"Ante balbie, Ante balbie!" seru Clarisa dengan nada cadelnya. Anak kecil itu berlari memeluk pinggang Jenny dengan kepala yang menengadah di pusar Jenny.
Jenny kebingungan melihat tingkah Clarisa yang tiba-tiba datang mendekapnya penuh semangat, tapi Jenny juga merasakan kehangatan dari pelukan Clarisa.
Entah kenapa bocah ini sangat manja terhadap Jenny?
"Adik kecil namanya siapa?" tanya Jenny meraih wajah Clarisa dengan gemas, dan menatap Clarisa penuh antusias.
Gadis kecil yang cantik, berkulit putih, rambut hitam, bola mata bulat hitam, semakin terlihat menggemaskan di mata Jenny.
"Clalisa Ante." sahut Clarisa, sementara Jenny tak paham akan ucapan Clarisa yang masih cadel.
"Clalisa?" Jenny kembali memastikan nama Clarisa.
Clarisa menggeleng, maksud Clarisa mengucap Clalisa itu adalah Clarisa bukan Clalisa.
"Ehmm Clarisa ya?" tebak Jenny lagi, berusaha mengertikan bahasa Clarisa yang sedikit cadel.
Clarisa berbinar setelah Jenny menyebutkan namanya dengan tepat, lalu kepalanya mengangguk-angguk.
"Clarisa sama siapa ke sini?"
"Kok malam malam masih jalan-jalan sendirian?"
Jenny menyapu jarak pandangnya, ia mencoba mencari sosok orangtua Clarisa. Rupanya, tidak ada sosok ayah ataupun ibu Clarisa di sana.
"Sama papih Ante."
"Ayo ante kenalan sama papih Clalisa, bial Clalisa tunjukkin kalo Clalisa udah nemu balbie benelan."
Jenny tersenyum sendirian saat mendengar ucapan Clarisa yang menyerukan dirinya barbie.
Mungkin imajinasi Clarisa terlalu berlebihan, menganggap tubuh Jenny yang langsing dengan rambut panjang. Apalagi Warna rambut Jenny yang sama seperti barbie milik Clarisa yang patah.
Mungkin karena Jenny yang intens perawatan kulit wajah sehingga menghasilkan kulit Jenny yang flawless seperti boneka.
"Tante bukan boneka barbie Sayang." kilah Jenny menepiskan imajinasi Clarisa.
"Ayo kenalan dulu! Nama tante, Jenny."
Jenny meraih jemari kecil Clarisa, dan memperkenalkan namanya pada putri Arjuna yang sangat aktif.
"Oh nama Ante Jenny, tapi Clalisa panggilnya Ante balbie ajah."
Rupanya putri Arjuna ini cukup keras kepala juga, sikapnya mirip sekali dengan mendiang mamihnya.
Kalau dipikir lagi Clarisa beberapa bulan ini sangat kasihan. Setelah ditinggalkan Claudia, anak itu menjadi pemurung. Kecuali saat bermain barbie kesayangannya, Clarisa bisa sedikit ceria.
Tak heran jika Clarisa berdecak riang setelah melihat Jenny, imajinasinya menggambarkan Jenny adalah sosok barbie yang hidup.
"Anak lucu." ujar Jenny, lalu tangan Jenny langsung ditarik oleh Clarisa, padahal Jenny masih belum selesai memilih susu ibu hamil di swalayan tersebut.
"Papih, Clalisa punya balbie balu Pih." jerit Clarisa saat menggandeng Jenny.
Clarisa sangat antusias membawa Jenny ke hadapan Arjuna yang sedang memilih eskrim kesukaan putrinya.
Arjuna langsung terkesiap melihat wanita yang digandeng oleh putrinya, ternyata wanita itu adalah wanita yang pernah tidur dengannya.
Sejak Claudia meninggal, Arjuna tidak pernah mencari pelampiasan nafsunya sedikitpun terhadap wanita lain.
Jenny pun sama terkejutnya setelah melihat Arjuna, sungguh tak menyangka kalau putri kecil nan imut juga cerewet itu adalah putri Arjuna.
Tuhan. . .
Kenapa bisa begini?
Gumam Jenny dalam hati.
Padahal Jenny sudah bersikeras untuk tidak mau berhubungan lagi dengan Arjuna, tapi kenapa Tuhan mempertemukannya lagi?
"Kok Papih sama ante balbie diem ajah sih?" tanya Clarisa yang mendapati ekspresi kedua lawan jenis itu merasa aneh. Padahal Clarisa sudah memperkenalkan Jenny pada papihnya dengan sambutan yang begitu hangat.
"Nggak apa apa Sayang, Papih cuma terkejut. Memangnya ada barbie sungguhan?" kilah Arjuna agar anaknya tidak menyimpan dugaan lain. Karena, Arjuna sangat paham betul sikap putrinya yang terlalu pintar membaca situasi.
