"Hosh hosh, tunggu aku!" teriak Calistha kepayahan sambil terus berlari menyusul Max dan Gazelle yang sudah berlari jauh di depannya. Sedangkan di belakangnya, para prajurit Khronos sedang mengejarnya dengan langkah mereka yang begitu cepat.
"Cals, apa kau baik-baik saja?" teriak Max di depannya sambil menoleh sekilas ke arahnya. Pria itu kemudian memelankan laju larinya dan memilih untuk membantu Caslistha yang tampak tertatih-tatih karena beberapa kali kakinya terantuk batu dan dahan pohon yang tumbang. Telapak tangan Max yang lebar menggenggam telapak tangan Calistha yang kecil dengan begitu erat. Mereka kemudian berlari bersama, menembus pekatnya hutan timur yang merupakan penghubung antara kerajaan Khronos dengan kerajaan Bibury. Sembari terus berlari mengikuti langkah Gazelle yang berada di depannya, Calistha terus memikirkan sikap Aiden padanya beberapa saat yang lalu. Ketika pria itu melepaskan tangannya dan membiarkannya lari, ia sengaja berteriak pada para prajuritnya jika ia berlari ke arah halaman istana, padahal sudah jelas-jelas jika langkah kakinya mengarah menuju dapur untuk
keluar melalui pintu belakang istana Khronos. Tapi, sepertinya pelariannya kali ini hanyalah untuk menghimpun kekuatan karena ia harus kembali lagi ke kerajaan itu untuk membebaskan Tiffany. Rencana mereka hari ini untuk membebaskan Tiffany dari penjara bawah tanah gagal dilakukan karena Spencer telah mengetahui pergerakan mereka.
Gazelle tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika ia melihat sebuah pondok tua yang berada di ujung hutan timur. Pondok tua itu terlihat berpenghuni, karena pondok itu bercahaya dan di atapnya terdapat asap hitam tebal yang berasal dari cerobong asap. Gazelle kemudian memutuskan untuk beristirahat di pondok itu karena
mereka bertiga sudah tidak mungkin untuk berlari dan melanjutkan perjalanan. Apalagi mereka semua mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuh mereka akibat tergores oleh ranting-ranting dan juga bebatuan runcing yang tersebar di sepanjang jalanan hutan.
Tok tok tok
Max mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kalia sambil menatap was-was pada sekelilingnya. Calistha
mulai menyandarkan tubuh lunglainya pada dinding batu pondok itu sambil menggososk-gosok kedua lengannya yang terasa dingin dan juga perih disaat bersamaan. Tampak dibagian lengan kirinya, darah segar merembes cukup banyak mengotori gaunnya. Kedua kakinya juga tampak lecet karena ia memaksakan diri berlari menggunakan sepatu berhak tinggi.
"Bagaimana, apakah pondok ini kosong?" tanya Calistha pada Gazelle yang baru saja kembali dari halaman samping pondok. Wanita berambut coklat itu kemudian menggeleng sambil menyandarkan tubuh lelahnya di samping Calistha.
"Aku tidak tahu, jendela di samping pondok ini ditutup dengan rapat. Tapi, cerobong asap milik pondok ini mengepulkan asap hitam tipis yang cukup banyak. Ada kemungkinan jika pondok ini tidak kosong.”
Cklek
Kriiiettt
Tiba-tiba pintu pondok itu terbuka dan menimbulkan suara deritan pintu yang cukup nyaring. Seorang wanita muda keluar dari dalam pondok sambil menatap terkejut pada tiga orang manusia yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan napas tersenggal-senggal.
"Yang Mulia, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Yuri kaget sambil menatap seluruh tubuh Calistha dengan prihatin. Calistha kemudian maju ke depan untuk berbicara pada Yuri. Sedangkan, Max dan Gazelle tampak menunggu di belakang sambil berjaga-jaga jika sewaktu-waktu prajurit kerajaan Khronos muncul.
