Aku sudah tak sadarkan diri, tapi aku merasakan ada sosok pria yang membawa tubuhku masuk ke dalam mobil. Aku yakin pria itu juga sama mabuknya denganku. Apalagi dia lebih banyak menghabiskan botol wine di depan meja bartender tadi.
Entah aku dibawa kemana olehnya?
Yang jelas kini aku memasuki sebuah apartemen mewah, bahkan lebih mewah dari kelas apartemen yang Frans miliki.
Pria itu nampak gagah. Harus kuakui wajahnya cukup tampan, bahkan lebih tampan dari mantan suamiku. Dia menyeretku ke dalam kamar, lalu memelukku erat, bahkan sangat erat seperti takut kehilangan.
Aku bisa merasakan deru nafasnya berhembus di bahuku. Aku yang tak sadarkan diri dengan mudahnya menikmati sentuhan pria tersebut. Sentuhan dan perlakuan yang sama seperti Frans berikan padaku sebelum kami berpisah.
Setelah memeluk, dia mulai menyentuh bibirku. Mencium bibirku sesaat, hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman panas yang sulit aku lepaskan.
Bodohnya aku dengan mudahnya terbawa suasana panas yang dia berikan, tingkat kesadaranku saat itu mungkin hanya beberapa persen saja. Ditambah lagi tubuhku yang merindukan sentuhan pria, membuatku tanpa sadar menikmati setiap sentuhan pria tersebut, tapi bukan berarti aku bebas bermain dengan pria manapun.
Kejadian ini terjadi secara manusiawi, sulit bagiku untuk menolaknya, karena kita sama sama dikuasai oleh nafsu masing-masing.
Terlebih lagi rupa wajahnya yang cukup rupawan, membuatku semakin terbuai olehnya. Dia membawaku melayang menembus kenikmatan, seperti melupakan semua masalah yang kami miliki.
Pria itu melepaskan dress warna hijau tua yang aku pakai, lalu melemparkan bajuku ke sembarang tempat. Kamipun beradu dalam peluh kenikmatan.
Biarlah semuanya terjadi, biarlah semuanya terlewati, karena tubuhku juga menginginkannya. Apalagi aku hanya wanita mandul, tidak akan mungkin setelah ini aku hamil karena perbuatan pria yang tidak aku kenal.
Ahhhhhhh
Sungguh otakku seperti hilang kendali. Apalagi tubuh pria itu sangat sangat sexy. Ada tato yang menghias dari bagian pundak sampai ke lengan kanannya, itu semakin menambah gairahku di malam itu.
Harus aku akui permainan pria ini sangat berbeda dari yang Frans berikan padaku. Dia lebih lembut mengatur ritme aktivitas bercintanya, membuatku semakin terbuai untuk membiarkan tubuhnya terus berlama-lama dengan tubuhku.
Pria itu menjelajahi tubuhku. Mulai dari dahi sampai ke titik sensitifku, membuatku menggelinjang penuh kenikmatan.
Wajahnya terlihat samar. Mungkin efek lampu di apartemen yang meredup, juga efek alkohol yang sudah meracuni kami berdua.
Sudah sekitar dua jam kami bergelut dengan peluh, merasakan kenikmatan yang sangat berbeda, yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku dulu.
Aktivitas ranjang yang seperti ini membuatku gila, diperlakukan selembut ini membuatku ingin lagi dan lagi, sampai dua jam tak terasa.
Kamipun akhirnya merasakan ujung kenikmatan yang tiada tara, tak lama kemudian kami menemukan titik klimaks masing-masing. Nafas kami tersengal, cucuran keringat sudah luruh dari tubuh kami.
Aku mencoba mengatur nafasku, agar oksigen lebih banyak masuk ke dalam tubuhku yang sudah terasa lemas.
Dia memelukku erat, lalu memanggilku dengan nama wanita yang aku sendiri tidak mengenal nama tersebut.
"Jangan tinggalkan aku lagi Claudia."
Setelah mengatakan itu, pria itu terbaring lemah dengan mata terpejam tak sadarkan diri. Memeluk tubuhku yang masih tak berbalut sehelai benangpun, hanya selimut yang aku gunakan untuk menutup tubuhku setelah aktivitas panas kami.
Akhirnya mata kami terpejam, merasakan lelah yang tak terkira akibat aktivitas panas yang berlangsung selama dua jam lamanya.
