Saat matahari telah terbit, semua prajurit kerajaan Khronos tampak bersiap untuk melakukan penyerangan pada kerajaan Bibury. Spencer dan panglima Heren sibuk mengatur semua prajurit dan mengecek kelengkapan senjata mereka masing-masing. Kemudian setelah semuanya dirasa sudah siap, Spencer segera bergegas untuk memberitahukannya pada Aiden di tenda milik rajanya itu, tapi ketika Spencer masuk ke dalam tenda itu, Aiden sama sekali tidak berada di sana. Tenda besar itu kosong dan tampak belum tersentuh sama sekali. Bahkan, wine yang semalam dituangkan oleh Spencer untuk Aiden sama sekali belum diminum oleh pria itu. Dengan panik, Spencer mulai mencari panglima Heren dan seluruh pejabat lain yang ikut berperang untuk merundingkan masalah ini.
"Panglima Heren, kita harus melakukan rapat sekarang." ucap Spencer terburu-buru ketika memasuki tenda pria itu. Merasa bingung, panglima Heren langsung mengangkat kedua alisnya ke arah Spencer sambil memasukan pedangnya ke dalam sarung pedang yang berada di pinggangnya.
"Ada apa? Apa raja memerintahkan kita untuk melakukan rapat? Apa kerajaan Bibury menolak surat tantangan kita?" tanya panglima Heren bertubi-tubi. Dengan cepat Spencer menggeleng dan langsung memberitahukan semuanya pada panglima muda itu, semua hal mengenai hilangnya raja mereka pagi ini.
"Kita harus mengadakan rapat dengan para pejabat yang lain karena Yang Mulia Aiden menghilang. Pagi ini ia tidak berada di tendanya dan wine yang semalam kusajikan untuknya pun sama sekali tidak disentuh olehnya, itu berarti raja sudah pergi dari tendanya sejak semalam. Tapi, yang menjadi masalah adalah apakah raja pergi sendiri karena kehendaknya ataukah raja telah diculik oleh sekelompok orang yang tidak menyukainya? Karena menurut mata-mata yang telah diselundupkan oleh raja Aiden ke dalam kelompok pemberontak, mereka sejak kemarin telah berada di kerajaan Bibury untuk mencari perlindungan dari raja Andrew, jadi tidak menuntup kemungkinan jika semalam beberapa anggota dari kelompok pemberontak itu datang mengendap-endap untuk menculik raja."
"Sebaiknya kau kumpulkan para pejabat yang lain terlebihdahulu untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Aku akan memerintahkan pasukanku untuk mencari petunjuk di sekitar sini, karena menurutku raja Aiden sama sekali tidak diculik, mungkin ia sedang pergi karena ia memiliki suatu kepentingan yang mendesak."
Spencer mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan segera keluar dari tenda milik panglima Heren untuk memberitahukan berita penting ini pada seluruh pejabat kerajaan yang ikut berperang.
Sementara itu, panglima Heren langsung memerintahkan seluruh anak buahnya untuk melakukan penyisiran di sepanjang hutan dan mencari adanya tanda-tanda atau jejak yang mungkin saja ditinggalkan oleh raja mereka. Lalu ketika panglima Heren tidak sengaja melewati tenda raja, pria itu langsung menyadari sesuatu, kuda milik sang raja tidak ada di sana, itu berarti sang raja memang berinisiatif untuk pergi sendiri tanpa memberitahu Spencer karena ia memiliki masalah yang mendadak. Dengan cepat, panglima Heren segera mencari Spencer untuk memberitahukan informasi ini pada pria tersebut. Tapi saat ia tiba di dekat tenda milik Spencer, bersamaan dengan itu seorang mata-mata yang selama ini telah disusupkan ke dalam kelompok pemberontak datang dan mengatakan jika kelompok pemberontak dan prajurit kerajaan Bibury yang lain sedang bersiap untuk menyerang raja Aiden yang saat ini sedang berada di dalam istana kerajaan Bibury untuk menyelamatkan Calistha. Mendengar berita itu, tanpa pikir panjang panglima Heren segera memerintahkan anak buahnya untuk bersiap.
"Kita harus berangkat sekarang, jangan sampai mereka melukai raja kita." ucap panglima Heren tegas. Spencer dan pejabat yang lain pun segera bersiap dengan kuda mereka masing-masing untuk masuk ke dalam wilayah kerajaan Bibury. Namun selama perjalanan, Spencer tampak begitu gelisah dan was-was. Penyusup yang ditugaskan oleh Aiden untuk menyamar ke dalam kaum pemberontak itu memberitahunya jika semua penyerangan ini dikomando oleh Gazelle, dan menurut penyusup itu Gazelle tampak begitu berambisi untuk menghabisi sang raja serta Yang Mulia ratu, hal itu tentu saja membuat Spencer gelisah, karena Gazelle akan berada dalam bahaya jika wanita itu ada dalam pertempuran ini. Wanita itu pasti akan habis di tangan Aiden jika sampai Aiden menemukannya diantara para prajurit kerajaan Bibury dan para kaum pemberontak.
-00-
Gazelle membuka matanya perlahan sambil menguap beberapa kali. Wanita itu dengan semangat langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Meskipun matahari belum terbit sepenuhnya, tapi ia berniat untuk mengadakan rapat dengan anggota kaum pemberontak yang lain. Ia lalu segera berpakaian dengan rapi dan bersiap untuk keluar dari kamarnya. Tapi, ketika ia akan berjalan keluar, ia melihat kamar di sampingnya, yaitu kamar Calistha tampak terbuka. Tanpa berpikiran apapun Gazelle segera berjalan menuju kamar Calistha untuk bertemu dengan wanita itu. Namun ketika ia hendak melangkah masuk, gerakannnya seketika terhenti saat ia
melihat ada banyak darah yang berceceran di atas lantai marmer putih itu. Di sudut ruangan ia dapat melihat tubuh raja Andrew dengan kepala yang sudah terlempar jauh dari tubuhnya tergolek dengan begitu mengerikan dan mengenaskan. Meskipun ia hendak memekik, tapi semua itu diurungkannya setelah ia melihat Calistha dan Aiden sedang berciuman dengan begitu panas di atas sofa yang berada di tengah-tengah kamar wanita itu. Tiba-tiba hatinya merasa sakit dan remuk. Meskipun ia telah mengatakan pada semua orang jika ia sangat membenci
Aiden dan ingin menghancurkan pria itu, tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai pria kejam itu. Ia masih memiliki rasa yang begitu dalam padanya. Tapi sebesar apapun cintanya, itu tidak akan membuat Aiden menoleh ke arahnya, karena pria itu sudah terlanjur bertekuk lutut pada Calistha.
"Max, cepat bangunlah. Kita harus segera menghimpun pasukan." teriak Gazelle lantang sambil mengguncang-guncangkan bahu Max keras. Max yang merasa terusik langsung membuka matanya sambil menatap Gazelle dengan bingung.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi di luar sana?" tanya Max dengan suara parau. Ia kemudian berdeham beberapa kali sambil merentangkan tangannya yang kaku sehabis tidur.
"Ya, kita harus segera mengumpulkan semua prajurit kerajaan Bibury dan semua anggota kaum pemberontak. Kita telah dikhianati Max. Calistha mengkhianati kita dengan berpura-pura terluka dan membenci Aiden, tapi nyatanya mereka saat ini sedang berciuman dengan begitu mesra di kamarnya, dan juga raja Andrew sekarang telah tewas. Pria itu mati dipenggal oleh Aiden, dan saat ini jasadnya masih berada di dalam kamar Calistha. Max, kita harus bergerak cepat, sebelum Calistha dan Aiden pergi meninggalkan kerajaan ini. Mereka harus mati." ucap Gazelle menggebu-gebu.
"Apa kau yakin jika Calistha telah melakukan hal itu? Aku... merasa itu tidak benar. Aku sangat mengenal Calistha, dan selama ini ia tidak pernah mengkhianatiku sedikitpun. Mungkin saja kau salah menilai, mungkin saja sesuatu telah terjadi dan Aiden datang ke kerajaan ini." ucap Max mencoba menyangkal. Gazelle tampak geram di depannya dan setelah itu Gazelle langsung mencengkeram kerah kemeja Max sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu keras.
"Sadarlah Max! Kau telah diperdaya oleh Calistha dengan sikapnya yang terlihat polos dan manis itu. Jika kau tidak mempercayaiku, kau bisa keluar dan melihat semuanya sendiri dengan mata kepalamu!"
"Keluarlah, aku percaya padamu. Sekarang biarkan aku bersiap sebentar, dan aku akan menemuimu di aula. Kau kumpulkan semua prajurit terlebih dahulu." ucap Max dingin. Melihat Max yang telah masuk kedalam hasutannya, Gazelle langsung bersorak girang. Dengan langkah ringan ia segera berjalan menuju kediaman panglima perang kerajaan Bibury, karena hari ini ia harus mempersiapkan seluruh prajurit Bibury untuk peperangan yang pastinya akan sangat dahsyat hari ini, karena jika Aiden telah berada di kerajaan ini, sudah dapat dipastikan jika saat ini pasukannya pasti sedang menunggu di perbatasan kerajaan Bibury. Oleh karena itu, sebelum prajurit kerajaan Khronos masuk ke dalam kerajaan Bibury, ia sudah harus melenyapkan kedua manusia tak berguna itu dari dunia ini.
