Terdengar suara ketukan pintu di rumah Bella. Saat dibuka pintu tersebut, menampilkan sosok Jenny yang diantar oleh security kantor William.
Security itu tidak tega melihat kondisi Jenny jika harus pulang sendirian. Wajah Jenny terlihat sangat pucat bercampur keringat dingin, tubuhnya lemas hingga tak mampu menopang dirinya sendiri.
"Oh My God Jenny! Lo kenapa?" tanya Bella merasa panik saat melihat Jenny yang dituntun oleh security.
"Ibu Jenny sakit Neng." kali ini security yang menjawab, karena Jenny sudah kehabisan energi untuk menjawab pertanyaan Bella.
"Masuk Pak Maman. Cepat bawa Jenny ke kamar."
Bella memerintahkan pegawai William untuk mengantar Jenny ke kamarnya, kemudian Bella ikut memapah Jenny, lalu mengapit Jenny untuk berada diantara Bella dan Maman.
"Lo rebahan ajah dulu Jenn. Gue buatin teh panas dulu buat lo."
Bella sangat panik melihat keadaan Jenny, setidaknya Jenny akan sedikit lebih baik jika Bella membuatkan secangkir teh hangat untuk Jenny.
"Gue telpon dokter ajah dulu deh."
Niat Bella kini berganti sebelum langkahnya menuju dapur. Tiba-tiba inisiatif Bella lebih memilih untuk menghubungi dokter terlebih dahulu.
Bella mondar-mandir menahan rasa cemas terhadap sahabatnya.
"Gak usah Bell, gue udah mendingan. Gue cuma kecapean ajah." ucap Jenny yang tidak ingin semakin merepotkan Bella. Karena, sudah terlalu banyak kebaikan yang diterima Jenny dari Bella.
"Tapi muka lo pucat begitu Jenn, gue takut lo kenapa-napa."
Bella masih mempertahankan niatnya untuk menghubungi dokter. Kemudian tangannya segera meraih ponsel di saku celana.
Selang beberapa menit Bella berhasil menghubungi dokter, sekitar setengah jam lagi dokter akan sampai di rumah Bella.
"Neng Bella maaf ya Neng, saya mohon pamit, mau kembali jaga kantor pak William."
Pak Maman memberanikan diri untuk segera pamit dari rumah Bella.
"Iya Pak Maman, terimakasih ya sudah anterin Jenny ke rumah." ujar Bella menyampaikan rasa terimakasihnya pada Maman.
Kalau saja tidak ada Maman di sana, entah bagaimana nasib Jenny?
"Sama sama Neng Bella."
Bella melangkah mengantarkan Maman sampai di pintu depan, kemudian kembali menemani sahabatnya Jenny yang sedang terbaring lemah di kamar.
•••
"Gila! Lo hamil Jenny!" jerit Bella setelah mendengar penjelasan dokter. Hasil diagnosa menyatakan kalau usia kandungan Jenny baru sekitar satu minggu.
Bella sangat tidak percaya akan fakta yang diberikan dokter, karena setahu Bella sahabatnya ini pernah divonis mandul. Rasanya, sangat tidak mungkin Jenny hamil.
Setelah dokter pamit, Bella langsung duduk di tepi ranjang, berusaha lebih dekat dengan Jenny.
"Apapun keadaannya lo harus temuin pria itu Jenn. Lo harus minta pertanggung jawaban sama dia."
Nada bicara Bella terdengar menekan Jenny, sirat mata Bella menatap penuh ancaman terhadap Jenny.
"Gak bisa Bell."
"Kenapa?" sergah Bella yang semakin geram akan sahabatnya.
Menurut Bella, ternyata Jenny bukan fisiknya saja yang lemah, tapi juga keberaniannya.
"Kamu tahu kan Bell? Aku baru saja satu bulan lebih bercerai dengan Frans."
"Aku tidak bisa langsung mengklaim kalau ini darah daging Arjuna." tutur Jenny lagi.
Ucapan Jenny memang benar, dia tidak bisa sepenuhnya memprediksi bahwa benih yang tumbuh di rahimnya adalah milik Arjuna.