"Yuri, apakah kami boleh tinggal di pondokmu untuk malam ini. Ceritanya sangat panjang, dan aku janji akan menceritakan semuanya padamu setelah kami masuk ke dalam pondokmu. Jadi, bolehkah kami masuk?" tanya Calistha tak sabar. Yuri kemdian memberikan jalan untuk mereka semua agar dapat masuk ke dalam pondok milik neneknya yang kecil, namun hangat itu.
"Silahkan masuk, maaf jika pondok ini kecil." ucap Yuri malu. Calistha reflek menggelengkan kepalanya pada Yuri karena ia merasa semua ini sudah lebih dari cukup. Lebih baik ia berdesak-desakan di dalam pondok ini daripada harus berlari di tengah gelapnya hutan yang dingin.
"Siapa yang datang Yul?"
Seorang wanita tua dengan tongkat kayunya berjalan tertatih-tatih menghampiri Yuri yang masih berkutat dengan tamu-tamu tak terduganya.
"Kenalkan, ini nenekku, nenek Lisa. Nenek, mereka adalah..."
"Kami adalah teman-teman cucu anda." jawab Gazelle cepat sambil menjabat tangan nenek tua itu hangat. Saat berjabat tangan dengan Gazelle, wanita tua itu langsung melepaskan tangan Gazelle dengan kasar sambil menatap tidak suka pada Gazelle.
"Ada apa nek?" tanya Yuri heran. Tak biasanya neneknya bersikap kasar seperti itu pada seorang tamu. Selama ini neneknya selalu bersikap lembut pada siapapun yang ditemuinya.
"Kau bukan teman cucuku. Kau adalah wanita jahat yang berasal dari Khronos." ucap nenek itu sinis. Yuri yang merasa tidak enak pada Gazelle langsung membimbing neneknya untuk duduk di atas kursi kayu yang saat ini juga sedang ditempati oleh Calistha.
"Selamat malam nek, maafkan kami karena telah mengganggu waktu istirahat anda malam-malam seperti ini." ucap Calistha sungkan. Nenek itu langsung tersenyum cerah ketika melihat Calistha. Ia kemudian memeluk Calistha dengan hangat dan membelai wajah Calistha yang kotor dengan lembut.
"Kau terluka, aku akan mengobati luka-lukamu nak. Yuri, tolong siapkan ramuan untuk membantu nona Calistha memulihkan kondisinya." perintah nenek Lisa tegas dan langsung dipatuhi oleh Yuri. Max dan Gazelle saling bertatapan tak mengerti dengan perubahan sikap nenek Lisa pada Calistha. Padahal Gazelle dan Max juga sama-sama terluka, tapi nenek itu sama sekali tidak mengobati mereka dan justru bersikap sinis.
"Eee, apakah anda juga akan mengobati kedua temanku? Mereka juga sama-sama terluka sepertiku." ucap Calistha tidak enak. Sejak tadi kedua orang itu terus menatapnya aneh karena ia diperlakukan dengan lebih istimewa oleh nenek itu. Tapi, sang nenek tampak acuh pada Max dan Gazelle, ia justru terlihat sibuk menumbuk berbagai macam daun dan akar-akaran untuk mengobati luka sayatan di sekujur tubuh Calistha.
"Ayo, aku akan mengobati luka-lukamu."
"Bagaimana dengan mereka?"
"Kau tenang saja, Yuri yang akan mengobati mereka setelah ini." ucap nenek Lisa sambil membimbingnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ketika ia masuk ke dalam kamar nenek Lisa, hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati seluruh isi kamar itu dengan hati-hati. Di dalam ruang remang-remang yang berukuran kecil itu terdapat sebuah dipan kayu yang diatasnya terdapat sebuah kasur kapas mungil yang tampak begitu hangat dengan sebuah selimut rajutan berwarna coklat kayu. Nenek Lisa kemudian memintanya untuk melepaskan gaunnya agar ia dapat mengoleskan ramuan yang dibuatnya pada semua luka-luka yang bersarang di tubuhnya. Setelah ia melepaskan gaunnya, nenek Lisa memintanya untuk duduk di atas dipan kayunya, dan setelah itu tangan keriput itu mulai mengoleskan ramuan
itu dengan lembut dan penuh ketelatenan pada luka-luka sayatan yang terasa begitu perih dan menyakitkan.
