Part 7 - Kembali ke Jakarta

Aku berlari menuju kamarku yang terletak di lantai dua, sampai tidak aku hiraukan kehadiran ibu yang berada di ruang tengah. Sepertinya ibu sedang asyik menikmati sinetron komedi bersama Zalesya, keponakan ibuku yang selalu setia menemani ibu, sejak kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan.

Aku mengumpulkan semua dokumen lamaran pekerjaan. Walau aku terlahir dari keluarga biasa tapi jangan lupakan kalau aku berhasil menyelesaikan studi S1 fakultas ekonomi.

Hanya itu yang mampu aku andalkan. Berharap perusahaan yang akan aku lamar tidak mengisyaratkan karyawannya dengan syarat yang macam-macam, seperti mengisyaratkan status pernikahan misalnya.

Kalau sampai perusahaan itu mengajukan kriteria bagi pelamar yang belum pernah menikah, sudah dipastikan aku akan gugur sebelum berperang.

Semua dokumen sudah aku selesaikan, tinggal waktunya aku bongkar lemari pakaian untuk mencari baju baju kerjaku dulu, sebelum aku menikah dengan Frans.

Walau modelnya sudah tidak up to date lagi, tapi baju kerjaku masih layak pakai, dan masih muat di tubuhku yang masih langsing seperti dulu.

Aku lipat beberapa pakaian, lalu aku masukkan ke dalam tas untuk persiapan interview besok. Malam ini juga aku harus berangkat, agar aku sampai di tempat interview tidak terlambat. Mengingat jadwal walk interview tepat pukul delapan pagi, aku harus tiba di sana tepat waktu.

Sebenarnya hatiku merasa keberatan harus kembali lagi ke Jakarta, kembali ke kota yang membuatku menelan pahitnya kehidupan rumah tangga, tapi tak mengapa.

Bukankah kehidupan itu harus tetap berjalan, karena hidup bukan sekedar tentang urusan hati saja.

"Jenny mau kemana?"

Ibu nampak terkejut saat memasuki kamarku, melihat aku yang sibuk dengan aktivitas packing.

"Jenny mau ikut walk interview Bu."

Jawabku pelan, tanpa menatap ke arah ibu. Mungkin karena aku terlalu bersemangat.

"Apa harus malam ini juga Nak?"

Ibuku langsung memotong ucapanku dengan pertanyaan. Terlihat dari sorot matanya yang tidak rela melepaskanku lagi.

"Kantornya di Jakarta Bu, waktu interview dibuka pagi pagi, mulai jam delapan tepat. Jadi Jenny harus siap siap malam ini juga."

Ibuku menghela nafasnya dalam, seperti mengerti kalau aku kembali ke Jakarta hanya akan mengingatkan semua kenangan bersama Frans.

"Apa kamu tidak keberatan Jenn? Jika nantinya kamu lolos tahap seleksi, dan harus kembali tinggal di Jakarta."

Aku sempat terdiam sesaat memikirkan ucapan ibu barusan.

Memang benar apa yang dituturkan ibu, sebenarnya hati kecil ini merasa berat untuk melangkahkan kaki di sana, tapi bukankah hidup itu harus berlanjut?

Aku tidak bisa berdiam diri di rumah saja. Aku dan ibuku mau makan apa nantinya? Jika aku tetap berdiam diri.

"Bukankah Ibu selalu bilang sama Jenny, kalau masalah itu harus kita hadapi."

Ibuku tersenyum kecil mendengar putrinya membalikkan kalimatnya.

"Percaya padaku Bu, Jenny akan baik baik saja. Nanti setelah pekerjaan Jenny sattle, Jenny pasti akan pulang satu minggu sekali buat jenguk Ibu dan Zalesya. Yang terpenting saat ini, ibu doakan Jenny agar bisa diterima bekerja."

Kutatap ibuku dan kupeluk bahu ibu, dengan begitu manjanya aku bergelayut di ceruk leher ibu yang penuh kedamaian untukku.

"Doa ibu selalu untukmu Jennny. Putri kesayangan Ibu satu satunya. Jaga diri baik baik ya sayang, jangan bikin malu Ibu di sana."

