Santri pun serentak membaca do’a sebelum belajar. Ustadz Maulana membuka pelajaran dengan salam dan melajutkannya dengan tawassul penghadiahan surah al-Fatihah untuk para masyayikh dan guru-guru, khususnya sang mu’allif (pengarang) kitabnya.
“Sebelum kita mulai pelajaran, saya mau absen dulu njih,”
“Njiih,” Jawab para santri.
“Ini mau kang-kang dulu apa mba-mbae riyiin?” Tanya Ustadz Maulana.
“Kersane kang!” Jawab murid serentak. (terserah kang).
“Menurutku mending kang-kang dulu! Why? Kenapa? Mau bagaimanapun laki-laki itu lebih utama ketimbang perempuan. Buktinya si laki-laki besok yang diatas!” Ujar Ustadz Maulana asal namun bermakna jauh dan dalam.
Ruang kelas seketika hening seperti tak berpenghuni. Sementara fikiran Jamal oleng sejadi-jadinya, hanya rupa luapan tawa yang tiba-tiba meledak dari pihak kang santri. Lain halnya dengan mba pondok yang hanya tertuduk dan malu tuk berucap.
“Njih kang, bener banget. Hidup laki-laki! Hahaha.” Ceplos Zakaria.
Mba-mba merasa panas dibuatnya. Sementara Jamal hanya terus menahan tawanya yang meluap-luap.
“Mungkin dari pihak mba-mba ada yang tidak bisa menerima, monggo kalo mau protes! Hehehe.” Lanjut ustadz Maulana dengan ekspresi acuh.
Kang santri masih terus tertawa. Tiba-tiba ada suara salah satu mba pondok yang duduk didepan sendiri menyela tawa mereka. Dia berucap dengan hati yang agaknya terasa panas.
“Kang, apa buktinya jika kaum laki-laki itu lebih utama daripada kaum kami?” Tanya mba pondok itu.
“Lho, tadi kan sudah jelas to?” Jawab Ustadz Maulana enteng.
“Njih kang, tapi kan surga itu ditelapak kaki ibu kang, bukan telapak kaki bapak. Dan ibu adalah perempuan. Hidup perempuan!” Sangkal mba pondok itu tidak mau kalah.
Mba-mba mulai bersemangat. Tampaknya ucapan salah satu dari mereka sangat menggugah jiwa kekalahannya. Untuk sementara pihak kang santri terdiam dibuatnya.
Tiba-tiba Jamal si santri baru menjawab dengan lantang dan disertai bahasa klasiknya,
“Njiih, memang surga itu berada ditelapak kaki ibu. Tapi itu hanya suatu penggambaran mawon, bahwa kita disuruh untuk menghormati ibu kita. Tapi coba difikirkan kembali, adanya anak pasti sebab adanya ibu dan bisa-bisa nya ibu dipanggil ibu, pasti sebab adanya suaminya. Trus surga istri kan ada diridlo suami, dan suami adalah laki-laki. Hehehe. Hidup laki-laki!!!”
“Nah cocok, hahaha,” Tambah Ustadz Maulana dan disambut kembalinya tawa kang-kang santri.
Demikianlah ustadz Maulana, lucu dan aneh. Diawal mengajarnya, ia sudah membuat perdebatan yang akhirnya dimenangkan oleh pihak kang santri. Jamal terus menggelengkan kepalanya, ia salut dengan metode ustadznya itu.
Menurutnya, belajar dengan keadaan santai dan hati riang lebih memudahkan untuk ilmu diserapnya. Satu persatu nama siswa kang santri diabsennya hingga selesai. Dan sampai giliran nama-nama mba pondok.
“Zakia,”
“Hadiroh,” Jawab si punya nama
“Ulfa,”
“Hadiroh,”
“Nadia,”
“Hadiroh,”
“Naaah ini, Sa’adah,” Ucap Ustadz Maulana.
“Hadiroh juga kang,” Jawab Sa'adah.
“Rong adah telung adah patang adah!” Lanjut Ustadz Maulana.
