Part 2 - Selamat tinggal Frans

"Selamat tinggal Frans."

Malam itu aku meluapkan semua emosiku di rumah milik Frans.

Rumah yang selama lima tahun ini aku tinggali bersama Frans. Melalui hari hariku bersamanya, menemani suka maupun duka.

Pencapaian Frans sebagai direktur utama di perusahaan adalah campur tangan dari pernikahanku bersamanya.

Ayah Frans baru bisa mengangkat Frans sebagai direktur utama dengan syarat menikahiku, barulah ayah Frans akan mempercayakan semua aset perusahaan untuk putra semata wayangnya.

Ayah mertuaku sangat memahami reputasi wanita yang pernah menjadi kekasih Frans. Mereka hanya menginginkan uang dan posisi dari keluarga Wicaksana saja. Berbeda dengan aku yang justru mampu memberikan kontribusi ide ide segar untuk bisnis Frans.

Semuanya berawal dari pertemuanku dalam projek launching sebuah produk fashion. Aku yang dipercaya mewakili kantor tempatku bekerja untuk bekerjasama dengan kantor ayah Frans, di sanalah kita bertemu.

Sampai akhirnya, bunga bunga asmara itu tumbuh sendirinya diantara aku dan Frans.

Kami saling mencintai, apapun keadaannya kami berjanji tidak akan pernah berpisah sampai maut menjemput.

Namun, itu dulu. Jauh sebelum aku tahu sebuah fakta yang ada.

Itu dulu, sebelum aku tahu kalau jauh dalam lubuk hati Frans diam diam sangat mendamba kehadiran seorang anak. Walau bukan hanya Frans saja yang mendambakan kebahagiaan yang lengkap.

Akupun sama menginginkan buah hati yang lucu, buah hati yang akan tumbuh sehat bersama penuh cinta, bersama melihat anak anak kita tumbuh dewasa.

Ternyata semua yang diucapkan Frans hanyalah kebohongan belaka, hanyalah bunga bibir yang selalu menjadi kias untuk menenangkan kekhawatiranku.

Jujur sering terbesit dalam pikiranku kalau suatu hari nanti Frans akan berpaling dariku, mencari wanita yang sehat, yang mampu memberikan keturunan untuknya.

Apalagi keluarga Wicaksana memiliki kekayaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sudah dipastikan butuh penerus untuk kelangsungan bisnisnya.

"Aku benci kamu Frans! Benci! Benci!"

Kuhempaskan semua barang di meja rias kamar.

Biarlah semuanya hancur, sama seperti hatiku saat ini, merasakan sesak atas apa yang telah kudengar dari mulut resepsionis di rumah sakit.

Aku menangis menjerit kencang, sampai mengabaikan keberadaan bi Irah, sang asisten rumah tangga di rumah Frans.

Bi Irah sudah lama bekerja di rumah ini, jauh sebelum aku menikah dengan Frans.

Entahlah, rasanya seperti mimpi buruk.

Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk yang harus segera bangun dan berakhir. Namun, inilah kenyataannya. Sama sekali bukan mimpi.

Mau lari kemanapun kenyataannya Frans sudah berkhianat di belakangku.

Mau tidak mau, suka atapun tidak, aku harus terima kenyataan pahit itu.

"Non Jenny, cerita sama Bibi Non." ucap bi Irah sambil menatap penuh cemas terhadapku.

Langkah kaki wanita paruh baya itu sangat hati hati saat memasuki kamarku bersama Frans.

Seketika itu aku langsung menghambur ke dalam pelukan bi Irah, lalu menangis meluapkan emosi yang sudah tak sanggup kutahan lagi.

"Frans Bi, Frans." keluhku pada bi Irah, seakan mencoba mengadu pada wanita paruh baya yang selalu setia pada keluarga kecilku.

Bi Irah mengelus rambut panjangku yang tergerai di punggung. Kasih sayang bi Irah begitu tulus, ia sudah menganggap aku ini seperti putrinya sendiri.

"Kenapa dengan tuan muda Non? Ada apa? Cerita sama Bibi."

Rentetan pertanyaan keluar dari bibir bi Irah yang panik melihat keadaanku yang nampak kacau.

Bukannya bercerita, aku justru menangis semakin gaduh, membayangkan wajah Alea yang menatap Frans penuh cinta.