"Mengapa kau memutuskan untuk kabur bersama mereka?"
Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir nenek Lisa berhasil membuat Calistha terkejut, dan secara refleks ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap wajah nenek Lisa yang masih sibuk mengobati seluruh luka-lukanya.
"Apa yang anda maksud? Aku tidak mengerti."
"Bukankah seharusnya kau menikah dengan raja Aiden besok pagi saat malam bulan purnama. Kenapa kau justru memutuskan untuk lari darinya?" tanya nenek Lisa lagi dengan kalimat yang lebih jelas dari sebelumnya. Calistha yang merasa aneh dengan nenek Lisa, lantas memabalikan tubuhnya untuk menatap nenek Lisa secara langsung dan juga untuk meminta penjelasan dari wanita tua itu.
"Siapa anda sebenarnya? Kenapa anda tahu jika saya akan menikah dengan raja kejam itu?" tanya Calistha tajam. Tiba-tiba ia mengeluarkan sisi kerasnya pada nenek Lisa untuk mengintimidasi wanita tua itu. Ia takut jika ternyata nenek Lisa adalah salah satu anak buah Aiden atau mata-mata pria itu yang berpura-pura baik padanya untuk menjebaknya dan setelah itu mereka akan diserahkan pada pria kejam itu.
"Jika kau berpikir aku akan menjebakmu dan menyerahkanmu pada raja Aiden, maka kau salah. Aku sama sekali tidak akan melakukan hal itu. Aku hanya wanita biasa yang akan mengobatimu. Jadi, jangan terlalu berprasangka buruk padaku."
"Tttapi, kau dapat membaca pikiranku. Darimana kau tahu jika aku dan raja Aiden akan menikah?" ulang Calistha lagi. Kali ini sisi lembut Calistha telah hilang, digantikan dengan sisi keras Calistha yang ia gunakan untuk mempertahankan diri. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin bersikap kurang ajar pada nenek Lisa. Hanya saja wanita tua itu tampak mencurigakan, sehingga ia tidak bisa mempercayai nenek itu begitu saja. Ia perlu mengeluarkan sisi tegasnya agar nenek itu terintimidasi dan tidak coba-coba membohonginya dengan kata-kata palsu.
"Tanda jam pasir ini. Dengan hanya melihat tanda ini aku langsung mengetahui jika kau adalah pengantin raja Aiden."
Calistha kemudian langsung menutupi tanda jam pasir yang berada di pundak kanannya dari nenek Lisa. Sungguh ia sangat membenci fakta jika ia memiliki tanda itu dan ia harus menikah dengan raja Aiden untuk menjadi penawar kutukannya.
"Tanda itu diciptakan oleh sang pembuat kutukan untuk menebus kesalahannya pada kerajaan Khronos. Dan tanda itu memang sengaja diberikan kepada generasi dari sang musuh agar kedua kerajaan yang bermusuhan saling berdamai." jelas nenek Lisa datar tanpa mempedulikan raut wajah bingung yang tercetak jelas di wajah Calistha. Wanita itu terus mencerna ucapa nenek Lisa dengan dahi berkerut karena ia sama sekali tidak paham. Apalagi nenek itu mengatakan jika tanda jam pasir yang berada di pundak kanannya diberikan kepadanya karena ia adalah putri dari kerajaan Kairos yang menurut nenek Lisa adalah kerajaan musuh dari kerajaan Khronos. Sebenarnya apa yang selama ini terjadi pada kerajaanya? Kenapa nenek itu mengatakan jika kerajaannya dan kerajaan Khronos saling bermusuhan?
