Calistha terus memeluk tubuh Max dengan erat sambil memejamkan matanya rapat. Ia tidak menyangka jika pada akhirnya ia dapat bertemu dengan Max, pria yang dicintainya. Setelah selama dua hari ini ia merasa frustrasi dan merasa bersalah karena ia telah menjadi penyebab runtuhnya kerajaan Hora. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Max dan menatap mata hitam pekat Max dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Max, bagaimana bisa.. Kukira kau sudah mati. Maafkan aku Max, aku.. aku.."
Bibir tipis itu seketika berhenti berucap ketika Max meletakan jari telunjuknya di depan bibir merah Calistha. Pria tampan itu menggeleng pelan sambil tersenyum dengan tulus pada Calistha. Ia sama sekali tidak menyalahkan wanita itu. Ia justru merasa bersalah pada Calistha karena ia tidak dapat melindungi wanita itu dan justru harus membuatnya menderita karena diseret paksa oleh Aiden untuk menjadi pengantinnya.
"Ssstt, tenanglah, kau tidak bersalah. Aku justru ingin meminta maaf padamu karena aku tidak dapat melindungimu. Maafkan aku Cals." mohon Max merasa bersalah. Calistha tampak mengusap air matanya pelan sambil mengangguk pada Max. Wanita itu kemudian menarik tangan Max untuk duduk di atas sebuah kursi merah empuk yang berada di dekat ranjangnya.
"Bagaimana bisa kau datang ke kerajaan ini? Bagaimana jika prajurit-prajurit raja kejam itu datang untuk menangkapmu?" tanya Calistha panik dan khawatir. Max kemudian memegang bahu Calistha erat untuk menenangkan wanita itu.
"Cals, kau tenang saja, aku berhasil mengelabui semua prajurit itu, termasuk pengawal setia raja Aiden. Apa kau baik-baik saja? Apa raja itu menyakitimu?" tanya Max khawatir sambil menelisik tubuh Calistha satu persatu. Dengan pelan Calistha menggelengkan kepalanya sambil menatap sendu pada Max.
"Raja kejam itu tidak melakukan apapun padaku, tapi.."
"Tapi kenapa Cals? Katakan padaku." ucap Max tidak sabar sambil mengguncang bahu Calistha berkali-kali. Kedua mata Max tampak memancarkan sorot mata khawatir yang begitu kental, hingga Calistha rasanya tidak tega melihat Max yang harus menanggung semua perbuatannya.
"Tapi, raja itu akan menikahiku besok saat bulan purnama. Ia mengatakan jika aku adalah ratunya yang dapat menyelamatkannya dari kutukan yang dideritanya. Apa yang harus kulakukan Max? Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak mau menikah dengan raja cabul itu!" ucap Calistha tampak emosi. Max merangkul pundak Calistha, dan membawa kepala wanita itu ke dalam dada bidangnya.
"Aku akan membawamu pergi Cals, tujuanku datang ke sini adalah untuk menolongmu. Kemarin aku dan ibuku bertemu dengan salah satu anggota pemberontak yang menyelamatkan kami. Ia bernama Gazelle."
Mendengar nama Gazelle disebut, sontak Calistha langsung menegakan tubuhnya sambil menatap Max tidak
percaya. Ia pikir Gazelle telah mati saat kerajaan Khronos menyerang kerejaan Hora karena saat itu Gazelle tidak pernah kembali untuk menemaninya. Tapi, setelah ia mendengar penjelasan dari Max jika Gazelle masih hidup dan telah menolong pria itu, Calistha menjadi lega dan merasa bersyukur. Setidaknya rasa bersalahnya sedikit berkurang. Sejak ia ditangkap oleh Aiden, ia tidak pernah lagi merasakan hidup damai yang menenangkan. Setiap detik kehidupannya selalu dihantui oleh rasa bersalah yang terus membuat dadanya terus meronta sesak.
"Syukurlah jika kau bertemu dengan Gazelle. Ia adalah wanita yang baik."
"Kau mengenalnya?" tanya Max terkejut. Calistha kemudian menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum lembut pada Max. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Semua hal yang telah ia sembunyikan dari Max sejak dulu.
"Sebenarnya aku sudah lama mengenal Gazelle. Kami sering berlatih pedang dan beladiri bersama. Dan sejauh yang kutahu, ia adalah wanita yang tangguh."
