“Tapi jarang sekali orang bisa demikian itu! Rata-rata kalah salah satunya, kalau nggak sekolahnya ya mondoknya!” kata Fahmi.
“Maka dari itu saya katakan tadi, dia sehebat-hebat manusia! Yasudah dulu kang! Saya mau pamit balik ke kamar dulu!" ucap Jamal berniat pamitan sambil bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya.
“Oh iyaa.. Silakan!” jawab mereka serempak.
“Besok kita ngopi lagi kang Jamal!” ajak Irvan yang nampaknya mulai agak tertarik dengan obrolan dan kata-kata bijak Jamal.
“Insya allah.” senyum Jamal sembari bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya guna bersiap-siap melakukan shalat Dluha.
Selesai do’a dibelakang sholatnya, ia duduk santai dikamarnya dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa bungkus kuaci yang ia beli di koperasi pesantren.
Dia mulai membuka buku-bukunya yang dibawanya dari rumah. Hampir kesemua buku Jamal membahas tentang sejarah. Ia begitu tertarik dengan sejarah. Jamal terobsesi dari sosok publik figur dan kiai tingkat Internasional yaitu maulana Al-habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.
Dengan bahasa sederhananya, beliau banyak menerangkan tentang sejarah dan membahas hikmah-hikmah yang tersirat didalamnya. Beliau juga berhasil menarik simpati Jamal untuk terus mempelajari sejarah dan Jamal juga berhasil mendapatkan hikmah yang yang lumayan banyak dari kisah-kisah yang dibacanya. Dia jadikan hikmah itu menjadi tendensi berjalan dan suatu landasan dalam kehidupannya.
Dari sekian banyak cerita yang ia baca, Jamal sangat tertarik dengan sosok-sosok Ashabul-kahfi. Bagi Jamal, mereka itu adalah gambaran sosok-sosok santri di era zaman dahulu yang berhasil sukses dan bersahaja.
Dalam ceritanya, mereka berenam adalah kumpulan pemuda-pemuda yang beruzlah dan menjauh dari pemerintahan yang dzolim kesebuah gua yang sangat jauh dari mana-mana guna untuk bisa lebih fokus beribadah dan mengabdi pada Tuhan Yang Maha Perkasa.
Begitu pula dengan santri! Mereka beruzlah dan menjauh dari fitnah yang kini semakin meraja-lela dimana-mana. Berlari dari pergaulan yang semakin bebas dan melanggar syara’! Menuju suatu tempat yang dinamakan dengan pondok pesantren yang semua orang tahu bahwa didalamnya teruntuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama. Serta belajar juga merupakan kewajiban setiap muslim dan suatu ibadah dengan pahala yang cukup agung.
“Kang Jamal!”
Tiba-tiba suara Ridwan terdengar memanggil dan menghilangkan kefokusan juga keasyikannya dalam membaca kisah favoritnya.
"Njih kang Ridwan!" sahut Jamal.
“Sedang baca apa kang?" tanya Ridwan.
“Ooh.. Ini kang Ridwan! Sejarah Ashabul-kahfi!” jawab Jamal tersenyum.
“Sepertinya sangat asik jika dilihat kang Jamal membacanya! Ish.. Padahal itu sejarah! Apa sih asiknya baca tentang sejarah?” tanya Ridwan dengan nada agak kurang tertarik dengan pelajaran sejarah.
“Owalah kang Ridwan! Silakan kopinya diseruput dulu! Dan ini kuacinya!" ajak Jamal agar Ridwan bisa duduk santai bersamanya.
“Gini loo kang Ridwan..”
Dengan bahasa klasiknya dan kelihatan meniru logat bicara Habib Luthfi, Jamal menerangkan tentang sejarah dan sedikit menjelaskan hikmah-hikmah yang tersirat didalamnya. Khususnya yang terkandung pada sejarah ashabul-kahfi.
Ridwan memanggut-manggut mendengarkan.
“Ooh.. Jadi begitu.. Keren juga ternyata! Jika kita berhasil mengudari hikmah dari cerita-cerita sejarah orang zaman dulu, kita akan menemukan ilmu yang bisa kita gunakan untuk kehidupan sehari-hari kita!” kata Ridwan menyimpulkan.
“Nah.. Betul banget itu kang Ridwan! Hehehe..” jawab Jamal dengan senyum penuh kepuasan karena bisa sedikit berbagi ilmu untuk teman sekamarnya.
“Selain kisah ashabul-kahfi, apalagi yang kang Jamal tau?” tanya Ridwan lagi penuh ketertarikan.
“Ya banyak kang Ridwan! Didalam kitab-kitab kuning banyak sekali shiroh-shiroh atau sejarah-sejarah yang cukup mengesankan menurutku. Kang Ridwan ingat cerita Nabi Yunus as?” ucap Jamal dengan bertanya.
“Iya! Yang ditelan ikan paus itu kan?” Ridwan memastikan.
“Iya! Tepat sekali! Tapi lebih tepatnya ikan nun namanya. Saat hati beliau marah dan kecewa, beliau pergi meninggalkan kaumnya yang ingkar dan durhaka. Namun Allah agaknya kurang setuju dengan apa yang menjadi keputusan Nabi Yunus!.."
"Maka Allah mengujinya dengan dilemparkannya Nabi Yunus dilaut saat kapal yang ditungganginya oleng tertabrak ombak dengan keluarnya nama beliau tiga kali berturut-turut saat diundi. Namun meskipun begitu, Allah tak menghendaki hamba-Nya yang sholeh binasa secara sia-sia. Maka diutuslah ikan nun untuk menelan nabi Yunus. Kang Ridwan tau bagaimana kondisi beliau saat diperut ikan?” tanya Jamal.