Ibu mencubit hidungku yang menurut ibu cukup mancung, kemudian aku pamit pada ibu, dan meminta pada Zalesya untuk setia menemani ibu selama aku tidak ada di rumah.

•••

Sekitar pukul delapan malam aku melajukan mobilku menuju Jakarta, tujuanku saat ini adalah mendatangi rumah Bella, sahabatku semasa kuliah dulu.

Bella sudah menawarkan padaku kalau aku harus menginap di rumahnya untuk proses interview besok.

Rumah Bella sangat besar dan tak berpenghuni. Apalagi status Bella yang masih single semakin membuat  rumah Bella terasa sangat sepi. Setidaknya, dengan kedatanganku sedikit mengurangi kesepian di rumah Bella.

Sekitar tiga jam perjalanan aku sampai di halaman rumah Bella, tapi rasanya sangat aneh, gerbang rumah Bella digembok dari luar.

Apa mungkin Bella tidak ada di rumah?

Batinku ragu untuk turun dari mobil, sehingga kuputuskan untuk mengambil ponsel dari dalam tas hitam kesayanganku.

"Bella dimana? Gue udah sampai di depan rumah lo."

Terdengar suara musik yang sangat bising mengusik telingaku dari sumber suara Bella.

"Gue lagi gak ada di rumah Jenn, lo jemput gue ya ke sini. Nanti gue whatsapp alamatnya."

Gila udah jam sebelas malam masih kelayaban ajah nih anak perawan.

Batinku bergumam demikian.

Dalam hitungan beberapa detik pesan whatsapp masuk dari Bella, mengirimkan alamat keberadaannya.

Walau jemari dan mata sudah lelah akibat menyetir, terpaksa aku harus menjemput Bella. Akhirnya, aku memilih memutar balik mobilku menuju alamat yang Bella kirimkan.

•••

"Dimana lo? Buruan keluar. Gue udah di parkiran."

Rasanya gak tahan banget setelah gue tahu Bella berada di sebuah club malam.

Tempat laknat apa ini? Terlalu menjijikkan.

Sejak kapan Bella punya hobi dugem?

Perasaan seingatku Bella dulu tidak seperti ini.

"Udah masuk ajah Jenn, buruan sini. Gue udah gak kuat buat jalan kaki."

Suara Bella terdengar sangat berat, sepertinya dia mabuk berat. Mau tidak mau, aku harus turun dari mobil untuk mencari Bella.

Ku langkahkan kakiku dengan cepat, hampir setengah berlari. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak beres pada Bella. Apalagi Bella gadis cantik dengan tubuh sexy, pria mana yang tidak akan mengambil kesempatan saat Bella mabuk?

Sesampainya di dalam club malam terhits di Jakarta, aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Bella, tapi Bella tidak ada di sana.

Selama lima belas menit mencari Bella membuatku lelah, apalagi dentuman musik yang keras serta lalu-lalang orang di sana membuat kepalaku semakin pusing.

Aku memutuskan untuk duduk di depan bartender. Aku hanya memesan jus strowberi kesukaanku, karena tenggorokanpun mulai terasa kering.

Aku duduk di depan bartender dengan pandangan mata yang masih mencari sosok Bella, sialnya Bella masih tidak terlihat.

Akhirnya, pandanganku bertemu pada satu titik yang hanya terselang dua kursi di sampingku, terasa seperti ada yang memperhatikanku di sana.

Kedua bola mata itu menatapku dengan pandangan seperti yang sudah lama mengenalku, tapi aku sama sekali tidak mengenali sosok pria dengan wajah lusuh di sana.

Wajahnya seperti sedang frustasi. Meski penampilannya masih dalam balutan baju kantoran, dapat aku pastikan dia sedang memikul beban yang berat. Lihat saja botol botol miras berserakan di hadapannya.

Aku hanya bisa tersenyum masam melihat tingkah pria tersebut.

Apa masalah akan berakhir setelah melukai diri sendiri?

Apa masalah akan selesai setelah menyiksa diri dengan mabuk?

Ah, jangan pedulikan laki-laki itu, walau sebenarnya aku takut karena tatapannya yang tajam ke arahku.

Saking takutnya sampai sampai aku salah mengambil minuman. Harusnya jus strowberi dengan rasa manis sedikit asam dan segar, tapi kenapa minuman yang aku telan terasa pahit dengan soda yang meletup-letup di tenggorokan.

