Time To Recover (Fourteen)

        Suasana di halaman istana begitu ramai dan riuh. Para penari hari ini sedang berlatih untuk mempersiapkan perayaan pernikahan raja mereka. Calistha dan Max tampak sedang melintasi tepi halaman luas itu dengan mengendap-endap agar tidak ada seorang pun yang dapat menghadang perjalanan mereka. Sebenarnya Clistha cukup gusar dengan kemunculan Spencer yang membuatnya harus menghentikan langkahnya sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan pria itu. Sungguh, ia sekarang sedang berpacu melawan waktu. Jika apa yang ia alami di alam mimpi akan menjadi kenyataan, maka ia harus segera mengeluarkan Max, Gazelle, dan Tiffany dari kerajaan ini sebelum tengah malam, karena Aiden akan mengeksekusi mereka saat tengah malam.

        "Max, dimana Gazelle berada?" tanya Calistha pelan pada Max yang berada tepat di belakang tubuhnya. Max kemudian menunjuk arah sekumpulan tanaman merambat yang tumbuh subur di halaman istana. Melihatnya sekilas, Calistha langsung tahu jika tempat itu adalah tempat yang sangat sempurna untuk bersembunyi.

        "Ayo, kita tidak memiliki banyak waktu."

        Mereka berdua terus berjalan mengendap-endap di sepanjang jalan setapak yang menghubungkan antara halaman istana dengan kebun istana. Dari jauh, Aiden sedang mengamati pergerakan kedua manusia itu dalam diam. Ia dan para menteri istana hari ini sedang membicarakan masalah pembangunan infrastruktur baru di kerajaan Hora. Tapi rasanya ia sudah sangat bosan mendengarkan semua penjelasan yang sama berulang kali dari para menteri itu. Dan sekarang ia merasa mendapatkan mangsa baru karena baru saja ia melihat Calistha yang sedang berjalan menuju taman istana. Ia harus segera menghamipiri wanita itu dan membuatnya gusar agar hidupnya yang membosankan ini sedikit lebih berwarna dengan teriakan dan makian dari wanita itu.

        "Kalian bisa pergi sekarang. Aku memiliki urusan lain dengan ratuku." ucap Aiden datar, mengusir para menteri yang sedang menjelaskan rencana pembangunan infrastruktur di kerajaan Hora.

        "Yang Mulia calon ratu? Apakah kami boleh memperkenalkan diri kami pada Yang Mulai calon ratu?" tanya menteri ekonomi sopan. Aiden tampak menimbang-nimbang di sebelahnya, kemudian dengan tegas pria itu menggeleng sambil melipat kedua tangannya dengan angkuh di depan dada.

        "Tidak perlu. Aku akan memperkenalkannya pada kalian secara resmi saat pesta pernikahanku. Lebih baik kalian pergi dan persiapkan semua hal yang diperlukan untuk besok pagi karena aku ingin semuanya terlihat sempurna."

        "Baik Yang Mulia, kami akan segera mempersiapkan semuanya."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aiden segera berjalan pergi meninggalkan para menterinya yang sedang membungkuk hormat di belakangnya. Sambil terus berjalan, Aiden mulai mencari keberadaan Calistha yang telah menghilang dari pandangannya, padahal beberapa menit yang lalu wanita itu masih berada di sekitar jalan setapak dan tampak sedang kebingungan.

        "Diamana dia? Seharusnya ia masih berada di sekitar... sini."

        Tiba-tiba seulas senyum licik muncul di wajah Aiden ketika ia meliahat Calistha dan prajurit itu sedang bercakap-cakap serius dibalik rimbunnya semak belukar yang tertanam di halaman kerajaannya. Dengan langkah tenang dan pelan, Aiden mulai berjalan untuk menghampiri Calistha. Dan ia yakin, wanita itu pasti akan sangat terkejut dengan kemunculannya di sini.

           "Hmm, kira-kira apa yang sedang kau rencanakan ratuku?" gumam Aiden pelan pada dirinya sendiri.

-00-

            "Dimana Gazelle? Apa kau yakin jika ia sedang menunggu di sini?"

