Satu bulan telah berlalu setelah keputusan Jenny yang lebih memilih mengakhiri pernikahannya bersama Frans.
Perceraian itu tidak menyurutkan perasaan Frans untuk Jenny, justru akhir akhir ini Frans semakin merasa kehilangan sosok Jenny yang begitu mampu mendamaikan hatinya.
Jenny selalu bisa memberikan kenyamanan di kala Frans merasakan penat dari urusan kantor. Kini wanita itu sudah tidak lagi berada di sisinya.
Sekalipun Alea ada di sisi Frans, namun tetap saja tidak semudah itu bagi Frans menghapus jejak Jenny yang sudah menemaninya selama lima tahun.
Cara berpikir yang salah, jika Alea beranggapan dengan merebut Frans dari sisi Jenny maka seutuhnya Frans akan menjadi milik Alea. Kenyataannya, Frans masih merindukan Jenny, masih mengharapkan Jenny berada di sampingnya.
Tak jarang Alea menemukan Frans duduk termenung sendirian di teras belakang rumah, memandangi foto foto Jenny yang masih disimpan dalam gallery ponsel milik Frans.
Padahal, Alea berharap dengan terjadinya perceraian ini Frans akan membenci Jenny, tapi kenyataannya tidak. Jangankan untuk membenci, melupakanpun Frans tak mampu.
Semua kebiasaan yang pernah Frans lalui bersama Jenny masih tergambar jelas dalam ingatannya. Hanya saja kehadiran Poppy, sang putri kecil yang mampu mengalihkan perhatian Frans dari Jenny.
Alea yang menyaksikan Frans duduk termenung di teras menatap wajah manis Jenny dari balik ponsel, merasa sangat tersayat hatinya.
Alea merasa geram akan sikap Frans akhir akhir ini. Mau berontak, tapi tak mampu Alea lakukan. Alea justru takut kalau Frans akan lebih marah darinya, jika mendapat protes keras perihal Jenny.
"Mau sampai kapan Mas akan seperti ini?"
Akhirnya Alea mencoba memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang telah lama dia simpan.
Selama satu bulan ini Alea masih merasa takut untuk mengungkapkan rasa cemburunya akan sikap Frans terhadap Jenny. Apalagi jika mengingat emosi Frans yang masih belum stabil pasca perceraian.
Rupanya pertanyaan Alea tidak mampu menembus gendang telinga Frans, pria itu tetap mendiamkan Alea, seolah Alea tidak ada di sana.
"Tolong Mas jawab pertanyaanku."
Alea mulai geram menyaksikan sikap Frans yang masih tak bergeming.
Kalau harus jujur, Alea sudah menahan luka batin yang mendalam pasca perceraian Frans dengan Jenny.
Tak jarang Alea memergoki tingkah Frans yang masih merindukan mantan istrinya.
Alea masih seperti tak dianggap ada oleh Frans, padahal wanita itu sudah berkorban banyak untuk Frans.
Alea sudah memberikan seorang anak perempuan lucu yang sangat Frans impikan. Kenyataannya, cinta Frans masih ada untuk Jenny, ditambah lagi posisi Alea yang pasca melahirkan masih belum dapat melayani Frans untuk aktivitas ranjangnya. Sungguh itu sangat menyiksa Frans.
"Jangan ganggu aku Alea! Aku pusing!"
Frans menatap Alea tajam, berbicara dengan nada tinggi terhadap istrinya sendiri.
"Kamu berubah Mas, setelah kamu bercerai dengan Jenny."
"Apa kamu masih mencintainya Mas?"
"Jawab aku!"
Alea berbicara dengan nada yang sedikit menjerit namun terbata, mungkin akibat menahan buliran bening yang siap jatuh bebas di pipinya.
"Bukannya aku pernah bilang padamu Alea, kalau Jenny tidak akan bisa tergantikan sebagai istri sah. Lima tahun kebersamaanku dengan Jenny tidak akan mudah terhapuskan begitu saja."
Mendengar ucapan Frans rasanya jantung Alea seperti tertusuk belati tajam.
Alea berpikir dengan dia memberikan tubuhnya pada Frans, bisa dengan mudahnya mengusir Jenny di hati Frans, kenyataannya tidak semudah itu.
Walaupun Frans sudah menikahinya secara sirih, tapi cinta dan kasih sayang Frans masih lebih besar untuk Jenny. Hanya saja Frans tidak mampu menerima kekurangan Jenny, dia lebih terobsesi dengan mimpinya yang selalu mengharapkan keturunan dari bahtera rumah tangga bersama Jenny.
"Apa sebesar itu cintamu padanya Mas? Hingga kamu lupa kalau aku sudah melahirkan Poppy, darah dagingmu. Sedangkan Jenny tidak mampu memberimu keturunan."
Frans mengepalkan kedua tangannya hingga nampak buku-buku di jemarinya, ia menahan emosi atas apa yang telah Alea ucapkan.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu Lea, aku lelah."
Frans beranjak dari duduknya meninggalkan Alea seorang diri di teras belakang.
Langkah Frans menuju ruang tengah, menghampiri bi Irah yang dengan sabar mengasuh Poppy dalam gendongannya.
"Ada apa Tuan?"
Tanya bi Irah setelah melihat tuannya berdiri mendekat ke arahnya. Kemudian Frans mengusap pipi putrinya begitu lembut penuh kehangatan.
"Berikan Poppy padaku Bi."
Frans meminta bi Irah untuk menyerahkan Poppy ke dalam gendongannya.
"Hati hati Tuan, soalnya tuan putri kecil baru saja pules tidurnya."
Bi Irah merasa khawatir kalau Poppy akan terbangun.
"Iya Bi."
Frans menatap putrinya yang kini terlelap tidur dalam gendongannya, rasanya begitu mendamaikan hati Frans.
Andai kamu bisa memberikanku keturunan Jenn, mungkin kita tidak akan terpisah seperti ini.
Batin Frans semakin merindukan Jenny berada di sisinya kembali, tapi semua sudah berlalu.
Semuanya telah terjadi, pengkhianatan hanya tinggal pengkhianatan. Tidak mungkin Jenny akan menerima dirinya kembali, apalagi setelah Frans torehkan luka yang begitu dalam.
Bahkan luka yang sulit bagi Jenny sembuhkan dalam waktu singkat.
Begitulah hidup, kita baru bisa merasakan semua yang telah kita miliki itu berarti, ketika kita sudah kehilangan.
Kesempatan dengan waktu selalu berjalan beriringan, tidak akan pernah datang kembali di waktu yang berbeda.
•••
Kita bisa saja merebut posisinya, namun tidak dengan nilainya.
...Miss Viona...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Marlina Yulita
jadi mls ma frans
2020-04-14
2
syafa
pecundang tetaplah pecundang alea kasian u. memilih cara yg salah
2020-04-12
3
Nonita Ismaya Dewi
mati aja dech frans
2020-04-02
1