Membayangkan keintiman mereka, sampai mampu melahirkan seorang anak. Ternyata, hubungan mereka sudah sejauh ini tanpa aku sadari.

Aku pikir skandal tentang bos dan sekertaris itu hanya ada dalam sinetron, ternyata ini kenyataan yang menimpa rumah tanggaku.

"Aku ingin cerai dengan Frans, Bi."

Bi Irah langsung melepaskan pelukannya, mendorong tubuhku untuk saling menatap netra masing-masing.

Bi Irah mencoba meyakinkan apa yang aku ucapkan. Dia ingin memastikan kalau kalimatku ini benar benar serius atau hanya racauan belaka.

"Frans mengkhianatiku Bi, sekarang dia sedang menikmati momen bahagianya bersama wanita lain yang mampu memberinya keturunan."

Suaraku tercekat tidak sanggup berkata kata lagi, begitupun dengan bi Irah yang terkesiap menganga menatapku.

"Apa Non Jenny yakin itu tuan?" bi Irah masih belum mempercayai ucapanku.

"Yakin Bi." jawabku mantap.

Aku kembali tertunduk, sampai terduduk lemas di bibir ranjang.

"Sabar Non, tapi kalau Bibi boleh kasih saran mending diobrolin baik baik dulu dengan tuan muda." bi Irah masih mencoba berusaha bijak.

Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan, bagiku tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara aku dengan Frans.

Semuanya sudah jelas, aku hanya ingin kembali pulang ke rumah ibuku.

"Aku harus pergi Bi." ucapku lirih di hadapan bi Irah.

Ku usap air mataku yang mengalir di pipi dengan satu usapan kasar, lalu bangkit dari duduk meraih koper besar dan memasukkan semua pakaianku ke dalam koper.

Sesaat kulihat kedua bola mata bi Irah yang  tersentak akan tindakanku.

"Non tolong Non, ini sudah malam. Jangan memaksa pergi malam ini juga." bi Irah masih mencoba menahan keputusanku.

Aku tetap bersikeras mengemasi barang barang dan pakaianku. Tanpa mempedulikan ucapan bi Irah.

"Jangankan malam ataupun badai, perceraianpun aku sudah tidak takut."

"Hari ini adalah hari terakhir kalinya kupijakkan kakiku di rumah ini Bi." ucapku tegas tanpa memandang ke arah bi Irah.

Setelah mendengar ucapanku barusan, bi Irah turut membantuku membawakan barang barang ke dalam bagasi mobil dengan tatapan sedih.

Dari raut wajah bi Irah nampak tidak merelakan aku pergi dari rumah ini.

"Non jaga diri baik baik, jangan lupa berikan kabar. Bibi pasti merindukan Non."

Bi Irah memelukku begitu erat nan hangat.

Keikhlasan dan ketulusannya memang luar biasa padaku, menganggapku sudah seperti anaknya sendiri.

Jalinan emosional diantara kami sudah terlalu kuat, walau dengan berat hati semuanya harus kutinggalkan.

Aku tidak ingin hidup dalam bayang bayang pengkhianatan, biarlah semuanya berakhir.

Biarlah luka ini aku yang rasa, aku yang simpan, dan tak akan pernah mampu aku buka kembali.

"Aku pamit bi Irah, Assalamualaikum." ucapku sambil menenteng kunci mobil dengan wajah yang tertunduk, berusaha menahan tangis.

Kemudian aku mulai melajukan mobilku meninggalkan bi Irah, meninggalkan rumah yang menyimpan ribuan kenangan.

•••

Bi Irah hanya menatap kepergian mobil Jenny, mungkin ini pertemuan terakhir kali bi Irah dengan majikan wanitanya.

Hati bi Irah tak merelakan kepergian Jenny, tapi bagaimanapun bi Irah juga wanita, pasti mampu merasakan apa yang Jenny rasakan saat ini.

Kalaupun bi Irah berada di posisi Jenny, tentunya dia akan mengambil keputusan yang sama.

Tidak ada satupun wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain. Seadil adilnya seorang suami, tidak akan pernah terlihat adil di mata istri istrinya.

Bi irah menyeka air mata yang berlinang di kedua pipinya, nafas bi Irah terasa sesak, seperti larut dalam kesedihan Jenny.

