"Kita sudahi pernikahan ini, ceraikan aku Frans. Aku mohon."
Nafas Jenny terasa sesak mengatakan semua itu. Kerongkongan Jenny tiba-tiba terasa seperti ada yang mengganjal. Netra Jenny tak kuasa menahan buliran bening saat mengatakan permintaan cerai pada Frans.
Jenny tak sanggup lagi menatap Frans. Wajahnya dia palingkan dari Frans, agar Frans tidak mengetahui air matanya yang sudah jatuh bebas di lantai.
Jenny ingin membuktikan diri bahwa keputusannya sudah mantap, tidak mampu ditawar lagi.
"Lima tahun kita bersama Jenn. Apa kamu yakin akan mengakhiri semua ini Jenn?"
Frans masih berlaga tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Jenny.
"Dan lima tahun bersama, kenyataannya kamu tidak menerima kekuranganku Frans."
Jantung Frans terasa tertusuk mendengar ucapan Jenny yang membalikkan kalimat Frans.
"Lima tahun bersama, diam diam kau mengkhianatiku Frans."
"Jangan kamu pikir aku akan percaya lagi mulut manismu. Jangan kamu pikir aku akan rela dimadu, rela berbagi suami dengan wanita lain."
Dari pemaparan Jenny sudah dapat dipastikan bahwa Jenny sudah mengetahui perbuatan Frans di belakang dirinya.
"Aku tahu Frans, aku hanya wanita cacat yang menyandang status mandul. Tapi, aku juga bukan wanita yang berhati malaikat."
"Aku bukan wanita yang rela melihat suaminya menggenggam tangan wanita lain, memeluk, mencium, bahkan tidur dengan wanita lain."
"Aku tak sanggup menyaksikan itu semua Frans."
Frans tidak mampu melawan rentetan kalimat yang Jenny tuturkan. Pria itu hanya mampu berdiri mematung di ruang tamu.
Lelah berdiri di ruang tamu, Jenny pun mengambil langkah untuk duduk di sofa dengan pandangan nyalang.
"Pulanglah Frans. Jangan pernah temui aku lagi, jangan pernah injakkan kaki di rumah ini lagi. Aku tak sanggup melihat wajah pengkhianat sepertimu."
Jenny memejamkan kedua matanya, ia mencoba menahan nafasnya dalam. Wajahnya ia palingkan ke samping, berusaha menghindari tatapan Frans.
Frans melangkah mendekat ke arah Jenny, lalu duduk berjongkok di bawah Jenny dengan menggenggam tangan Jenny.
Namun, Jenny segera menepiskan sentuhan Frans. Jenny sudah tak sudi kalau tubuhnya disentuh oleh seorang pengkhianat seperti Frans.
"Jangan sentuh aku lagi Frans. Mulai hari ini aku sudah tidak sudi menjadi istrimu lagi."
Kali ini Jenny benar benar merasakan kebencian yang mendalam terhadap Frans.
Rasa cinta yang selama ini dia bangun untuk suaminya, seketika berubah menjadi murka.
"Tidak Jenn. Perceraian itu tidak mungkin terjadi, dan tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun."
"Tolong kamu mengerti keadaanku Jenn, aku juga lelaki normal yang ingin merasakan menjadi sosok ayah."
Begitulah pembelaan diri Frans, agar Jenny mau mengerti kekurangan dirinya dan rela untuk hidup dimadu.
"Kamu pikir aku juga tidak ingin merasakan menjadi seorang ibu?" sergah Jenny.
"Kamu pikir kamu sendiri yang ingin?"
"Aku juga ingin merasakan seperti wanita lain, menjadi wanita seutuhnya. Merasakan menjadi seorang ibu, tapi tidak begini caranya Frans." sergah Jenny.
"Kamu diam diam berselingkuh di belakangku bersama Alea, berbagai alasan kamu berikan padaku. Mulai dari meeting yang pulang larut malam, bahkan sampai tidak pulang, dan bodohnya aku percaya saja semua alasan busukmu."
Frans tidak mampu menyangkal apa yang diucapkan Jenny, kenyataannya memang seperti itu adanya.
Sulit bagi Frans untuk mencari alasan lain lagi, tapi batin Frans juga tidak ingin kehilangan Jenny.
"Pantas saja setiap aku berniat mengadopsi anak selalu kamu tolak, ternyata kamu sudah diam diam menanam benih di rahim Alea."
"Sekarang aku sadar Frans, kamu layak bahagia. Kamu berhak merasakan menjadi seorang ayah, tapi tidak denganku."
"Pergilah Frans."
