The Lost Queen (Seventeen)

        Aiden memandang kosong pada langit-langit gelap di dalam kamarnya sambil menghela napas berkali-kali. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu menyesal dengan keputusannya sendiri. Sekarang ia telah melepaskan Calistha bersama dengan orang-orang jahat di luar sana. Meskipun ia tahu jika Calistha adalah wanita yang kuat dan dapat menghadapi semua rintangan di luar sana, tapi tetap saja ia merasa khawatir dengan keselamatan wanita itu. Apalagi ia merasa sudah terlalu frustrasi untuk menyakinkan wanita itu agar mau menerimanya dengan tangan terbuka. Memangnya apa yang salah dengannya? Mengapa Tuhan memberikan kutukan ini padanya? Tidak cukupkah ia mengalami berbagai macam kesakitan di masa lalu? Tidak cukupkah semua penderitaan ini memuaskan para raja yang telah membunuh kedua orangtuanya dengan kejam?

        "Yang Mulia."

        Tiba-tiba lamunannya buyar begitu saja saat Spencer tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya sambil menunduk hormat. Dengan sigap Aiden segera menegakan tubuhnya dan ia langsung mengeraskan wajahnya di depan Spencer. Pria itu sepertinya akan menyampaikan berita buruk padanya karena mimik wajahnya terlihat begitu ketakutan dan merasa bersalah.

        "Ada apa? Bagaimana pencarian kalian hari ini?"

        "Maafkan saya Yang Mulia. Panglima Heren dan para prajurit kehilangan jejak Yang Mulia ratu dan kedua temannya di dalam hutan perbatasan. Tapi, menurut analisa panglima Heren, Yang Mulia ratu dan yang lainnya mungkin akan pergi menuju kerajaan Bibury untuk meminta perlindungan. Selain itu mata-mata yang telah anda perintahkan untuk mengawasi gerak-gerik kaum pemberontak mengirimkan surat jika saat ini para kaum pemberontak sedang berada di kerajaan Bibury untuk meminta perlindungan dari raja Andrew. Besar kemungkinan jika setelah ini raja Andrew dan kaum pemberontak itu akan bersatu untuk menyerang kerajaan Khronos." jelas Spencer gamblang. Aiden mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan kedua matanya yang berkilat merah, pertanda jika jiwa pembunuhnya mulai bangkit dari dalam dirinya. Setelah ini ia pasti akan melampiaskan semua kemarahannya pada kerajaan itu. Kerajaan yang sebenarnya tidak pernah diusik oleh Aiden karena kerajaan itu memiliki catatan bersih dan sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan kedua orangtuanya. Tapi, sekarang kerajaan itu telah melakukan kesalahan dengan menerima kaum pemberontak itu dan akan menyerang kerajaannya.

        "Siapkan seluruh prajurit. Besok kita akan mendatangi kerajaan Bibury dan menyerang kerajaan itu." perintah Aiden tegas dan dingin. Mendengar perintah rajanya yang begitu tegas itu, Spencer langsung mengangguk patuh dan meminta ijin pada raja Aiden untuk keluar dan menyiapkan semuanya.

        Setelah Spencer keluar dari ruangannya, Aiden mulai memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Namun, tiba-tiba saja ia telah berada di sebuah padang bunga daisy yang begitu indah. Ia tahu jika ini tidak nyata. Semua ini hanya mimpi dan mimpi ini milik orang lain yang telah memikirkannya dengan begitu

keras hingga ia tertarik ke dalam mimpi ini tanpa sengaja. Dengan langkah pasti Aiden mulai mencari sang pemilik mimpi. Sebenarnya ia sudah tahu milik siapa mimpi ini, tapi untuk memastikannya ia ingin mencari wanita itu secara langsung dan mengejutkannya dengan kemunculannya yang pasti tidak akan pernah diduga oleh wanita itu.

