Seorang wanita cantik mengenakan kemeja putih dengan paduan blazer abu tua, beserta setelan rok abu yang sedikit di atas lutut tengah sibuk menyiapkan segala keperluan pesta pernikahan kliennya.
Tangan gesitnya mulai mensortir pernak-pernik yang dibutuhkan untuk pesta pengantin, ia melakukan pengecekan dengan membandingkan register barang yang dia pegang di tangannya, memastikan agar semua barang yang dibutuhkan tidak ada yang tertinggal.
Jenny kini bekerja di salah satu kantor wedding organizer milik paman Bella yang bernama William.
Awalnya, Jenny tidak ingin bekerja di kantor William dengan alasan trauma akan pernikahan. Jenny tak kuasa jika setiap hari harus bergelut dengan perihal pesta pernikahan, akan tetapi Jenny sudah tidak memiliki pilihan lain selain bekerja di kantor William.
Kesempatannya untuk bekerja di kantor A&J harus dia lupakan dalam waktu sekejap mata, setelah Jenny mengetahui siapa pemilik perusahaan tersebut.
Jenny juga harus ingat bahwa hidupnya harus tetap berlanjut, tidak mau terus-terusan berdiam diri menjadi wanita yang tidak berguna.
Alasan itulah yang membuat Jenny harus mau menerima tawaran Bella untuk bekerja di kantor William. Walau Jenny harus susah payah menepiskan semua rasa traumanya akan pernikahan, namun tetap akan Jenny hadapi semua rasa sakit itu.
"Pagi Jenny." sapa William yang baru saja tiba di kantor wedding organizer.
Tujuan William datang ke kantor hanya untuk mengecek beberapa laporan keuangan, dan meninjau perkembangan usahanya.
William masih memiliki beberapa usaha lain yang sama pentingnya, sehingga William tidak setiap hari datang ke kantor William Wedding.
"Pagi Pak William." sahut Jenny.
Senyuman indahpun merekah dari bibir tipis Jenny yang menggunakan sapuan lipstik warna merah kecoklatan.
"Apa ini desain untuk dekorasi pesta pernikahan bulan depan Jenn?" tanya William sambil menarik secarik kertas yang berisi sketsa tema pesta pernikahan yang bernuansa putih di setiap background.
Ada hiasan bunga bunga yang sengaja Jenny pilih dengan memainkan nuansa putih, terdiri dari bunga mawar putih dan melati yang menjadi pilihan kliennya.
Mawar putih dan melati seperti tidak asing bagi Jenny, seolah mengingatkan pada pesta pernikahannya dulu bersama Frans.
"Iya Pak itu sketsanya. Saya sudah mendapat persetujuan dari pihak klien untuk menggunakan sketsa ini kedalam tema pesta."
William sempat terkesiap dengan kemampuan desain yang Jenny miliki, batinnya sempat memuji kreativitas Jenny.
Ternyata bukan hanya paras cantik saja yang kamu miliki Jenn, kecerdasan desainmu juga luar biasa.
William terpesona dengan kemampuan desain yang Jenny miliki.
Ternyata bukan hanya paras ayu saja yang dimiliki oleh Jenny, tapi juga soal skill desain Jenny yang membuat William semakin mengagumi wanita di hadapannya.
Sejak awal melihat Jenny, hati William sudah memuji kecantikannya. Perasaan William terhadap Jenny sudah diketahui oleh keponakannya, Bella.
Entah kenapa sinyal Bella begitu kuat menangkap gelagat William yang mulai tertarik dengan Jenny.
Padahal, paman Bella yang satu ini sulit untuk jatuh cinta. Itulah yang menyebabkan William masih saja hidup sendiri di usianya yang menginjak ke tiga puluh dua tahun.
"Oke Jenn, semangat ya."
Setelah mengatakan itu, William berlalu dari meja Jenny, melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja yang berada di lantai dua.
William selalu berusaha memberikan dukungan pada Jenny, dia turut prihatin atas apa yang menimpa rumah tangga Jenny bersama mantan suaminya.
Menurut William, karyawan barunya itu merupakan sosok wanita tegar dalam menghadapi ujian hidup. Terlihat dari gaya bekerja Jenny yang sering pulang terlambat, hanya demi mengalihkan perhatian Jenny atas kesedihan yang menjadi beban hidupnya.
Biarlah Jenny lupa akan masa lalunya.
Biarlah Jenny tenggelam dalam aktivitasnya.
Karena, berdiam diri di rumah Bella hanya akan mengingatkan memori tentang hidupnya bersama Frans di masa lalu.
•••
Akibat terlalu sibuk mengurusi semua kebutuhan pesta pernikahan beberapa klien, membuat Jenny lupa waktu. Jenny lupa kalau jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, harusnya Jenny sudah pulang dari tadi, karena jam kerja di kantor William hanya sampai pukul lima sore.
Jenny tidak akan pulang tepat waktu jika masih ada yang harus diselesaikan. Walaupun suasana kantor sudah sepi, Jenny tetap melanjutkan pekerjaannya.
Posisi Jenny yang ditunjuk sebagai kordinator staff, membuat Jenny lupa untuk pulang tepat waktu setiap harinya. Dia selalu berusaha memastikan semua pekerjaanya terhandle sesuai target.
"Alhamdulillah sudah beres." gumam Jenny setelah membereskan semua barang barang di atas meja.
Jemari Jenny bersiap mematikan monitor. Baru saja Jenny meraih tas kerja, tiba-tiba ada yang terasa aneh dari perut Jenny.
Jenny merasakan mual tak terkira, kepalanya terasa pusing, pandangannya seperti gelap. Sekuat tenaga Jenny mencoba mengumpulkan kekuatan untuk segera berlari ke toilet yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.
Jenny tak kuasa menahan mual, sampai akhirnya Jenny menumpahkan isi perutnya kembali di toilet.
Wajah Jenny terlihat sangat pucat, tubuhnya terkulai lemas di sana. Jenny berpegangan wastafel, menahan tubuh rampingnya agar tidak jatuh bebas di lantai kamar mandi.
Setidaknya, setelah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perut membuat Jenny merasa sedikit lebih baik.
Jenny masih dalam kondisi lemah, nafasnya tersengal, mencoba mengumpulkan semua kekuatan. Walau tubuh Jenny masih lunglai, sebisa mungkin Jenny paksakan agar dia bisa pulang ke rumah Bella, ia berharap kondisinya akan lebih baik.
•••
Klik like ya guys 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Malik Al-Yazid
yg mandul si frans
2021-12-13
1
🌼 Pisces Boy's 🦋
kalau benar hamil,,koq bisa dibilang mandul diawal cerita...apa dokternya salah diagnosa
2020-10-15
2
Jac_Aline
jangan2 hamil?
2020-10-10
1