“Yang pasti susah kang!” simpul Ridwan.
“Bukan hanya susah kang Ridwan! Tapi susah diatas susah! Bayangkan saja, beliau berada didalamnya lautan yang sangat gelap lalu ditambah didalam perut ikan. Gelap didalam gelap!" ungkap Jamal dengan raut wajah serius.
“Ih!” terkejut Ridwan, ada jejak ketakutan dimatanya.
“Namun dari situ nabi Yunus sadar, bahwa ini semua sebab keteledoran dan keputus-asaannya terhadap kaumnya. Padahal yang namanya putus asa itu sangat-sangat dilarang oleh Allah. Maka bertasbihlah beliau dengan lafadz…?” ucap Jamal sengaja memotong ucapannya.
“Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzh-dzholimin,” Kata Ridwan melanjutkan ucapan Jamal.
“Naah!” Jamal membenarkan dan mengacungkan jempol.
“Lantas apa hikmah yang kang Jamal maksudkan dari kisah tadi?” tanya Ridwan.
“Ya, disamping kita tau bahwasanya putus asa akan membawakan bencana pada diri sendiri, kita juga bisa menarik hikmah 'meskipun kita dilanda bencana atau suatu permasalahan yang menurut kita sangat berat dirasakan, kita jangan sampai lengah dan lupa terhadap Allah. Ingat dan sebut nama Allah selalu serta sesali semua perbuatan buruk kita. Maka Allah akan membukakan pintu untuk kita bisa keluar dari persalahan kita, sebagai mana yang Allah lakukan kepada nabi Yunus as,” Jawab Jamal.
“Owh, iya-iya. Saya paham sekarang!” puas Ridwan.
“Oiya kang Ridwan! Ini kuacinya! Jadi sampai lupa, kebanyakan ngobrol! Hehehe..” kata Jamal mengguyoni Ridwan.
“Iya kang Jamal terima kasih.” sahut Ridwan dengan tersenyum.
Mereka pun mengobrol dengan asiknya, sembari makan camilan kuaci. Keakraban demi keakraban terlukis dari keduanya. Suatu persahabatan yang intim mulai terjalin.
Mereka terus berceritera ngalor-ngidul. Terkadang tertawa terbahak-bahak, kadang pula bermode serius. Ya! Semua itu benar-benar indah dirasakan Jamal dan Ridwan.
"Kang Ridwan. Saya masih sangat bertanya-tanya!" kata Jamal.
"Bertanya-tanya apa kang Jamal?" tanya Ridwan penasaran.
"Ini loo.. Biasanya kan yang namanya anak selalu di sayang dan bersama orang tuanya," ucap Jamal misterius.
"Lalu?" Bingung Ridwan.
"Lha terus kenapa anak ayam kok saya belum pernah tau sejarahnya dia ikut sama bapaknya yaa? Hahahaha.." Jamal tertawa ngakak diikuti oleh Ridwan.
"Ahahaha. Iya juga ya. Tapi ada lagi pertanyaan yang sampai saat ini tidak ada yang bisa jawab!" kata Ridwan.
"Apa itu?" tanya Jamal.
"Itu kuntilanak darimana asal dasternya?" tanya Ridwan sambil menahan tawanya.
"Hahahaha. Iya-yaa. Darimana ya?" Jamal malah balik bertanya.
"Ya nggak tahu aku! Makanya bertanya! Jhahaha." ujar Ridwan dengan tawanya yang terus menggelegar.
Jamal tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat senang bisa berteman dengan sosok Ridwan, yang bisa diajak bercanda dan bisa juga serius.
"Ngomong-ngomong nih ya kang Jamal," ucap Ridwan.
"Iya," singkat Jamal.
"Kamu itu cita-citanya ingin jadi apa?" tanya Ridwan serius.
"Lho-lho-lho. Kok topiknya jadi seperti pertanyaan ibu guruku dikelas satu? Haha.." jawab Jamal dengan bercanda.
"Hiss.. Serius kang Jamal!" kata Ridwan.
"Cita-citaku jadi orang!" jawab Jamal kini juga dengan wajah serius.
"Maksudmu? Memangnya sekarang kamu bukan orang?" tanya Ridwan.
"Haha... Bukan begitu kang Ridwan. Maksud saya yang namanya orang ya orang!" ungkap Jamal.
"Hialah, kok malah mbulet!" bingung Ridwan.
"Hahaha," Jamal kembali tertawa lalu berkata,
"Orang asli itu sifatnya ya orang asli. Bukan bersifat hewan!"
"Bisa diperjelas?" tanya Ridwan.
"Kalajengking itu sifatnya suka menyakiti hewan yang lainnya dengan sengatnya. Jadi misal kamu mengaku orang, kamu harus menghindari sifat suka menyakiti orang lain! Jika belum bisa, maka kamu belum sepenuhnya jadi orang, tapi masih jadi kalajengking juga!" kata Jamal yang membuat Ridwan mengangguk.
"Contoh lain ialah monyet. Dia sangat rakus dan serakah. Kamu faham kan kang Ridwan?" Jamal memastikan.
"Iya. Aku faham kang. Masyaallah. Kukira jawabanmu tadi asal-asalan. Ternyata masya allah."
Jamal kembali menggelengkan kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep. banyak hikmah
2023-12-11
2
!M@m@#
masya allah menyentuh banget ini komik,bacanya nyampek ngikut adem nih ati👍
2023-09-27
5
muvang
dapat nasehat baca novel ini.
novel yang bagus....
2023-07-11
5