Frans mengacak rambutnya frustasi setelah kepergian Jenny. Ada rasa sesal yang luar biasa dari dalam lubuk hati Frans, batinnya masih menginginkan Jenny berada di sampingnya, tapi Frans juga tidak sanggup jika harus kehilangan Alea, dan juga Poppy.
"Aghrrrrrr!" teriak Frans sambil menendang pot bunga di area parkir hotel.
Tingkah Frans barusan tidak luput dari pandangan Alea, dan Lina. Rupanya mereka mencari kehadiran Frans dari tadi.
"Kamu kenapa Frans?" tanya Lina kebingungan dengan sikap Frans.
Sementara Alea tengah dibakar api cemburu yang tak terkira, setelah mengetahui Frans yang baru saja mengejar Jenny.
"Frans baru saja bertemu dengan Jenny Mah." sahut Alea mewakili jawaban Frans.
"Kok bisa?" Lina masih tidak mengerti maksud dari jawaban Alea.
"Jasa wedding organizer yang kita pakai, ternyata Jenny yang mengurusnya. Sepertinya, Jenny bekerja di William Wedding." tutur Alea lagi.
Lina menghela nafasnya dalam, menyesali pilihannya yang menggunakan jasa William. Bodohnya lagi Lina tidak mengetahui kalau mantan menantunya bekerja di sana.
"Sudahlah Frans lupakan Jenny. Hidupmu yang baru sudah dimulai, berkat Alea juga Mamah jadi punya cucu yang lucu seperti Poppy." ungkap Lina yang kebetulan sedang menggendong Poppy.
"Bagaimanapun juga Jenny pernah menjadi bagian hidup Frans, tidak mudah bagi Frans untuk melupakan Jenny."
Tiba-tiba telinga Alea terasa seperti tersambar petir setelah mendengar ucapan Frans barusan.
Mau sampai kapan Alea bisa berhasil menggantikan Jenny seutuhnya?
"Kamu tega Frans!" pekik Alea dengan nada bergetar menahan tangis.
Hati Alea tak kuasa melihat pengakuan suaminya yang masih merasa kehilangan Jenny. Alea yang merasa kesal akan pengakuan Frans, segera pergi berlalu meninggalkan Frans, dan juga Lina.
"Kamu keterlaluan Frans! Lihat Alea, dia pasti kecewa." Lina semakin geram akan tingkah Frans. Padahal anak kandung Lina adalah Frans, tapi entah kenapa sikap Lina lebih berpihak pada Alea.
"Keterlaluan apanya Mah?"
"Dulu juga waktu Frans belum bercerai dengan Jenny sikap Alea biasa saja, Alea rela berbagi dengan Jenny." dengan entengnya Frans bicara seperti itu pada Lina.
"Tapi Jenny tidak mau membagi dirimu dengan wanita lain Frans." potong seorang pria yang baru saja datang dari arah punggung Frans.
Sosok pria yang sangat berani mengungkapkan penderitaan Jenny selama ini. Frans segera menoleh, ia ingin tahu siapa yang sudah berani mencampuri urusan pribadinya.
"Anda siapa?" tanya Frans dengan nada sinis.
"William, atasan Jenny Florencia. Mantan istrimu Frans." ucap William dengan meraih tangan Frans untuk mengajaknya berjabat tangan. Kemudian William menggenggam tangan Frans penuh energi.
"Saya tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara kalian, di sini Jenny hanya bekerja, bukan sebagai mantan istri atau apapun itu. Saya mohon padamu Frans, jangan ganggu Jenny lagi. Jika pesta pernikahanmu ingin berjalan lancar." William sedikit menekan kalimatnya.
Sementara Lina hanya fokus mendengarkan percakapan antara Frans dengan William.
"Tidak ada hak untukmu mencampuri pribadi Jenny." Frans masih berusaha menentang kalimat William.
"Memang tidak ada hak untuk saya, tapi setidaknya sebagai atasan saya harus memastikan kondisi karyawan saya. Perihal wedding serahkan saja pada kami, kami akan tetap junjung tinggi arti profesional kerja." tegas William.
Lina yang tak ingin mendengar ocehan kedua pria dewasa yang sama-sama berbadan tinggi, lebih memilih pergi mencari Alea.
Sepertinya aura kebencian mulai membuncah dari kedua pria tersebut, dan itu tidak baik untuk tumbuh kembang Poppy yang masih balita.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Frans memangkas jarak dengan William, dapat Frans pastikan kalau William menaruh hati untuk Jenny.