        Samar-samar Aiden melihat seorang wanita dan seorang pria sedang duduk di atas sebuah bangku kayu

yang berada di tengah-tengah padang bunga. Dengan marah dan tangan terkepal, Aiden langsung berjalan cepat menghampiri wanita itu yang sedang bersandar dengan begitu nyamannya di pundak seorang pria yang berada di sampingnya. Ketika langkahnya semakin dekat dengan wanita itu, Aiden langsung mengeluarkan pedangnya yang selalu berada di pinggangnya. Dan dengan sekali tebasan Aiden langsung menumbangkan pria itu dengan kepala yang telah terpisah dari tubuhnya dan membuat sang wanita menjerit terkejut di sebelahnya.

        "Apa yang kau lakukan pada Max? Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Calistha marah pada Aiden. Pria itu dengan tatapan datar berjalan mendekati Calistha sambil menginjak tubuh Max begitu saja yang terkapar tak berdaya di atas tanah dengan darah segar yang mengotori puluhan kelopak bunga daisy yang berwarna putih.

        "Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi. Aku muak dan aku sangat membencimu." marah Calistha berapi-api hingga air matanya merembes keluar dari kedua matanya karena ia merasa begitu marah dan sesak. Tapi, Aiden sama sekali tak bergeming di tempatnya dan justru menarik tangan Calistha dengan kasar untuk duduk di sebelahnya.

           "Bagaimana aku bisa pergi jika kau yang memanggilku ke sini? Apa kau sedang memikirkanku?" tanya Aiden datar, namun sesuatu yang hangat saat ini sedang menyusup di dalam hatinya. Ia merasa begitu gembira ketika mengetahui jika Calistha sedang memikirkannya. Tapi, mengingat wanita itu sedang bersama Max di dalam mimpinya, membuat Aiden menjadi marah karena selain memikirkan dirinya, wanita itu juga sedang memikirkan Max di dalam kepalanya, hingga terbawa mimpi.

        "Memikirkanmu? Huh, yang benar saja. Aku hanya merasa penasaran denganmu, mengapa kau begitu sulit untuk dipahami dan semua orang yang mendukungmu selalu mengatakan jika kau pasti memiliki alasan tersendiri atas semua sikap kejammu selama ini. Dengan seenaknya, mereka terus menyudutkanku dan memaksaku untuk menerimamu sebagai suamiku agar kau terbebas dari kutukan sialanmu itu. Mengapa mereka sama sekali tidak dapat memahami perasaanku dan hanya terus mendorongku. Kumohon lepaskan aku. Pasti ada wanita lain yang benar-benar menjadi takdirmu dan akan menerimamu dengan sepenuh hati. Bukankah di dunia ini penuh dengan wanita. Bahkan jumlah wanita jauh lebih banyak daripada jumlah laki-laki, hingga kaum pria dapat dengan seenaknya menikahi beberapa wanita sekaligus demi memuaskan hasrat binatang mereka." ucap Calistha berapi-api di depan Aiden. Tapi Aiden sama sekali tidak terpengaruh dengan semua ucapan itu, dan ia justru menatap Calistha tajam sambil mencengkeram rahang Calistha kuat-kuat, membuat Calistha meronta-ronta kesakitan di dalam cengkeraman pria itu.

        "Andai aku bisa melakukannya, maka aku tidak akan memohon-mohon seperti seorang pengemis yang memintamu untuk menjadi isteriku. Sayangnya Tuhan hanya menciptakan satu wanita yang dapat menyembuhkan kutukan sial ini dari dalam diriku, dan itu adalah kau, bukan wanita lain. Dan asal kau tahu, aku bahkan tidak pernah ingin menikah dengan putri seorang pembunuh sepertimu. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain dan harus tetap menerima semua kenyataan pahit ini. Andai saja bukan kau yang menjadi takdirku, maka kedua orangtuaku tidak akan mati sia-sia di kerajaanmu saat mereka memohon-mohon pada kedua orangtuamu yang angkuh itu untuk

