Masih tergambar jelas dalam ingatanku. Malam itu aku pergi meninggalkan rumah Frans. Rumah yang menyimpan ribuan kenanganku bersamanya.
Kenangan yang harus segera aku buang jauh, bahkan jangan sampai tersentuh lagi.
Tekadku sudah bulat ingin mengakhiri semuanya, walau niat hati melupakan, namun kenyataannya membuang masa lima tahun bersama Frans pasti tidak mudah.
Namun, semuanya harus aku lakukan. Karena, aku tidak ingin menjadi perempuan bodoh yang berpura-pura ikhlas. Apalagi harus pura-pura kuat berbagi suami.
Hujan mengguyur jalanan begitu deras saat laju mobilku sudah memasuki kota kelahiranku, Purwakarta.
Mobilku kini sudah terparkir di pekarangan rumah ibuku, namun rumah itu sedikit terasa asing bagiku, mungkin karena ibu mengganti warna cat rumahnya dengan nuansa warna merah tua.
Apa sudah terlalu lama aku tidak mengunjungi rumah ibu?
Sampai sampai aku lupa akan semua perubahannya.
Langkah kakiku sedikit berlari menembus hujan yang cukup deras, lalu kuketuk pintu rumah, sampai pada ketukan ketiga menampilkan sosok wanita dalam balutan hijab dengan senyuman yang tercetak indah bermakna kerinduan.
"Jenny. . ." bisik ibu.
Ibuku nampak riang menyambut kedatanganku di depan pintu. Sementara aku sedikit memaksakan senyuman, namun tetap saja aku justru menghambur ke dalam pelukan ibu, berusaha menahan nafasku yang sesak.
Air matapun siap aku tumpahkan ke dalam pelukan ibuku.
"Ibu. . ." panggilku lirih.
Aku mulai menangis dalam pelukan ibu, dengan bahu yang sudah bergetar menahan sesak.
"Anak Ibu kenapa?"
"Kok nangis?"
"Frans mana?"
Pertanyaan ibu yang bertubi-tubi menghancurkan kesedihanku. Tatapan ibuku menyapu pandangan di luar rumah, mencari cari sosok suamiku Frans.
Wajar saja ibuku mencari Frans, karena malam malam begini sekitar pukul sepuluh malam aku bertamu ke rumah ibuku, pasti dalam pikiran ibu ada Frans yang mengantarku.
Aku masih tidak menjawab pertanyaan ibu, tapi ibu membawaku masuk, lalu mendudukkanku di sofa ruang tamu. Matanya menyiratkan banyak pertanyaan padaku.
"Aku ingin cerai dengan Frans Bu." ucapku sembari menatap kosong meja ruang tamu.
Pernyataanku barusan membuat ibuku terlonjak mendengarnya.
"Astagfirullahaladzim Jenny! Kamu ini bicara jangan sembarangan."
Aku hanya diam mendengarkan ibuku yang tidak mendukung keputusanku.
"Memangnya ada masalah apa dengan suamimu?"
Ibu semakin penasaran akan masalah yang menimpa rumah tanggaku.
"Mas Frans diam diam selingkuh di belakangku Bu. Malam ini dia pergi menemui wanita yang sudah melahirkan darah daging mas Frans."
Hanya sampai itu yang mampu aku jelaskan pada ibu. Nafasku kembali tercekat, tak mampu berkata apapun lagi, saat ini yang aku butuhkan hanyalah pelukan ibu yang mampu mendamaikanku.
Tangan ibuku mendekapku erat ke dalam pelukannya, mengisyaratkan padaku untuk kuat menghadapi badai rumah tanggaku.
"Apa kamu yakin Frans melakukan itu di belakangmu Jenn?"
Ibuku masih mencoba untuk tidak menghakimi situasi, berharap ini hanyalah kesalahpahaman kecil dalam rumah tanggaku.
"Aku yakin Bu." jawabku penuh keyakinan.
Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anak perempuan semata wayangnya diperlakukan seperti ini?
Seketika itu juga raut wajah ibuku berubah pucat saat mendengar pernyataanku.
"Ibu yakin Jenny adalah wanita yang baik dan kuat. Semuanya pasti akan ada hikmahnya Sayang."
"Kita hanya bisa menerima cobaan yang Tuhan berikan kepada kita, dan ibu yakin Jenny pasti bisa melalui masa sulit ini. Kalau dengan berpisah dirasa jalan terbaik, Ibu hanya bisa mendukung apapun yang menjadi keputusan Jenny."
Netra ibu menatap langit langit rumah, sementara tangannya masih setia mengelus punggungku lembut penuh kasih.
"Iya Bu, semoga Jenny bisa melupakan semua yang telah terjadi bersama Frans."
Mungkin dengan aku berpisah dari Frans, aku bisa kembali hidup bersama ibuku.
Kasihan ibu, sejak bapak meninggal dia hidup bersama keponakannya di rumah ini.
Keponakan ibu yang sudah ibu anggap seperti anaknya sendiri, menggantikan posisiku jika aku tidak ada di rumah.
•••
Matahari bersinar cerah pagi ini, secerah hati Frans yang dilanda rasa bahagia memiliki buah hati yang telah lama Frans nantikan dari rumah tangganya.
Sayangnya sang istri Jenny Florencia, tidak mampu memberikan kebahagiaan itu. Tapi tak mengapa, karena Frans kini memiliki anak perempuan yang baru lahir semalam dari rahim Alea.
"Kamu mau kemana Mas?" pertanyaan Alea sedikit kecewa saat melihat Frans yang sudah bersiap mengambil kunci mobil di atas nakas rumah sakit.
"Maafkan aku sayang, aku harus pulang dulu. Jenny pasti sudah menungguku." tutur Frans.
Seketika raut wajah Alea berubah masam saat mendengar ucapan Frans.
"Dia juga istriku sayang, aku mohon kamu mengerti."
Frans masih berusaha meminta pengertian Alea dengan memberikan pandangan memelasnya pada Alea.
"Tapi aku baru saja melahirkan Mas. Aku masih butuh kamu di sampingku, bahkan anak kita Mas."
Rengekan Alea sedikit merepotkan Frans, tapi Frans sendiri gelisah sudah meninggalkan Jenny dengan alasan urusan kantor.
"Aku mohon mengertilah, lagi pula sudah ada mbok Siti yang akan menemani kamu sementara Mas pergi."
Frans masih mencoba melerai situasi, sembari mengelus puncak kepala Alea dengan sayang.
"Kamu selalu saja mengutamakan dia yang cacat, mengutamakan wanita yang tidak mampu memberikan keturunan untukmu."
Kalimat yang Alea ucapkan barusan membuat rahang Frans langsung mengeras, tak terima mendengar Alea mengatakan Jenny perempuan cacat yang tak bisa memberikan keturunan.
Entah kenapa Frans selalu tidak terima jika ada yang menghina Jenny seperti ini.
"Jaga bicaramu Alea!"
"Kalau Jenny sempurna, tentunya aku tidak akan sejauh ini denganmu."
Jari telunjuk Frans lurus tertuju pada Alea, memperingatkan istri sirihnya untuk tidak mengatakan hal itu lagi di hadapannya.
Bagaimanapun juga kadar cinta Frans untuk Jenny berbeda porsinya dengan Alea.
Di mata Frans, Jenny adalah wanita yang cantik. Bukan hanya cantik secara fisik saja, melainkan kepribadiannya, dan keanggunannya.
Wajar saja jika ayah Frans, Wicaksana Saputra memilih Jenny sebagai pasangan yang tepat untuk Frans.
"Tapi itu kenyataannya Frans."
Alea semakin kesal akan perubahan sikap Frans, menurutnya Frans terlalu membela Jenny.
"Dan kenyataannya kamupun memanfaatkan kekurangan Jenny, Lea!" Frans tidak mau kalah.
Bagaimanapun Jenny adalah istri kebanggaan Frans dan keluarga besarnya.
"Sekali lagi kamu menghina Jenny seperti itu, akan aku pastikan kamu tidak akan hidup mewah lagi. Bersiaplah kehilangan putrimu Lea."
Mendengar ucapan Frans barusan membuat tubuh Alea bergetar, mulutnya tiba-tiba terkunci, tak sanggup lagi mengatakan apapun.
Rasanya ancaman Frans terlalu mengerikan bagi Alea.
Frans berlalu meninggalkan ruang rawat Alea. Langkahnya melenggang dengan cepat menuju area parkir rumah sakit, kemudian ia melajukan mobil menuju perjalanan pulang, karena Frans takut Jenny curiga akan alasan palsunya semalam.
•••
"Sayang, aku pulang."
Teriak Frans setelah sampai di ruang tamu rumahnya sambil meletakkan kunci mobil beserta ponsel di meja. Namun, tidak ada sambutan hangat dari Jenny yang seperti biasanya.
Jenny selalu menyambut Frans dengan senyuman manisnya, kemudian meraih tangan Frans, mencium punggung tangan Frans penuh dengan rasa hormat terhadap suami.
Frans melangkah menuju ruang TV, namun Jenny tidak ada di sana.
"Sayang, Mas pulang nih." Frans kembali berteriak.
Kini langkah Frans sudah sampai di kamar utama, namun tidak ada siapapun di sana.
Barang barang milik Jenny tak ada di kamarnya lagi, lalu dibuka lemari slide berwarna putih di sudut ruangan. Benar saja dugaan Frans, Jenny sudah mengemasi pakaiannya.
Frans turun dari lantai dua, ia mencari bi Irah dengan sirat mata penuh cemas. Frans takut kalau istrinya pergi meninggalkannya, ia takut kalau Jenny mengetahui perselingkuhannya dengan Alea.
"Ternyata Tuan sudah pulang." ujar bi Irah menyambut kepulangan majikannya yang nampak kacau mencari Jenny.
"Jenny mana Bi?" tanya Frans, sementara bi Irah hanya diam tertunduk.
"Jawab Bi Irah, kemana Jenny?" rupanya Frans sudah sangat gelisah.
"Anu Tuan, anu, non Jenny pamit pergi dari rumah ini." jawab bi Irah sedikit gugup di depan Frans.
"Maksudnya Bi?" potong Frans penasaran.
"Non gak akan kembali lagi ke sini Tuan."
"Semalam non cantik sudah berkemas, dan pamit ke Bibi." ucap bi Irah lagi.
Bi Irah masih ingat bagaimana Jenny menangis semalam, dan itu cukup menyesakkan hati bi Irah saat menjelaskan kepada Frans.
"Lalu Jenny bilang apa sama Bibi?"
Tanya Frans yang masih berusaha menahan rasa panik.
"Non cuma bilang akan mengurus perceraian dengan Tuan muda."
Seketika itu juga Frans mengacak rambutnya kasar saat mendengar penjelasan bi Irah. Sudah dapat dipastikan kalau Jenny telah mengetahui semuanya, dan Frans harus segera pergi menemui Jenny di rumah orangtuanya.
Tak banyak bicara lagi, Frans langsung menyambar ponsel dan kunci mobil di atas meja ruang tamu.
Langkah Frans begitu cepat meninggalkan bi Irah yang masih berdiri mematung, memikirkan nasib rumah tangga majikannya yang tengah berada di ujung tanduk.
•••
Tinggalkan jejak kalian dengan klik like 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Praised93
terima kasih
2024-01-06
0
istrioppaojun
begitulah rumah tangga.. cobaanya beda"
2020-11-15
1
Jac_Aline
semoga aja, beneran anak kandungnya
2020-10-10
2