondok! Jika dalam hal untuk bisa mencetak generasi yang baik, berakhlak dan berguna dimasyarakat!" jawab Jamal.
“Kenapa bisa kamu punya pendapat seperti itu?" protes Barok yang sedari tadi hanya diam tapi mendengarkan.
Jamal menanggapinya dengan jawaban santai dan dengan gaya bicara yang klasik.
“Memang sih! Aku tidak menafikan mereka-mereka yang unggul dan berprestasi di pendidikan formalnya dan sekarang ilmu-ilmunya juga sudah dimanfaatkan oleh banyak orang. Okelah mereka baik! Bahkan sangat baik!.."
"Tapi coba kita lihat! Berapa persen mereka-mereka yang sekolah formal dan mari kita bandingkan dengan yang pulang lulusan pesantren!.."
"Yang kata kang Irfan mungkin sumpek suasananya serta tidak bisa bebas melihat cewek-cewek walau hanya sekedar untuk refreshing sejenak. Tapi justru itulah yang menarik menurutku!.."
"Justru jika kita hindarkan dulu fikiran tentang pasangan saat belajar, otak kita akan bisa full fokus ke pelajaran alias tidak terbagi dua! Separuh berfikir pelajaran, separuh lagi memikirkan dia! Hehehe.."
"Coba bandingkan berapa persen! Dan manfa’atan mana dengan anak santri?” tanya Jamal kepada mereka.
“Ya! Memang tidak bisa dipungkiri dan harus diakui masih unggulan santri! Tapi pendidikan formal juga tidak kalah pentingnya!" cocok Fahmi.
“Iya! Memang betul! Tidak ada ilmu yang tidak penting. Maka menurutku hebat-hebatnya orang adalah mereka yang mampu mengimbangkan keduanya! Mampu mengkolaburasikan bidang formal dan non formal! Dalam arti dia ya sekolah ya mondok!” ucap Jamal mengungkapkan keseluruhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep. aku seh gak suka rokok dan orang yg merokok dekatku - bikin sesak napas
2023-12-11
3
ImaFatima Latief
rokok!!!!
2023-07-12
1
Mang Aif
Ambarawa, jawa tengah, pas nya panggilan pake mas, koq pake kang
2023-07-01
2