“Jhahaha..” Gelagat tawa kembali terjadi. Sa’adah hanya diam.
“Lha wong enek sa’adah mungkin juga ono rong adah telung adah mbarang,” Kata Ustadz.
“Hahaha.”
Semua pun tertawa. Dan ustadz Maulana kembali meneruskan absensinya hingga purna.
Beliau mengisi kitabnya hanya sampai selesai muqoddimah saja. Ya, sengaja itu beliau lakukan. Setelah itu beliau banyak bercerita tentang motivasi-motivasi kehidupan. Tak lupa juga dengan lelucon-leluconnya. Jamal begitu menikmatinya, ia banyak mendapat hal baru diawal pengajiannya dikelas.
Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 10:00, ustadz Maulana pun segera menutup kitabnya. Waktu istirahat sudah tiba, pelajaran akan dimulai kembali setelah setengah jam kedepan. Para santri bergiliran keluar dari kelas menyusul ustadz Maulana. Ada yang kekantin ada pula yang kembali ke kamarnya.
Lain halnya dengan Jamal, ia masih sibuk menulis kata-kata mutiara yang tadi ustadz sampaikan. Dibalik satir mba-mba banyak yang tidak keluar kelas. Terdengar oleh Jamal namun sayup-sayup tak begitu jelas.
“Eh mba, niko kang Jamal lagi nulis-nulis!” Ucap mba pondok satu.
“Kang Jamal?” Tanya mba pondok dua.
“Enjiih, kang Jamal santri baru yang masuk dikelas kita. Dia juga yang menyangkal ucapan mba Ulfa tadi,” Jawab mba pondok satu.
“Iya tah?” Tanya si mba pondok dua memastikan.
“Enjih mba.” Jawab lawan bicaranya singkat.
Jamal tak menghiraukan celotehan mereka, ia lebih fokus untuk menulis. Tapi ada satu yang menarik batinnya.
“Ya, Ulfa, suara mba yang tadi duduk didepan adalah suara Ulfa,” Gumamnya.
Lima belas menit lagi pelajaran akan segera dimulai. Jamal pun keluar, fikirnya 15 menit cukup untuk mengisinya dengan 4 raka’at sholat dluha’. Jamal pun mengarahkan kakinya ke kulah untuk berwudlu. Memang, dia belum berhadats, tapi tidak ada salahnya untuk bertajaddud fil wudlu memperbaharui wudlu nya.
Setelah jam setengah sebelas, para santri kembali ke kelas. Pelajaran kembali dilakukan oleh ustadz Maulana hingga purna jam setengah dua belas.
Hati Jamal sangatlah gembira bag mekarnya sang bunga. Kini, hampir ditiap waktu dipesantrennya ada kegiatan. Saat bakda shubuh ada pengajian kitab-kitab nahwu dengan metode sorogan, waktu dluha hingga setengah dua belas untuk diniyyahan, lekas dzuhuran adalah waktu istirahat dan waktu memasaknya. Abah yai mengisi pengajian metode bandongan setelah sholat asyar dan dalam satu minggu sekali masuk dikelas diniyyah kelas milik Jamal.
Hari kamis sore, adzan asyar sudah berkumandang waktu Jamal selesai memasak. Ia tidak ikut makan, ia berpuasa ditiap senin kamis. Cepat-cepat ia melakukan bebersih, ia tak mau ketinggalan satu rakaat pun untuk berjama’ah. Apalagi jama’ah asyar yang selalu di imami langsung oleh Abah yai. Ia selalu berusaha untuk berada di shoff terdepan belakang imam.
Abah yai memulai pengajian sore itu, kitab nashoihud-diniyyah yang digeluti. Jamal merasa isi kitab karangan al-Habib Abdulloh bin ‘Alawi al-Haddad itu sangat cocok untuk kehidupannya. Ia teringat pesan kiai Jamal Tambak Beras Jombang, pengasuh pondok pesantren al-Muhibbin. Beliau mengatakan disalah satu kajian kitab hikam ditiap malam selasanya bahwa Shohibur-rotib ini adalah seorang wali Qutbil-irsyad, yang artinya pimpinannya para Mursyid.
