"Jamaluddin?" Tampak seseorang paruh baya dengan perawakan bagus sedang menunggu seseorang di emperan depan rumahnya. Beliau tak lain adalah Pendekar Jibril.
"Iya. Assalamu'alaykum," Kata Jamal.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh. Jadi kamu yang namanya Jamal?" Sekali lagi Pendekar bertanya.
"Iya" Jawab Jamal.
"Baiklah. Ayo masuk-masuk dulu. Mau ngopi apa nge-teh?" Ucap lelaki paruh baya.
"Ah. Tidak perlu repot-repot Pendekar," Kata Jamal.
"Kamu jangan manggil saya begitu. Kamu panggil saya Abah. Hehe. Bagaimanapun saya juga masih kakaknya Abah Yai mu!" Ujar Pendekar Jibril.
"Iya Abah Jibril," Turut Jamal.
"Ngopi berarti ya?" Tanya Pendekar Jibril lagi.
"Emmm," Jamal tampak ragu-ragu menjawab.
"Santri yaa pasti ngopi lah! Ahahaha." Ucap Pendekar Jibril tertawa pecah.
Jamal hilang akalnya saat ini. Dia benar-benar kehilangan akal nya. Dia tak habis pikir dengan sosok yang sangat disegani banyak orang ini, bahkan Abah Yai nya sendiri sangat menghormatinya malah bersifat sangat biasa dan sangat sederhana. Beliau membuatkan sendiri minuman tamu dan bahkan calon muridnya dengan tangannya sendiri. Aduhai betapa bersifat tawadlu yang tak tebatas! Pikir jamal.
"Jadi kamu putranya kiai Syakur to?" Datang beliau sambil membawa dua cangkir kopi diatas nampan dan menyuguhkan pada Jamal.
"Iya Pendekar. Eh maaf Abah," Jawab Jamal jujur.
"Hahahaha. Disini biasa saja! Ndak perlu gimana-gimana. Oh iya silakan diminum kopinya. Pumpung masih josss panasnya! Hahaha," Kata Pendekar Jibril mempersilahkan.
"Hehe. Iya Bah," Angguk Jamal.
"Abah kenal dekan sama Abimu. Dulu pernah ke Pekalongan bareng ke tempat Habib Luthfi. Abimu itu orang alim. Sifat kezuhudannya hampir mengalahkan semuanya. Bahkan hampir sama sekali tak perduli dengan keduniaan kecuali yang dia butuhkan saat itu juga," Tutur Pendekar Jibril.
"Iya Bah," Angguk Jamal mengiyakan saja.
"Kamu sebagai anaknya, jangan sampai mempermalukan dengan kamu bertingkah yang tidak-tidak!" Perintah Pendekar Jibril.
"Insyaallah diusahakan Bah." Jawab Jamal.
Setelah selesai mengopi dan mengobrol, Pendekar Jibril tiba-tiba menatap Jamal dengan tajamnya. Otomatis Jamal langsung menundukkan pandangannya.
"Jadi kamu yang dipilih Bib Seggaf? Yayaya. Kamu Jamal! Akan ada beban berat dipunggungmu ini kelak. Tapi yakinlah kau akan kuat menjalaninya." Ujar Pendekar Jibril.
Jamal tak sedikitpun tau dengan apa yang diucapkan oleh Sang Pendekar, ia hanya menjawab:
"Insyaallah, do'akan saya Abah," Kata Jamal.
"Yayam. Ayo malam ini juga kita harus mulai! Sudah hampir tiba masa itu! Sekarang ayo ikuti abah!" Pinta Pendekar Jibril.
Mereka datang ke sumur belakang rumah Pendekar Jibril. Entah hendak apa dia dibawa ke situ Jamal tak tahu.
"Sekarang duduklah bersila diatas batu itu" Tunjuk Pendekar.
"Pejamkan matamu. Kau akan kumandikan malam ini. Niatlah dihatimu tiapkali aku menyiramkan air ketubuhmu pertobatan!" Lanjut beliau.
"Iya Abah," Jawab Jamal faham.
"Jangan pernah kosong hatimu dari menyebut asma Allah," Ujar Pendekar Jibril. Sementara Jamal menjawab dengan anggukan.
"Bismillahirrohmanirrohiim," Pendekar Jibril mulai menyiram kepala Jamal. Tiap kali hendak menyiram, Pendekar selalu mengucap Basmallah.
Singkat waktu, prosesi pemandian Jamal telah selesai.
"Sekarang buka matamu dan bangunlah. Ikuti abah!" Perintah Pendekar Jibril.
"Iya Abah," Turut Jamal.
Mereka menuju ke halaman depan rumah Sang Pendekar.
"Tunggu disini dulu. Abah mau ngambil sesuatu dulu. Berdirilah yang tegap dan selalulah ditempat! Jangan pindah-pindah!" Kata Pendekar Jibril.
"Siap Abah!" Jawab Jamal.
"Bagus!"
Pendekar Jibril pun masuk ke dalam rumahnya. Entah apa yang hendak diambilnya, Jamal tak pernah tau. Berdiri tegap dan tak bergeming sedikitpun dilakukan Jamal. Waktu malam, sepoi-angin berhembus agak kencang, ditambah lagi seluruh pakaiannya saat ini basah kuyup. Tubuh Jamal terasa agak menggigil dibuatnya.
Sepuluh menit berlalu. Jamal masih berdiri ditempat tanpa bergeser sedikitpun. Kini kakinya mulai terasa kesemutan dan bahkan kram.
Lalu dua puluh menit pun dengan cepat berlalu. Dan Jamal lagi-lagi masih ditempat tanpa bergeming. Namun kini kakinya semakin lemah. Cahaya diwajahnya agak meredup. Terpaan angin yang bertemu dengan basahnya pakaian Jamal sungguh benar-benar membuat bibirnya kebiru-biruan.