"Ya Allah, si non itu wanita yang sangat baik, tapi kenapa cobaan yang Engkau berikan begitu berat untuknya?"

Wanita paruh baya itu menengadahkan wajahnya, menatap nyalang langit langit teras, masih dengan nafas yang tersengal.

Kemudian bi Irah bergegas kembali memasuki rumah mewah milik Frans, dapat bi Irah pastikan kalau rumah itu akan terasa sepi, tidak akan sehangat biasanya, tanpa kehadiran sosok Jenny di sana.

•••

Jangan lupa klik like setelah baca ya 😉

Terpopuler

Comments

Praised93

Praised93

terima kasih.

2024-01-06

0

MoonStar

MoonStar

sedih thor, pdhl baru awalan udh sedih bgt huaaaa

2021-07-30

3

Asma Susanty

Asma Susanty

mewek thor....

2020-07-14

3

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Alea
2 Part 2 - Selamat tinggal Frans
3 Part 3 - Dia juga istriku
4 Part 4 - Ceraikan aku!
5 Part 5 - Bukan wanita berhati malaikat
6 Part 6 - Bukankah hidup adalah pilihan?
7 Part 7 - Kembali ke Jakarta
8 Part 8 - One night stand
9 Part 9 - Itu bukan mimpi
10 Part 10 - Walk interview
11 Part 11 - Lantai delapan
12 Part 12 - President Director of A&J Group
13 Part 13 - Merindukan Jenny
14 Part 14 - William Wedding
15 Part 15 - Hamil
16 Part 16 - Tante barbie
17 Part 17 - Apa kamu hamil Jenn?
18 Part 18 - Anggap saja tidak pernah terjadi
19 Part 19 - Pernikahan kedua
20 Part 20 - Buktikan pada mereka
21 Part 21 - He just my ex husband
22 Part 22 - Alasan meminta cerai denganku
23 Part 23 - Tak seharusnya melepasmu
24 Part 24 - Arjuna banget!
25 Part 25 - Cleo Prastya
26 Part 26 - Menagih janji
27 Part 27 - Aku merindukanmu tante barbie
28 Part 28 - Belum sanggup memulai lagi
29 Part 29 - Arjuna versi mini
30 Part 30 - Masukkan aku ke dalam daftar pilihan
31 Part 31 - Dasar gombal!
32 Part 32 - Terlalu sulit untuk ku hapus
33 Part 33 - Pria kesepian
34 Part 34 - Love you more Miss Florencia
35 Part 35 - Apa cinta harus serumit itu?
36 Part 36 - Wajah yang tak ingin kulihat lagi
37 Part 37 - Ancaman Jenny
38 Part 38 - Papih! Bukan papah!
39 Part 39 - Ikatan keluarga
40 Part 40 - Gugup
41 Part 41 - Dress navy
42 Part 42 - Siapa wanita itu?
43 Part 43 - I love you
44 Part 44 - Hanya masa lalu
45 Part 45 - Aku masih mencintainya
46 Part 46 - Lamaran
47 Part 47 - Anniversary
48 Part 48 - Kecewa
49 Part 49 - Ancaman William
50 Part 50 - Singkirkan tangan kotormu!
51 Part 51 - Yakinkan dulu hatimu
52 Part 52 - Bagas
53 Part 53 - Diabaikan
54 Part 54 - Apa kehadiran William?
55 Part 55 - Renata
56 Part 56 - Kali ini saja
57 Part 57 - Anggap saja itu mahar
58 Part 58 - Mamih
59 Part 59 - Pergi!
60 Part 60 - Maafkan Ayah
61 Part 61 - Dipingit
62 Part 62 - Sudah berlalu
63 Part 63 - Wanita paling beruntung
64 Part 64 - Sampai maut menjemput
65 Part 65 - I want you tonight
66 Part 66 - Sesal
67 Part 67 - Takan ada titik yang terlewat
68 Part 68 - Remuk redam
69 Part 69 - Teratai pijar
70 Part 70 - Gelang tali
71 Part 71 - Mark
72 Part 72 - Bukankah kita sudah berjanji
73 Part 73 - Rencana gila
74 Part 74 - MC Production
75 Part 75 - Tiga pria