"Siapa yang menciptakan tanda ini?"
"Seorang penyihir tua yang sekarang telah membusuk di dalam tanah. Nah, sekarang beristirahatlah." ucap nenek Lisa lembut sambil menepuk bahu Calistha pelan. Tapi, sebelum nenek Lisa beranjak dari duduknya, Calistha langsung menahan tangan nenek Lisa agar wanita itu tidak pergi. Ia ingin mendengar semua cerita dari nenek Lisa, karena ia merasa tidak mengerti dengan maksud ucapan wanita tua itu.
"Tolong jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada kerajaan Khronos dan kerajaan Kairos?" pinta Calistha memohon. Nenek Lisa tampak menimbang-nimbang sebentar sebelum ia kembali duduk dan membelai surai kecoklatan Calistha dengan lembut.
"Aku tidak bisa menjelaskan lebih dari itu. Kau harus mencari jawabannya sendiri melalui berbagai hal yang akan kau lalui nanti. Dan jika kau memiliki kesempatan lagi, kuharap kau bersedia untuk menikah dengan raja Aiden. Percayalah, ia adalah raja yang baik."
"Tapi kenapa ia meluluhlantahkan kerajaanku? Kenapa ia membunuh saudara-saudaraku dan orangtuaku? Kenapa ia berbuat jahat padaku dan hanya memanfaatkanku untuk menyembuhkan kutukannya? Aku... adalah seorang wanita. Aku tidak ingin hidupku yang berharga ini harus disia-siakan begitu saja dengan menjadi istri seorang raja kejam yang sama sekali tidak mencintaiku." bela Calistha sedikit kesal pada nenek Lisa. Menurutnya setiap orang yang ia temui di kerajaan Khronos selalu mendorongnya untuk menikah dengan raja Aiden tanpa merasakan bagaimana sakit hatinya selama ini karena diperlakukan dengan sangat kurangajar oleh pria itu. Bahkan ibunda ratu Hora menjadi sangat membencinya karena ia adalah penyebab runtuhnya kerajaan Hora dan meninggalnya ayah Max. Hanya Gazelle dan Max lah yang memahami hatinya dan tidak pernah menyinggung masalah pernikahannya dengan Aiden. Justru mereka harus mengambil resiko besar seperti ini demi menyelamatkannya dari cengkeraman raja kejam itu. Andai saja ia tidak memiliki orang-orang tangguh seperti Max dan Gazelle, maka kehidupannya pasti akan sangat menderita hingga akhir, hingga ia mati.
"Apapun yang dilakukan oleh raja Aiden pasti memiliki alasan tersendiri." ucap nenek Lisa bijak. Calistha dengan terang-terangan mendengus kesal di depan nenek Lisa karena jawaban nenek itu sama dengan jawaban Yuri. Tapi, bagaimanapun juga, membunuh adalah sesuatu hal yang kejam dan tak termaafkan. Apapun alasannya, ia tetap tidak menyukai raja kejam itu.
"Alasan? Memangnya alasan apa yang ia jadikan dasar sebagai tindakannya selama ini? Ia terlalu sulit untuk dipahami, dan terlalu rumit." ucap Calistha menyangkal ucapan nenek Lisa. Wanita tua itu tersenyum lembut pada Calistha dan mengelus puncak kepala Calistha sayang. Ia tahu, wanita muda itu pasti masih merasa sulit untuk
menerima semuanya karena ia tidak mengetahui kebanarannya. Tapi, seiring berjalannya waktu ia pasti akan mengetahui semuanya. Perlahan-lahan, rahasia itu pasti akan terkuak. Dan yang jahat akan mengeluarkan wujud aslinya.
"Mungkin lain kali kau harus menanyakannya langsung pada raja Aiden. Sekarang beristirahatlah. Selamat malam."
