Keesokan harinya kesehatan Jenny sudah mulai membaik. Walau sedikit lemas Jenny paksakan untuk pergi ke dokter kandungan. Karena, Jenny sudah tak sabar ingin memeriksa janin yang tumbuh dalam rahimnya, agar Jenny mengetahui tumbuh kembang janinnya lebih spesifik lagi.
Jenny benar benar ingin menjaga kandungannya, dia tidak mau terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada calon bayinya.
Jenny sudah izin kepada William kalau dia akan datang ke kantor sedikit terlambat, dia bilang pada William ada urusan yang mendadak. Karena, Jenny sengaja tidak ingin memberitahukan alasan yang sebenarnya dia datang terlambat.
"Bu dokter maaf sebelumnya, saya masih tetap tidak habis pikir, kenapa saya bisa mengandung?"
"Padahal, sebelumya saya sudah divonis mandul oleh salah satu dokter kandungan." ungkap Jenny setelah berhadapan dengan dokter kandungan.
Rasa penasaran Jenny sejak semalam membuat Jenny tidak sabar untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada dokter kandungan.
Jenny masih tidak habis pikir, kenapa dirinya bisa hamil?
Andai saja kehamilannya terjadi sebelum Frans memiliki hubungan gelap dengan Alea, mungkin saja nasib rumah tangganya bersama Frans masih bisa diselamatkan.
"Untuk perihal kemandulan yang Ibu sampaikan barusan, apa Ibu Jenny sudah mengecek lebih lanjut dengan berbagai tes lain?" tanya dokter.
Sementara Jenny hanya menggelengkan kepala, lalu tertunduk lemas di hadapan dokter.
"Belum Dok, saya tidak sanggup melakukan cek lebih lanjut. Lagipula saat itu saya terlalu takut kalau hasil tes benar benar menunjukkan kalau saya mandul." Jenny berusaha mengungkapkan kekhawatirannya di masa lalu.
Rasa takut yang berlebihan membuat Jenny seperti ingin menepiskan bukti bukti yang ada, dia takut kalau semua hasil tes itu mengecewakan harapannya.
Waktu itu Jenny hanya mendengarkan klaim satu dokter saja, dia tidak berani melakukan pemeriksaan lebih detail lagi. Rasa takut yang berlebihan membuat Jenny seolah ingin lari dari kenyataan.
"Kalau dilihat dari hasil analisa saya, sebenarnya Ibu Jenny tidak mandul. Hanya saja letak sel telur yang siap untuk dibuahi terlalu jauh dari jarak normalnya. Kelainan ini sudah biasa terjadi pada beberapa wanita Bu." tutur dokter menjelaskan detail hasil diagnosa.
Hati Jenny tersentak mendengar penuturan dokter, tiba-tiba saja secercah harapan itu datang.
Andai Jenny tahu lebih dulu, mungkin dia akan melakukan usaha yang lebih keras lagi untuk memberikan Frans seorang anak.
"Berarti saya tidak mandul Dok?"
"Tapi, kenapa saya dan suami saya membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan keturunan?"
Jenny semakin penasaran akan penyebab sulitnya memiliki anak, padahal Frans dikatakan subur oleh dokter.
Jenny juga menutupi masalahnya di depan dokter dengan mengaku dia masih bersuami, karena Jenny merasa malu dengan posisinya sekarang yang hamil tanpa suami.
"Ada kalanya pasangan suami istri itu keduanya dikatakan subur secara medis, namun pada saat mereka melakukan hubungan suami istri, ****** itu sudah mati sebelum sampai pada sel telur, sehingga tidak bisa membuahi sel telur. Apalagi di sini posisi sel telur milik Ibu Jenny cukup jauh dari jarak normalnya, butuh usaha extra untuk menjaga kesuburan keduanya, baik dari pihak suami maupun istri." ungkap dokter lagi.
Kini Jenny dapat mengerti setelah apa yang dokter jelaskan. Itu artinya, potensi Jenny untuk memiliki anak masih terbuka lebar. Terbukti kini Jenny tengah mengandung, walau Jenny belum mampu memastikan benih itu milik Frans ataupun Arjuna.
Semuanya akan terjawab jika bayi Jenny sudah lahir, yang terpenting saat ini Jenny harus memperhatikan kondisi kesehatan tubuhnya, agar janinnya tumbuh sehat.
Dokter kandunganpun memberikan beberapa resep obat penghilang mual, agar Jenny masih bisa beraktivitas seperti biasa.
"Terimakasih dokter atas semua penjelasannya. Kalau begitu saya mohon pamit, assalamualaikum." ucap Jenny merasa puas dengan semua penjelasan dokter.