menikahkan putrinya denganku. Jadi, aku akan menjelaskan semuanya padamu sekarang, sebenarnya ayah dan ibumu serta semua raja yang kerajaanya telah kuhancurkan dengan sangat kejam itu adalah orang-orang jahat yang telah bersekongkol untuk menghancurkan kerajaanku. Mereka sengaja mendatangi seorang penyihir sakti untuk mengirimkan kutukan itu padaku karena mereka iri dengan kehidupan kerajaan kami yang makmur dan sejahtera. Tapi, setelah mereka mendengarkan sebuah ramalan kuno yang mengatakan jika kekuasan Khronos akan bangkit kembali setelah sang pangeran yang terkutuk menikahi seorang wanita dengan tanda jam

pasir di pundaknya terdengar oleh mereka, mereka menjadi panik dan langsung meminta seluruh prajurit untuk membunuh seluruh wanita yang memiliki ciri-ciri tersebut. Tapi, sayangnya wanita yang ditakdirkan untukku bukan berasal dari kalangan rakyat jelata. Wanita yang akan menjadi takdirku justru terlahir dari rahim ratu Kairos yang merupakan musuh terbesar orangtuaku. Oleh karena itu mereka membunuh kedua orangtuaku dan mengirimkan seluruh anak gadisnya ke berbagai kerajaan untuk mengulur waktu. Mereka tahu jika aku sama sekali tidak

tahu, putri mana yang memiliki tanda lahir jam pasir itu, sehingga ia mereka mengirimkanmu ke kerajaan Hora yang tidak begitu hebat dan mengirimkan seluruh saudaramu ke kerajaan lain yang lebih hebat dari kerajaan Hora dengan harapan agar aku dapat terbunuh sebelum aku berhasil menemukanm. Tapi, sayangnya mereka tidak mengetahui satu hal, aku adalah sang pangeran terkutuk. Aku tidak bisa mati dengan mudah dan aku memiliki jiwa yang haus akan darah. Setiap aku mati, aku akan hidup kembali untuk mengulang segalanya dan menjadikan masa depan berubah sesuai dengan kehendakku. Oleh karena itu aku dapat bertahan dan memenangkan seluruh pertempuran itu dengan mudah. Jadi apa kau sudah merasa puas, hah!" bentak Aiden keras tepat di depan wajah Calistha sambil menghempaskan begitu saja rahang Calistha yang sebelumnya di cengkeram olehnya. Calistha meringis kesakitan sambil meraba rahangnya yang sepertinya akan membiru setelah ini. Ia kemudian teringat akan mimpinya yang mengerikan dan juga peristiwa bunuh dirinya yang terjadi di hari pernikahannya. Dengan wajah kaku Calistha menatap Aiden dalam dan meminta pria itu menjelaskan semuanya padanya. Semua hal yang terasa tak masuk akal ini.

        "Aapa aku juga hidup kembali?"

        "Ya, kau juga tidak akan bisa mati dengan mudah. Kau akan terus mengulang-ulang kehidupanmu setiap kau mati karena kau juga bagian dari kutukanku. Dan jika kau ingin melenyapkan semua itu, maka kau harus menikah denganku untuk melepaskan semua kutukan yang bersarang di dalam diriku."

        Calistha tiba-tiba bangkit dan berteriak dengan keras di depan Aiden dengan wajah yang telah memerah karena marah. Sungguh ia merasa sial karena telah menjadi bagian dari pria kejam yang saat ini sedang duduk di hadapannya dan sedang menatap dingin padanya.

        "Aku tidak mau! Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah denganmu. Lebih baik aku terus hidup berulang-ulang daripada harus menyerahkan jiwa dan tubuhku padamu."

        "Ck, dasar kau wanita munafik dan keras kepala." desis Aiden tajam dan langsung menarik tangan Calistha kuat, hingga tubuh mungil itu terjatuh tepat di atas pangkuannya. Dengan kuat Aiden menjepit tubuh Calistha dengan kedua tangannya dan tidak membiarkan wanita itu dapat bergerak seincipun darinya. Ia ingin melihat reaksi

wanita itu ketika berada di dekatnya. Karena ia merasa selalu kehilangan akal sehatnya setiap kali ia berada di dekat wanita itu dan bersentuhan dengan kulit putihnya yang lembut itu.

