Pagi ini sekitar pukul tujuh aku sudah melajukan mobilku. Walaupun walk intertview dimulai jam delapan tepat, aku tetap memberi jeda satu jam lebih awal.
Walau jarak rumah Bella dengan kantor yang akan aku datangi tidak begitu jauh, aku harus tetap memperhitungkan waktuku untuk datang ke kantor tersebut tepat waktu.
Pastinya kalian tahu sendiri jalanan Jakarta macetnya seperti apa?
Maka dari itu, aku tidak ingin menyiakan kesempatan ini.
Sekitar 3/4 jam aku sampai di kantor dengan bangunan gedung yang sangat megah menjulang tinggi.
Entah ada berapa lantai di dalamnya?
Aku tak mampu memperkirakan, yang jelas security di kantor ini menginformasikan kalau tes interview perekrutan karyawan baru akan dilaksanakan di lantai tiga.
Langkah kakiku kini menuju lift. Hanya dalam hitungan detik saja lift sudah mengantarku ke lantai tiga.
Ternyata lantai tiga sudah penuh dengan peserta yang akan mengikuti tahap perekrutan karyawan, baik pria maupun wanita semuanya sudah berkumpul di sana.
Sempat tidak percaya diri saat melihat mereka yang masih muda, dari raut wajah serta gestur sebagian peserta di sini dapat aku pastikan mereka rata-rata fresh graduate.
Sedangkan aku, jangan kalian tanya usiaku yang tepat bulan ini menginjak usia 28 tahun. Ironisnya aku sudah pernah menikah, sedangkan mereka masih fresh dan single pula. Pastinya mereka akan menjadi prioritas utama di perusahaan ini.
Ah, sementara enyahkan dulu ketidakpercayaan diriku. Bukankah aku sudah malang melintang di dunia fashion dan desain?
Berkat dari pengalaman kerjaku, dan juga berkat kepercayaan perusahaan Frans yang sering memintaku untuk ikut andil dalam perihal desain produk baru, sudah membuatku mahir dalam bidang desain.
Aku kembali melanjutkan langkahku menuju bagian pendaftaran, agar aku bisa secepat mungkin memasukkan semua dokumen dan formulir yang sudah aku siapkan.
Aturan main di sini akan serentak melaksanakan psikotes secara online terlebih dahulu. Kalau psikotes lolos, maka tahap selanjutnya adalah sesi interview, dan masih banyak tahapan lainnya.
Tahap interview tidak hanya melibatkan divisi HRD saja, melainkan di tahap akhir untuk peserta yang akan ditempatkan di posisi sekertaris direktur, akan melakukan interview langsung bersama direktur perusahaan.
Kabarnya direktur di sini sangat selektif dalam memilih kriteria sekertarisnya. Baik dari segi fisik maupun kecerdasan, beliau sangat detail akan kedua hal tersebut.
Aku sempat berkenalan dengan beberapa peserta, baik pria maupun wanita. Ada sesuatu yang menggelitik batinku saat seorang peserta pria ingin berkenalan denganku, dia mengira kalau aku ini masih perawan belum pernah menikah.
Mungkin dia hanya melihat dari sisi tubuhku yang masih ramping, tapi cukup bisa dibilang sexy. Setidaknya, aku bersyukur dari pujian yang dia sampaikan. Artinya aku masih ada potensi untuk diterima di perusahaan ini.
•••
Kepalaku rasanya mau pecah setelah keluar ruangan, karena aku harus menyelesaikan psikotes yang berlangsung sekitar tiga jam.
Apa sesusah ini untuk bisa menjadi karyawan di sini?
Atau memang gaji yang diberikan sangatlah tinggi?
Sampai sampai menghabiskan waktu lama hanya untuk sesi psikotes.
Aku menunggu pengumuman hasil psikotes yang ditempelkan di mading kantor. Posisi mading tersebut tidak jauh dari tempat dudukku, lalu aku cari namaku. Tapi, tidak juga aku temukan.
Hmmm, sepertinya aku tidak lolos.
Batinku mengatakan demikian.
Tiba-tiba mataku membulat tak percaya, ada namaku di sana dengan urutan nomor kelima terakhir.
Jenny Florencia
Rasanya tak percaya, sampai sampai aku bergumam sendiri dengan mengangkat lenganku yang mengepal sambil berkata
"Yess."
Secercah harapan kini terbit kembali. Semoga aku bisa melalui tahap demi tahap. Begitulah harapanku saat ini.
"Selamat siang semuanya, saya informasikan untuk peserta yang lolos psikotes, seusai jam istirahat kalian berkumpul kembali untuk sesi interview dengan HRD."