"Kalian akan segera mati di tanganku." gumam Gazelle penuh tekad dengan seringaiannya yang mengerikan.
-00-
Aiden melepaskan tautan bibirnya dari Calistha sambil memandang wajah cantik itu dalam. Setelah ia melampiaskan semua rasa marah dan sakitnya pada Calistha, kini hatinya menjadi tenang dan dingin kembali. Entah sihir apa yang digunakan oleh wanita itu untuk mendinginkannya, yang jelas ia benar-benar memberikan sebuah ketenangan untuknya.
"Apa kau puas?" sembur Calistha sinis sambil mengusap bibirnya yang sedikit bengkak. Aiden kemudian membantu Calistha mengusap bibir wanita itu dengan tangannya, namun hal itu justru membuat jantung Calistha kembali beredetak kencang dan gugup.
"Sepertinya kau gugup." ucap Aiden santai. Mendengar hal itu Calistha semakin menundukan kepalanya dalam, ia merasa malu untuk menatap wajah Aiden dengan wajahnya yang pasti akan terlihat bodoh di depan pria itu. Aiden menarik dagunya untuk mendongak, dan sebelum Aiden melepaskan Calistha dari pangkuannya, pria itu
menyempatkan diri untuk mencium bibir bengkak itu sekilas sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Sebenarnya aku sama sekali belum puas, tapi kita harus segera keluar dari sini karena kita sedang
kedatangan tamu di luar." bisik Aiden sensual. Sungguh rasanya Calistha ingin mencakar wajah menyebalkan itu dengan kuku-kukunya yang tajam. Berani-beraninya pria itu menggodanya dengan tatapan genit yang menjijikan
seperti itu. Awas saja, setelah ini ia pasti akan membalas pria itu dengan pembalasan yang lebih keji.
"Berhentilah untuk mengumpatiku. Ambil ini." Aiden memberikan pedang emasnya pada Calistha yang langsung dibalas wanita itu dengan tatapan bingung.
"Ini untuk apa?"
"Kau bisa menggunakan pedang bukan?" tanya Aiden lagi. Calistha sudah bersiap untuk meneriaki pria itu dengan kata-kata kasarnya, sebelum Aiden membungkam bibirnya dengan kata-katanya yang tegas.
"Kita akan berperang dengan prajurit kerajaan Bibury dan kaum pemberontak."
"Apa? Tidak tidak, kau pasti sedang bercanda. Mengapa kau justru mengambil keputusan sepihak seperti ini? Apakah belum cukup kau membunuh raja Andrew? Walaupun raja Andrew memang pantas untuk dibunuh, tapi kau jangan melibatkan nyawa-nyawa lain yang tidak bersalah. Bagaimana dengan penduduk kerajaan Bibury yang selama ini hidup tenang? Mereka pasti akan sangat sedih dengan peperangan ini." ucap Calistha marah. Aiden tampak tak peduli dengan teriakan Calistha. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya pada kemungkinan yang paling buruk yang akan dihadapainya nanti. Ia kemudian mengangkat sedikit jubah kebesarannya untuk mengambil sebuah belati yang ia sembunyikan di balik jubah yang ia kenakan. Sebagai seorang raja, ia harus selalu siap dengan menyiapkan senjata tambahan untuk melawan musuh-musuhnya di medan perang.
"Ayo." ajak Aiden dengan suara datar. Calistha menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan tampak bergeming di tempatnya. Ia sama sekali tidak mau pergi bersama Aiden jika pada akhirnya pria itu hanya mengajaknya untuk menumpahkan darah di luar sana. Lebih baik ia tinggal di kerajaan ini asalkan ia tidak perlu mengangkat senjata untuk melenyapkan nyawa-nyawa yang tidak bersalah itu.
"Calistha, jangan coba-coba untuk membantah jika kau tidak tahu apa yang sedang terjadi." geram Aiden gusar. Namun, Calistha tampak tidak peduli. Ia justru berjalan menuju kursi panjang di tengah-tengah ruangan dan berbaring di sana layaknya seorang putri yang angkuh.
"Aku tidak akan pergi denganmu."