"Jenny wake up, please! "
"Lo lima tahun rumah tangga dengan Frans sama sekali tidak pernah positif hamil. Lalu siapa lagi kalau bukan Arjuna ayahnya?"
Bella mulai geram akan penjelasan Jenny, karena Jenny masih saja mempertimbangkan Frans dalam hal ini.
"Entahlah Bell, aku masih bingung."
Jenny memalingkan pandangannya dengan tatapan nyalang, seperti menangisi nasibnya.
Jenny takut setelah ini orang orang akan menghujat dirinya hamil tanpa suami.
"Gue tanya serius sama lo Jenn, kapan terakhir lo berhubungan dengan Frans?" tanya Bella dengan meraih wajah Jenny lalu menatapnya lekat.
Kemudian Jenny mencoba mengingat-ngingat malam romantis terakhir bersama mantan suaminya.
"Kalau tidak salah, terakhir itu satu minggu sebelum gue pergi dari rumah Frans." sahut Jenny.
Bella langsung menghela nafasnya dalam, sesuai yang Jenny katakan kalau kandungannya masih diragukan jika melihat jeda hubungan suami istri bersama Frans ataupun Arjuna.
"Kalau iya itu anak Frans, lo bakal gimana?"
"Dan sebaliknya, kalau itu anak Arjuna, apa tindakan lo?" Bella semakin menghujani Jenny dengan rentetan pertanyaan.
"Siapapun ayah dari anak ini, gue akan besarkan anak gue sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Punya anak adalah mimpi gue yang sudah lama Bell." ungkap Jenny yang sudah tidak percaya lagi pada pria manapun.
"Lo jahat Jenn. Bagaimanapun anak lo butuh sosok ayah." Bella langsung memotong ucapan Jenny.
"Gue udah gak percaya lagi dengan laki-laki Bell, gue mohon temani gue selama masa ini Bell, please." Jenny memohon kepada sahabat di sampingnya, lalu menatap Bella dengan tatapan memelas.
"Kalau terbukti itu anaknya Frans, gue gak masalah Jenn lo mau hidupin anak lo sendiri juga."
"Gue juga empet liat tingkah mantan suami lo. Tapi kalau ini anaknya Arjuna, gue gak berani jamin bisa nutupin semuanya."
"Bukannya Arjuna sudah bilang sama lo, kalau dia siap tanggung jawab terhadap lo."
Sebagai sahabat Jenny, Bella ikut geram akan kelakuan Frans yang seenaknya berkhianat di belakang Jenny.
Biarlah jika memang bayi dalam kandungan Jenny terbukti anak Frans, selamanya Frans tidak akan diberi tahu tentang kehadiran anaknya kelak.
"Gue bisa saja temuin Arjuna untuk tanggung jawab, tapi bukan itu yang gue mau Bella." ucap Jenny datar.
"Apa artinya tanggung jawab jika tidak diimbangi dengan hati yang sama-sama saling mencintai?"
"Malam itu hanya kecelakaan. Arjuna dalam kondisi mabuk, bukan atas dasar perasaannya."
"Gue gak mau nahan hidup seseorang buat hidup bersama gue, dan bukan atas dasar cinta."
"Kalaupun Arjuna harus menikah sama gue, rasanya percuma saja. Karena, pernikahan kami dibangun hanya untuk menebus rasa bersalah." tutur Jenny di hadapan Bella, dan penjelasan Jenny cukup menohok hati Bella.
Memang benar adanya, untuk apa pertanggung jawaban dilakukan jika bukan atas dasar hati yang saling mencintai?
Bukankah dulu Jenny dan Frans sama sama saling mencintai?
Tapi akhirnya, semuanya tetap saja hancur tak tersisa.
•••
Tak ingin menahan hidup seseorang untuk bersama, karena terbuang dalam kebersamaan jauh lebih menyakitkan.
...Miss Viona...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Nurhaida Pakpahan
ayo angkat tangan yg dukung kehamilan jenny anaknya arjuna.
2021-12-23
1
Nana_Ratna
Curiga Alea hamil ma orang lain. Jd Frans yg mandul😂😂😂😂 senangnyaaahhh
2021-08-06
2
istrioppaojun
kalo jenny hamil...Frans yg mandul
terus Poppy ...anak siapa dong?!!!
2020-11-16
2