"Entahlah bah, Jamal kurang faham. Ini semua seperti dunia hayal saja! Ada dimensi lain, ada cahaya-cahaya saat mengeluarkan jurus. Saya kurang tau. Saya hanya menurut saja," jujur Jamal.
"Hahaha. Itu semua demi kebaikanmu Jamal! Seorang manusia sejati harus punyai jiwa pendekar! Sebenarnya Abah melatihmu jurus-jurus ini hanya untuk sebuah bekal! Abah akan membawamu ke dimensi lain lagi untuk kamu menjalani kehidupan. Dimana semua orang yang disana adalah pendekar-pendekar hebat. Dimensi itu bernama dimensi AZRAQ didalam alam AZHAR. Tapi semua bukan itu yang dimaksudkan! Jiwamu akan abah masukkan dan dilahirkan disana sebagai pendekar untuk kamu bisa memahami arti pendekar itu sendiri,"
"Emm. Baiklah bah Jamal sedikit mengerti,"
"Tapi sebelum itu rubahlah sifatmu ini dan praktikkan dengan abah,"
"Maksudnya?"
"Maksudnya rubahlah sifat kalemmu itu dengan sifat humoris atau sedikit konyol tak apa. Hahaha,"
"Mengapa demikian?"
"Yaa sebab kurang keren saja. Hahaha. Jadi pendekar kok diem-diem, terus kalem. Ah nggak seru! Kamu pernah baca buku atau apa yang menceritakan pendekar bukan? Alangkah serunya jika tokoh utamanya bersifat lucu ataupun konyol. Haha,"
"Tapi..."
"Hahaha. Latihlah! Mulai sekarang panggil abah dengan sebutan guru! Jangan abah lagi!"
"Iya baa.. eh maksudnya guru,"
"Hahaha. Sudahlah biasa saja. Gurumu ini juga nggak suka sama orang yang terlalu sopan dihadapanku. Bersikaplah biasa,"
"Insyaallah akan saya usahakan gu..ru,"
"Hahahaha. Yayaya bagus-bagus. Yasudah. Sana berlatih lagi dan sempurnakan semua jurusmu itu!"
"Iya bah .. eh guru,"
Pendekar Jibril hanya menggelengkan kepalanya mensifati polah Jamal.
Lambat laun sifat Jamal pun berubah. Dia menjadi sosok yang agak cerewet ples ceplas-ceplos, gampang emosi, konyol, dan mudah bergerak. Namun itu hanya di tunjukkan kepada Pendekar Jibril saja. Jikapun dia kembali ke pesantren maka 180 derajat berubah. Yaa, unik sih.
Hari itu Jamal sedang latih tanding dengan gurunya. Jamal bergerak cepat dengan langkah kilatnya serta menyerang dengan jurus pedangnya.
"Ahahaha. Ayo terus mana hasil latihanmu selama ini. Dasal lambat!"
"Hei guru sialan! kenapa kau senang sekali menendang pantatku. Awas saja aku akan membalasmu!"
"Hahahaha. Silakan saja kalau kau mampu!"
"Aaakkhh. Rasakan ini guru sialan. Hiyaaat!"
""Gerakan langkah dan serangan kayak siput gitu mau nendang bokong berhargaku? Hahaha mimpi!"
Jamal benar-benar emosi saat ini. Jika dihitung sudah hampir 300 kali dia terlempar kesana-kesini sebab dihajar gurunya itu. Lebih lagi cara gurunya selalu dengan menendang pantat Jamal. Sungguh ironis sekali.
"Hyaaa,"
Trank Trank Trank
"Aaah, masih lambat dan lemah. Ayo perkuat lagi!" Nilai pendekar Jibril
"Aiih... Jurus pedang apa itu Jamaaal. Sayatan kematian mana ada selambat itu!"
"Cih. Bukan aku yang lambat guruuu! Tapi guru yang terlalu cepat,"
"Hahaha. Aasan saja kau Jamal!"
Dugggh ... Booommmm
"Aaagkhhh..."
"Hahahaha.. Makan tu sepakan guru.. hahaha."
Jamal terlempar menabrak batu hingga hancur. Jamal terkena tendangan gurunya meluncur sangat cepat seperti peluru dan lagi-lagi gurunya menendang bokong Jamal.
"Aaghh. Guru! Kau keterlaluan!"
"Hahaha dasar murid keong sedulur bekicot. Lambat! Hahaha."
'Cih guru benar-benar kali ini. Ini mah penyiksaan namanya. Ilmuku kan belum seberapa' gumam Jamal.
"Ayo murid keong hahaha bangkit lagi! Mana? Katanya mau membalas gajulan kebokong guru! Mana? Hahaha."
Jamal sangat frustasi. Amarahnya meledak dengan sangat kuat. Sebab itulah kemudian terpicu lonjakan besar tenaga dalamnya
"Guruuu!... Rasakan iniii. Hyaaat!"
Trank trank trank trank
"Naaah, bagus... Terus seperti itu murid manja... Hahaha bagus sekali.. Lebih kuat lagi,"
Bommm boommm bommmm
Ledakan energi kuat terus-terusan terjadi. Jamal seoalah tiada lelah menyerang gurunya. Berbagai jurus dia praktikkan. Namun apalah daya. Semua tetaplah sama dan tak ada satupun serangan pedangnya mampu mengenai gurunya. Jamal telah melampaui batasnya.
"Cukup Jamal! Kemarilah!" Seru sang guru.
"Haahhhh," Jamal menghela nafas.
Tenaganya benar-benar terkuras habis. Dia berjalan sempoyongan menghadap sang guru
"Bagus. Kamu mulai ada peningkatan! Ingatlah Jamal, pacu terus bakatmu dengan usaha semaksimal mungkin! Dan ingat juga, jika kamu benar-benar di dalam pertarungan nyata, jangan sekali-sekali kamu terkecoh, terprovokasi kemudian dikuasai emosi!. Ketahuilah, dengan kamu emosi maka peluang kekalahanmu dipastikan 50 persen. Belum lagi jika lawanmu punyai jurus andalan yang tidak kamu bisa lawan dan kartu truf lain. Maka kamu pasti faham bukan maksudku?"
"Iya guru, murid faham!"
"Bagus, istirahatlah. Setelah itu guru akan memperlihatkan dan mengajarkanmu ilmu baru,"
"Baik guru."
Tak berselang lama, Jamal menghampiri gurunya. Dia duduk hikmat didepan sang guru yang sedang memegang batu sebesar kepala manusia namun batu itu terkurung oleh bola transparan dan ada tulisan-tulisan kuno menghiasinya.
"Jamal, coba kamu hancurkan batu ini." kata sang guru sembari meletakkan batu itu diatas tanah.
"Gunakan serangan terkuatmu dan jangan separuh-separuh dalam meledakkan energi,"
"Baik guru,"
Jamal pun bersiap ancang-ancang dan menarik pedangnya.
"Ingat. Gunakan serangan terkuatmu,"
"Baik"
"Hyaaaat... Gerakan Kesembilan.. Jurus Pedang Pelebur Dosaaa!"
Boooommmmmmmmm
Ledakan sangat besar terjadi. Kubangan tanah menjadi kawah yang sangat dalam! Debu berhamburan kemana-mana. Namun setelah debu tertiup angin dan hilang sedikit demi sedikit, terlihatlah remang-remang batu seukuran kepala manusia yang terkurung cahaya putih transparan terhiaskan tulisan kuno itu masih utuh dan tak tergores sedikitpun.
"Hahhh hahhh." nafas Jamal tersengal dan memburu. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Serangan terkuatnya tak sedikitpun mampu menggores batu itu apalagi menghancurkannya.
"Hahaha. Kau memikirkan sesuatu Jamal?"
"Iya guru,"
"Katakan!"
"Batu itu menjadi sangat kuat dan sangat kuat sebab terlindungi cahaya transparan itu,"
"Itu bukan batunya yg menjadi lebih kuat," kata sang guru sambil mengambil batu itu.
"Inilah yang dinamakan formasi pelindung Jamal,"
"Formasi pelindung?"
"Ya, cahaya transparan ini adalah sebuah formasi yang dapat melindungi batu ini dengan baik. Formasi terbagi beberapa macam. Dan guru akan mengajarkan ini padamu. Tapi itu besok. Sekarang kembali ke pesantren dan istirahatlah! Kita sudah hampir semalaman penuh berlatih jika di dunia nyata. Kembalilah,"
"Baik guru."
Jamal pun segera bersiap dan berpamitan kepada gurunya. Dia tampak bersemangat sekali. Bagaimana tidak?! Dia akan diajarkan suatu ilmu baru yang sanggup melindungi sesuatu atau dirinya sendiri dari serangan musuh yang sangat kuat. Betapa tak sabarnya dia menanti hari esok.
Tak lama Jamal segera sampai di pesantren. Waktu saat ini menunjukkan hampir jam 4 pagi. Sungguh massa yang cocok untuk bebersih dan mandi!. Konon katanya barang siapa mandi di waktu sebelum shubuh maka dia akan terjaga dari penuaan alias awet muda.
Ya, Jamal ingin mempraktikkanya dan berharap pun demikian. Disamping itu kesegaran tubuh selepas mandi jelas terasa lebih dibandingkan diwaktu-waktu lain. Di percaya atau tidak, banyak orang mengakuinya.
Kegiatan demi kegiatan Jamal laksanakan. Di pesantren inilah Jamal merasa semua ilmu yang dipelajarinya ddngan mudahnya terfutuh atau terbuka dengan cepatnya. Entah itu sebab apa Jamal tak mengetahuinya.
Mungkin benar kata orang-orang yang mengatakan bahwa PonPes Al-Mukhlis adalah tempatnya Hikmah. Sebab sang shohibul wilayah atau Abah Kiai nya adalah orang yang terkenal begitu masyaallah. Begitulah pengungkapannya untuk abah yai, sebab tak terukur lagi begitu baik dan baiknya beliau.
Malam pun tiba, sholat jama'ah isya dilaksanakan hikmat oleh semua santri dengan di imami Abah Yai. Setalah selesai, Jamal kembali bersiap untuk menghadap Sang Pendekar alias guru silatnya. Dan tak butuh waktu lama dua puluh menit berlalu, Jamal berjalan cepat dengan ilmu langkah kilat layaknya seorang ninja. Tak ada yg bisa melihat kecepatannya.
Dulu sebelum Jamal belajar dengan Pendekar Jibril, dia harus memakai sepeda motor pinjaman ndalem Yai dalam tempuh waktu hampir satu jam setengah. Namun sekarang? Sungguh sangat berbeda dan jamal pun segera sampai didepan rumah sang guru.
"Assalamu'alaykum guru,"
______&&&&
Tinggalkan like, komentar, atau votenya... janganlah pelit-pelit... Awaas kuburannya sempit... hahaha😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
nasrul
gas
2023-07-06
1
anonim
siap
2023-06-12
2
Tholoxz.
gaaasss
2023-04-30
0