            "Aku yakin. Seharusnya Gazelle menunggu di sini jika ia tidak menemukanmu? Mungkinkah ia sedang dalam masalah sekarang?"

        "Aku tidak tahu Max, aku sama sekali tidak melihat Gazelle dalam mimpiku selama ia berada di sini. Aku hanya melihatnya saat raja Aiden megeksekusinya."

        "Kalau begitu kita harus segera mencarinya, karena Gazelle sebenarnya memiliki dendam tersendiri pada raja dan beberapa orang di kerajaan ini. Aku khawatir, ia akan berbuat nekat di kerajaan ini dan membahayakan nyawanya sendiri."

        Calistha mengangguk setuju pada Max dan segera membalikan tubuhnya untuk mencari Gazelle. Namun, tiba-tiba pergerakannya langsung terhenti karena ia melihat Aiden sedang berdiri dengan angkuh di hadapannya.

        "Aaapa yang kau lakukan di sini?" tanya Calistha terbata-bata. Aiden memberikan senyuman mengejeknya pada wanita itu sambil berjalan lebih dekat ke arah Calistha. Refleks ia langsung berjalan mundur hingga ia menubruk tubuh Max yang berada di belakangnya.

        "Apa yang kulakukan di sini? Apakah itu penting, mengingat ini adalah istanaku sendiri. Kulihat kau sedang berbicara serius dengan prajurit itu. Apa ada masalah?" tanya Aiden tenang, tapi dibalik suaranya yang tenang itu terselip nada mengintimidasi yang begitu kentara, membuat Calistha sedikit ketakutan saat berdiri di hadapan pria itu.

        "Tentu saja tidak, aku hanya sedang bercakap-cakap dengannya? Emm, apa kau ingin melihat pertunjukan tari bersamaku? Aku ingin melihat pertunjukan tari sekarang." ucap Calistha cepat sambil menarik tangan Aiden menjauh dari Max. Sebelum pergi, Calistha sempat menolehkan kepalanya sebentar pada Max sambil berbisik

agar pria itu segera mencari Gazelle dan menemuinya di halaman istana satu jam lagi.

        "Kenapa prajurit itu ada di sini? Buknkah seharusnya ia berada di gerbang istana?" tanya Aiden tiba-tiba menyadarkan Calistha dari lamunannya tentang mimpinya. Wanita itu lantas mendongak menatap Aiden tanpa menyadari jika sejak tadi tangan kirinya masih melingkar di lengan Aiden yang kekar itu.

        "Apa? Oh, kebetulan aku bertemu dengannya saat di halaman. Ia hanya sedang mengawalku saja, tidak lebih. Mengenai Tiffany, apa kau benar-benar tidak mengijinkanku untuk melihatnya?"

            Calistha tampak memohon di depan Aiden agar ia diijinkan untuk menemui Tiffany. Tapi, sepertinya wajah

memelas itu tidak akan mempengaruhi keputusan Aiden untuk melarang Calistha mengunjungi Tiffany. Lagipula tidak ada gunanya wanita itu mengunjungi Tiffany, karena Aiden tidak akan pernah melepaskan Tiffany. Wanita itu adalah wanita yang berbahaya. Ia hanya sedang bersembunyi dibalik tubuh lemahnya yang tak berdaya, menunggu saat yang tepat untuk berubah menjadi sesosok monster jahat yang akan memangsa Calistha. Oleh karena itu ia tidak akan mengijinkan Calistha untuk menemui Tiffany lagi, dan ia sendiri telah memberikan penjagaan yang sangat ketat di sekitar pintu masuk penjara bawah tanah agar tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke sana dan membawa pergi Tiffany.

        "Aku tidak akan pernah menarik kata-kataku. Jadi berhentilah untuk bersikap menyedihkan di hadapanku." ucap Aiden dingin dan datar tanpa ekspresi. Calistha tampak kesal dan kembali merengut di sebelah Aiden. Sia-sia saja ia menurunkan harga dirinya hari ini di hadapan Aiden jika pada akhirnya ia hanya direndahkan oleh

pria itu. Jika hari ini ia berhasil keluar dari kerajaan ini dengan selamat bersama Gazelle, Max, dan Tiffany, ia pasti akan membalas semua perbuatan pria itu padanya.