        "Apa kau merasakannya juga? Perasaan aneh yang bergejolak di dalam hatimu, hmm?" tanya Aiden lembut, namun terdengar mengerikan di telinga Calistha. Berkali-kali ia mencoba untuk melepaskan kungkungan tangan Aiden dari pinggangnya, tapi pria itu sepertinya telah mengunci tubuhnya dengan tubuhnya yang sekeras batu hingga ia tidak dapat bergerak sedikitpun dan justru membuatnya menyakiti dirinya sendiri.

        "Lepaskan! Aku tidak merasakan apapun saat berada di dekatmu selain rasa benci dan muak yang begitu besar. Jadi, lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhku sekarang juga!"

        Aiden terkekeh pelan dengan kekeras kepalaan Calistha yang begitu besar, namun terasa begitu nikmat baginya. Salah satu tangannya kemudian terangkat untuk membelai wajah cantik nan angkuh itu. Ia tahu, setiap ia menyentuh wanita itu, Calistha pasti akan merasakan getaran aneh yang menelusup ke dalam hatinya. Hanya saja wanita angkuh itu terlalu munafik untuk mengakuinya karena ia dengan terang-terangan telah mengatakan jika ia tidak menyukainya dan sangat membencinya.

        "Aa apa yang akan kau lakukan? Jangan macam-macam padaku! Pergi kau dariku." teriak Calistha panik saat Aiden sudan mulai mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman kecil di rahangnya. Bibir pria itu terasa panas di kulitnya dan mengirimkan getaran aneh di seluruh tubuhnya. Kecupan-kecupan itu terus diberikan Aiden disetiap

jengkal wajah Calistha hingga Calistha merasa begitu jijik dengan reaksi tubuhnya sendiri.

        "Menikmatinya sayang?" bisik Aiden pelan di telinganya sambil mengecup telinga itu lembut. Setelah memberikan kecupan di telinganya, Aiden langsung ******* bibir merahnya tanpa ampun dengan ciuman panasnya yang begitu memabukan. Hampir saja Calistha terhanyut dalam ciuman panan pria itu sebelum akhirnya ia tersadar dan berusaha memberontak dengan memikul-mukul dada pria itu. Namun, dengan sigap Aiden langsung menangkap kedua tangan mungil itu dengan tangannya yang besar dan menahan tangan mungil itu di atas kepalanya, sedangkan bibirnya terus bekerja untuk memuaskan rasa laparnya pada wanita keras kepala itu. Merasa Calistha telah terengah-engah dan kehabisan napas, Aiden lantas melepaskan tautan bibirnya pada bibir merah Calistha yang terlihat begitu bengkak dan seksi. Tapi, semua itu ternyata belum cukup mampu untuk memuaskan rasa lapar yang sudah lama bergejolak di dalam dirinya. Bibir tipis nan dingin itu kemudian berpindah ke rahang Calistha dan ia memberikan ciuman basah di sana hingga tercipat sebuah tanda merah yang begitu besar di sana.

        "Aaiden, tolong lepaskan aku." erang Calistha tertahan. Meskipun ia begitu membenci perlakukan pria itu padanya, tapi tubuhnya justru merespon hal yang sebaliknya dan hampir saja ia mendesah untuk pria itu.

        "Kau menikmatinya bukan? Aku pun juga sayang. Kenapa kau begitu munafik? Padahal seluruh tubuhmu sedang bergetar nikmat karena sentuhanku. Seharusnya kau membiarkan semuanya berjalan secara alami dan jangan pernah menahan-nahan semua jika kau tidak ingin tubuhmu merasa tersiksa."

        Tiba-tiba Aiden menjatuhkan tubuh Calistha di atas kursi kayu dan pria itu dengan tubuh kokohnya langsung menindih Calistha hingga membuat Calistha gelagapan karena ketakutan. Sekarang wanita itu terlihat begitu lemah di bawah kungkungan Aiden yang begitu mendominasi dan bekuasa di atasnya.

        "Kau takut?"

        "Minggir, atau aku akan membunuhmu." ancam Calistha dengan suara bergetar. Kedua tangannya tampak lemah, menahan dada bidang Aiden yang semakin maju meringseknya untuk menyentuh tubuh lemahnya.

