Malam harinya, Aiden masih tampak terjaga sambil menyesap segelas anggur merah. Pria itu terlihat memejamkan mata dan mulai mengingat masa-masa indahnya yang sudah lama terlupakan. Suara tawa dan teriakan yang begitu nyaring memenuhi rongga kepalanya ketika ia mengingat kembali masa lalunya yang bahagia. Saat itu ayah dan ibunya masih hidup dan mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan penuh kebahagiaan. Setiap pagi ia selalu mencium aroma pai apel yang begitu harum hasil masakan ibunya. Meskipun ibunya adalah ratu, tapi ibunya sering pergi ke dapur untuk membuat seloyang pai apel kesukaannya. Setelah itu ibunya akan menyelinap masuk ke dalam kamarnya sambil menggodanya dengan aroma pai apel yang begitu harum dan gurih, perpaduan antara harum kayu manis, harum apel yang sedikit asam, serta aroma gurih mentega, semua itu tak akan pernah ia lupakan. Karena hal itu adalah kenangan paling indah dalam hidupnya, sebelum musuh-musuh ayahnya mengirimkan kutukan mengerikan itu padanya dan membuat ayah ibunya meninggal dengan mengenaskan.
Prang!!
Tiba-tiba Aiden menjatuhkan gelas winenya sambil mengerang kesakitan. Lagi-lagi ia harus merasakan siksaan yang sangat mengerikan itu. Setiap malam Aiden akan merasakan sakit kepala dan ia akan melihat hal-hal lain di dalam kepalanya. Sesuatu seperti masa depan yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.
"Argghh, sial! Mereka memiliki rencana untukku." erang Aiden sambil terus memegangi kepalanya yang terasa bagai ditusuk seribu pedang.
Aiden's Mind
Seorang pria yang tampak terluka dan seorang wanita paruh baya sedang berjalan tertatih-tatih menembus hutan terlarang yang begitu lebat. Suasana disekitar mereka begitu gelap dan mencekam, membuat wanita paruh baya itu menggigil ketakuta. Tapi, sang putra tampak begitu tenang, karena ia sudah terbiasa masuk ke dalam hutan terlarang untuk berburu. Namun, luka tusuk yang menganga di perutnya membuat pria itu menggingil kesakitan setiap ia memakasakan diri untuk menggerakan kakinya. Disebelahnya sang ratu menatap putranya prihatin sambil menyuruh putranya untuk beristirahat sebentar karena ia merasa begitu lelah.
"Max, kita berhenti sebentar di sini, ibu sangat lelah." ucap sang ratu sambil membantu Max untuk duduk di atas sebuah dahan pohon yang telah tumbang. Max terengah-engah sambil merintih tertahan karena luka di perutnya begitu dalam dan memerlukan pertolongan segera. Hanya saja di hutan ini sama sekali tidak ada seorang pun manusia yang lewat, yang bisa mereka mintai pertolongan, sehingga untuk sementara Max harus bersabar dan mencoba melupakan rasa sakitnya dengan memejamkan matanya.
"Ibu sangat membenci wanita murahan itu. Seharusnya sejak awal ayahmu tidak menerimanya untuk meminta perlindungan pada kerajaan kita." marah ibunya lagi untuk yang kesekian kalinya. Max kemudian membuka matanya sambil menatap ibunya dengan tatapan sayu. Ia sungguh lelah mendengarkan semua gertuan ibunya yang sangat mengganggu itu. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak untuk meredakan kemarahan ibunya, karena dirinya sendiri sekarang merasa begitu kepayahan dengan luka tusuk yang menganga di perutnya.
"Max, apa kau baik-bik saja? Kenapa kau hanya diam?" tanya ibunya panik sambil mengguncang-guncang bahu putranya. Dengan gusar Max langsung membuka matanya sambil menatap ibunya tajam.