Nenek Lisa berjalan tertatih-tatih dengan kaki-kaki tuanya sambil membawa cawan kayu yang berisi sisa ramuan herbal racikannya. Sepeninggal nenek Lisa, Calistha mencoba untuk memikirkan semua ucapan wanita tua itu. Tapi sayangnya akal sehatnya selalu menyangkal semua hal yang dikatakan oleh nenek itu, meskipun hati kecilnya sudah mulai menerima semuanya. Ia kemudian mencoba mengalihkan pikirannya dengan rencananya untuk membebaskan Tiffany dari penjara bawah tanah. Tapi, ia sama sekali belum membicarakan hal ini pada Max dan Gazelle.
Ngomong-ngomong mengenai Max dan Gazelle, apa yang dilakukan oleh mereka saat ini? Terakhir kali sebelum ia masuk ke dalam kamar ini, mereka sedang diobati oleh Yuri. Calistha lantas segera bangkit dari posisi tidurnya untuk melihat keadaan Gazelle dan Max. Ia pikir ia sangat keterlaluan karena telah melupakan mereka begitu saja setelah apa yang telah mereka lakukan padanya. Dengan perlahan Calistha mulai berjalan keluar dari kamar milik nenek Lisa untuk menuju ruang depan. Setelah ia menginjakan kakinya di sana, ternyata dua orang itu sudah tertidur lelap di atas kursi tua panjang dan di atas karpet lusuh yang sepertinya memang sengaja disediakan oleh Yuri untuk alas tidur Max. Calistha kemudian mendekati mereka berdua sambil menatap sedih pada Max dan Gazelle. Rasanya ia tidak enak pada mereka berdua karena nenek Lisa dengan terang-terangan menatap mereka dengan pandangan tidak suka. Lalu nenek Lisa juga tidak mau mengobati mereka dan menyediakan tempat yang lebih nyaman untuk mereka tidur. Dielusnya perlahan puncak kepala Max sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali pada pria itu karena ia telah membuat pria itu menjadi menderita seperti ini. Setelah mengelus kepala Max, Calistha lantas berjalan mendekati Gazelle, dan ia juga melakukan hal sama pada wanita itu. Ia mengelus
puncak kepala Gazelle yang masih tertutup oleh tudung merah maroonya dan ia kemudian menggumamkan kata maaf berkali-kali pada wanita itu.
"Kuharap mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah kami bersama-sama menghancurkan raja kejam itu." bisik Calistha penuh permohonan pada Tuhan. Tiba-tiba sebuah tangan lembut mengusap bahunya dan langsung membuat Calistha berbalik arah. Rupanya orang yang telah mengusap bahunya adalah Yuri. Wanita itu saat ini tengah memegang dua gelas coklat panas yang menguarkan aroma yang begitu menenangkan dan juga gurih. Ia kemudian memberikan salah satu cangkir itu pada Calistha sambil membimbing Calistha untuk duduk di atas kursi kayu yang berada di sudut ruangan. Ketika Calistha mendudukan dirinya di sana, ia dapat melihat
pemadangan hutan timur itu dengan jelas. Suara hewan malam yang begitu nyaring terus bersahut-sahutan di luar sana seperti serenade malam yang begtitu syahdu untuk didengar.
"Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja? Anda pasti merasa tidak nyaman berada di sini?" tanya Yuri memecah keheningan diantara mereka berdua. Calistha yang sedang menyesap coklat panasnya langsung menoleh ke arah Yuri sambil tersenyum tidak enak pada wanita itu.
"Tidak, aku menyukai tempat ini. Tempat ini begitu hangat dan nyaman. Bahkan ini lebih nyaman daripada kamarku di istana Khronos. Aku hanya sedang memikirkan banyak hal." ucap Calistha jujur. Yuri menatap Calistha prihatin, dan secara tiba-tiba ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Calistha. Mencoba memberi kekuatan dan kehangatan pada wanita itu.
