Dalam suasana hening namun mencekam, aku berusaha menguatkan diriku menghadapi pria yang tak ingin aku temui lagi seumur hidupku.
Rasanya seperti jebakan yang sengaja menjeratku dalam suasana ini. Aku menghela nafasku begitu dalam, entah apa yang akan dia lakukan setelah ini? Aku tak tahu.
Aku hanya bisa pasrah, namun yang pasti aku tidak akan membiarkan malam panas itu terjadi lagi.
Aku akan berusaha sekuat mungkin mempertahankan kesadaranku, sebisa mungkin berusaha untuk tidak jatuh ke dalam pesonanya.
Aku yakin siapapun wanita yang melihat sosok direktur A&J di hadapanku ini pasti akan leleh melihat pesonanya, membuat semua kalangan wanita ingin menjadi bagian dari hidupnya.
Dia menggenggam lenganku begitu erat, hingga aku sulit melepaskan tangan kekarnya. Aku tahu dia tidak ingin kehilangan jejakku, itu jelas terbias dari sorot matanya.
Bisa jadi dia menganggapku sebagai sosok wanita murah yang kapanpun bisa dia pakai akibat pertemuan laknat kami di club malam itu. Sayangnya, itu hanya kesialanku saja. Aku bukanlah wanita yang dia sangkakan.
"Aku mohon lepaskan aku Pak." gaya bahasaku nampak seperti tidak pernah bertemu dengannya, namun ternyata cara itu justru membuat dia semakin geram menatapku.
Kali ini tatapannya dengan jarak yang semakin dekat, tepat di depan wajahku. Sampai sampai aku memilih mundur satu langkah, hingga menekan pintu yang tadi sudah sedikit terbuka, dan kini pintupun tertutup kembali.
"Jenny, don't try to play the game with me."
Tatapannya sungguh menghancurkan pertahananku, aku tak kuasa melihat pesonanya.
Andai saja luka yang ditorehkan Frans sudah berhasil pergi dari dasar hatiku, mungkin sekarang ini aku sudah jatuh ke dalam pesona pria di hadapanku.
Siasatku ternyata salah.
Entah harus bagaimana aku menghadapinya?
Baiklah akan aku akui, tapi hanya sebatas mengakui saja, karena aku tidak ingin terikat dengan pria manapun.
Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit mengancam, dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Milikmu." dia menyodorkan benda yang aku cari beberapa hari lalu, ternyata dia mengembalikan ponselku.
Sudah tidak ada alasan lagi untukku mengelak atas semua yang telah terjadi bersamanya.
Aku hanya mampu menerima ponselku dengan pandangan tertunduk, menatap bukti fisik yang tertinggal di apartemen miliknya, setelah aksi panas malam itu.
"Apa masih mau jadi ratu drama lagi Jenn?" pertanyaannya semakin mengintimidasi, agar aku mengakui apa yang telah kita perbuat malam itu.
"Lupakan saja!" ucapku tegas.
Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan?
Hingga aku mampu melepaskan kata-kata itu dengan wajah yang aku palingkan dari pandangannya.
Mungkin karena aku sudah terlalu banyak menelan rasa sakit yang Frans torehkan padaku, sehingga aku punya keberanian untuk melawan kaum pria manapun. Termasuk pria di hadapanku saat ini, sampai aku lupa akan status sosial dan jabatannya di kantor ini.
Sungguh tatapan penuh selidik ke arahku, membuatku tidak tahan untuk berlama-lama dalam situasi ini.
"Aku bukan tipe pria brengsek seperti di luaran sana. Bagiku tidak mudah melakukan perbuatan itu pada sembarang wanita."
Sungguh aku tidak mengerti maksud dari ucapannya. Melakukan sembarang *** atau tidak, rasanya aku tak peduli.
Sudah aku tekadkan untuk melupakan semuanya, menganggap semuanya tak pernah terjadi di antara kita.
"Lalu, apa maksudmu?" mendengar pertanyaanku barusan, dia hanya mengacak rambutnya kasar.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat terhadapmu, karena malam itu aku dalam kondisi mabuk." ucapannya santai, namun terdengar tegas di telingaku.
Mungkin akan banyak orang mengatakan aku ini wanita terbodoh di dunia, karena sudah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan seorang direktur. Tapi, sungguh dari dalam hatiku tidak menginginkan semua itu.
Lagipula mau apa yang dipertanggung jawabkan?
Aku hanya wanita mandul, tidak akan mungkin aku hamil hanya karena aktivitas panas semalam saja.
"Tidak perlu." ucapku singkat, namun sukses membuatnya terkesiap.
"Apa kamu wanita yang sengaja menjajakkan dirimu di club malam Jenn?" pertanyaannya kali ini semakin membuatku geram, membuatku lepas kontrol, hingga menampar wajahnya begitu keras, dan pipinyapun memerah akibat ulahku.
Bagaimana bisa aku menahan emosi? Setelah dia menganggap aku ini wanita rendahan.
Aku tidak peduli dengan jabatannya di sini, jujur aku merasa dilecehkan. Apalagi statusku yang baru saja menyandang sebagai janda, membuat emosiku naik turun akibat depresi yang aku tahan.
"Jaga bicaramu Tuan. Aku tidak akan menerima pertanggung jawabanmu, karena memang aku tidak membutuhkannya." kalimatku semakin berani.
"Aku hanya wanita yang divonis mandul, mau apa yang akan dipertanggung jawabkan?" tandasku lagi.
Nada bicaraku terdengar sangat tegas, seperti tidak mau kalah sangar dengan tatapannya.
"Kalau begitu berapa jumlah uang yang kamu minta? Untuk menebus perbuatanku malam itu."
Kuhela nafasku dalam, mencoba mengumpulkan rasa sabar yang tiada batas. Walau kenyataannya, justru aku kehilangan kesabaranku menghadapi pria tampan yang menurutku sangat menjengkelkan.
"Ini sama saja Anda menganggapku wanita bayaran Tuan. Aku hanya minta padamu untuk tidak mengingat kejadian itu, anggaplah kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Bahkan lupakan pula pertemuan ini." ucapanku semakin berani di hadapannya, sementara dia hanya tersenyum getir.
Entah apa yang ada dalam pikirannya? Yang jelas aku ingin cepat pergi dari ruangan ini.
"Apa kamu yakin Jenny?" dia justru semakin menekan tubuhku, hingga punggungku menempel di pintu ruangan.
Pria itu mengungkungku dengan kedua tangan yang dia tempelkan di pintu, seperti menahanku untuk melarikan diri dari situasi ini.
"Aku mohon lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan pernah mengusik kehidupanmu lagi, aku mohon."
Kali ini suaraku terdengar melemah, bahkan kedua telapak tanganpun aku tangkupkan. Aku mencoba memohon setitik rasa belas kasih darinya, diapun menghela nafasnya dalam, mengacak rambutnya kasar.
"Baiklah Jenn, aku akan melepaskanmu. Tapi, jika benihku tumbuh, dan kamu hamil akibat perbuatanku, kamu harus segera menghubungiku, beri tahu aku." ucapnya sambil menatap lekat kedua bola mataku, lalu meraih selembar kartu nama dari saku jasnya.
Pria itu memberikan kartu nama tersebut padaku, lalu aku membaca kartu nama yang ia sodorkan di telapak tanganku. Kartu tersebut berisi identitas nama, jabatan, serta nomor handphone.
Arjuna Prasetya
President Director of A&J Group
08xxx
•••
Jangan lupa klik like ya 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Mami Vanya Kaban
tjor... mudah2 hamil thor. thor kalau bisa bikin diagnosa dokter yg dulu salah thor
2020-09-16
2
Fina firo
lah Dy mandul gmn cerianya bs hamil pak Juna
2020-06-04
1
Ragil Retno Wardani
😍😍😍😍
2020-04-14
2