"Ibu, tolong berhentilah untuk mengusik ketenanganku. Aku sedang mencoba untuk menghalau rasa sakit yang sedang kurasakan. Dan tolong berhentilah untuk mengumpati Calistha, karena semua ini bukan salahnya." ucap Max lemah. Tapi, sang ibu justru mendengus tidak suka pada putranya karena ia jelas-jelas masih memihak Calistha setelah apa yang wanita itu lakukan padanya dan pada kerajaanya yang berharga.
"Kenapa kau selalu membela Calistha. Ia hanya wanita murahan yang berpura-pura meminta perlindungan pada kerajaan kita dan setelah itu ia bersekongkol dengan raja Aiden untuk menghancurkan kita semua. Apa kau tidak pernah menyadari hal itu!" bentak ibunya marah. Rupanya kemarahannya pada Calistha telah sampai ke ubun-ubunya, sehingga akan sulit bagi Max untuk memberikan penjelasan pada ibunya yang telah diselimuti oleh kebencian itu.
"Calistha bukan gadis seperti itu. Ia adalah gadis yang baik. Calistha pergi karena ibu yang meminta raja Aiden untuk membawanya. Kenapa ibu melakukan hal itu? Padahal seharusnya kita melindunginya dan mempertahankannya." Ucap Max merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Sang ratu kemudian kembali menatap putranya dengan wajah marah dan tidak percaya. Setelah apa yang dilakukan Calistha pada kerajaannya,
pria itu masih saja membela wanita murahan itu, membuatnya merasa dongkol pada putranya sendiri. Lagipula, jika ia tidak menyerahkan Calistha pada raja kejam itu, maka putranya yang akan menjadi sasaran. Tentu saja ia tidak ingin hal itu terjadi. Jadi ia lebih baik menyerahkan Calistha yang sama sekali tidak berharga itu pada raja Aiden.
"Sudahlah, ibu tidak mau membahas wanita murahan itu lagi. Pasti sekarang ia sedang menertawakan kita dari balik dinding istana kerajaan Khronos yang megah itu. Jika ibu memiliki kesempatan, ibu pasti akan membunuh Calistha dengan tangan ibu sendiri." janji ibunya penuh tekad yang hanya diabaikan begitu saja oleh Max. Ia tidak ingin memperpanjang konfrontasi dengan ibunya lagi, jadilebih baik ia diam saja sambil memejamkan matanya yang lelah.
Srek srek srek
Tiba-tiba semak-semak disekitar mereka bergerak dengan begitu berisik. Sang ratu yang mendengar
adanya suara gemerisik dari daun-daun di belakangnya menjadi panik dan langsung memeluk Max. Ia pikir itu adalah para prajurit kerajaan Khronos yang sedang berpatroli, tapi setelah orang itu menunjukan wajahnya, kedua manusia itu menjadi sedikit lebih tenang, namun tetap menjaga kewaspadaan mereka.
"Siapa kau?" Tanya Max mencoba berdiri dari duduknya, namun pergerakannya langsung terhenti begitu saja karena ia merasa luka di perutnya terasa begitu perih dan menyakitkan, hingga akhirnya ia kembali terduduk di atas tanah sambil mengerang kesakitan.
"Maaf jika aku mengejutkan kalian. Aku Gazelle, salah satu anggota dari pemberontak yang sangat membenci kerajaan Khronos. Kudengar kalian juga membenci kerajaan itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Gazelle lembut penuh tipu daya. Sang ratu yang melihat bahwa Gazelle tidak berbahaya langsung menarik Gazelle
untuk duduk di sebelahnya dan mendengar semua ceritanya.
"Syukurlah jika kau bukan prajurit kerajaan Khronos yang sedang berpatroli. Aku adalah ratu kerajaan Hora, dan ini adalah putraku Max."
"Oh, Yang Mulia maafkan hamba."
Tiba-tiba Gazelle langsung berlutut dihadapan sang ratu dan Max, namun segera ditarik oleh ratu Hora karena ia merasa Gazelle tidak perlu membungkuk hormat padanya lagi, karena ia sekarang hanyalah seorang gelandangan.
"Ah tidak perlu. Duduklah di sebelahku, sekarang aku dan putraku bukan anggota kerajaan lagi, kami sekarang telah menjadi gelandangan karena raja kejam itu menyerang kerajaan kami dan mengambil semua harta kami tanpa tersisa." ucap ratu mulai berapi-api lagi. Gazelle tampak tersenyum sinis di sebelah sang ratu, namun hal itu sama sekali tak luput dari mata elang Max. Pria itu tahu jika ada sesuatu yang ganjil dalam diri Gazelle, tapi ia belum bisa menyimpulkan hal itu sekarang, karena semuanya masih sangat buram untuk dilihat.
"Kelompok kami juga baru saja diserang oleh pasukan raja Aiden, tapi kami berhasil melarikan
diri sebelum prajurit kerajaan Khronos berhasil membunuh kami semua. Sekarang kami semua sedang mendirikan perkemahan kami di luar hutan terlarang di bagian barat daya. Jika anda mau, anda dan pangeran Max bisa bergabung bersama kami. Dan.. tabib kami dapat mengobati luka pangeran Max." ucap Gazelle lembut dan tampak menggiurkan. Ratu kemudian segera menggenggam tangan Gazelle sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali. Bahkan, sang ratu juga memberikan pelukan hangatnya pada Gazelle karena wanita itu telah datang disaat yang tepat. Disaat mereka berdua benar-benar membutuhkan pertolongan dan sedang membutuhkan sekutu untuk membalas raja Aiden.
"Terimakasih banyak atas kemurahan hatimu, kami berdua tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun." ucap sang ratu gembira. Gazelle kemudian segera membantu Max untuk berdiri dan mulai memapah Max untuk menuju perkemahannya. Sejenak Max memperhatikan raut wajah Gazelle yang tampak begitu tenang di sampingnya. Ia merasa jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan ibunya. Tapi, lagi-lagi ia belum bisa melihatnya dari wajah wanita itu. Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba Gazelle memalingkan wajahnya ke arah Max sambil tersenyum misterius. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, hingga akhirnya Max memutuskan untuk mengakhiri kontak mata mereka dan memilih untuk memandang jalanan di depannya yang tampak gelap gulita. Namun, tiba-tiba Max merasakan Gazelle membisikan sesuatu di dekat telinganya dengan nada yang begitu mengerikan dan penuh dendam.
"Kau dan aku, kita pasti akan menjadi partner yang hebat untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita." Bisik Gazelle pelan sebelum ia menatap lurus ke arah jalanan pekat di hadapannya, tanpa mempedulikan kernyitan bingung di dahi Max yang terus memikirkan perkataanya dengan perasaan curiga.
Aiden's Mind End
Aiden terengah-engah sambil mencoba untuk menormalkan degup jantungnya yang menggila. Lagi-lagi
kepalanya memutarkan kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia ketahui, jika pada akhirnya ia harus membayar keingintahuan itu dengan kesakitan yang begitu mengerikan di dalam kepalanya. Aiden kemudian mencoba bersandar pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya perlahan. Sekarang ia telah mengetahui apa yang direncanakan oleh Gazelle bersama kelompok pemberontaknya, besok ia akan meminta Spencer untuk mengawasi Gazelle dan mengirimkan salah satu prajurit terbaiknya untuk menyamar ke dalam kelompok
itu, karena mereka sepertinya akan sedikit merepotkan kerajaanya dan juga dirinya. Tiba-tiba sebuah tangan yang hangat menyentuh kulit wajahnya dengan lembut, hingga membuat Aiden merasa terbuai dengan sentuhan lembut nan menenangkan itu. Tapi, ketika ia menyadari jika ternyata sentuhan itu bukan halusinasinya, Aiden langsung membuka matanya waspada sambil memandang sang pemilik tangan dengan tatapan tajamnya yang menusuk.
"Aa.. apa kau baik-baik saja? Kenapa waktu di kerajaan ini seakan-akan berhenti?" tanya Calistha panik sambil memandang takut pada tatapan mata Aiden yang sedang menatapnya dengan tajam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments