GROOAAARRR
Naga Petir itu meraung keras diatas langit, lalu melihat ke arah Pendekar Jibril dengan tatapan permusuhan.
"Ayo kemarilah naga jelek. Mari kita bermain." kata Pendekar Jibril.
Jamal hampir terjatuh mendengar ucapan gurunya.
'Naga petir merah diajak bermain? Apa masih waras?' batin Jamal.
GROOAAARRRRR
Naga itu kembali meraung dan terbang mengarah dengan kecepatan cahaya ke Pendekar Jibril. Bukan! Lebih tepatnya ke pusaka buatannya. Naga petir datang adalah untuk menguji seberapa kuat pusaka itu dan seberapa layak si empu hingga berani membuat dan mensucikan pusaka sekuat itu.
Pendekar Jibril sudah bersiap menghadapi serangan naga petir. Beliau melapisi seluruh tubuhnya dengan formasi pertahanan yang sangat tebal dan kuat.
Swuuussshh
Booommmmmmmm
Ledakan besar terjadi. Debu berhamburan dimana-mana, asap tebal pun menyelimuti seluruh area hantaman sang naga petir. Angin hasil lonjakan serangan berhembus sangat kuat dan tajam seperti sayatan pedang. Andai Jamal tidak dengan sigap melindungi diri dengan formasi niscaya dia pun akan ikut terluka parah.
Perlahan asap itu menghilang tertiup angin. Dapat Jamal saksikan kawah yang sangat besar dan dalam didepannya. Namun bukan itu yang membuat Jamal tercengang!, tapi ditengah-tengah kawah tersebut berdiri tegak sosok guru yang selama ini melatihnya.
Pendekar Jibril masih dengan santai berdiri dan tanpa terluka sedikitpun! Bahkan pakaiannya masih utuh dan tak tersentuh kotoran.
Jamal dibuat tercengang sekaligus kagum kepadanya. Betapa kuatnya beliau. Jamal melihat beliau bahkan masih tersenyum dengan manis dan penuh arti.
"Yaaah. Cukup menyenangkan!" ucap Pendekar Jibril seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Gila. Kau benar-benar gila guru!" Jamal melotot mendengar ucapan gurunya.
"Eh eeeeh kenapa kau murid sialan?" santai Pendekar Jibril melihat ekspresi Jamal.
Kemudian Pendekar Jibril terbang melayang keluar dari kawah dan mendekati Jamal. Di tangan kanannya sebuah pedang pusaka pelangi bercahayakan aura ungu menyelimuti. Sungguh pedang pusaka gila!
"Kau benar-benar gila guru!" ucap Jamal lagi.
"Apa! kau bilang gurumu ini gila! maksudmu apa?" teriaknya.
"Eh... maksudku kekuatan guru benar-benar gila dan kuat, bahkan sangat kuat!"
"Ahahaha. Guru memanglah kuat, apa kau baru sadar?" ucap sang guru dengan sombong.
"Yaaa kali ini aku mengakuinya," lemas Jamal melihat tingkah gurunya.
"Hahaha baguslah." senyum Pendekar Jibril penuh arti kemenangan.
Jamal hanya menggelengkan kepala lalu berkata:
"Jadi, apa pusaka nama pusaka itu guru? dan sekuat apa?"
"Hahaha. ini adalah pusaka terkuat ciptaanku! Tidak ada satupun pusaka didunia ini yang melebihi kekuatannya. Roh yang ada didalam nya adalah raja roh pusaka terkuat!"
"Roh pusaka?" bingung Jamal.
"Ya, roh pusaka! Setiap senjata yang dibuat dengan kualitas baik akan ada roh didalamnya. Begitupun dengan pedang ini! Dan guru menamainya Pedang Naga Bayangan!"
"Waah nama yang keren," tanggap Jamal.
"Tentu, siapa dulu yang membuat," sombong Pendekar Jibril.
"Tch, mulai lagi songongnya," lemas Jamal.
"Hahaha. Sudah-sudah sekarang kau mulai sajalah latihanmu!"
"Eeeee.... sekarang?"
"Bukan! Tahun depan!. Yaa sekarang lah," bentak Pendekar Jibril.
"Fiuuuhh. Mbok iyaa izinkan aku memakai dan mencoba senjata pusaka buatan guru itu,"
"Cih, sekarang belum waktunya. Tapi suatu saat pedang ini pasti akan menjadi milikmu. Santai saja," jawab gurunya.
"Benarkah guru?" semangat Jamal.
"Iya murid cerewet! Sudah sana berlatih dan ini, sekarang cincin ini menjadi milikmu. Didalamnya ada banyak batu dan bermacam-macam kualitas. Kamu bisa menggunakannya untuk latihan penempamu." kata Pendekar Jibril sambil melemparkan cincin penyimpanannya.
Jamal menangkapnya dengan semangat.
"Guru,"
"Apalagi Jamaluuuuun," malas Pendekar Jibril.
"Ini, cincin ini gimana cara menggunakannya? Hehe," nyengir Jamal tanpa dosa.
"Haaaiiiiihhhh." lemas Gurunya.
Sang Guru lalu memberitahukan cara pemakaian cincin penyimpanan. Yaitu cukup dengan memikirkan benda untuk hendak dimasukkan atau dikeluarkan.
"Ooh, jadi gitu hehe," santai Jamal.
Pendekar Jibril lalu membuat gerakan tangan yang rumit dan rumit. Namun dapat diketahui oleh Jamal bahwa beliau sedan membuat segel pembuka lorong ruang dan waktu. Tak butuh waktu lama terciptalah sebuah lorong ruang waktu yang entah Jamal tak tau kemana arahnya.
Pendekar Jibril lalu mengeluarkan Pendang Naga Bayangan dan melemparkannya ke arah lorong tersebut. Pedang pusaka itupun menghilang bersama lenyapnya lorong ruang waktu itu.
Jamal yang melihatnya memelototkan matanya. Bagaimana tidak! Gurunya tadi mengatakan akan memberikan pedang itu padanya. Dan sekarang malah gurunya membuang pedang itu entah kemana dia tak tau.
"Guru!"
"Yaa. Kenapa?"
"Katanya pedang itu untukku, kenapa guru malah melemparnya ke lorong ruang waktu?"
"Hahaha. Pedang itu memang akan menjadi milikmu. Tapi itu nanti" senyum sang guru.
"Sudahlah, jangan dipikirkan sekarang berlatihlah dengan giat dan buatlah pusaka-pusaka yang kuat dengan kemampuanmu. Guru mau pergi dulu,"
"Baiklah guru." patuh Jamal.
Setelah kepergian sang guru, Jamal pun memulai latihan menempanya. terlihat dia mulai membuat formasi seperti halnya yang dibuat oleh gurunya yaitu formasi berbentuk kuali yang kokoh dan formasi percetakan.
Jamal terlebih dahulu memasukkan bahan pembuatan kualitas rendah kedalam formasi berbentuk kuali. Dia berfikir bahwa setiap latihan belajar ilmu baru harus lah dari nol dulu, meskipun didalam cincinnya ada banyak bahan berkualitas tinggi seperti batu bintang pelangi.
Dengan tatapan pasti dan penuh keyakinan, Jamal mulai mengeluarkan api energi dari tangannya. Seperti anjuran sang guru, panas api tidaklah boleh melebihi batas lima ribu derajat celcius.
Dua jam berlalu. Terlihat bahan atau batu itu mulailah meleleh. Jamal terus berusaha menstabilkan panas apinya. Tiga puluh menit kemudian semua pecahan batu telah meleleh sempurna. Dengan kekuatan spiritualnya, Jamal mengangkat formasi kuali dan menuangkan isinya kedalam formasi percetakan.
Setelah semua usaha Jamal lakukan, akhirnya pedang buatannya pun selesai dibuat. Jamal mengayunkan pedangnya kesana-sini.
'hanya seperti besi biasa yang berbentuk pedang,' gumamnya.
Memang begitulah adanya, sebab masih ada satu tahap lagi yang harus Jamal lakukan untuk menyelesaikan penempaannya. Jamal tidaklah langsung melakukan tahap penyucian itu. Sebab dia tau, penyucian pedang akan menggunakan banyak energi tubuh dan spiritual. Sementara dia ingin istirahat dulu dan mengisi tenaga.
Dirasa sudah cukup, Jamal mengambil pedang buatannya dan melemparnya kedepan hingga mengambang diudara. Sebenarnya bukan mengambang biasa, tapi dipegangi Jamal dengan kekuatan spiritnya. Dia menarik nafasnya dalam dalam. Perlahan penyucian pedang Jamal lakukan. Energi spiritualnya keluar dan ditarik masuk kedalam pedang.
Setengah jam kemudian, langit mulai terlihat berawan gelap. Jamal merasa inilah waktu berjuang yang sebenarnya. Bukan tanpa sebab proses penyucian pedang begitu cepat, itu dikarenakan bahan pembuatannya adalah kualias rendah.
Jamal melihat petir berderu-deru diatasnya. Dia mencoba tersenyum layaknya sang guru saat itu. Dia membuat formasi pelindung yang cukuplah kuat. Kemudian berkata dengan berteriak keras
"Sudah waktunya. Datanglah. Hadapi aku!"
______&&&&
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"cukup dan berpuaslah menjadi dirimu sendiri. Itu saja!" 😂😂(simpel amat)🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep p
2023-12-11
1
Abdul Choliq
itulah yang terbaik bagimu menurut Tuhanmu.....
2023-07-07
1
═ NISA ═
assalamualaikum kk author bawa vote atu ni.. semoga kk sehat" ajj
2023-06-15
1