"Wanita secantik Jenny, sekuat Jenny, pria mana yang tidak menyukainya?" ungkap William dengan enteng menjawab pertanyaan Frans, dan semakin membuat Frans naik darah.
"Kenapa Frans?"
"Bukankah Jenny juga berhak bahagia?"
"Sama seperti dirimu yang lebih bahagia bersama Alea, dan juga putrimu."
Frans mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi yang siap meledak di hadapan William.
"Jangan dekati Jenny!" ancam Frans.
William hanya tersenyum masam pada Frans. Terasa sekali ketamakan Frans yang menginginkan dua wanita sekaligus.
"Sudahlah Frans lebih baik kamu pulang dan istirahat. Besok adalah hari bahagiamu, akan aku pastikan Jenny baik baik saja saat melihat hari bahagia kalian."
"Maafkan aku yang sudah mencampuri urusan pribadimu." tutur William dengan menepuk pundak Frans sesaat sebelum pergi meninggalkan Frans.
William mencoba menyalurkan rasa empatinya kepada Frans, dapat William pastikan besok Jenny akan hadir melihat resepsi pernikahan Frans bersama Alea.
William akan buktikan kalau Jenny baik baik saja selama tidak bersama Frans.
Sementara Alea sebentar lagi akan menjadi istri sah Frans Wicaksana, itu adalah mimpi yang telah lama Alea nantikan sejak Alea masih menjabat sebagai sekertaris Frans.
•••
Jenny menangis pilu di sofa ruang tamu rumah Bella. Rasanya tak kuasa membayangkan wajah Frans yang dilihatnya sore tadi.
Mengapa takdir selalu mempermainkan Jenny dengan begitu tega?
Kenapa harus pernikahan Frans yang Jenny urus?
Kenapa semuanya jadi begini?
Padahal Jenny pelan pelan sudah lupa akan masa lalunya.
Kenapa semuanya seperti ditarik ke awal lagi?
Hingga Jenny harus bersusah payah mengulang usahanya untuk melupakan semua tentang Frans.
Jenny menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sampai tergugu di sana. Hingga Jenny tidak menyadari kalau Bella sudah pulang bekerja.
Bella yang masih berdiri di pintu masuk merasa terkejut akan sikap Jenny yang tengah terisak, dengan nafas tersengal.
"Jenn, lo kenapa?" tanya Bella yang langsung duduk di sebelah Jenny, kemudian menyentuh pundak Jenny lembut.
"Andai gue tahu kalau klien wedding gue adalah Frans, gue gak akan mau mengurusnya Bell." ungkap Jenny masih diiringi tangisnya. Tubuh Jenny ambruk dalam pelukan Bella.
"Sabar, sabar, takdir memang gak ada yang tahu Jenn." Bella mengelus rambut Jenny penuh sayang, berusaha menenangkan sahabatnya.
"Lo jangan kaya gini, kasihan bayi dalam kandungan lo. Jangan cuma mikirin diri lo sendiri, tapi pikirkan juga anak lo Jenn."
Mungkin maksud Bella mengingatkan Jenny untuk tetap tenang, agar janin di dalam kandungan Jenny baik baik saja.
"Gue tahu Bella, tapi rasanya sangat sulit buat gue untuk berlaku seperti tidak terjadi apapun di hadapan Frans."
Jenny kembali mengaduh keluhnya pada Bella, kemudian pelukan itu Bella lepaskan.
Bella mendorong bahu Jenny, lalu menggenggam tangan Jenny erat, dan menatap Jenny lekat.
"Dengerin gue Jenn, lo harus hadapi semua ini sampai acara selesai."
"Buktikan pada Frans, dan keluarganya kalau lo baik baik saja tanpa mereka."
"Buktikan pada mereka kalau lo kuat Jenn, buktikan juga pada Frans kalau namanya sudah tidak ada lagi di hati lo."
Ada benarnya juga apa yang disarankan oleh Bella, jika Jenny masih berusaha lari dari kenyataan, itu artinya Jenny masih mencintai Frans. Walau kenyataannya setitik cinta itu memang masih ada untuk Frans, namun tetap saja Jenny tidak ingin terlihat lemah di hadapan Frans, dan juga keluarganya.
•••
Kasihan ya Jenny 😢
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Mami Vanya Kaban
ayo jen, kamu harus kuat dan semangat
2020-09-16
1
reni
gilla nih author seenaknya ngaduk ngaduk perasaan ..
2020-05-06
3
Min Ah shi
bunglah mantan pada tempatnya jen
dan biarkan frans menyesal seumur hidup karna kamu bukan wanita mandul
2020-04-23
3