Nafas pria itu sudah berhembus teratur sambil mendekap tubuhku penuh posesif, seperti takut kehilangan, seperti takut aku meninggalkannya.
Kesadaranku mulai kembali, tapi mataku tak kuasa untuk menatap pria di sampingku. Padahal aku ingin sekali melihat wajahnya dengan jelas, tapi rasa lelah yang mendera sulit aku tepiskan hingga aku terbawa oleh alam mimpi.
•••
Sekitar pukul empat pagi akhirnya aku baru terbangun dan sadarkan diri. Masih dengan kondisi tubuh yang tanpa sehelai benang.
Pelan pelan aku lepaskan pelukan pria yang semalam telah bercinta denganku, agar dia tidak terbangun.
Aku segera berbalik posisi agar bisa berhadapan dengannya. Aku bisa melihat dan mengingat wajahnya dengan jelas, karena semalam tingkat kesadaranku sulit untuk mengingat wajahnya.
Ternyata itu memang benar benar bukan Frans, tapi entah kenapa semalam otakku tidak mampu bekerja dengan baik?
Seakan aku dan Frans masih dalam hubungan suami istri seperti dulu.
Apa karena aku yang terlalu depresi pasca bercerai?
Atau aku yang masih mencintai Frans?
Entahlah aku tak mengerti.
Tuhan...
Belum juga masa idahku habis, tapi dengan bodoh dan cerobohnya aku bercinta dengan pria lain.
Tak habis habisnya aku merutuki diriku sendiri, tapi tunggu dulu kenapa pria ini semalam memanggilku Claudia?
Apa dia juga merasakan depresi yang sama?
Merasakan kehilangan seseorang yang sama sama kita cintai.
Ingin sekali aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera meninggalkannya, tapi biarlah aku menikmati raut wajah tampannya dulu yang cukup menenangkan.
Entah harus bersyukur atau bahagia, karena aku bisa bercinta dengan pria tampan seperti ini.
Jika aku gambarkan wajahnya, tentunya semua kalangan wanita akan menjerit histeris karena ketampanannya.
Alisnya tebal berwarna hitam, namun masih dalam garis yang teratur. Hidungnya mancung seperti pahatan patung dewa yunani, bibirnya tipis merah bersemu coklat, mungkin akibat terlalu banyak zat nikotin yang dihisapnya.
Matanya, aku tak mampu menggambarkan dengan jelas. Karena, dia masih terpejam dengan nafas yang teratur.
Melihat lengan kekar berhias tato dari bahu sampai ke lengan bagian atas, membuatku ingin bergelayut manja di sana. Tapi, itu tidak mungkin aku lakukan. Karena, pilihan yang paling tepat saat ini adalah pergi dari apartemen mewahnya.
Aku tidak ingin dia mengenaliku setelah kesadarannya kembali, lalu aku segera turun dari ranjang dengan langkah yang mengendap-endap agar tidak mengusik tidurnya.
Segera aku pakai bajuku yang berserakan di lantai akibat aksi panas kami semalam.
Setelah rapi mengenakan pakaian, kulihat ponselku dari dalam tas, ternyata banyak panggilan masuk dan beberapa chat whatsapp dari Bella.
...[Bella]...
Gue udah sampe rumah. Nungguin lo jemput kelamaan
Lo dimana?
11.30 pm
Sial! Pantas saja semalam aku cari Bella gak ketemu, ternyata dia sudah pulang lebih dulu, dan ironisnya aku harus terjebak dalam one night stand.
Aku segera berlari menuju kamar mandi untuk cuci muka, agar wajahku nampak lebih segar. Kemudian secepat mungkin aku keluar dari apartemen yang tak ingin aku ingat lagi seumur hidupku.
Anggap saja kejadian semalam adalah mimpi buruk yang mengharuskan aku untuk segera bangun serta kembali ke dunia nyata, tepatnya kembali ke rumah Bella untuk melanjutkan kembali tujuanku datang ke Jakarta.
•••
Like and comment yah 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Mariani Sitepu
Waduh jenny kok terhebat dgn itu sih
2020-04-20
1
Marlina Yulita
jeni jeni 😙😙😙😙
2020-04-14
1
syafa
suka thor krn dg begini reader ngerasa low jeny udah move on
2020-04-12
2