"Kuperintahkan kau untuk berdiri sekarang atau kau akan menyesalinya Calistha." geram Aiden dengan suara penuh penekanan. Dan saat Calistha sedang mengayun-ayunkan pedang itu dengan santai, sekelompok orang masuk ke dalam kamarnya dengan membawa berbagai macam senjata. Orang-orang itu yang merupakan anggota kaum pemberontak langsung menyerang Aiden dengan membabi buta hingga Aiden sedikit kewalahan. Sedangkan Calistha yang awalnya merasa terkejut, langsung melompat turun dari atas kursi itu untuk membantu Aiden. Sebisa mungkin wanita itu mencoba mengajak kaum pemberontak itu untuk berdiskusi, tapi mereka justru mengayunkan pedangnya ke arah Calistha dan berhasil mengenai pundak Calistha hingga pundak itu meneteskan darah segar berwarna merah pekat.
"Ahh, apa yang kalian lakukan? Bukankah kita berada di pihak yang sama?" tanya Calistha dengan rintihan tertahan. Aiden yang mengetahui Calistha sedang terluka, langsung mengarahkan serangannya pada kaum pemberontak itu hingga si penyerang jatuh berlutut di hadapannya karena Aiden berhasil menebas kaki kaum pemberontak itu hingga terluka cukup parah.
"Kau bukan bagian dari kami lagi, kau adalah pengkhianat!" maki pria itu tanpa gentar. Merasa geram, Aiden kemudian langsung menebas kepala pria itu dengan pedangnya yang ia rebut dari tangan Calistha.
"Sudahlah, sekarang bukan saatnya untuk meratapi nasib. Kita harus keluar dari kerajaan ini dan kembali ke Khronos. Ini, gunakan pedangku untuk melindungimu, karena aku pasti tidak akan bisa melindungimu di sana." ucap Aiden tegas. Calistha kemudian mendongakan wajahnya ke arah Aiden sambil menahan tetesan air matanya yang hampir jatuh.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membunuh mereka? Aku tidak yakin apakah aku bisa melakukannya. Mereka pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak bisa melakukannya." ucap Calistha terisak isak sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Melihat itu, Aiden hanya mampu menghembuskan napasnya pelan sambil menarik Calistha ke dalam pelukannya. Saat ini di luar sana sedang terjadi pertempuran, dan seharusnya ia berada di barisan terdepan untuk memimpin seluruh prajuritnya, tapi ia tiak bisa meninggalkan Calistha dalam keadaan seperti ini.
"Wanita memang makhluk yang sangat membingungkan." batin Aiden gusar. Setelah Calistha tenang, Aiden mulai mencoba membujuk Calistha agar wanita itu tidak terus menerus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun ia sama sekali belum pernah membujuk seorang wanita, tapi kali ini ia akan melakukannya demi Calistha. Demi ratunya, demi pendamping hidupnya.
"Tenanglah, semua ini bukan salahmu. Kau hanyalah korban dari kelicikan seorang iblis yang begitu jahat di luar sana. Jadi, sekarang kau harus menemukan iblis itu dan membalaskan dendammu padanya karena ia telah merusak nama baikmu. Ia telah menyebarkan berita buruk tentangmu dan menyebabkan peperangan ini terjadi."
"Siapa?"
"Aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Kau harus menemukannya sendiri diantara para prajurit yang sedang berperang. Tapi, tanpa kau mencarinya pun, ia pasti akan datang padamu dengan sendirinya untuk membunuhmu."
"Baiklah, mari kita mencari iblis itu."
Kali ini usaha Aiden untuk membujuk Calistha berhasil. Dengan mata yang berkilat-kilat marah, Calistha segera berdiri dari duduknya sambil mengacungkan pedang itu ke depan. Ia tampak sudah siap untuk berperang hari ini.
"Ingat, kau tidak boleh pergi ke mana-mana dan tetap berada di belakangku. Aku akan mencarikan jalan keluar yang aman untuk keluar dari kerajaan ini."
Calistha mengangguk paham dan segera berjalan keluar dengan langkah mantap. Saat mereka berada di lorong yang menghubungkan dengan aula, suasana di sana sudah tampak kacau balau. Beberapa mayat prajurit Bibury sudah bergelimpangan di atas lantai marmer dengan darah mereka yang masih mengucur dengan deras dari dada maupun kepala. Calistha kemudian menghela napasnya sekali lagi untuk menguatkan dirinya.
"Tuhan, apapun yang terjadi, tolong lindungilah orang-orang yang kusayangi." batin Calistha pelan sambil melirik pada tubuh tegap Aiden dengan perasaan ragu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments