“Mugi gusti paring taubat dateng kulo… Lan ngapuro ing agunge duso kulo,”
(Semoga Engkau memberi taubat kepadaku… Dan memaafkan dosa-dosaku yang sangat besar ini).
“Urip anging ndunyo iku ora lawas… Mong gor nunggu maring dijabute nafas,”
(Hidup didunia itu tidaklah lama… Cuma hanya menunggu dicabutnya nafas).
“Yen wes mati badan iro njur dilepas… Menyang kubur nganggo topeng kapuk kapas,”
(kala sudah mati badanmu akan dilepas… Menuju kubur bertopengkan sebuah kapas).
“Olo bagus sugih mlarat iku podo… Wongkang asor wong kang pangkat ora bedo,”
(Jelek ganteng, kaya miskin itu sama… Orang bawahan orang berpangkat tidaklah beda).
“Anging bedo matine wong kang ulih rohmat… Hiyo iku matine wong kang wis tobat.”
(Kecuali mereka yang matinya mendapat rahmat… Yaitu dia yang mati dalam keadaan telah bertaubat).
Hatinya tersentak! Badannya gemetar dan terasa menggigil! Tak sadar air matanya meleleh dan jatuh deras membasahi pipinya. Bahkan hingga sesegukan Jamal dibuatnya, hatinya sungguh berkabut dan basah.
Sontak banyak santri lain yang disampingnya terheran memandanginya.
“Mengapa Jamal menangis? Kenapa?” Jutaan pertanyaan melayang-layang dibenak mereka.
Belum lagi mereka bertanya perihal tangisan tersedu-sedunya Jamal, Abah Yai sudah rawuh dan iqomah dilantunkan mu’adzin.
Jama’ah didirikan dengan egitu hikmat dirasakan. Terasa indah berdialog dengan Sang Tuhan dengan kekhusyu’an dan penuh ketawadlu’an. Begitulah pula yang Jamal rasakan hingga sholatpun usai dilaksanakan.
Lekas sholat, Abah Yai memberikan sedikit pencerahannya kepada para santri.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh!” ucap Abah Yai membuka katanya dengan salam.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh!” jawab semua santri serentak.
“Alhamdulillah, alhamdulillahirobbil ‘alamin, washsholatu wassalamu ‘ala sayyidil mursalin, sayyidina wa habibina wa qurroti a’yunina wa maulana Muhammadin, shollallohu ‘alaihi wa alihi wasallam, wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du:.."
“Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Yang telah memberikan kita begitu banyak kenikmatan, wabil khusus nikmat iman dan nikmat islam, juga telah memberikan taufiq serta hidayahnya kepada kita sehingga kita bisa berkumpul di aula ini untuk melaksanakan perintah Allah yaitu sholat lima waktu dengan berjama’ah.."
“Sholawat dan salamnya Allah, semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita, kekasih kita, Nabi pemberi syafa’at kita, Nabi besar Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallah. Semoga kita selalu mendapat syafa’atnya fiddini waddunya wal akhiroh, allohummaa… amiin..."
“Para santri putra-putri yang mudah-mudahan dirahmati Allah!.."
“Gusti kanjeng nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam mengatakan:
“Innama bu’itstu li uatammima makarimal akhlaaq”.
“Ora among diutus sinten ingsun iku kangge nyempurnaake kemuliaan akhlaq.."
“Jadi nabi kita itu diutus dan ditugasi sesuatu yang paling utama yaitu menyempurnakan kemuliaan akhlaq. Bukan menyempurnakan ilmu!.."
“Al akhlaqu fauqol ‘ilmi!”
“Akhlaq atau budi pekerti itu derajatnya diatas ilmu! Maka orang yang berilmu setinggi langit umpamanya, tidak akan pernah terlihat dia ahli ilmu jika tak punyai akhlaq! Bahkan bisa dianggap seolah tak berilmu.."
"Lebih baik orang yang kurang ilmu tapi bagus akhlaknya daripada orang yang berilmu tapi tak berakhlak. Tapi ada yang lebih baik dari mereka berdua, yaitu yaa berilmu yaa berakhlak! Hehe.”
Abah Yai terus menerangkan hadits-hadits atau dalil yang kesemuanya berhubungan dengan akhlaq karimah. Dengan bahasa dan caranya menjelaskan, membuat para santrinya begitu tertegun dan mudah meresapinya.
Maka tidak heran beliau sangat ditakdzimi atau dihormati banyak orang lantaran baiknya kesopanan beliau. Dan pesantrennya pun juga sangat terkenal dengan keunggulan budi pekertinya.
Seusainya Abah Yai berpidato, para santri pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing dengan membawa sinar ilmu pengetahuan yang baru saja diberikan oleh Abah Yai.
Tak luput dari itu juga seorang Jamal, yang sedang berjalan bersama Ghoffar untuk kembali ke kamar. Ia begitu puas dengan penyampaian Abah Yai, hingga ia begitu takjub dan berangan-angan bisakah ia seperti Abah Yai.
“Begitu indah tutur kata Abah Yai ya kang Ghoffar!” ungkap Jamal jujur.
“Iya kang!” Ghoffar membenarkan.
“Yaa.. Semoga saja kita bisa mengamalkan apa yang tadi Abah sampaikan!" kata Jamal penuh harapan.
“Iya. Aamiin! Semoga saja. Eh.. Kang Jamal! Ngomong-ngomong, tadi pas sebelum jama’ah kenapa kamu menangis?” tanya Ghoffar.
“Iya tah kang? Ehehehe.. Memangnya kamu lihat tah?” sangkal Jamal seolah tidak pernah terjadi seperti apa yang dikatakan Ghoffar.
“Ya tahu lah!” jawab Ghoffar.
“Hehe.. Tidak apa kok kang! Tidak ada apa-apa.." kata Jamal cengengesan.
“Issh! Kamu ini kang! Nggak mungkin lah kalau nggak ada apa-apa kok sampai nangis!” ucap Ghoffar tidak puas.
“Iya! Beneran! Tidak ada apa-apa. Aku cuma takjub dan takut saja mendengar puji-pujian itu! Serem! Hehe.." ujar Jamal.
“Helleh! Bisa saja kang Jamal ini!" Ghoffar hanya menggelengkan kepalanya atas sifat satu teman barunya itu.
Malam pun tiba. Sang mentari telah menyembunyikan sinarnya. Udara berubah menjadi dingin menusuk tulang. Suara burung hantu dan gagak mulai terdengar mengerikan.
Kang Rahmad, lurah pondok pesantren al-Mukhlis mengumumkan bahwa seluruh santri baru putra diharap berkumpul di aula inti pondok. Pak lurah dan para dewan asatidz hendak menyeleksi para santri untuk hendak dimasukkan ke kelas diniyyah sesuai kemampuan masing-masing.
Jamal dan kawan-kawan kamarnya pun berangkat. Satu demi satu santri diberi tes membaca kitab kuning dan disuguhi pertanyaan-pertanyaan seputar nahwu dan shorofnya.
Tiba saatnya Jamal untuk mendapat tes, sedari awal ia masuk pesantren, ia tak pernah bercerita perihal dulu pernah nyantri di jawa kepada dewan pengurus, ia mendekat ke pak lurah
"Siapa namanya kang?" tanya Pak Lurah pondok.
“Jamal pak lurah!” Jawab Jamal.
“Kamar berapa?” tanya Pak Lurah lagi.
“Kamar 15 komplek c pak,” Singkat Jamal.
“Oh iya, silakan dibaca yang ini kang Jamal!" kata Pak Lurah pondok.
Pak Lurah menyodorkan kitab ghoyatul ikhtishor atau lebih dikenal dengan taqrib karya Syaikh al-Imam Abi Syuja’.
“Waduh!” gugup Jamal.
“Kenapa kang?” tanya Pak Lurah.