Abah yai juga seorang mursyid thoriqoh Syadiliyyah. Ya, yang berporos sampai ke Imam Abul-Hasan ‘Ali asy-Syadzily, seorang wali agung berpangkat Qutbil-ghouts atau sultonil-auliya’ fii ‘usrihi (rajanya para wali dizamannya) yang lebih mengunggulkan dan mengajarkan murid-muridnya untuk selalu bersyukur. Lain dengan imam Al-Haddad yang lebih mendorong untuk bersabar.
Tak lama selang pengajian Abah yai usai, adzan maghrib dilantunkan. Jamal mencepatkan untuk berbuka puasanya, karena kata Rosululloh mencepatkan berbuka adalah Sunnah. Maka ia pun melakukannya.
Rutinitas pondok pesantren al-Mukhlis dimalam jum’at bakda maghrib adalah membaca maulid diba’ atau al-barzanji. Kegiatan ini hampir merata diseluruh pondok pesantren ahlus-Sunnah wal jama’ah di Nusantara ini.
Semua santri mengikuti dengan khidmatnya,
“Yaa robbi sholli ‘ala Muhammad yaa robbi sholli ‘alaihi wasallim,” pak lurah mengawali pembukaan maulid disertai tabuhan hadrah khas ala PPAM. Saat mahallul-qiyam atau serakalan tiba, para santri serentak berdiri. Abah yai juga rawuh, dihati para santri punyai keyakinan bahwa saat itulah Rosululloh juga hadir secara ruhani dimajelis.
“Asyroqol kaunubtihaja biwujudil mushthofahmad,”
“Wa liahlil kaunu unsun wa sururun qod tajadad,”
“Yaa nabi salam ‘alaika yaa rosul salam ‘alaika,”
“Yaa habib salam ‘alaika sholawatulloh ‘alaika.”
Jamal melirik ke Abah yai nya. Beliau tampak menitihkan air matanya dengan deras. Hati dan tubuh Jamal bergetar bagai tersetrum jutaan volt listrik bertegangan tinggi. Ia menangis sejadi-jadinya. Begitu pula dengan santri lainnya, mereka semua menangis bahagia akan hadirnya Sang Rosul Pemberi Syafa’at kelak di hari kiamat.
“Thola’al badru ‘alaina min tsaniyyatil wada,’”
“Wajabasy-syukru ‘alaina maada’a lillahi daa,’”
“Maarhaban yaa marhaban yaa nurol ‘aini,”
“Marhaban jaddal husaini marhaban marhaban.”
Isak tangis para santri yang bag mesin menderu itu begitu membuat hati yang mendengar tertegun dan tak butuh waktu lama pastilah akan terseret dan menangis pula.
Akhirnya pembacaan maulid ditutup sendiri oleh Abah Yai dengan do’a. Jamal terlihat masih tersedu-sedu dalam mengamini do’a.
Dalam hatinya, terbesit rasa yang mendalam, rasa ingin jumpa dengan yang terkasih, Baginda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan berharap bisa memeluknya dengan seerat-eratnya.
**MENANGIS JANGAN SELALU DIARTIKAN DIA LEMAH..! KADANG DENGAN MENANGIS JUSTRU TANDA DIA SANGAT KUAT... YA, KUAT CINTANYA KEPADA YANG TERKASIH... HEHEHEHE... LANJUT LIKE DAN KOMENNYA... DIKASIH HADIAH ATAU VOTE YAA TERIMA KASIH...🤗
LANJUT**....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
Yuko.
Thor dari awal baca novel nya sampe sekarang, saya masih gak ngerti bahasa bahasanya, sama ilmu ilmu islami nya, maklum saya bukan Islam tapi kata katanya keren ya.
2024-09-30
1
Yuko.
Diwenehi terjemahane ya, aku ora ngerti mas😅😅
2024-09-30
0
ciru
cakeep
2023-12-11
0