76 Part 76 - Pria terhebat
77 Part 77 - Cintai aku
78 Part 78 - Makan eskrim
79 Part 79 - Siapanya Mamih?
80 Part 80 - Undangan
81 Part 81 - Pizza sosis keju
82 Part 82 Atas nama Franda Imelda
83 Part 83 Satu malam saja
84 Part 84 Menjadi yang kedua
85 Part 85 Komitmen
86 Part 86 Komitmen
87 Part 87 Hilang
88 Part 88 - Kembali
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Part 1 - Alea
2
Part 2 - Selamat tinggal Frans
3
Part 3 - Dia juga istriku
4
Part 4 - Ceraikan aku!
5
Part 5 - Bukan wanita berhati malaikat
6
Part 6 - Bukankah hidup adalah pilihan?
7
Part 7 - Kembali ke Jakarta
8
Part 8 - One night stand
9
Part 9 - Itu bukan mimpi
10
Part 10 - Walk interview
11
Part 11 - Lantai delapan
12
Part 12 - President Director of A&J Group
13
Part 13 - Merindukan Jenny
14
Part 14 - William Wedding
15
Part 15 - Hamil
16
Part 16 - Tante barbie
17
Part 17 - Apa kamu hamil Jenn?
18
Part 18 - Anggap saja tidak pernah terjadi
19
Part 19 - Pernikahan kedua
20
Part 20 - Buktikan pada mereka
21
Part 21 - He just my ex husband
22
Part 22 - Alasan meminta cerai denganku
23
Part 23 - Tak seharusnya melepasmu
24
Part 24 - Arjuna banget!
25
Part 25 - Cleo Prastya
26
Part 26 - Menagih janji
27
Part 27 - Aku merindukanmu tante barbie
28
Part 28 - Belum sanggup memulai lagi
29
Part 29 - Arjuna versi mini
30
Part 30 - Masukkan aku ke dalam daftar pilihan
31
Part 31 - Dasar gombal!
32
Part 32 - Terlalu sulit untuk ku hapus
33
Part 33 - Pria kesepian
34
Part 34 - Love you more Miss Florencia
35
Part 35 - Apa cinta harus serumit itu?
36
Part 36 - Wajah yang tak ingin kulihat lagi
37
Part 37 - Ancaman Jenny
38
Part 38 - Papih! Bukan papah!
39
Part 39 - Ikatan keluarga
40
Part 40 - Gugup
41
Part 41 - Dress navy
42
Part 42 - Siapa wanita itu?
43
Part 43 - I love you
44
Part 44 - Hanya masa lalu
45
Part 45 - Aku masih mencintainya
46
Part 46 - Lamaran
47
Part 47 - Anniversary
48
Part 48 - Kecewa
49
Part 49 - Ancaman William
50
Part 50 - Singkirkan tangan kotormu!
51
Part 51 - Yakinkan dulu hatimu
52
Part 52 - Bagas
53
Part 53 - Diabaikan
54
Part 54 - Apa kehadiran William?
55
Part 55 - Renata
56
Part 56 - Kali ini saja
57
Part 57 - Anggap saja itu mahar
58
Part 58 - Mamih
59
Part 59 - Pergi!
60
Part 60 - Maafkan Ayah
61
Part 61 - Dipingit
62
Part 62 - Sudah berlalu
63
Part 63 - Wanita paling beruntung
64
Part 64 - Sampai maut menjemput
65
Part 65 - I want you tonight
66
Part 66 - Sesal
67
Part 67 - Takan ada titik yang terlewat
68
Part 68 - Remuk redam
69
Part 69 - Teratai pijar
70
Part 70 - Gelang tali
71
Part 71 - Mark
72
Part 72 - Bukankah kita sudah berjanji
73
Part 73 - Rencana gila
74
Part 74 - MC Production
75
Part 75 - Tiga pria
76
Part 76 - Pria terhebat
77
Part 77 - Cintai aku
78
Part 78 - Makan eskrim
79
Part 79 - Siapanya Mamih?
80
Part 80 - Undangan
81
Part 81 - Pizza sosis keju
82
Part 82 Atas nama Franda Imelda
83
Part 83 Satu malam saja
84
Part 84 Menjadi yang kedua
85
Part 85 Komitmen
86
Part 86 Komitmen
87
Part 87 Hilang
88
Part 88 - Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!