“Belum bisa kang!" jawab Jamal
“Lah.. Yang benar saja kang Jamal. Kemaren kata Fahmi, kamu itu pintar orangnya! Bisa buat mereka kagum! Jangan berbohong, karena bohong itu dosa! Silakan!" ucap Pak Lurah pondok mengungkapkan apa yang diketahuinya dari Fahmi.
Jamal menarik nafas panjang lalu menghempaskannya.
“Bismillahirrahmanirrahim, hadza kitabush-shiyami, hadza utawi iki iku kitabush-shiyami kitab kang mbahas puoso wasyaro’itu wujubish-shiyami utawi piro-piro syarat wajibe puoso iku arba’atu asyya’a ono papat piro-piro perkoro al islamu suwiji rupane islam wal bulughu lank aping pindone wes baligh wal ‘aqlu lank aping telune nduwe ngakal wal qudrotu lan kuoso ‘alash-shoumi ingatase puoso.”
“Cukup kang! Lanjutkan yang ini!" ujar Pak Lurah memberi halaman lain untuk Jamal baca.
“Hadza utawi iki iku fashlun fasal suwiji fasal-fasal wal I’tikafu utawi I’tikaf iku sunnatun Sunnah mustahabbatun kang den demeni walahu lan iku tetep keduhe I’tikaf syartoni utawi ono syarat loro anniyatu suwiji rupane niat wallubtsu lan kapindone tengak-tenguk utowo meneng fil masjidi ing ndalem masjid,” Baca Jamal dengan lancar.
“Sudah, cukup kang! Sekarang saya hendak bertanya. Kenapa ini dibaca wasyaro’itu, nggak wasyaro’ito atau wasyaro’iti?" tanya Pak Lurah pondok.
“Ya karena dia menjadi mubtada kang!" jawab Jamal cepat.
“Maksudnya mubtada’? Bisa dijelaskan pengertiannya?" tanya Pak Lurah pondok.
“Didalam kitab jurumiyyah disebutkan al mubtada’u huwal ismu al marfu’u al ‘aari ‘anil ‘awamili al lafdziyyati,” jawab Jamal.
“Artinya?”
"Mubtada’ itu suatu isim yang dibaca rafa’ yang tidak kemasukkan atau sepi dari beberapa ‘amil lafdzi!”
“Ya.. Benar! Terus kok rafa’nya dengan harakat dlommah?” tanya Pak Lurah lagi.
“Karena bentuk atau shighotnya jamak taksir!” jelas Jamal.
“Emang adakah bentuk lain yang selain jamak taksir yang ketika dirafa’kan dengan dlommah?”
“Ada pak lur,” jawab Jamal yakin.
“Apa saja? Sebutkan jika ada!” pinta Pak Lurah.
“Isim mufrod, jama’ mu’annas salim dan fi’il mudlore alladzi lam yattashil bi akhirihi syai’un.”
Pak lurah mengerutkan dahinya. Bukan karena jawaban Jamal salah, tapi terheran dengan Jamal yang bisa membaca kitab gundulan atau tidak ada harokat dan artinya dengan lancar dan menjawab tiap-tiap pertanyaan yang ia suguhkan. Bahkan dengan disertai dasarnya walau hanya dari kitab klasik dan kecil jurumiyyah.
Dalam hatinya ada pertanyaan besar.
“Kang Jamal sudah pernah mondok?” tanya Pak Lurah.
“Belum pak lur, Cuma main saja!" jawab Jamal dengan jujur.
“Dimana?” Tanya Pak Lurah.
“Jawa pak!” jawab Singkat Jamal
“Owh.. Ya-ya-ya..” Pak Lurah manggut-manggut.
“Iya Pak Lur!” setuju Jamal.
“Katanya tadi belum bisa?” kata Pak Lurah menggoda Jamal.
“Hehehe..” cengengesan Jamal.
“Yasudah kang Jamal, sudah cukup! Besok kamu akan masuk kekelas berapanya akan ditempel didepan aula ini!" ucap Pak Lurah pondok.