Panitia mengintruksikan pada kami untuk berkumpul kembali di tempat ini, kemudian peserta berhamburan keluar lebih dulu, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya untuk kami istrahat, lagipula perutku sudah meronta meminta diisi asupan makanan.
•••
Hari yang cukup melelahkan bagiku setelah menyelesaikan serangkaian walk interview hari ini. Aku tidak tahu apakah tes interview ku lolos atau tidak?
Salah satu panitia bilang akan diinformasikan langsung via telpon. Tunggu dulu, bicara soal telpon, handphone ku dimana?
Di dalam tas pun tidak ada. Apa mungkin tertinggal di rumah Bella?
Tapi kalau tertinggal di rumah Bella, harusnya aku sudah menyentuh ponselku saat aku berada di rumahnya. Rasanya pagi itu aku sama sekali belum menyentuh ponsel kesayanganku.
Aku coba mengingatnya kembali, dan terakhir aku menyentuh ponselku saat di apartemen pria itu.
"Sial!"
Bodoh sekali aku ini setelah berusaha kabur pagi pagi buta.
Percuma saja kalau ponselku tertinggal di sana. Sudah dapat aku pastikan pria itu pasti sudah tahu siapa wanita yang semalam sudah bercinta dengannya.
Ingin sekali aku lupakan kejadian malam itu, tapi tetap saja selalu datang menghantuiku kembali.
Aku memukul setir mobilku kasar, akibat perasaan kesal dan gelisah memikirkan kejadian semalam.
"Jenny, kamu memang ceroboh!"
Tak hentinya aku memaki diriku sendiri.
Bagaimana aku bisa tahu kalau aku lolos tes interview?
Sementara ponselku berada di apartemen pria itu.
Balik lagi ke sana?
Tidak mungkin!
Itu sama saja cari mati!
Sama saja seperti menyerahkan tubuhku kembali padanya. Tapi, kalau tidak kembali lagi, aku akan kehilangan kesempatan emas ini.
Ahhhh persetan dengan ponsel.
Batinku bergumam demikian.
Masih ada cara lain untuk mengetahui informasi selanjutnya.
Aku bisa log in email di ponsel milik Bella. Sesuai yang diinformasikan panitia, selain menghubungi via telpon, mereka juga akan menginformasikan via email.
Untuk saat ini lebih baik aku kembali ke rumah Bella saja. Sejenak istirahat dulu dari pemikiran pemikiran yang menurutku konyol, karena tubuh dan otakku sudah terasa lelah akibat memikirkan semua itu.
•••
Keesokan harinya sekitar pukul sembilan pagi ponsel milik Jenny berdering. Arjuna sudah mengacuhkannya dari tadi, tapi nada deringnya tak kunjung henti, dan itu terasa sangat mengganggu aktivitas Arjuna di ruang kerjanya.
Tidak ada nama penelpon di layar ponsel milik Jenny, tapi dia sangat hapal nomor telpon kantornya yang masuk ke dalam panggilan ponsel Jenny.
"Hallo." jawaban yang sangat singkat dari Arjuna.
Nada bicara Arjuna terdengar sangat malas untuk mengangkat telpon, hanya saja dia penasaran.
Kenapa kantornya bisa menghubungi nomor Jenny?
"Selamat pagi Nona Jenny Florencia. Saya dari divisi HRD perusahaan A&J, mau menginformasikan bahwa Nona Jenny berhasil lolos interview tahap awal."
Arjuna hanya mendengarkan informasi yang disampaikan penelpon di seberang sana, tanpa menjawab sepatah katapun.
"Besok kami tunggu kedatangan Nona Jenny di kantor kami, sekitar pukul sembilan pagi untuk dilakukan proses interview tahap akhir."
Arjuna langsung memutuskan panggilan tersebut dengan mulut menganga, seakan tak percaya bahwa wanita yang telah tidur dengannya akan datang menemuinya di kantor.
Tangan kekar Arjuna langsung meraih gagang pesawat telpon, menekan tombol pesawat telpon secepat kilat, lalu menghubungi line telpon divisi HRD.
"Untuk peserta yang akan interview besok, segera kirimkan informasinya via email. Sekarang juga!"
Arjuna tidak ingin melewatkan momen ini. Dia takut Jenny tidak tahu informasi dari tim HRD, hingga mengakibatkan Jenny tidak datang menemuinya besok.
•••
Klik like ya 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Mami Vanya Kaban
mudah2 han mereka berjodoh thor. si jen layak utk menemukan kebahagiaannya
2020-09-16
2
xk_ekga🤓
dia udah punya anak, pas buat jenny 😆
2020-06-16
2
Yudela intani💕
semoga jenny bisa dapat kebahagiaan nya...
2020-04-18
3