Hari-hari berlalu tak terasa. Bumi terus berputar pada porosnya. Menggulung detik menjadi menit, menit menjadi jam, terus demikian hingga minggu menjadi bulan.
Sudah hampir tiga bulan lamanya Jamal menetap di pesantren. Ia bahagia, bahkan sangat bahagia. Ia terus menikmati hari-harinya dengan suka cita. Ia juga selalu rutin dalam setiap kegiatan dipondok. Ia menjadi salah satu santri yang unggul, bakatnya yang terpendam dan kejeniusannya yang mulai terlihat begitu sangat bisa dirasakan oleh semuanya, baik oleh santri maupun Abah yai.
Hari itu tak terlupakan bagi semua santri. Saat rutinitas malam minggu pondok pesantren al-Mukhlis di aula inti pondok, semua santri putra-putri berkumpul disana. Abah yai langsung yang memimpin pelajaran Bahasa arab itu. Waktu itu Abah yai menyenandungkan sya’ir. Selesai bersya’ir beliau bertanya:
“Hayo sinten seng saget ngi’robke sya’ir nembe?” (Hayo, siapa yang bisa mengi’robkan sya’ir tadi?).
Semua santri terdiam membisu. Suasana mendadak terasa begitu hening. Seolah aula inti pondok yang begitu luasnya tak ada orang satupun disana. Abah yai mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya:
“Hayo, enten seng saget mboten?” (Hayo, ada yang bisa atau tidak?).
Para santri putra-putri masih saja diam. Pertanyaan Abah memang sangat menyulitkan semuanya. Meng I’robkan sebuah sya’ir. Itu sungguh tantangan yang begitu berat. Tapi tak disangka dan diduga-duga, dari baris belakang ada suara yang membelah keheningan itu.
“Bismillahirrohmanirrohim,”
Semua spontan mencari sumber suara itu. Mba-mba pondok pun penasaran bukan main dan saling tanya-menanya siapakah kang santri yang bersuara itu.
Semua tak menyangka. Suara itu keluar dari tenggorokan Jamal. Ia kemudian mengi’robkan sya’ir itu. Semua mendengarkan dengan seksama dan perasaan takjub. Ditambah lagi pujian Abah yai setelah beliau tau bahwa jawaban Jamal adalah benar semuanya.
Tampaknya semenjak kejadian itu, Jamal juga menjadi salah satu santri yang menjadi perhatian khusus dari Abah yai secara diam diam. Saat dikelas Jamal, beliau acap kali bertanya perihal apapun, dan Jamal pun menjawab semua pertanyaan Abah Yai dengan selalu benar dan memuaskan.
Malam minggu, batin Jamal agaknya terasa mendung. Suasananya begitu kelabu. Ia tampak sedang berfikir mendalam. Tadi siang ia mengobrol dengan salah satu temannya.
Temannya mengungkapkan bahwa Abah Yai pernah mengatakan beliau sangat melarang santri-santrinya berwiridan tanpa seizinnya. Temannya juga menuturkan bahwa dulu pernah ada santri yang berwirid-wirid dan tanpa izin Abah Yai jiwanya kemudian beda dan agak stres.
"Mengapa bisa demikian? Bukankah wiridan itu suatu hal yang baik? Bahkan sangat dianjurkan." Gumam Jamal dalam lamunannya. Ia masih merasa tak habis pikir dengan wirid ada santri yang agak setres. Sungguh aneh menurutnya.
"Eh kang Jamal, ngapain ngelamun?" Tiba-tiba suara Ustadz Maulana mengagetkannya.
"Eh ustadz!" Terkejut Jamal.
"Ada apa to kang, kok sampai ngelamun-ngelamun gitu?" Tanya Ustadz Maulana.
"Ahehe, ndak papa tadz," Tampak malu.
"Lah, ya ndak mungkin to ndak ada apa-apa kok sampek ngelamun gitu. Hehe. Cerita saja sama saya kang Jamal, mungkin saya bisa jadi pendengar yang baik," Ucap Ustadz Maulana.
"Hehe, gimana yaa tadz. Ini loo saya agak bingung menanggapi cerita-cerita kang-kang santri," Kata Jamal.
"Hehe. Cerita apa to kang?" Ustadz Maulana Penasaran.
"Itu loo tadz. Katanya dulu kan ada salah satu kang santri yang suka berwirid dan berwirid. Tapi saya habis pikir kenapa bisa sebab wirid yang sangat bagus bahkan dianjurkan oleh beberapa wali dan guru santri itu jadi agak setres? Kok bisa gitu loo pertanyaanku!" Tanya Si Jamal.
"Owalaaah, cuma masalah kecil seperti itu to. Kirain ada masalah apa. Hehe. Jadi gini lo kang Jamal," Sembari menarik nafas agak dalam dan melanjutkan,
"Membaca wirid itu memang sangat dianjurkan! Bahkan ada pepatah mengatakan: 'santri tanpa wirid itu umpama manusia hidup dengan kaki pincang'...
Namun disini, dipesantren kita ini Abah Yai melarang santri-santrinya untuk wirid-wiridan dan sebagai gantinya kita cukup disuruh rajin ngaji dan selalu berjama'ah ditiap sholat lima waktu," Jelasnya.
"Lalu apa hubungannya dengan si santri kok bisa setres?" Tanya Jamal yang masih belum faham dengan ucapan Ustadz Maulana.
"Oh iya, jadi berhubung shohibul wilayahnya (pemilik wilayah/Abah Yai) melarangnya maka otomatis yang ada dilingkup wilayahnya juga dilarang keras berwirid-wirid. Dan nah sisantri itu melanggar larangan dari Abah Yai, yaah ternyata dari wiridnya yang dibaca bukan keluar hikmah-hikmah yang lain, melainkan malah membuatnya agak stres," Tutur ustadz Maulana.
"Owalah, jadi begitu to," Puas Jamal.
"Demikianlah," Angguk Ustadz Maulana.
"Yayaya, eh ustadz. Ngomong-ngomong kok tumben datang ke asrama santri, ada apa?" Seka Jamal untuk mencari obrolan lain.
"Oh iya, malah lupa. Hehehe. Jadi gini kang Jamal. Tadi saya habis dipanggil dan menghadap ke Abah Yai. Ternyata beliau bertanya banyak perihal kamu. Jadi saya jawab sebisanya. Oh iya, nanti bakda sholat kamu juga di suruh menghadap ke Beliau!" Ujar Ustadz Maulana.
"Bertanya tentang saya? Disuruh menghadap?" Jamal memastikan.
"Iya. Betul sekali kang Jamal," Jawab Ustadz Maulana.
"Kira-kira ada apa ya kang? Kok tumben," Heran Jamal.
"Saya juga kurang tau kang. Intinya saya cuman disuruh menyampaikan pesan Abah Yai dan kamu diminta menghadap ke beliau," Tutur Ustadz Maulana.
"Oh, iya tadz. Terima kasih kasih ustadz" Ucap Jamal tulus.
"Iya. Sama-sama kang Jamal. Ya sudah saya pamit dulu ya. Itu masih ada beberapa urusan," Pamit Ustadz.
"Oh iya ustadz, silakan," Jamal mempersilahkan.
"Assalamu'alaykum,"
"Wa'alaykumussalam warohmatulloh."
Jantung Jamal berdetup kencang. Ia bingung hendak berkata apa lagi. Ia tak biasa berbicara empat mata dengan Abah Yai. Ditambah lagi dengan beberapa pertanyaan di benaknya 'ada apa gerangan Abah Yai memanggilku? Apa aku melakukan kesalahan?'.
Hati Jamal benar-benar dibuatnya gelisah. Ia semakin larut dalam keheningan dirinya.
Tiba-tiba sebuah sapaan Ridwan mengagetkan dan memecahkan lamunannya,
"Woy kang Jamal! Ngelamun wae. Hahaha,"
"Astaghfirulloh kang Ridwan. Bikin kaget aja" Kata Jamal.
"Ahahaha. Salahnya kamu ngelamun terus ku perhatikan," Ucap Ridwan tanpa rasa salah sedikitpun.
"Hehe, nggak papa kang Ridwan, cuman agak anu," Elak Jamal.
"Anu apaan? Ona anu! Hahaha. Mikirin kenalan cewek dikelas kah kang Jamal? Ahahaha," Tanya Ridwan mbulet.
"Astaghfirulloh, ya enggak lah. Juga saya nggak ada yang kenal kok." Jawab Jamal sembari berpaling dari Ridwan.
Waktu cepat berjalan. Kini yang ditakutkan Jamal telah tiba. Ia harus menghadap ke Abah Yai. Setelah selesai mandi dan sholat berjama'ah, ia buru-buru lari ke ustadz Maulana.
"Assalamu'alaikum ustadz,"
"Wa'alaikum salam kang Jamal. Ada apa kang?"
"Ini tadz, kira-kira gimana caranya nanti saya berbicara dan berpolahnya dihadapan Abah Yai? Saya takut kurang sopan ke beliau," Ucap Jamal.
"Owalah. Itu to. Gini kang Jamal. Nanti kamu salam saja dipintu ndalem, setelah ada jawaban kamu masuk dengan membungkuk. Biasanya Abah Yai bertanya 'siapa?', jawab saja namamu. Terus setelah kamu masuk bersalamanlah dengan Abah Yai dengan tangan beliau kamu bolak-balikkan," Kata Ustadz Maulana.
"Kenapa harus dibolak-balikkan?"
lanjuuut readerkuuu.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeepp
2023-12-11
0
nasrul
lanjut thoor
2023-07-03
1
anonim
mksi
2023-06-12
1