"Yang Mulia, jika anda ingin bercerita, saya siap mendengarkan semuanya."
"Terimakasih, kau sangat baik. Tapi, aku lebih suka jika kau tidak memanggilku dengan panggilan formal seperti itu. Panggil saja aku Calistha. Dengan begitu kita akan terlihat lebih akrab."
Yuri tampak tersenyum senang pada Calistha karena ia sama sekali tidak menyangka jika calon ratunya begitu baik dan rendah hati. Ia yakin jika raja Aiden berhasil menikahi Calistha, semua kekacauan yang selama ini terjadi di berbagai kerajaan akan segera berakhir dan berganti dengan sebuah kedamaian abadi, karena ia merasa
Calistha adalah seorang pembawa perubahan yang akan merubah kehidupan negeri ini ke arah yang lebih baik.
"Baiklah, aku akan memanggilmu Calistha. Kurasa itu memang terdengar lebih baik." canda Yuri yang langsung ditanggapi Calistha dengan kekehan ringan. Ternyata setelah mengenal Yuri lebih dekat, wanita itu tidak seaneh yang ia pikirkan sebelumnya. Yuri adalah wanita cantik berkulit sedikit coklat dengan pembawaannya yang sangat ceria.
"Jadi, ini adalah rumahmu?" tanya Calistha mencoba untuk mengenal Yuri lebih dekat. Ia pikir akan bagus untuk menanyakan hal-hal sederhana terlebihdahulu sebelum ia menanyakan pertanyaan-pertanyaan berat pada Yuri yang sejak tadi telah mengganjal di dalam hati dan juga pikirannya.
"Bukan, ini adalah rumah milik nenekku. Rumahku berada di pusat kota Khronos. Biasanya aku datang untuk mengunjungi nenekku agar ia tidak merasa kesepian. Dan kebetulan malam ini aku memang sedang mengunjungi nenekku. Lagipula saat berada di sini aku bisa memikirkan berbagai macam ide untuk membuat gaun baru. Di sini suasananya begitu tenang dan nyaman. Saat pagi hari kau bisa mendengar berbagai macam kicau burung yang saling bersahut-sahutan dengan indah. Emm, lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mereka hanya mengatakan jika kalian sedang dikejar-kejar oleh prajurit raja Aiden. Apa kalian telah melakukan sesuatu yang fatal?"
Calistha sedikit menghela napas ketika Yuri menanyakan kenangan buruknya hari ini. Jujur, ia sangat tidak suka mengingat-ingat kejadian yang berhubungan dengan Aiden karena itu akan membuatnya menjadi lebih sakit.
"Aku kabur dari kerajaan Khronos."
"Astaga! Apa kau benar-benar berniat untuk kabur sebelum pesta pernikahan esok pagi? Ya Tuhan, pasti raja Aiden sangat sedih."
Lagi-lagi Yuri menunjukan rasa simpatinya pada Aiden yang menurut Calistha itu sangat menyebalkan karena ia sama sekali tidak menyukai Aiden.
"Untuk apa ia bersedih jika ia sendiri yang memutuskan untuk melepaskanku." sungut Calistha kesal ke arah Yuri. Wanita itu tampak mengernyit bingung. Setahunya rajanya itu sangat menginginkan Calistha untuk menyembuhkan kutukannya. Jadi sangat aneh jika tiba-tiba rajanya itu melepaskan Calistha begitu saja, tapi ia juga mengirimkan pasukan untuk menangkap Calistha.
"Mengapa raja Aiden melepaskanmu jika ia juga meminta para prajuritnya untuk menangkapmu? Bukankah itu aneh?"
"Yah menurutku juga seperti itu. Tapi aku sedang tidak ingin memikirkannya. Lagipula yang terpenting adalah aku dapat keluar dari kerajaan yang memuakan itu dengan selamat. Tapi sayangnya aku belum berhasil untuk menyelamatkan saudara perempuanku, Tiffany, yang dikurung di dalam penjara bawah tanah." jelas Calistha sedih. Entah bagaimana caranya untuk membebaskan Tiffany setelah ini. Bahkan ia merasa tidak yakin dengan keadaan Tiffany sekarang. Mungkin saja setelah ia kabur dari istana, Aiden langsung membunuh Tiffany dan melemparkan tubuhnya ke dalam kandang harimau untuk dijadikan makanan utama hewan buas itu. Tapi, apapun yang terjadi pada Tiffany, ia akan tetap kembali ke kerajaan itu untuk memastikan kondisi Tiffany dengan mata kepalanya sendiri.
"Calistha, dulu aku sering mendengar cerita dari mendiang kakekku mengenai raja Aiden. Menurut kakekku raja Aiden telah dikutuk oleh beberapa raja dari kerajaann yang tidak menyukai kerajaan Khronos. Tujuan dari kutukan itu adalah agar raja Aiden menjadi kejam dan menghancurkan kerajaanya sendiri. Kedua orang tua raja Aiden sangat sedih saat anaknya menjadi anak yang jahat dan haus akan darah. Bahkan suatu hari raja Aiden pernah hampir membunuh ibunya sendiri saat ia sedang mengamuk dengan menodongkan pedang tepat di leher sang ratu. Tapi kemudian ia merasa menyesal dan memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar agar tidak melukai orang lain. Setiap hari kedua orangtua raja Aiden memohon pada Tuhan untuk kesembuhan anak semata wayang mereka yang akan meneruskan tahta ayahnya menjadi raja. Lalu suatu hari ada seorang pengemis tua yang datang ke kerajaan Khronos. Pengemis itu meminta makan pada raja yang kebetulan saat itu sedang
duduk-duduk di halaman istana menikmati senja di sore hari. Merasa iba, raja meminta pelayannya untuk memberikan makanan dan pakaian yang layak untuk pengemis itu. Setelah pengemis itu selesai makan, pengemis itu berterimakasih pada sang raja dan mengatakan jika kutukan anaknya akan sembuh ketika anaknya menikahi seorang gadis yang memiliki tanda berbentuk jam pasir di pundaknya. Mendengar hal itu raja merasa begitu gembira dan langsung memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mencari wanita itu. Bertahun-tahun raja dan ratu mencarinya hingga mereka hampir saja merasa frustrasi karena mereka tidak dapat menemukan wanita itu untuk anaknya, sedangkan raja Aiden saat itu sudah sangat menderita dengan kutukannya. Menurut kakekku, setiap malam raja Aiden mengerang kesakitan di dalam kamarnya karena ia sedang menahan gejolak untuk membunuhnya yang begitu membara di dalam dirinya."
Calistha mendengarkan semua cerita Yuri dengan mimik wajah yang sulit untuk diartikan. Di satu sisi ia merasa cukup iba pada raja kejam itu, tapi di sisi lain ia merasa begitu membencinya karena raja itu telah membunuh semua keluarganya dan juga bersikap kurangajar padanya beberapa kali. Dan ia merasa bingung dengan perasaanya sekarang. Apakah ia harus berbalik pada raja itu dan menikah dengannya atau ia harus melanjutkan tujuan awalnya bersama Gazelle dan Max?
"Yuri, memangnya apa pekerjaan kakekmu? Mengapa ia begitu paham dengan semua masalah yang terjadi di kerajaan Khronos?" tanya Calistha penuh minat.
"Kakekku adalah pengawal di kerajaan Khronos. Tapi, setelah raja dan ratu meninggal, kakek memutuskan untuk berhenti dan tinggal bersama nenekku di sini hingga ia meninggal."
"Lalu, apa yang menyebabkan raja dan ratu meninggal?"