Minuman itu justru membuatku merasa semakin dahaga, bodohnya aku justru meminumnya lagi, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri terkapar lemas di meja bartender.

••••

Banyak yang mencoba lari dari kenyataan, hingga tanpa sadar melukai diri.

Miss Viona

Terpopuler

Comments

Marlina Yulita

Marlina Yulita

huuuuu

2020-04-14

1

nia

nia

aduhhh apa yang akan terjadi pada jenni yach
semangat kaka suksez sllu buat kaka

2020-03-26

2

Unyun Unyun

Unyun Unyun

lanjut cinn

2020-03-25

1

lihat semua
Episodes
1 Part 1 - Alea
2 Part 2 - Selamat tinggal Frans
3 Part 3 - Dia juga istriku
4 Part 4 - Ceraikan aku!
5 Part 5 - Bukan wanita berhati malaikat
6 Part 6 - Bukankah hidup adalah pilihan?
7 Part 7 - Kembali ke Jakarta
8 Part 8 - One night stand
9 Part 9 - Itu bukan mimpi
10 Part 10 - Walk interview
11 Part 11 - Lantai delapan
12 Part 12 - President Director of A&J Group
13 Part 13 - Merindukan Jenny
14 Part 14 - William Wedding
15 Part 15 - Hamil
16 Part 16 - Tante barbie
17 Part 17 - Apa kamu hamil Jenn?
18 Part 18 - Anggap saja tidak pernah terjadi
19 Part 19 - Pernikahan kedua
20 Part 20 - Buktikan pada mereka
21 Part 21 - He just my ex husband
22 Part 22 - Alasan meminta cerai denganku
23 Part 23 - Tak seharusnya melepasmu
24 Part 24 - Arjuna banget!
25 Part 25 - Cleo Prastya
26 Part 26 - Menagih janji
27 Part 27 - Aku merindukanmu tante barbie
28 Part 28 - Belum sanggup memulai lagi
29 Part 29 - Arjuna versi mini
30 Part 30 - Masukkan aku ke dalam daftar pilihan
31 Part 31 - Dasar gombal!
32 Part 32 - Terlalu sulit untuk ku hapus
33 Part 33 - Pria kesepian
34 Part 34 - Love you more Miss Florencia
35 Part 35 - Apa cinta harus serumit itu?
36 Part 36 - Wajah yang tak ingin kulihat lagi
37 Part 37 - Ancaman Jenny
38 Part 38 - Papih! Bukan papah!
39 Part 39 - Ikatan keluarga
40 Part 40 - Gugup
41 Part 41 - Dress navy
42 Part 42 - Siapa wanita itu?
43 Part 43 - I love you
44 Part 44 - Hanya masa lalu
45 Part 45 - Aku masih mencintainya
46 Part 46 - Lamaran
47 Part 47 - Anniversary
48 Part 48 - Kecewa
49 Part 49 - Ancaman William
50 Part 50 - Singkirkan tangan kotormu!
51 Part 51 - Yakinkan dulu hatimu
52 Part 52 - Bagas
53 Part 53 - Diabaikan
54 Part 54 - Apa kehadiran William?
55 Part 55 - Renata
56 Part 56 - Kali ini saja
57 Part 57 - Anggap saja itu mahar
58 Part 58 - Mamih
59 Part 59 - Pergi!
60 Part 60 - Maafkan Ayah
61 Part 61 - Dipingit
62 Part 62 - Sudah berlalu
63 Part 63 - Wanita paling beruntung
64 Part 64 - Sampai maut menjemput
65 Part 65 - I want you tonight
66 Part 66 - Sesal
67 Part 67 - Takan ada titik yang terlewat
68 Part 68 - Remuk redam
69 Part 69 - Teratai pijar
70 Part 70 - Gelang tali
71 Part 71 - Mark
72 Part 72 - Bukankah kita sudah berjanji
73 Part 73 - Rencana gila
74 Part 74 - MC Production
75 Part 75 - Tiga pria
76 Part 76 - Pria terhebat
77 Part 77 - Cintai aku
78 Part 78 - Makan eskrim
79 Part 79 - Siapanya Mamih?
80 Part 80 - Undangan
81 Part 81 - Pizza sosis keju
82 Part 82 Atas nama Franda Imelda
83 Part 83 Satu malam saja
84 Part 84 Menjadi yang kedua
85 Part 85 Komitmen
86 Part 86 Komitmen
87 Part 87 Hilang
88 Part 88 - Kembali
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Part 1 - Alea
2
Part 2 - Selamat tinggal Frans
3
Part 3 - Dia juga istriku
4
Part 4 - Ceraikan aku!
5
Part 5 - Bukan wanita berhati malaikat
6
Part 6 - Bukankah hidup adalah pilihan?
7
Part 7 - Kembali ke Jakarta
8
Part 8 - One night stand
9
Part 9 - Itu bukan mimpi
10
Part 10 - Walk interview
11
Part 11 - Lantai delapan
12
Part 12 - President Director of A&J Group
13
Part 13 - Merindukan Jenny
14
Part 14 - William Wedding
15
Part 15 - Hamil
16
Part 16 - Tante barbie
17
Part 17 - Apa kamu hamil Jenn?
18
Part 18 - Anggap saja tidak pernah terjadi
19
Part 19 - Pernikahan kedua
20
Part 20 - Buktikan pada mereka
21
Part 21 - He just my ex husband
22
Part 22 - Alasan meminta cerai denganku
23
Part 23 - Tak seharusnya melepasmu
24
Part 24 - Arjuna banget!
25
Part 25 - Cleo Prastya
26
Part 26 - Menagih janji
27
Part 27 - Aku merindukanmu tante barbie
28
Part 28 - Belum sanggup memulai lagi
29
Part 29 - Arjuna versi mini
30
Part 30 - Masukkan aku ke dalam daftar pilihan
31
Part 31 - Dasar gombal!
32
Part 32 - Terlalu sulit untuk ku hapus
33
Part 33 - Pria kesepian
34
Part 34 - Love you more Miss Florencia
35
Part 35 - Apa cinta harus serumit itu?
36
Part 36 - Wajah yang tak ingin kulihat lagi
37
Part 37 - Ancaman Jenny
38
Part 38 - Papih! Bukan papah!
39
Part 39 - Ikatan keluarga
40
Part 40 - Gugup
41
Part 41 - Dress navy
42
Part 42 - Siapa wanita itu?
43
Part 43 - I love you
44
Part 44 - Hanya masa lalu
45
Part 45 - Aku masih mencintainya
46
Part 46 - Lamaran
47
Part 47 - Anniversary
48
Part 48 - Kecewa
49
Part 49 - Ancaman William
50
Part 50 - Singkirkan tangan kotormu!
51
Part 51 - Yakinkan dulu hatimu
52
Part 52 - Bagas
53
Part 53 - Diabaikan
54
Part 54 - Apa kehadiran William?
55
Part 55 - Renata
56
Part 56 - Kali ini saja
57
Part 57 - Anggap saja itu mahar
58
Part 58 - Mamih
59
Part 59 - Pergi!
60
Part 60 - Maafkan Ayah
61
Part 61 - Dipingit
62
Part 62 - Sudah berlalu
63
Part 63 - Wanita paling beruntung
64
Part 64 - Sampai maut menjemput
65
Part 65 - I want you tonight
66
Part 66 - Sesal
67
Part 67 - Takan ada titik yang terlewat
68
Part 68 - Remuk redam
69
Part 69 - Teratai pijar
70
Part 70 - Gelang tali
71
Part 71 - Mark
72
Part 72 - Bukankah kita sudah berjanji
73
Part 73 - Rencana gila
74
Part 74 - MC Production
75
Part 75 - Tiga pria
76
Part 76 - Pria terhebat
77
Part 77 - Cintai aku
78
Part 78 - Makan eskrim
79
Part 79 - Siapanya Mamih?
80
Part 80 - Undangan
81
Part 81 - Pizza sosis keju
82
Part 82 Atas nama Franda Imelda
83
Part 83 Satu malam saja
84
Part 84 Menjadi yang kedua
85
Part 85 Komitmen
86
Part 86 Komitmen
87
Part 87 Hilang
88
Part 88 - Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!