"Ada Papih, itu lambutnya ante balbie milip sekali sama balbie Clalisa yang lusak Pih."
Nada bicara cadel Clarisa sangat terasa menggemaskan di telinga Jenny, sampai sampai Jenny ingin membawa Clarisa ke dalam gendongannya. Hanya saja Jenny tidak berani lakukan itu, karena di hadapannya masih ada Arjuna.
"Tapi ante barbie gak mirip sama ini Sayang."
Jenny menyangkal ucapan Clarisa sambil menunjuk ke arah boneka barbie baru yang Clarisa pegang sejak keluar dari toko mainan.
"Iya sih Ante, Clalisa masih pengen balbie yang lama. Tapi, di toko mainan balbie yang lama udah gak ada Ante." tutur Clarisa yang masih kecewa tidak mendapatkan barbie yang sesuai keinginannya.
Jenny tersenyum saat mendengar rengekan Clarisa, senyuman itu berhasil mengalihkan perhatian Arjuna.
Menurut Arjuna, ternyata Jenny lebih hangat jika berhadapan dengan anak kecil. Berbeda saat Jenny berhadapan dengan dirinya beberapa waktu lalu saat di kantor A&J.
Jenny berjongkok di hadapan Clarisa, ia meraih boneka barbie milik Clarisa yang masih disegel dalam plastik transparan bertalikan pita warna pink.
"Sayang, menurut ante ini juga bagus barbienya." bujuk Jenny.
Clarisa menggeleng, masih tidak ingin menerima mainan barunya.
"Clarisa harus belajar mengerti kalau barang yang sudah rusak itu tidak bisa diperbaiki lagi." ucap Jenny lembut.
"Untung Clarisa masih punya papih, jadi ada papih yang mau belikan barbie baru buat Clarisa. Coba bayangkan oleh Clarisa, anak-anak yang sudah tidak punya papih, belum tentu mereka bisa beli mainan barbie sebagus ini Sayang."
Entah kenapa Jenny seolah melupakan semua kejadiannya bersama Arjuna, mungkin Jenny sedang berlaga tidak pernah mengenal Arjuna di hadapan Clarisa.
"Jadi Clalisa salah ya Ante?" tanya Clarisa dengan mengerucutkan bibir mungilnya, menyesali semua rengekan yang sudah dilakukannya.
"Clarisa gak salah Sayang, hanya saja Clarisa belum paham akan rasanya bersyukur." ungkap Jenny dengan merapikan poni Clarisa yang sedikit menutupi matanya.
Sementara Arjuna hanya memperhatikan interaksi kedua wanita berbeda generasi di hadapannya.
Pandangan Arjuna terkejut setelah melihat jinjingan belanja milik Jenny, yang terletak di samping kaki Jenny. Di sana ada kaleng susu dengan ukuran sedang, bertuliskan salah satu brand dari susu ibu hamil.
Otak Arjuna langsung berputar. Apa mungkin Jenny hamil akibat perbuatannya?
Kalau sampai Jenny hamil, Arjuna tidak akan membiarkan Jenny pergi lagi.
Clarisa kini beralih ke box eskrim untuk memilih eskrim kesukaannya sendirian, kebetulan letak box eskrim itu sangat dekat dengan Arjuna.
"Clarisa, Ante pamit ya Sayang, Ante harus cepat pulang." ucap Jenny saat hendak pergi dari swalayan.
Clarisa menoleh ke arah Jenny dengan perasaan yang sedikit kecewa, karena Clarisa masih ingin bermain-main dengan Jenny, tepatnya bermain dengan rambut panjang milik Jenny.
"Ya sudah kalau Ante mau pulang, tapi lain kali Ante balbie main ya ke lumah Clalisa." pinta Clarisa dengan raut sedikit kecewa.
Jenny hanya tersenyum dan mengaggukkan kepala, walau sebenarnya sama sekali tidak ada niatan untuk Jenny mengabulkan permintaan Clarisa yang meminta berkunjung ke rumahnya.
"Maaf Pak, saya permisi." pamit Jenny di depan Arjuna.
Pria gagah itu merasa sangat diasingkan oleh Jenny, tangan kekar Arjuna segera meraih lengan Jenny, lalu berbisik di telinga Jenny.
"Apa kamu hamil Jenn?"
•••
Like and comment ya 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Nurhaida Pakpahan
awwwww sos sweet 😍😍😍😍😍
2021-12-23
1
Sri Yati
deg degan saya 🤭🤭🤭🤭
2020-04-15
4
Marlina Yulita
deg deg hayooo Jenny mw jujur atw boong 😆😆😆😆
2020-04-14
1