"Raja dan ratu dibunuh oleh seorang raja dari sebuah kerajaan. Tapi, kakekku tidak mentebutkan nama kerajaanya padaku. Saat itu kakekku datang tergopoh-gopoh dari istana sambil menyampaikan kabar duka jika raja dan ratu telah meninggal saat mereka berkunjung ke sebuah kerajaan untuk mencari penawar kutukan bagi anaknya. Setelah raja dan ratu meninggal, raja Aiden menjadi sangat terpukul dan ia langsung berubah menjadi raja yang sangat kejam dan bertangan dingin. Dihari pertama ia menjadi raja, ia langsung memenggal semua menteri yang terbukti telah melakukan kejahatan di kerajaanya. Kemudian ia mulai mengatur berbagai macam strategi untuk mensejahterakan rakyatnya dan juga untuk menghancurkan semua musuh-musuh ayahnya yang telah begitu keji membunuh kedua orang tuanya. Saat itu adalah saat-saat yang sangat mengerikan. Hampir setiap hari prajurit dari kerajaan Khronos berlalu lalang disekitar kota sambil membawa pedang di tangan mereka masing-masing. Tak jarang mereka pulang sambil membawa seorang tawanan yang keadaanya sudah sangat mengenaskan untuk diserahkan pada raja Aiden. Oleh karena itu, aku sangat menginginkan pernikahanmu dan raja Aiden terlaksana, karena aku yakin jika kau adalah penawar sekaligus ratu yang akan membawa perubahan pada raja Aiden. Apa kau tahu, selama kau berada di kerajaan Khronos, raja Aiden terlihat lebih tenang dan tidak pernah membentak-bentak pelayan. Padahal sebelumnya, setiap hari selalu saja ada seorang pelayan yang kembali ke rumahnya dengan wajah pucat karena ia baru saja dibentak oleh raja Aiden dan hampir saja dibunuh karena sebuah kesalahan yang ia sendiri tidak tahu apa. Tapi semua itu terserah padamu. Apakah kau mau menerima takdirmu atau kau ingin melawannya. Maaf, jika aku terkesan menyudutkanmu. Tapi kau adalah wanita yang ditakdirkan untuk raja Aiden, seharusnya kau memenuhi takdir itu dan tidak pergi dari tanggungjawabmu untuk menikah dengannya dan memberikan kedamaian pada kami. Sekali lagi maafkan aku. Selamat malam Calistha."
Yuri meninggalkannya begitu saja setelah wanita itu membuatnya merasa begitu bersalah dan marah disaat yang bersamaan. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu jika pada kenyataanya Yuri tidak tahu apa yang ia rasakan selama ini. Yuri tidak tahu bagaimana sedihnya dirinya selama ini karena ia tidak bisa hidup seperti
putri-putri yang lain di kerajaanya. Ia juga merasa sedih karena telah membuat kerajaan Hora hancur dalam sekejap oleh serangan pasukan kerajaan Khronos. Jika seperti itu, apakah salah jika ia membenci raja kejam itu? Apakah salah jika ia tidak mau menikah dengan raja itu jika ia hanya digunakan sebagai alat untuk menyembuhkan kutukan dari raja itu, sedangkan ia sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari pernikahan itu.
Calistha memijat pelipisnya lelah dengan berbagai macam hal yang bersarang di otaknya. Ia merasa begitu frustrasi dengan kehidupannya yang tiba-tiba menjadi rumit seperti ini, padahal dulu kehidupnya begitu indah di kerajaan Hora. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar nenek Lisa untuk mengistirahatkan pikirannya. Lebih baik ia menyimpan tenaganya untuk perjalanan panjang esok pagi karena mereka akan menyusul para kaum
pemberontak yang saat ini telah berada di kerajaan Bibury untuk meminta perlindungan dari raja Bibury. Dan mungkin setelah ini mereka akan menyerang kerajaan Khronos di bawah pimpinan raja Bibury yang juga sama-sama tidak menyukai pemimpin kerajaan Khronos.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Mutia Tiara
males banget chalista nya terlalu keras kepala..
2020-05-08
0