"Tunggu, sejak kapan kau berlatih pedang dan beladiri. Apa selama ini kau telah menyembunyikan sesuatu dariku?"
Max tampak mengernyit bingung sambil terus menatap wajah Calistha meminta penjelasan.
"Maaf karena selama ini aku tidak pernah memberitahumu. Sebenarnya aku sering menyelinap keluar untuk pergi ke hutan terlarang dan belajar beladiri bersama dengan kaum pemberontak. Biasanya aku pergi keluar melalui pintu belakang yang biasa digunakan oleh juru dapur untuk pergi berbelanja ke pasar. Maaf Max, tapi aku sangat ingin belajar beladiri dan berpedang karena menurutku hal itu akan berguna untuk melindungiku. Tolong jangan marah." ucap Calistha takut-takut sambil meremas ujung gaunnya.
"Aku sama sekali tidak marah. Aku justru merasa bangga padamu Cals. Kau adalah wanita yang paling
kuat yang pernah kutemui." ucap Max tulus sambil mengelus rambut Calistha pelan, membuat wanita itu tersipu malu karena perlakuan Max yang sangat lembut.
"Jadi, apa rencanamu dan Gazelle? Apa kalian akan membawaku pergi?"
"Ya, kami ke sini untuk membawamu pergi Cals. Lagipula Gazelle memiliki dendam tersendiri pada raja Aiden, sehingga ia ingin membalas perlakuan buruk pria itu melalui dirimu. Apa kau ingin ikut bersama kami? Walaupun aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang mudah jika kau memutuskan untuk bergabung bersama kami, mengingat aku sekarang adalah bagian dari kelompok pemberontak. Kehidupanku benar-benar tidak mudah sekarang."
"Aku akan ikut kalian, tidak peduli seberapa sulit rintangan yang akan kita lewati, tapi jika kita menghadapinya bersama, pasti semuanya akan terasa lebih mudah." timpal Calistha menenangkan. Max kemudian bangkit dari tempat duduknya sambil menarik tangan Calistha untuk berdiri juga.
"Kita harus segera pergi dari sini sebelum para prajurit itu menyadari keberadaanku dan Gazelle di
sini. Kurasa Gazelle sudah menemukan jalan keluar yang aman untuk keluar dari kerajaan ini, kita harus bergegas untuk menemui Gazelle yang telah menungguku di taman belakang."
Mendengar penjelasan dari Max, Calistha justru tampak bergeming di tempatnya sambil menatap sedih pada Max. Ia tidak bisa pergi begitu saja dari kerajaan ini tanpa Tiffany, karena jika Aiden tahu ia telah kabur, maka pria kejam itu pasti akan membunuh Tiffany dengan sangat keji. Sama seperti yang dilakukan pria itu pada
wanita-wanita yang dijadikan sebagai menu makan malam hewan-hewan peliharaanya yang buas.
"Aku tidak bisa pergi begitu saja Max. Aku harus menyelamatkan Tiffany, dia adalah saudara perempuanku satu-satunya yang masih hidup setelah apa yang dilakukan Aiden pada saudara-saudara perempuanku yang lain. Aiden pasti akan membunuh Tiffany jika aku kabur dari istananya. Jadi sebelum aku benar-benar pergi dari kerajaan ini, aku harus menyelamatkan Tiffany terlebihdahulu, apa kau bisa membantuku? Kumohon Max, aku tidak bisa membiarkannya menjadi santapan hewan peliharaan Aiden yang sangat buas itu. Aku tidak mau melihat Tiffany mati mengenaskan di dalam kandang harimau." mohon Calistha pada Max sambil menyeka bulir-bulir
air matanya yang telah menganak sungai. Melihat Calistha yang sedang mengiba di depannya membuat Max tidak tega dan mau tidak mau langsung mengangguk setuju untuk menyelamatkan Tiffany. Lagipula jika Calistha tidak bahagia setelah keluar dari kerajaan ini, maka ia pun juga tidak akan pernah bahagia. Bagaimanapun Calistha adalah sumber kebahagiaanya.
"Baiklah, kita akan menyelamatkan Tiffany setelah ini. Tapi kita harus menemui Gazelle terlebihdauhulu karena ia pasti mengetahui jalan rahasia yang aman untuk membebaskan saudara perempuanmu. Sekarang hapus air matamu. Aku akan berpura-pura menjadi pengawalmu yang akan mengawalmu menuju kebun belakang istana. Apa kau siap?"
"Ya, aku siap. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua." doa Calistha sungguh-sungguh sebelum ia berjalan tenang menyebarangi kamarnya yang luas untuk keluar dan menemui Gazelle di taman. Tapi dibalik ketenangan itu tersembunyi sebuah ketakutan yang begitu besar di dalam hatinya. Ia sebenarnya sama sekali tidak
takut jika pada akhirnya ia harus mati di kerajaan ini, tapi ia sangat takut akan membuat Max dan Gazelle celaka karena telah mencoba untuk menyelamatkannya. Entah kenapa, firasatnya mengatakan jika ini tidak akan berkahir dengan baik.
-00-
Di ruang lain di dalam istana, Gazelle tengah mengendap-endap sambil menggenggam erat sebuah nampan yang berisi secangkir teh. Setelah ia melepaskan penyamarannya sebagai prajurit, Gazelle segera mengganti penyamaran menjadi pakaian seorang pelayan. Dengan langkah pasti dan penuh percaya diri, Gazelle segera mendorong pintu kayu besar yang menjulang di hadapannya. Ketika kakinya menginjak karpet merah yang berada di dalam ruangan itu, tiba-tiba ingatannya melambung pada kejadian beberapa tahun lalu, saat itu ia sering sekali datang ke ruangan ini tanpa perlu menyamar sebagai pelayan seperti ini. Gazelle kemudian meletakan cangkir berisi teh yang dibawanya ke atas meja besar yang berada di tengah ruangan. Wanita itu mengelus perlahan pinggiran meja itu sambil memejamkan matanya perih. Ia sungguh merindukan saat-saat itu. Saat dimana ia sering menghabiskan waktu di dalam ruangan ini untuk menunggu Aiden menyelesaikan tugas-tugas kerajaanya atau hanya sekedar untuk mengganggu pria itu yang terlalu serius memandangi semua laporan-laporan yang diberikan oleh berbagai kepala desa di seluruh wilayah jajahannya.
Gazelle lalu melangkah menuju balkon di dalam kamar Aiden yang mengarah langsung pada halaman luas istana. Biasanya dari balkon itu ia dapat melihat Aiden sedang berjalan bersama para menteri untuk membicarakan berbagai macam rencana untuk membangun kerajaanya. Sekarang, semua kenangan itu bagaikan duri dalam hatinya yang setiap saat dapat menusuknya dan menyakitinya. Andai saja pria itu juga membalas cintanya, ia pasti tidak akan berakhir seperti ini. Berakhir sebagai wanita menyedihkan yang penuh akan dendam.
Samar-samar Gazelle dapat melihat beberapa menteri yang sedang berjalan di halaman besar istana sambil membicarakan suatu hal. Tiba-tiba setetes cairan bening yang sejak tadi ditahannya menetes perlahan di atas pipi putihnya. Ia begitu merindukan ayahnya. Pria tua itu terlihat masih begitu gagah di bawah sana dengan baju
kebesaran menteri perang yang berwarna merah. Gazelle kemudian mengusap air mata itu kasar sambil mencengkeram kayu pembatas balkon dengan erat. Ia tidak boleh lemah, karena jika ia lemah maka ia akan mudah untuk dihancurkan. Ditatapnya sang ayah lagi sambil bertekad dalam hati jika ia tidak akan kalah dengan masa lalunya. Ia harus melupakan kenangan-kengan indah itu dari dalam otaknya agar ia tidak berubah menjadi wanita melankolis yang lemah. Gazelle kemudian membalikan tubuhnya sambil merapikan ujung gaunnya yang sedikit lusuh, ia berniat untuk keluar dari dalam ruang pribadi Aiden. Tapi, tiba-tiba gerakannya terhenti begitu saja ketika ia melihat seorang pria tengah menatapnya dalam, sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. Dengan gerakan kaku, Gazelle mencoba mendekati pria itu sambil menunjukan senyum sinisnya yang terlihat kikuk dan canggung. Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu, semenjak kejadian lima tahun lalu yang membuatnya malu dan merasa terhina setengah mati, Gazelle tidak pernah lagi bertemu dengan pria itu. Meskipun ia akui, ia merasa merindukan pria itu. Pria yang selalu menghiburnya dan memberikan nasihat-nasihat bijak padanya jika ia mengadukan nasib percintaanya yang tidak pernah mulus.
