"Selamat tinggal Frans."
Malam itu aku meluapkan semua emosiku di rumah milik Frans.
Rumah yang selama lima tahun ini aku tinggali bersama Frans. Melalui hari hariku bersamanya, menemani suka maupun duka.
Pencapaian Frans sebagai direktur utama di perusahaan adalah campur tangan dari pernikahanku bersamanya.
Ayah Frans baru bisa mengangkat Frans sebagai direktur utama dengan syarat menikahiku, barulah ayah Frans akan mempercayakan semua aset perusahaan untuk putra semata wayangnya.
Ayah mertuaku sangat memahami reputasi wanita yang pernah menjadi kekasih Frans. Mereka hanya menginginkan uang dan posisi dari keluarga Wicaksana saja. Berbeda dengan aku yang justru mampu memberikan kontribusi ide ide segar untuk bisnis Frans.
Semuanya berawal dari pertemuanku dalam projek launching sebuah produk fashion. Aku yang dipercaya mewakili kantor tempatku bekerja untuk bekerjasama dengan kantor ayah Frans, di sanalah kita bertemu.
Sampai akhirnya, bunga bunga asmara itu tumbuh sendirinya diantara aku dan Frans.
Kami saling mencintai, apapun keadaannya kami berjanji tidak akan pernah berpisah sampai maut menjemput.
Namun, itu dulu. Jauh sebelum aku tahu sebuah fakta yang ada.
Itu dulu, sebelum aku tahu kalau jauh dalam lubuk hati Frans diam diam sangat mendamba kehadiran seorang anak. Walau bukan hanya Frans saja yang mendambakan kebahagiaan yang lengkap.
Akupun sama menginginkan buah hati yang lucu, buah hati yang akan tumbuh sehat bersama penuh cinta, bersama melihat anak anak kita tumbuh dewasa.
Ternyata semua yang diucapkan Frans hanyalah kebohongan belaka, hanyalah bunga bibir yang selalu menjadi kias untuk menenangkan kekhawatiranku.
Jujur sering terbesit dalam pikiranku kalau suatu hari nanti Frans akan berpaling dariku, mencari wanita yang sehat, yang mampu memberikan keturunan untuknya.
Apalagi keluarga Wicaksana memiliki kekayaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sudah dipastikan butuh penerus untuk kelangsungan bisnisnya.
"Aku benci kamu Frans! Benci! Benci!"
Kuhempaskan semua barang di meja rias kamar.
Biarlah semuanya hancur, sama seperti hatiku saat ini, merasakan sesak atas apa yang telah kudengar dari mulut resepsionis di rumah sakit.
Aku menangis menjerit kencang, sampai mengabaikan keberadaan bi Irah, sang asisten rumah tangga di rumah Frans.
Bi Irah sudah lama bekerja di rumah ini, jauh sebelum aku menikah dengan Frans.
Entahlah, rasanya seperti mimpi buruk.
Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk yang harus segera bangun dan berakhir. Namun, inilah kenyataannya. Sama sekali bukan mimpi.
Mau lari kemanapun kenyataannya Frans sudah berkhianat di belakangku.
Mau tidak mau, suka atapun tidak, aku harus terima kenyataan pahit itu.
"Non Jenny, cerita sama Bibi Non." ucap bi Irah sambil menatap penuh cemas terhadapku.
Langkah kaki wanita paruh baya itu sangat hati hati saat memasuki kamarku bersama Frans.
Seketika itu aku langsung menghambur ke dalam pelukan bi Irah, lalu menangis meluapkan emosi yang sudah tak sanggup kutahan lagi.
"Frans Bi, Frans." keluhku pada bi Irah, seakan mencoba mengadu pada wanita paruh baya yang selalu setia pada keluarga kecilku.
Bi Irah mengelus rambut panjangku yang tergerai di punggung. Kasih sayang bi Irah begitu tulus, ia sudah menganggap aku ini seperti putrinya sendiri.
"Kenapa dengan tuan muda Non? Ada apa? Cerita sama Bibi."
Rentetan pertanyaan keluar dari bibir bi Irah yang panik melihat keadaanku yang nampak kacau.
Bukannya bercerita, aku justru menangis semakin gaduh, membayangkan wajah Alea yang menatap Frans penuh cinta.
Membayangkan keintiman mereka, sampai mampu melahirkan seorang anak. Ternyata, hubungan mereka sudah sejauh ini tanpa aku sadari.
Aku pikir skandal tentang bos dan sekertaris itu hanya ada dalam sinetron, ternyata ini kenyataan yang menimpa rumah tanggaku.
"Aku ingin cerai dengan Frans, Bi."
Bi Irah langsung melepaskan pelukannya, mendorong tubuhku untuk saling menatap netra masing-masing.
Bi Irah mencoba meyakinkan apa yang aku ucapkan. Dia ingin memastikan kalau kalimatku ini benar benar serius atau hanya racauan belaka.
"Frans mengkhianatiku Bi, sekarang dia sedang menikmati momen bahagianya bersama wanita lain yang mampu memberinya keturunan."
Suaraku tercekat tidak sanggup berkata kata lagi, begitupun dengan bi Irah yang terkesiap menganga menatapku.
"Apa Non Jenny yakin itu tuan?" bi Irah masih belum mempercayai ucapanku.
"Yakin Bi." jawabku mantap.
Aku kembali tertunduk, sampai terduduk lemas di bibir ranjang.
"Sabar Non, tapi kalau Bibi boleh kasih saran mending diobrolin baik baik dulu dengan tuan muda." bi Irah masih mencoba berusaha bijak.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan, bagiku tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara aku dengan Frans.
Semuanya sudah jelas, aku hanya ingin kembali pulang ke rumah ibuku.
"Aku harus pergi Bi." ucapku lirih di hadapan bi Irah.
Ku usap air mataku yang mengalir di pipi dengan satu usapan kasar, lalu bangkit dari duduk meraih koper besar dan memasukkan semua pakaianku ke dalam koper.
Sesaat kulihat kedua bola mata bi Irah yang tersentak akan tindakanku.
"Non tolong Non, ini sudah malam. Jangan memaksa pergi malam ini juga." bi Irah masih mencoba menahan keputusanku.
Aku tetap bersikeras mengemasi barang barang dan pakaianku. Tanpa mempedulikan ucapan bi Irah.
"Jangankan malam ataupun badai, perceraianpun aku sudah tidak takut."
"Hari ini adalah hari terakhir kalinya kupijakkan kakiku di rumah ini Bi." ucapku tegas tanpa memandang ke arah bi Irah.
Setelah mendengar ucapanku barusan, bi Irah turut membantuku membawakan barang barang ke dalam bagasi mobil dengan tatapan sedih.
Dari raut wajah bi Irah nampak tidak merelakan aku pergi dari rumah ini.
"Non jaga diri baik baik, jangan lupa berikan kabar. Bibi pasti merindukan Non."
Bi Irah memelukku begitu erat nan hangat.
Keikhlasan dan ketulusannya memang luar biasa padaku, menganggapku sudah seperti anaknya sendiri.
Jalinan emosional diantara kami sudah terlalu kuat, walau dengan berat hati semuanya harus kutinggalkan.
Aku tidak ingin hidup dalam bayang bayang pengkhianatan, biarlah semuanya berakhir.
Biarlah luka ini aku yang rasa, aku yang simpan, dan tak akan pernah mampu aku buka kembali.
"Aku pamit bi Irah, Assalamualaikum." ucapku sambil menenteng kunci mobil dengan wajah yang tertunduk, berusaha menahan tangis.
Kemudian aku mulai melajukan mobilku meninggalkan bi Irah, meninggalkan rumah yang menyimpan ribuan kenangan.
•••
Bi Irah hanya menatap kepergian mobil Jenny, mungkin ini pertemuan terakhir kali bi Irah dengan majikan wanitanya.
Hati bi Irah tak merelakan kepergian Jenny, tapi bagaimanapun bi Irah juga wanita, pasti mampu merasakan apa yang Jenny rasakan saat ini.
Kalaupun bi Irah berada di posisi Jenny, tentunya dia akan mengambil keputusan yang sama.
Tidak ada satupun wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain. Seadil adilnya seorang suami, tidak akan pernah terlihat adil di mata istri istrinya.
Bi irah menyeka air mata yang berlinang di kedua pipinya, nafas bi Irah terasa sesak, seperti larut dalam kesedihan Jenny.
"Ya Allah, si non itu wanita yang sangat baik, tapi kenapa cobaan yang Engkau berikan begitu berat untuknya?"
Wanita paruh baya itu menengadahkan wajahnya, menatap nyalang langit langit teras, masih dengan nafas yang tersengal.
Kemudian bi Irah bergegas kembali memasuki rumah mewah milik Frans, dapat bi Irah pastikan kalau rumah itu akan terasa sepi, tidak akan sehangat biasanya, tanpa kehadiran sosok Jenny di sana.
•••
Jangan lupa klik like setelah baca ya 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Praised93
terima kasih.
2024-01-06
0
MoonStar
sedih thor, pdhl baru awalan udh sedih bgt huaaaa
2021-07-30
3
Asma Susanty
mewek thor....
2020-07-14
3