        "Membunuhku? Coba saja jika kau bisa. Bahkan aku akan sangat berterimakasih padamu jika pada akhirnya kau mampu membunuhku dan membuatku benar-benar mati tanpa terbangun lagi, karena aku sudah sangat muak hidup di dunia yang kejam dan membosankan ini." desis Aiden santai dengan seringaian licik yang berhasil membuat nyali Calistha menjadi ciut. Wanita itu sejak tadi terus berdoa dalam hati, semoga saja seseorang akan datang dan menolongnya. Tapi, akal sehatnya langsung menolak hal itu karena di padang bunga ini tidak ada siapapun. Hanya ada dirinya, Aiden, dan juga Max yang telah tak bernyawa di bawah kakinya.

        "Kkkumohon, jangan lakukan apapun." ucap Calistha parau saat Aiden sudah mulai memajukan wajahnya untuk ******* bibir merah tipis yang menggoda itu lagi. Kedua tangan Aiden kemudian mencengkeram pergelangan Calistha kuat-kuat dan menahannya di atas kepala wanita itu agar ia tidak dapat memberontak ataupun memukul-mukulnya lagi. Kecupan-kecupan kecil mulai diberikan oleh Aiden disekitar rahang dan leher Calistha sebagai sebuah permulaan untuk permainan panasnya selanjutnya. Beberapa kissmark mulai tercetak jelas di leher jenjang Calistha yang mungkin saja sebentar lagi akan berubah warna menjadi keunguan.

        "Hmm, kulitmu sangat manis dan nikmat. Sejak pertama aku menciummu di kerajaan Hora, aku merasa selalu gila setiap kali melihatmu karena aku selalu ingin merasakannya lagi dan lagi. Beruntung aku dapat menahan semua hasratku saat kau tinggal di kerajaanku, tapi untuk sekarang aku merasa tidak yakin. Lagipula aku belum pernah mencobanya di alam mimpi. Jadi, ini pasti akan sangat menakjubkan." bisik Aiden lembut di telinga Calistha, membuat Calistha bergidik geli karena helaan napas Aiden yang terasa sedang menggelitik daun telinganya. Tanpa

aba-aba, Aiden langsung ******* bibir tipis nan menggoda itu yang sejak tadi seakan-akan terus menariknya untuk mendekat. Dengan erangan yang tertahan, Aiden terus menghisap bibir merah itu dengan rakus tanpa mempedulikan reaksi Calistha yang begitu kewalahan untuk mengimbangi ciumannya yang rakus. Tanpa sadar cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Calistha terlepas dan telapak tangan itu justru bermain-main di atas tubuh Calistha yang tampak sudah pasrah di bawah kungkungan tubuhnya. Refleks Calistha mengalungkan lengannya di leher Aiden dan ia terlihat sudah terlarut dalam permainan Aiden yang panas. Tak dapat dipungkiri, jika ucapan Aiden sebelumnya mengenai ketertarikan fisik yang terjadi diantara keduanya memang benar. Calistha merasa tubuhnya dan jiwanya perlahan-lahan mulai menerima setiap sentuhan Aiden yang memabukan, dan ia menjadi tidak memiliki kuasa untuk menolaknya. Justru saat ia akan menolaknya, hatinya merasa berat dan ia akhirnya menyerah pada gairah yang telah menguasainya.

        "Apa kau mau bercinta denganku?" tanya Aiden dengan suara seraknya. Calistha terdiam sesaat, mencerna lebih jauh lagi maksud ucapan Aiden. Ia kemudian menggeleng dengan wajah ragu pada Aiden sambil menatap pria itu memohon melalui kedua matanya bahwa ia belum siap untuk itu. Aiden menanggapi gelengan itu sambil tersenyum tipis, ia kemudian mengecup lembut kening Calistha cukup lama.

        "Jika kau tidak mau, maka aku tidak akan melakukannya. Aku hanya melakukannya jika kau benar-benar mau dan sudah siap. Sekarang bangunlah. Bangunlah dan buka matamu."

        Ucapa Aiden itu terus mengalun di telinga Calistha dan semakin lama semakin terdengar samar. Ia kemudian membuka matanya dengan sempurna, dan mendapati dirinya masih berada di dalam kamar nenek Lisa sambil menghela napas lega. Ia pikir ia benar-benar melakukan hal itu dengan dengan Aiden di sebuah padang bunga daisy yang indah. Calistha kemudian memutuskan untuk bangkit karena ia merasa matahari telah bersinar dengan terik di luar. Sebelum ia berjalan keluar, ia menyempatkan diri untuk bercermin terlebihdahulu, melihat kondisi lukanya yang kemarin telah diobati oleh nenek Lisa. Namun, ketika akhirnya ia dapat melihat pantulan dirinya di dalam cermin, ia langsung terkejut saat mendapati kancing gaunnya telah terbuka hingga sebatas pinggang dan di lehernya terdapat banyak bercak merah yang akan berubah menjadi bercak keunguan. Lalu, di sekitar rahangnya juga terdapat bercak keunguan yang begitu besar tercetak jelas di sana. Cepat-cepat Calistha merapikan tampilan dirinya agar tidak ada satupun yang menaruh curiga padanya. Setelah itu ia berusaha menggosok tanda ungu itu dari atas kulitnya, namun sayang, tanda itu sama sekali tidak mau hilang dari sana. Dengan pasrah, Calistha mulai berjalan keluar untuk menemui Gazelle dan juga Max yang mungkin saja telah bangun. Dan jika mereka menanyakan semua bercak keunguan itu, ia akan menjawab jika semua itu terjadi karena ia terjatuh dari atas tempat tidur. Yah, meskipun hal itu memang konyol, tapi ia tidak bisa memikirkan kebohongan lain yang lebih masuk akal dan logis selain hal itu. Lebih baik ia mengaku baru saja terjatuh dari atas tempat tidur, daripada ia mengatakan jika ia baru saja berciuman dengan Aiden di dalam mimpinya. Sungguh rasanya semua itu tidak masuk akal. Dan sedkit demi sedikit hatinya mulai mempercayai apa yang diucapkan oleh Aiden, meskipun belum sepenuhnya. Ia masih harus mencari bukti lain untuk menguatkan semua ucapan pria itu agar ia tidak menyesali semua keputusan yang akan diambilnya nanti.

        "Oh Tuhan, aku merasa akan gila." erang Calistha frustasi.

-00-

        Aiden membuka matanya nyalang sambil mengusap rambutnya yang terasa begitu berantakan. Kedua bibirnya tersenyum tipis mengingat bagaimana ekspresi wajah Calistha saat ia menciumnya. Jelas-jelas wanita itu sangat menikmatinya dan tidak bisa menolak setiap sentuhannya. Tapi ia dengan naifnya masih mencoba untuk menyangkal semuanya. Aiden kemudian bangkit berdiri dari singgasananya sambil merentangkan kedua tangannya ke udara, rasanya tertidur di atas kursi membuat seluruh tubuhnya menjadi pegal dan kaku. Tak berapa lama, Spencer muncul dari balik pintu besar ruangannya untuk melapor jika seluruh prajurit telah siap untuk berangkat

menuju kerajaan Bibury.

        "Seluruh prajurit telah siap Yang Mulia. Kapan kami akan berangkat?"

        "Sebentar lagi kita akan berangkat. Tunggulah, aku akan bersiap." ucap Aiden tenang dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Spencer. Sementara itu, Spencer tengah melirik aneh pada tuannya yang pagi ini terlihat lebih bahagia dibandingkan kemarin malam yang dipenuhi dengan awan mendung di sekitar wajahnya. Sambil mengangkat bahunya acuh, Spencer memutuskan untuk berjalan keluar dari dalam ruangan pribadi tuannya sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi nanti di kerajaan Bibury.

        "Semoga kau tidak ikut dalam pertempuran nanti." bisik Spencer penuh harap sambil membayangkan wajah Gazelle di kepalanya.

Terpopuler

Comments

Mutia Tiara

Mutia Tiara

so sweettt aiden 😍

2020-05-08

0

lihat semua
Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!