"Spencer, lama tidak berjumpa. Sepertinya kau baik-baik saja." sapa Gazelle datar sambil menatap sinis pada kedua manik mata Spencer. Pria itu terlihat begitu tenang di depan Gazelle dan mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin pada wanita itu, meskipun hatinya kini sedang bergemuruh karena ia begitu merindukan wanita itu.
"Ya, aku memang baik-baik saja, dan sepertinya kau pun juga begitu. Setelah sekian lama kau menghilang, ternyata kau masih memiliki keberanian juga untuk masuk ke dalam ruangan pribadi Yang Mulia raja Aiden. Apa yang akan kau lakukan Gazelle? Jangan pernah bertindak bodoh untuk menantang raja Aiden karena ia sama sekali bukan tandinganmu." peringat Spencer bersungguh-sungguh. Gazelle tampak mendecih tidak suka dengan peringatan Spencer yang seakan-akan pria itu meremehkan kemampuannya. Padahal ia sangat yakin jika ia dapat membalaskan dendamnya pada Aiden, karena ia memiliki Calistha dipihaknya.
"Huh, kau meragukanku ya? Tidak masalah. Tapi, aku tidak akan pernah berhenti untuk membalaskan dendamku pada Aiden. Seandainya kau tahu bagaimana sakitnya hatiku, kau pasti tidak akan menyuruhku berhenti untuk membalaskan semua rasa sakitku pada Aiden."
"Percayalah aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, cobalah untuk berdamai dengan masa lalu dan kembalilah pada kehidupanmu yang sebelumnya. Apa kau tidak merindukan keluargamu? Lagipula jika kau mau memperhatikan orang-orang disekelilingmu, kau pasti akan merasakan cinta mereka yang begitu besar padamu. Tolong berhentilah berharap pada Yang Mulia Aiden, sebentar lagi Yang Mulia akan menikah dengan
ratu yang ditakdirkan bersamanya." bujuk Spencer halus, mencoba untuk menyadarkan wanita di hadapannya jika ia adalah wanita yang berarti. Tapi, sepertinya hal itu sama sekali tidak menyentuh hati Gazelle, wanita itu justru semakin marah ketika mendengar berita dari Spencer jika Aiden akan menikah dengan ratunya.
"Menikah? Jadi Aiden akan menikah disaat hatiku masih sakit karena perbuatannya? Cih, dia memang benar-benar kejam." decih Gazelle tidak suka, mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya yang menyesakan. Spencer terlihat menelisik wajah tidak suka wanita itu sambil mendesah pelan. Ternyata apa yang dikatakan Aiden padanya tadi pagi memang benar. Sejak awal Aiden sudah mengetahui semua rencana yang akan dilakukan oleh Gazelle, oleh karena itu ia berada di sini untuk memperingatkan wanita itu agar ia tidak melangkah lebih jauh lagi, karena Aiden tidak akan melepaskan Gazelle hidup-hidup keluar dari istananya. Cepat atau lambat Aiden akan mengirimkan pasukan-pasukannya untuk menangkap Gazelle dan membunuh wanita itu jika ia berani mengacaukan rencana pernikahannya.
"Lebih baik kau pergi dari kerajaan ini sekarang selagi Yang Mulia Aiden masih memberimu kesempatan. Karena kau pasti tahu jika Yang Mulia Aiden tidak akan melepaskanmu hidup-hidup jika kau tertangkap oleh prajurit kerajaan Khronos." peringat Spencer tenang, namun tersembunyi rasa khawatir disetiap kalimatnya.
"Aku memang akan pergi dari kerajaan ini secepatnya. Tapi, jangan harap aku akan mundur dan mengalah pada raja brengsekmu itu, karena aku akan tetap membalaskan dendamku padanya." ucap Gazelle penuh janji dan langsung berjalan keluar dari dalam ruangan pribadi Aiden yang semakin membuat emosinya memuncak. Ketika Gazelle melewati tubuh Spencer, wanita itu dengan sengaja menabrakan pundaknya pada pundak Spencer sambil menatap sinis pada pria itu.
"Sampai jumpa di medan pertempuran Spencer." desis Gazelle sinis dan langsung keluar dari dalam ruangan luas itu, meninggalkan Spencer sendiri dengan perasaanya yang khawatir dan juga frustrasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments