"Apa kamu hamil Jenn?" bisikkan Arjuna terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Jenny tidak tahu lagi harus berkata apa? Tapi yang jelas hatinya benar-benar tidak ingin Arjuna tahu kalau dia sedang mengandung.
"Jawab Jenn." Arjuna semakin menekan jaraknya dengan Jenny, sampai sampai jantung Jenny seperti mau pecah.
"Bukan urusanmu." hanya kata itu yang keluar dari bibir Jenny, tanpa menatap ke arah Arjuna.
Sementara tangan Jenny sibuk mengambil beberapa lembar uang untuk membayar belanjaannya, hingga Jenny tidak menyadari kalau Arjuna sudah menyodorkan kartu debit kepada kasir untuk membayar semua belanjaan Jenny.
Entah kenapa rasa tanggung jawab dan peduli Arjuna muncul di sini?
Mungkin dia masih dihantui rasa bersalah, setelah apa yang terjadi bersama Jenny di apartemen miliknya.
"Maaf Mba, semua belanjaan Mba sudah dibayar oleh suami Mba." tutur kasir swalayan itu memberitahukan Jenny saat Jenny hendak menyodorkan uangnya.
Kasir itu mengira kalau Arjuna adalah suami Jenny, dan Clarisa adalah putri mereka.
Jenny menghela nafasnya dalam, harusnya Arjuna tidak bersikap seperti ini terhadapnya.
Setelah mengangkat belanjaan yang tidak terlalu banyak, Jenny meraih telapak tangan Arjuna, kemudian meletakkan uang miliknya di tangan Arjuna.
"Aku tulus Jenn." ucap Arjuna yang berusaha mengembalikan lagi uang Jenny, tapi Jenny tidak menggubrisnya.
Jenny justru bergegas keluar swalayan meninggalkan Arjuna dan juga Clarisa. Arjuna tidak ingin kehilangan jejak Jenny lagi, ia segera menyusul langkah Jenny setelah dilihatnya Clarisa yang masih sibuk memilih eskrim.
"Jenny tolong jawab pertanyaanku." Arjuna kembali menarik lengan Jenny agar tidak bisa lolos lagi darinya.
Jenny memejamkan matanya, kemudian menghela nafas untuk mencari alasan yang tepat agar Arjuna tidak lagi mengejarnya.
"Bapak Arjuna perlu Bapak ketahui, kalau pria yang pernah tidur dengan saya bukan hanya Anda saja." Arjuna tidak mengerti ucapan Jenny barusan.
Apa mungkin Jenny adalah salah satu wanita yang menjajakkan dirinya di club malam?
Tapi kalau iya, kenapa waktu malam itu Jenny tidak menuntut satu rupiahpun pada Arjuna?
Jenny justru selalu menghindar dari Arjuna.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu Jenn?" tanya Arjuna lagi mencoba memastikan.
Jenny menganggukkan kepalanya mantap.
"Jangan ganggu saya lagi, saya sudah bersuami. Kalaupun saya hamil, itu benih suami saya. Soal malam itu anggap saja tidak pernah terjadi." kilah Jenny tegas di hadapan Arjuna.
Degggg!
pernyataan Jenny barusan langsung menusuk hati Arjuna, membuat Arjuna semakin menyesali perbuatannya.
Bisa bisanya dia meniduri istri orang lain?
Bagaimana jika Arjuna yang diposisikan sebagai suami Jenny?
Pastinya dia juga akan merasa marah dan kecewa. Tapi, semua terjadi di luar kendali Arjuna.
Melihat Arjuna yang masih diam mematung, Jenny segera pergi dari pandangan Arjuna. Berharap Arjuna tidak akan mengejarnya lagi.
Arjuna yang menyadari kepergian Jenny kembali memasuki swalayan, ia mencari putrinya yang juga sedang mencari Arjuna.
"Papih dali mana sih?" rengek Clarisa yang dari tadi kehilangan jejak papihnya.
"Maaf Sayang, Papih tadi ada urusan." Arjuna mengelus puncak kepala Clarisa penuh perasaan sayang.
"Sama ante balbie ya Pih?" tebak Clarisa.
Arjuna hanya menganggukkan kepalanya pelan, teriring senyum manis yang terpatri di bibirnya.
"Nanti ante balbie ajak main ke lumah ya Pih."
Tak hentinya Clarisa meminta Jenny untuk main ke rumah.
Ucapan Clarisa barusan terasa sangat menusuk telinga Arjuna. Clarisa sangat mengharapkan kedatangan Jenny di rumahnya, sementara Jenny bilang kalau dia sudah memiliki suami.
Rasanya tidak mungkin bagi Jenny untuk menemui Clarisa kembali, apalagi di rumah Arjuna.
"Clarisa sayang gak sama Papih?" tanya Arjuna mencoba memberikan pengertian pada putrinya, karena Arjuna tahu kalau putrinya itu cukup keras kepala jika menginginkan sesuatu.
"Sayang Pih." sahut Clarisa dengan manggut-manggut di hadapan Arjuna, sambil mengelus pundak Arjuna yang masih berjongkok di hadapan Clarisa.
"Kalau sayang dengerin Papih ya, tante barbie itu sudah ada yang punya. Jadi, dia tidak bisa seenaknya pergi main dengan Clarisa. Sama seperti Clarisa yang sudah jadi milik Papih, tidak boleh pergi seenaknya meninggalkan Papih."
Clarisa tidak ingin mendengar ucapan Arjuna, terlihat dari raut wajahnya yang ditekuk dengan bibir yang dimanyunkan.
"Tapi Papih tidak melalang Clalisa main sama siapapun." gugat Clarisa.
Bocah ini memang terlalu kritis untuk dibohongi, sampai Arjuna terkekeh sendiri mendengar protes putrinya.
"Hmmm, mending sekarang kita bayar eskrimnya dulu, terus kita pulang Sayang. Sudah malam, waktunya putri kecil bobo."
Arjuna mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Clarisa, agar Clarisa tidak semakin bertanya lebih jauh lagi tentang Jenny. Walau sebenarnya Arjuna pun masih ingin bertemu dengan Jenny.
Bukan hanya Clarisa saja, separuh hati Arjuna pun merasakan kekecewaan tak terkira setelah mendengar pernyataan Jenny yang mengaku sudah bersuami.
•••
Klik like ya guys 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Aulya Azzahra
visualx dong thorrrrrr
2021-12-28
1
Marlina Yulita
anak pinteer
2020-04-14
2
Farhan Massa
lanjutttt
2020-04-05
2