Pilihan yang sangat menyulitkan Frans, batinnya berharap dengan Jenny menyadari bahwa dirinya tak mampu memberikan keturunan untuk keluarga Wicaksana, akan memberikan ruang bagi Frans untuk memiliki dua istri.
Kenyataannya Jenny tidak sanggup untuk dimadu, Jenny tidak ingin berbagi Frans miliknya dengan wanita lain.
Frans menarik nafasnya dalam, mengumpulkan kekuatan untuk menjawab semua kalimat yang Jenny lontarkan.
"Baiklah Jenn jika itu adalah keputusanmu, aku akan menceraikanmu tanpa memberimu sepeserpun harta dariku, tanpa menjamin lagi keluarga ini."
Frans berpikir dengan memberikan ancaman seperti ini, hati Jenny akan luluh.
Mungkin Frans pikir Jenny hanya wanita biasa yang hanya mampu berdiam diri di rumah, hanya mengandalkan nafkah dari suaminya.
Frans salah besar jika beranggapan demikian, Jenny bukanlah wanita yang lemah hanya karena rupiah.
Persoalan hidupnya nanti, Jenny sudah tekadkan bahwa dirinya mampu menghidupi dirinya sendiri bersama ibunda tercintanya.
Pekerjaan apapun akan Jenny jalani setelah berpisah dengan Frans, akan Jenny buktikan bahwa dia dan keluarganya masih bisa bertahan hidup. Walau tanpa bantuan Frans.
"Tidak masalah Frans, aku tidak mengharapkan itu semua. Besok aku akan mengurus perceraiannya, aku harap kamu datang di sidang perceraian nanti."
"Buktikan ucapanmu Frans di persidangan." ancam Jenny.
Jenny bangkit dari duduknya, meninggalkan Frans yang masih duduk termangu di samping Jenny.
Ada sesal tak terkira dari lubuk hati Frans, tidak disangka oleh Frans kalau Jenny sudah menantang Frans sejauh ini.
Sayangnya, ucapan yang sudah terlepas dari bibir Frans sama halnya dengan waktu yang telah terlewat, tidak akan pernah kembali lagi, tidak akan mampu Frans tarik lagi.
Melihat Jenny sudah kembali ke ruang tengah, kini giliran Linda yang menemui Frans. Mungkin ini kedatangan Frans yang terakhir kalinya di rumah Linda.
"Pulanglah Nak Frans, biarkan Jenny tenang dulu. Kondisinya sedang kacau, biarlah kalian berpisah dulu. Kalaupun kalian benar benar jodoh, suatu saat Tuhan akan menyatukan kalian kembali." bujuk Linda mencoba melerai situasi, walau sebenarnya hati Linda tak tega mengatakan semua itu pada Frans.
Jauh dalam lubuk hati Linda masih menginginkan rumah tangga putrinya dipertahankan, tapi Linda sudah mendengar sendiri dari ruang tengah kalau Frans sama sekali tidak ada rencana untuk memilih Jenny seutuhnya.
Tidak ada niatan dari Frans untuk meninggalkan Alea.
Biarlah bahtera rumah tangga Jenny hancur.
Setidaknya, Jenny tidak akan tersakiti lebih lama lagi oleh Frans.
Frans bangkit dari sofa berwarna coklat tua, kemudian menatap lekat ibu mertuanya yang sangat Frans hormati dan sayangi.
"Titip Jenny Bu, maafkan Frans yang tidak mampu menjaga Jenny dengan baik." ucap Frans sambil mencium punggung tangan Linda untuk pamit pulang.
Linda menyentuh kepala Frans dengan perasaan sayang terhadap menantunya, teriring senyuman getir dari bibir Linda.
Setelah ini, perpisahan pasti akan terjadi di antara mereka. Mungkin ini pertemuan terakhir Frans di rumah Linda.
"Frans pamit Bu, Assalamualaikum." ucap Frans.
Pria tampan yang mengenakan setelan kaos putih dengan paduan jeans navy melenggangkan langkahnya menuju mobil.
Linda masih menatap kepergian Frans, sampai mobil milik Frans sudah tak terlihat lagi dari pandangan Linda.
Wanita paruh baya itu kembali memasuki rumah untuk melihat kondisi putri semata wayangnya, karena ia tahu kalau Jenny pasti membutuhkan Linda sebagai sandaran hatinya, agar gejolak batin yang Jenny rasakan sedikit berkurang.
•••
Ayo klik like ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
emi samosir
Begitulah
2021-09-09
1
Devi Ardhani
kok ibunya biasa2 saja anaknya di perlakukan seperti itu
2021-08-11
1
Nyoman Sumartini
dari awal kok Bombay sih thorr😭😭😭
2021-07-03
1