Dokterpun tersenyum lembut kepada Jenny sebelum Jenny pergi meninggalkan ruang praktek, saat ini Jenny merasa sangat bahagia setelah mendengar semua penjelasan dari dokter.
•••
Malam itu seorang anak kecil perempuan dengan rambut pendek model BCL menangis merengek kepada ayahnya, meminta dibelikan boneka barbie yang baru, karena boneka barbie favoritnya sudah patah di bagian leher.
"Papih, ibu pelinya meninggal. Pokoknya Papih harus beliin yang balu buat Clalisa."
Clarisa menangis sampai gaduh akibat barbie yang dianggapnya sebagai ibu peri patah di bagian leher.
Padahal, Arjuna sudah berusaha memperbaiki boneka kesayangan putrinya. Tapi, tetap saja boneka barbie milik Clarisa tidak bisa diperbaiki.
"Iya sayang, nanti Papih beli yang baru ya. Tapi, besok pagi saja sebelum Clarisa berangkat sekolah." bujuk Arjuna yang enggan menuruti permintaan Clarisa.
Arjuna mencoba meminta pengertian putrinya untuk menunda pergi ke toko mainan, dengan alasan sekalian mengantarkannya sekolah besok pagi.
Walau usia Clarisa baru empat tahun, Arjuna sudah mendaftarkan Clarisa sekolah. Menurut Arjuna, putrinya memiliki kecerdasan yang cukup tinggi hingga mampu mengimbangi kemampuan anak-anak yang usianya sekitar lima sampai enam tahun.
"Gak mau Papih, Clalisa pengen sekalang! sekalang Pih."
Clarisa semakin tersedu memaksa ayahnya untuk segera pergi ke toko mainan, sampai sampai Clarisa meraih kunci mobil milik Arjuna yang diletakkan Arjuna di atas meja ruang tengah.
"Ini sudah malam sayang, waktunya Clarisa bobo." kilah Arjuna sambil menunjukkan arloji yang masih terpakai di tangan kanannya.
Arjuna baru saja pulang dari kantor, rasanya sangat melelahkan jika harus pergi lagi hanya untuk mencari boneka barbie yang sama persis dengan yang rusak.
Tangis Clarisa semakin menjadi saat mendengar berbagai alasan papihnya, dan sukses membuat Arjuna merasa tidak tega terhadap Clarisa.
"Ya sudah Papih ganti baju dulu, baju Papih sudah asem." ucap Arjuna sambil mencium lengan kemejanya sendiri.
Arjuna meminta izin pada putrinya untuk ganti baju, lalu menciumi pipi chuby Clarisa dengan gemas.
Selang beberapa menit Arjuna sudah siap untuk keluar bersama Clarisa, dia nampak tampan dalam balutan celana jeans belel selutut dengan paduan kaos polos hitam.
"Yess! Papih sudah siap." ucap Clarisa berdecak senang melihat papihnya yang sudah siap.
Merekapun pergi mencari toko mainan untuk membeli barbie yang sama persis dengan barbie yang patah.
•••
Clarisa nampak masih manyun setelah keluar dari toko mainan. Bukannya Clarisa senang, dia justru murung karena boneka barbie yang sama persis dengan miliknya yang rusak sudah tidak ada.
Pelayan toko di sana mengatakan barbie tipe itu sudah habis, dan tidak produksi lagi. Inilah yang membuat Clarisa nampak murung setelah keluar dari toko mainan.
"Anak Papih jangan sedih dong, nanti cantiknya hilang loh." bujuk Arjuna sambil berjongkok di hadapan putrinya.
Pria tampan itu mencoba mengimbangi tinggi badan Clarisa dengannya, tapi kali ini usahanya masih tetap sia-sia.
"Papih beliin Clarisa eskrim ya." ucap Arjuna berusaha mengalihkan perhatian Clarisa.
Arjuna melirik swalayan di samping toko mainan dengan menggerak-gerakkan kedua bola matanya, mengisyaratkan rayuan untuk Clarisa.
Akhirnya, Clarisa menuruti ajakkan papihnya. Kini, langkah mereka menuju swalayan tersebut.
Saat Clarisa baru saja memasuki swalayan, tiba-tiba dia menghampiri wanita cantik berambut coklat panjang.
Tatapan Clarisa terlihat sangat antusias saat melihat wanita tersebut, padahal Clarisa belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Entah kenapa Clarisa langsung jatuh hati pada wanita itu.
"Ante balbie, Ante balbie!" seru Clarisa yang langsung berjalan menghampiri wanita berambut panjang di ujung sana.
•••
Siapa ya Ante balbie yang dimaksud Clarisa?
😀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Mami Vanya Kaban
ahh.. thor makin keren ceritanya thor
2020-09-16
1
Marlina Yulita
pasti jeny
2020-04-14
2
syafa
gokil nie authornya
2020-04-12
1