        "Kenapa diam? Apa kau sedang mengumpatiku di dalam kepala cantikmu itu?" tanya Aiden dingin, namun terkesan menggoda. Calistha mendecih sinis pada pria itu dan langsung menurunkan tangan kirinya yang sejak tadi terus merangkaul lengan kekar itu dengan posesif. Ia yakin, setelah ini Aiden akan semakin besar kepala karena ia baru saja merangkul lengan pria itu.

        "Tidak. Untuk apa aku mengumpatimu di dalam kepalaku, jika aku mau, aku bisa melakukannya secara

langsung di hadapanmu? Dan satu hal lagi, jangan terlalu besar kepala karena aku baru saja merangkul lengamu. Aku hanya sedang terbawa suasana, sehingga aku lupa untuk melepaskannya." ucap Calistha sinis dan tampak kesal. Aiden terkekeh geli melihat tingkah Calistha yang menurutnya sangat menggemaskan hari ini. Entah mengapa sejak pagi tadi Calistha terus bersikap konyol dan tidak terlalu meledak-ledak seperti biasanya. Saat ia menolak keinginan wanita itu, maka Calistha hanya akan menanggapinya dengan bersungut-sungut tanpa melontarkan kata-kata kasar seperti biasanya. Tapi, ia tak lantas terhanyut dengan sikap wanita itu begitu saja. Menurtnya Calistha sedang merencanakan sesuatu di dalam kepalanya yang cantik itu.

        "Aku sama sekali tidak besar kepala. Bahkan aku sudah sering mendapatkan belaian lembut dari

para wanita di seluruh tubuhku, jadi jika hanya sebuah rangkulan ringan di lenganku, itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan." cemooh Aiden telak. Pria itu berhasil membungkam bibir tipis Calistha yang sudah bersiap untuk membalasnya dengan berbagai kata-kata pedasnya yang menyakitkan. Namun, mendengar kata-kata Aiden mengenai wanita, Calistha menjadi dongkol dan lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan pria itu. Toh itu sama sekali tidak penting untuknya. Meskipun sebagian hatinya merasa cukup terganggu dengan hal itu.

        "Apa kau pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya?"

        Entah bagaimana, tiba-tiba Aiden menanyakan hal itu pada Calistha, membuat wanita itu sedikit heran sambil mengernyitkan kedua alisnya tidak mengerti.

        "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa kau berencana menghabisi seluruh mantan kekasihku agar mereka tidak merebutku darimu?"

            Calistha berucap sinis pada Aiden sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu kemudian

memilih untuk duduk di salah satu kursi kayu yang berada di halaman istana. Aiden pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Calistha sambil menatap kosong pada halaman luas di istananya.

        "Jika itu diperlukan, maka aku akan melakukannya. Karena di masa depan apapun dapat terjadi. Jadi, sebelum hal itu terjadi ada baiknya jika kita langsung melakukan antisipasi agar pengganggu-pengganggu itu tidak merusak tatanan alam. Tapi, sayangnya tidak banyak orang-orang yang sejalan dengan pikiranku, termasuk dirimu."

        "Karena kau memiliki pemikiran yang rumit dan sangat sulit sekali untuk ditebak. Dan kau juga tidak perlu tahu apakah aku pernah memiliki kekasih atau tidak, karena itu sama sekali tidak penting." Calistha kemudian

terdiam sejenak, berusaha untuk memikirkan setiap detail kejadian yang terjadi

        di dalam mimpinya. Ia kemudian teringat jika di dalam mimpinya, kejadian ini sama sekali tidak ada. Ia seharusnya bertemu dengan Aiden dan juga para menteri di halaman istana, kemudian Aiden akan memintanya untuk menemani pria itu makan siang bersama, tapi ia langsung menolaknya, dan pada akhirnya mereka berakhir

dengan pertengkaran hebat yang sangat menyakitkan. Yah, hal itu cukup menyakitkan untuknya karena Aiden menghina keluarganya di dalam mimpinya. Tapi, siang ini semua sedikit berubah. Aiden tidak memintanya untuk menemani makan siang, dan pria itu juga datang sendiri untuk menemuinya. Apakah mimpi itu memang tidak nyata dan hanya sebuah kebetulan semata? Pertanyaan itu terus bersarang di kepala Calistha hingga suara dingin Aiden menggema di udara, menyadarkannya dari lamunanya mengenai mimpinya yang sangat mengerikan itu.

        "Aku adalah raja, maka sudah menjadi tugas mereka untuk memahamiku. Jadi aku memang tidak perlu memberikan penjelasan yang gamblang mengenai jalan pikirku. Lagipula, sejelas apapun aku memberitahukan semuanya pada mereka, mereka pasti tidak akan mengerti. Karena terkadang untuk memahami orang lain, maka orang tersebut harus merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan agar dapat memahami jalan

pikirannya. Dan sayangnya, aku tidak bisa membuat orang-orang itu merasakan apa yang sedang ku rasakan saat ini. Tapi, mungkin aku bisa membuat seorang manusia merasakannya. Hanya satu orang."

        "Siapa? Spencer?"

        Calistha tampak begitu berminat dengan pembicaraan kali ini. Rasanya saat ini Aiden sedang mencoba

untuk terbuka padanya, meskipun sikap kaku dan arogannya masih terus mengekori pria itu dan membuatnya sedikit kesal padanya. Tapi, itu semua sudah lebih baik daripada perlakukan pria itu padanya beberapa hari yang lalu.

        "Kau akan tahu nanti. Apa kau mau menemaniku makan siang?"

Deg

        Tanpa sadar Calistha langsung meraba jantungnya dengan was-was. Di dalam mimpinya ia melakukan

perlawana pada pria itu dengan kata-kata kasar dan membuatnya justru tersakiti. Ia kemudian memiliki ide untuk membalik semuanya. Jika kata-kata kasar dan pedasnya justru membawa pertengkaran diantara mereka, maka kali ini ia akan bersikap sedikit lembut pada pria itu. Ia akan mengiyakan permintaan pria itu, tapi sebelum ia pergi ke ruang makan, ia akan meminta ijin pada Aiden untuk kembali ke taman istana, karena ia harus menemui Max dan Gazelle di sana.

        "Emm, baiklah. Tapi, aku akan pergi ke taman terlebihdahulu karena jepit rambutku sepertinya terjatuh di sana. Apa kau tidak keberatan?"

            "Tentu saja aku tidak keberatan. Aku akan menunggumu di meja makan." jawab Aiden datar seperti biasa dan langsung berjalan pergi meninggalkan Calistha yang masih terduduk di tempatnya, menunggu hingga Aiden benar-benar pegi dari hadapannya.

        Setelah Aiden tidak terlihat lagi dari pandangannya, Calistha segera berjalan cepat menuju taman

istana yang berada di sisi kiri halaman istana. Dari jauh ia dapat melihat Max sedang berbicara serius dengan seorang wanita yang wajahnya sedikit tertutupi oleh tudung merah yang dikenakannya, tapi Calistha langsung mengenali wanita itu sebagai Gazelle, karena pria itu tidak mungkin berbicara dengan wanita lain

di istana ini selain dengannya atau Gazelle.

            "Oh syukurlah, akhirnya aku dapat menemui kalian di sini. Gazelle, senang bertemu denganmu lagi." ucap Calistha girang sambil memeluk Gazelle hangat. Wanita bertudung merah itu langsung membalas pelukan Calistha dengan antuasias sambil menepuk-nepuk punggung Calistha keras, karena ia terlalu senang.

        "Ya Tuhan, akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Aku mencarimu di dalam istana, tapi kemudian Max menemuiku dan mengatakan jika kau sedang menungguku di taman istana. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?"

            "Aku baik-baik saja, meskipun sedikit tertekan dan merasa frustrasi, tapi semuanya baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin meminta tolong pada kalian untuk membebaskan Tiffany, saudara kandungku yang selama ini tinggal di kerajaan Diamond, tapi raja Aiden telah menempatkan banyak prajurit di sekitar penjara bawah tanah

untuk menjaga Tiffany, sehingga kita tidak mungkin menyelamatkan Tiffany sekarang. Apa kalian sudah memiliki rencana untuk keluar dari istana?" tanya Calistha seirus. Max mengedikan bahunya pada Gazelle agar Calistha menanyakan hal itu pada Gazelle karena ia sama sekali tidak memiliki rencana apapun di dalam kepalanya.

       "Kita akan tetap menyelamatkan saudara perempuanmu sebelum keluar dari kerajaan ini. Aku tahu bagaimana caranya kita masuk ke dalam penjara itu, karena aku sudah pernah melakukannya beberapa tahun yang lalu." ucap Gazelle yakin. Wanita itu kemudian mulai menjelaskan semua jalan tersembunyi yang dimiliki oleh istana ini, termasuk jalan tersembunyi untuk masuk ke dalam penjara bawah tanah. Menurut Gazelle, di dalam istana kerajaan Khronos terdapat dua jalan rahasia yang akan mengarahkan mereka pada penjara bawah tanah. Jalan pertama adalah melalui saluran pipa air yang memang saling berhubungan satu sama lain. Sayangnya, saat ini saluran itu pasti sudah tidak dapat digunakan karena prajurit kerajaan sudah menimbun pipa air yang berhubungan dengan penjara bawah tanah karena beberapa tahun yang lalu, ada seorang tahanan yang mencoba kabur melalui saluran air terebut. Jadi, satu-satunya cara yang mereka miliki untuk mencapai penjara bawah tanah adalah melalui saluran pembuangan. Saluran itu adalah saluran tua yang dulu sering digunakan untuk membuang mayat para tahanan yang mati di penjara bawah tanah. Tapi, setelah Aiden memiliki hewan-hewan peliharaan yang buas, saluran itu tidak digunakan lagi karena pria itu akan langsung melemparkan mayat-mayat itu ke dalam kandang harimau kesayangannya.

        "Kita akan masuk melalui saluran pembuangan." putus Gazelle mantap. Calistha dan Max langsung mengangguk setuju pada Gazelle sambil menanyakan langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh wanita itu.

        "Apa yang akan kau

lakukan setelah ini? Karena aku harus segera menemui raja Aiden di ruang makan untuk menemaninya makan siang. Apa kalian akan bergerak sendiri atau menunggu

hingga acara makan siang kami selesai?"

         "Tidak, lebih baik kau alihkan perhatian Ai.. maksudku raja Aiden agar ia tidak mencurigai kami, karena pipa pembuangan itu terhubung dengan tempat pembuangan akhir di belakang dapur istana. Jadi, aku dan Max harus masuk melalui ruang makan, agar kami bisa segera sampai ke penjara bawah tanah dan menyelamatkan Tiffany. Apa kau bisa mengalihkan perhatiannya selagi kami berjalan melalui ruang makan?"

        "Tentu, aku akan mengalihkan perhatiannya saat kalian berjalan masuk menuju dapur. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Kalian tolong berhati-hatilah."

        Setelah Calistha pergi, Gazelle langsung menyikut lengan Max jahil sambil tersenyum-senyum menggoda

pada pria itu. Ia tahu jika saat ini Max sedang mengkhawatirkan kondisi Calistha, tapi sayangnya ia tidak dapat melakukan apapun untuk mencegah Calistha masuk ke dalam, karena mereka memiliki bagian masing-masing dalam rencana ini.

        "Ada apa? Kau ingin menggodaku?"

        "Tidak, aku hanya prihatin padamu." jawab Gazelle asal sambil tertawa terbahak-bahak di depan Max. Tanpa sepengetahuan mereka, Spencer sejak tadi telah mengawasi mereka dari balik pohon besar yang berada di sebelah kanan mereka. Pria itu kemudian berjalan pergi sambil betekad dalam hatinya, jika ia pasti akan menangkap mereka semua setelah ini dan memberikannya langsung pada Aiden.

        "Kau salah karena telah mencoba bermain-main denganku Gazelle."

Terpopuler

Comments

Mutia Tiara

Mutia Tiara

kalau bisa calista dan aiden menikah secepatnya aja thorrr jgn ada peganggu

2020-05-08

0

Gibran Aufar

Gibran Aufar

mimpi buruk akan segera terjdi sepertinya,,,😱😱😱😱

2020-05-06

0

lihat semua
Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!