"Ya. Garis itu tercipta karena kesempurnaan dalam mengontrol energi spiritual yang guru keluarkan," ucap Pendekar Jibril dengan agak membusungkan dadanya dengan sombong.
"Jadi punyaku?..." lemas Jamal.
"Pil roh kultivasi buatanmu memang kalah dari punya guru, tapi itu cukup baik karena sudah ditingkat tinggi, mengingat ini baru pertama kalinya kamu memurnikan pil roh," jawab sang guru.
"Haiiih... Yasudahlah aku akan berlatih lagi untuk bisa membuat pil tingkat sempurna," pasrah Jamal.
"Hahaha. Bagus! Memang begitu. Itu baru muridku hahaha."
Jamal kembali fokus dan ingin membuat lagi pil roh hingga ke tahap atau tingkat sempurna. Lalu dia membuat lagi formasi berbentuk kuali untuk tempat pembuatan pil roh. Mengulang-ulang dan terus memperbaiki kesalahannya hingga dari waktu ke waktu terlewati oleh Jamal.
Kitab Dewa Obat kini telah Jamal kuasai. Tak disangka untuk mempelajari dan menghafal semuanya butuh waktu yang cukup lama yaitu satu tahun didalam dimensi buatan sang guru. Itu berarti satu bulan didunia nyata telah terlewati.
Kini Jamal sudah bisa membuat berbagai jenis pil roh di tingkat sempurna. Bahkan pil itu adalah pil dewa.
Di dunia nyata...
Pendekar Jibril sedang menemui adik sepupunya yaitu Abah Kiai nya Jamal sendiri. Mereka berdua berbicara dengan tatapan mata serius.
"Bagaimana bang?"
"Yaaah. Cukup mengagumkan! Dalam kurun waktu yang relatif singkat Jamal sudah mampu menguasai apa yang ku ajarkan. Kini tinggal satu lagi yang harus dikuasainya,"
"Apa itu? apakah segel formasi?"
"Hahaha. Bukan! Tapi penempaan senjata! Untuk bidang segel formasi bahkan dia sudah mampu membuat domain yin dan yang nya sendiri!"
"Hahaha. Bagus-bagus! Berarti tidaklah lama lagi," senyum Abah Kiyai.
"Ya. Kamu benar-benar pintar memilih murid. Hahaha. Dia adalah jenius sejati yang pernah ku jumpai," bahagia Pendekar Jibril.
"Hahaha aku pun tak menyangka bang, ternyata dia sespesial itu,"
"Yassudahlah abang balik dulu. Doakan dia selalu semoga dia mampu meneruskan perjuangan kita dan menjadi satu-satunya cahaya yang lebih terang diantara cahaya,"
"Yayaya. Itu tidak perlu abang minta! Aku selalu mendoakan kesuksesannya,"
"Yasudah. pamit,"
"Iya bang, hati-hati di jalan, gak usah ngebut-ngebut. Cukup 100 km per jam saja!"
"Ahahaha. Dasar gila kau bocah. Hahaha. Okkelah, assalamu'alaikum!"
"Hahaha. Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh" jawab Abah Yai dengan penuh senyuman.
Beliau sangat senang mendengar dan mengetahui kabar pelatihan Jamal. Beliau sangat berharap semua berjalan seperti yang diinginkannya dan sang kakak Pendekar Jibril
'Yaah, semoga saja' gumam Abah Yai.
Di dimensi buatan...
'Aiis, lama sekali perginya guru! Apa dia nggak tau betapa bosannya aku sendirian disini! Apalagi nggak ada lagi yang kudu ku pelajari. Huufth' keluh Jamal sambil menghembuskan nafas panjang.
"Ahahaha. Kenapa kau bocah?bWajah ditekuk dan merengut kayak pantat ayam saja. Ahahaha" tiba-tiba muncul Pendekar Jibril.
"Cih. kemana saja kau guru tua. Bosan tau disini sendiri!" gerutu Jamal.
"Ahahaha. Dasar murid tak tau sopan santun! Memanggil guru sendiri begitu" lemas Pendekar Jibril.
"Halah. Emang nyatanya begitu bukan?" sangkal Jamal.
"Yaaa...Tapi kan ti....." belum selesai Pendekar Jibril mengucapkan kata-katanya, Jamal sudah memotongnya.
"Darimana guru?"
"Aaaiiih..." pasrah Pendekar Jibril. Lalu dia menceritakan bahwa dia baru saja menjumpai Abah Kiyai nya Jamal.
Pendekar Jibril juga menceritakan tentang tanggapan atas keberhasilan latihan Jamal. Beliau sangat senang dan bangga atas apa yang telah jamal torehkan dan serta berharap besar akannya.
"Fiuuuh. Semoga saja aku tidak mengecewakan Abah Yai,"
"Maka dari itu berlatih lebih sungguh-sungguh,"
"Cih, aku kurang sungguh-sungguh gimana lagi guru tua. Bahkan aku latihan tanpa didampingi seorang guru. Aku otodidax" bangga Jamal sambil menepuk dadanya.
"Hei murid songong. Jadi kau nggak nganggep aku gurumu hah!" tatap tajam Pendekar Jibril.
"Eh eeeeh kok ngegas. Santai aja kali hahaha. Guru tetap guruku. Santai santai," lemas Jamal. Saat ini dia benar-benar tak mau dupak-mendupak bokong dengan gurunya.
"Elleeeh. Dasar murid durhaka kau,"
"Sudahlah guruku yang baik dan tidak EMOSIAN," kata Jamal agak menekankan kata 'emosian'nya.
"Kenapa kau tekankan kata emosinya hah! Jadi kau bilang gurumu ini emosian begitu?" sungut Pendekar Jibril.
"Ayolah guru. Aku bosan disini. Apa nggak ada lagi yang musti ku pelajari?"
"Eeeeh. Emmm. Sebenarnya ada satu lagi yang haris kamu pelajari dan latih,"
"Apa itu guru. Cepat katakan!" semangat Jamal. Kata-kata itulah yang sangat ditunggunya sedari tadi.
"Penempaan Senjata!" jawab Pendekar Jibril.
Jamal sangat senang mendengarnya.
"Baik lah guru. Muridmu ini siap menerima bimbingan guru."
Pendekar Jibril tersenyum tipis melihat semangat Jamal.
'Dia begitu rakus akan pengetahuan. Bagus! ini benar-benar berkah tersendiri,' gumamnya.
"Guru!... Guruuuu!" teriak Jamal
"Eh, Gimana gimana?"
"Heyalaaaah. Malah ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Bhah.. Dasar gila! Katanya guru mau ngajari cara menempa senjata. Gimana sih" lemas Jamal.
"Eeeemmm baiklah-baiklah mari kita mulai"
Pendekar Jibril mengeluarkan batu warna-warni dari cincin penyimpanannya. Lalu memotong secukupnya batu itu dengan energi api abadinya untuk dibuat senjata.
"Batu ini namanya batu bintang pelangi. Satu-satunya batu terkuat di alam ini namun sangat ringan. Banyak bahan yang bisa digunakan untuk membuat senjata. Seperti batu meteor hitam, batu pualam biru yang ada di tengah samudra dan masih banyak lagi! Tapi diantara batu atau bahan-bahan untuk membuat senjata hanya batu bintang pelangi yang bisa membuat senjata itu berkualitas terbaik, namun keberadaan batu ini sangatlah langka dan langka." jelas beliau.
Jamal hanya mengangguk dan memperhatikan
"Perlu kamu tau bahwa ilmu alcemis dan penempaan senjata itu saling berhubungan. Pertama, sama-sama membutuhkan api. Dan kedua adalah formasi."
Pertama-tama Pendekar jibril membuat dua buah formasi. Formasi mirip kuali alcemis, namun bedanya formasi itu cukup kuat. Yang satunya berupa cetakan berbentuk pedang.
"Baik, proses penempaan senjata atau pusaka ada beberapa tahap, yaitu peleburan, pencetakan dan yang terakhir pensucian."
Potongan batu tersebut diambilnya dan dimasukkan ke dalam formasi berbentuk kuali. Dengan kekuatan yang cukup besar Pendekar Jibril mengeluarkan tenaga api abadi. Suhu disekitar terasa begitu panas. Jamal pun merasakan itu, namun dia mengacuhkannya dan lebih memperhatikan detail per detail pelajaran yang didepan matanya itu.
"Suhu peleburan batu bintang pelangi tidak boleh kurang dari sembilanbribu derajat celcius,"
"Sementara untuk bahan selain batu bintang pelangi cukuplah di batas lima ribu derajat. Itu juga harus melihat dulu kekuatan bahannya." lanjut Pendekar Jibril.
Setelah tiga jam berlalu, kini batu potongan itu sudah menjadi cairan berwarna-warni yang indah. Sejenak Jamal terpersona dengan cairan batu itu. Kemudian Pendekar Jibril mengangkat formasi kuali itu dengan kekuatan spiritual dan menuangkan batu cair tersebut ke formasi percetakan.
Setelah cetakan penuh, beliau mengeluarkan energi yin untuk mempercepat pendinginan dan pembekuan cairan batu itu.
Setengah jam berlalu. Bentuk pedang terlihat oleh Jamal.
'Sungguh pedang yang indah,' gumam Jamal.
"Nah, ini adalah proses yang terakhir. Proses ini juga yang bisa mempengaruhi kualitas sebuah senjata atau pusaka yang kita buat."
Pendekar Jibril menjelaskan bahwa tahap inilah yang menjadi kelemahan para penempa pusaka, sehingga pusaka buatannya kurang dalam kualitasnya.
"Proses ini seperti pemurnian dalam pembuatan pil. Hanya saja kekuatan spiritual yang harus dikeluarkan harus lebih besar."
Lalu beliau memulai proses pensucian pusaka. Dapat Jamal rasakan bahwa sang guru mengeluarkan energi spiritualnya dalam jumlah besar.
Satu jam kemudian tiba-tiba langit didunia dimensi berubah menjadi bergemuruh. Awan bergelayut berubah warna menjadi merah darah. Kilat menyambar sana-sini. Raungan petir terdengar sangat mengerikan. Melihat itu Jamal teringat saat dia memurnikan pil roh tingkat awan sampai tingkat dewa. Namun petir ini lebih mengerikan.
Dengan santai Pendekar Jibril membuka segel percetakan dan memegang gagang pedang tempaannya. Lalu beliau menatap langit penuh arti.
"Agak mundurlah kau Jamal,"
"Baik guru."
Perlahan, petir yang berada dari balik awan merah itu terbentuk seekor naga. Ya, itu Naga Petir Surgawi!
______&&&&
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
kata-kata hari ini:
'tetaplah berbuat baik meski rupamu mencurigakan" 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 539 Episodes
Comments
ciru
cakeep
2023-12-11
1
Abdul Choliq
rupa hanyalah sampul bagi buku, penting mn sampul sama isi?
2023-07-07
1
nasrul
lanjut
2023-07-07
1