'Kenapa Pendekar begitu lama didalam? Apa yang sedang dia cari?' Gumam Jamal dalam hatinya. Kini 30 menit pun tiba. Seluruh tubuh Jamal terasa sangat lunglai. Namun dia tetap berusaha untuk tidak berpindah dari tempatnya berdiri.
Tak lama setelah itu Pendekar Jibril keluar dari rumah. Dan anehnya tampak secangkir kopi di tangan dan sebatang rokok menggelantung dibibirnya.
"Sudah cukup Jamal! Kemarilah!"
Jamal hanya menurut. Dia hendak berjalan menghampiri Pendekar Jibril. Namun dia tak mampu!. Kesemutan dikedua kakinya benar-benar telah sempurna.
Ia tak mampun mengangkat kedua kakinya.
"Aaaakhh!"
Jamal memaksa dan mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil. Namun langkah kaki kanannya hanya berbuah beberapa centimeter saja.
"Ayo kemari Jamal! Ahahahaha. Nggak mau ngopi nih?" Ejek Pendekar sembari menyeruput kopinya.
Kini baju Jamal sudah hampir kering. Dia masih belum bisa mengangkat kakinya sendiri. Namun dia tak berputus asa.
"Aakhhh.. Aaakkkhh.. Aakkhh"
Jamal terus melangkah sedikit demi sedikit hingga akhirnya sampai juga dia dihadapan Pendekar Jibril. Bayangkan saja hanya berjalan dengan jarak 10 meter dilakukan Jamal dengan waktu hampir 5 menit.
Sungguh begitu kuat Jamal memaksa diri untuk kalinya melangkah.
"Duduklah Jamal. Luruskan kakimu! Gimana rasanya? Hahahaha," Tanya Pendekar Jibril dengan tertawa pecah. Jamal hanya diam seribu bahasa.
"Urut dengan minyak ini. Ini adalah minyak asli cimande. Minyak ini sangat banyak kegunaanya. Bahkan bisa untuk sangkal putung," Tutur Pendekar Jibril menjelaskan.
"Iya kah abah?" Tanya Jamal.
"Iya, anehkan? Ada tulang manusia retak bahkan pecah, dengan minyak ini akan kembali tersambung lambat laun," Kata Pendekar Jibril.
"Sungguh aneh!" Ucap Jamal menggeleng.
"Kamu tau siapa yang bisa membuat minyak seperti ini?" Tiba-tiba Pendekar Jibril memberi tebakan yang tidak mungkin Jamal bisa jawab.
"Siapakah?" Tanya Jamal penasaran.
"Emak-emak janda. Hahaha," Jawab Pendekar Jibril dengan tertawa terbahak-bahak.
"Janda?" Lemas Jamal.
"Iya. Janda memang selalu semakin didepan. Hahaha," Melucu Sang Pendekar.
"Jhehehe. Bisa saja Abah mah," Ujar Jamal.
"Ngomong-ngomong, tadi Abah sengaja ninggalin kamu Mal. Itu untuk pelatihan kekuatan dari kakimu," Ungkap Pendekar Jibril.
"Iya abah," Faham Jamal.
"Andai saja tadi kamu bergerak sebelum abah keluar. Pasti kamu abah tolak jadi murid pertama abah," Ucap Pendekar Jibril.
"Murid pertama?" kening Jamal mengerut.
"Iya. Kamulah murid pertamaku! Berhubung kamu telah lulus ujian pertamamu, terimalah ini!" Kata Pendekar Jibril sambil memberikan benda rupa kain kecil dijahit dan tampaknya seperti untuk dipakai layaknya kalung.
"Apa ini bah?" Tanya Jamal polos.
"Ini adalah azimat penguat rasa. Dengan abah memberikan ini padamu maka kamu telah benar-benar sah menjadi murid abah. Atas berkah dari azimat ini dan izin Sang Pencipta Alam, tingkat kepekaan mu terhadap apapun dan basis pelatihanmu akan meningkat dengan cepat dan cepat," Jelas Abah Jibril atau Pendekar Jibril.
"Aamiin,"
"Baiklah, sekarang waktu latihanmu sudah selesai! Pulanglah kepesantren. Dan kita akan lanjutkan besok diwaktu yang sama,"
"Baiklah Bah, Jamal pamit sekarang!"
"Iya. Berhati-hatilah!"
Jamal pun bersalaman dengan Pendekar Jibril
"Assalamu'alaykum,"
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh."
Tak perlu waktu lama Jamal sudah sampai di pesantrennya. Saat ini sudah pukul 11 malam dan suasana pondok masih terlihat ramai. Bagi para santri, khususnya santri yang agak senior, jam segini adalah waktu yang masih sore!.
"Kang Jamal udah pulang," Sapa Ridwan yang mengetahui Jamal masuk kamar. Tampak ia sedang menulis dan mempelajari ilmu nahwu. Salah satu ilmu alat untuk seseorang dapat menguasai cara membaca kitab kuning yang tanpa harakat.
"Iya kang Ridwan," Jawab Jamal mengangguk.
"Gimana latihannya?" Tanya Ridwan.
"Alhamdulillah lancar kang. Tapi terasa agak aneh saja disesi latihan pertamaku ini," Kata Jamal.
"Aneh? Aneh apanya?"
Yuk bikin aku semangat upload... terima kasih atas like, komen, vote, dan hadiahnya yaa... tunggu episode selanjutnya.... 🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
Shahrul Yoe
yah walaupun pernah baca sebelumnya tapi tetap aja terbaikk banyak ilmunya..trima ksih ya thor
2024-08-09
0
ciru
cakep
2023-12-11
0
nasrul
lanjut
2023-07-03
2