“Oh.. Iya Pak Lur! Terima kasih!” faham Jamal dan berterima kasih.
"Iya.. Sama-sama!” jawab Pak Lurah
Akhirnya terbongkarlah sudah jati diri Jamal dilingkup kepengurusan dan dewan asatidz pondok. Keesokan harinya, para santri baru berhamburan dengan berlarian, kegaduhan besar seolah terjadi dipesantren itu.
Suara hentakan kaki ditangga kayu sungguh menyeruak ditelinga. Mereka berduyun cepat menuju depan aula. Ya, saat itu kang Bagus (sekertariat pondok) terlihat sedang menempelkan dua kertas dimading depan aula itu, tanda pengumuman hasil tes semalam.
Tak ketinggalan pula seorang Jamal, ia juga menuju kedepan aula. Namun dengan jalan santai penuh arti. Ia pun melihat tulisan kertas itu. Dilihatnya dari bawah ke atas.
Paling bawah tertuliskan nomor 56, ia bisa menyimpulkan keseluruhan jumlah santri putra yang baru.
“Eh kamu masuk diniyyah kelas berapa?" Mereka saling tanya-menanya dan jawab-menjawab.
“Kelas dua! Lha kamu?” jawab yang ditanya.
“Satu kang.”
Namun lain dengan Jamal, ia merasa agak gusar, ia tak lekas menemukan nama dan calon kelasnya. Ia terus mengurutkannya hingga sampailah dinomor teratas sendiri, nomor satu, tertuliskan
“Muhammad Jamaluddin kamar 15 c masuk dikelas 5!”
Ia kaget bukan main. Tapi juga bersyukur. Ia menjadi santri baru yang kelasnya tertinggi
“Alhamdulillah.” ungkapnya bersyukur.
Selepas mengetahui, Jamal pun membalikkan badannya. Tak ada diraut wajahnya ekspresi senang atau apa. Padahal ia santri baru terbaik dan tertinggi angka kelasnya.
“Kang Jamal! Selamat ya! Kamu bakalan masuk dikelas lima!" kata Ghoffar yang tiba-tiba mengagetinya dari belakang.
“Eh, oh iya kang Ghoffar. Lha kamu masuk kekelas berapa?” tanya Jamal.
“Saya mah dikelas satu kang! Orang aku itu nol besar ngajinya! Tidak sepertimu yang sudah pintar!” jawab Ghoffar jujur.
“Ah! Bisa saja kang Ghoffar ini. Paling salah tulis kali itu kang Bagusnya!” sangkal Jamal.
“Ya tidak mungkin lah! Ada-ada saja kang Jamal!” kata Ghoffar menggelengkan kepala.
“Hehehe.”
Sifat ketawadluan memang selalu Jamal terapkan dalam dirinya. Menerapkan sifat mulia ini memang cukup susah. Umumnya manusia jika mempunyai keahlian tertentu, pastilah sifat agak berbanga diri muncul dari hati mereka.
Bahkan ada yang sampai muncul kesombongan. Padahal Nabi Muhammad saw pernah mengatakan dalam sabdanya:
“Barang siapa rendah hati maka Allah akan meninggikan pangkat dan derajatnya, tapi barang siapa tinggi hati dan takabbur maka Allah akan rendahkan pangkat dan derajatnya”.
Sabda Rosululloh itulah yang membuat Jamal yang kadang muncul sifat bangganya, mungkin karena manusiawi, ia memaksa jiwanya untuk selalu tawadlu. Tak jarang, karena sifatnya itu banyak santri-santri baru maupun lama yang cocok dengannya, disamping obrolannya yang selalu mengandung ilmiyyah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeeep
2023-12-11
1
🍁FAIZ❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
BAGUUUS BINGIIIT
2023-08-03
4
🍁FAIZ❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
klo boleh tahu authornya pernah mondok dimana ya..
2023-08-03
5