Khronos, Kairos, Hora (Two)

Seorang gadis dengan surai coklat panjangnya yang indah tampak sedang berlari memasuki sebuah kamar yang besar. Ketika ia memasuki kamar itu, sang pangeran tampak masih tertidur lelap di atas peraduannya yang nyaman sambil melipat kedua tangannya di atas kepala. Dengan lega, Calistha mulai berjalan mendekati pria itu untuk bersiap membangunkan pangeran tampan itu. Hari ini sebenarnya ia bangun kesiangan. Padahal ia adalah dayang utama di istana ini, dayang yang harus selalu siap memenuhi kebutuhan pangeran Max. Dan seperti pagi pagi biasanya, Calistha harus membangunkan pangeran Max pagi-pagi sekali, sebelum pangeran Max melalakukan rutinitas paginya. Namun, sayangnya hari ini Calistha bangun sedikit terlambat karena semalam ia harus membantu juru masak dapur untuk mengupas kentang. Sebenarnya sebagai dayang utama, Calistha tidak diharuskan untuk mengerjakan pekerjaan juru dapur atau pekerjaan yang lain. Ia hanya harus fokus pada pangeran dan seluruh kebutuhan pangeran. Tapi, Calistha adalah seorang gadis yang sangat ramah dan baik hati. Ia tidak akan tega ketika melihat orang lain dalam kesulitan. Apalagi semalam pekerjaannya telah selesai lebih awal, sehingga ia memutuskan untuk membantu juru dapur mengupas ratusan kentang yang akan dimasak pagi ini untuk menu sarapan keluarga kerajaan.

        "Pangeran, sudah saatnya anda untuk bangun." ucap Calistha pelan sambil menggoyang-goyangkan bahu Max. Namun, pria itu tampaknya masih enggan untuk membuka mata, ia hanya bergerak sedikit ke kanan untuk mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur.

        "Pangeran, raja akan marah jika anda masih tidur." Bisik Calista lagi di dekat Max. Padahal biasanya Max selalu mudah untuk dibangunkan. Bahkan hanya dengan sekali sentuhan lembut di pundaknya, pria itu akan langsung bangkit dari atas ranjangnya dan bergegas untuk membersihkan diri. Calisthapun mencoba membangunkan pangeran sekali lagi dengan membuka tirai keemasan itu lebar-lebar, hingga sinar matahari yang terik langsung menyorot wajah Max dengan ganas. Namun, pria itu tetap saja tidak mau membuka matanya dan justru kembali terlelap dengan nyaman di atas ranjangnya yang empuk dan nyaman.

        "Max, kenapa kau sulit sekali untuk dibangunkan hari ini! Kau menghambat pekerjaanku yang

lain." teriak Calistha kesal di sebelah Max sambil menyingkap selimut merah keemasan itu dengan kasar. Akhirnya ia kehabisan kesabaran juga. Biasanya Calistha akan menunjukan sikap tidak formalnya pada Max jika ia mulai kehabisan kesabaran dengan seluruh tingkah menyebalkan Max, atau disaat mereka sedang berdua saja di ruang baca. Selebihnya, Calistha selalu menggunakan bahasa formal pada Max. Namun, sebenarnya Max memang tidak suka jika Calistha harus menggunakan bahasa formal ketika di depannya, karena mereka berdua telah bersahabat sejak lama. Dulu Calistha memang diantarakan ke kerajaan Hora oleh kusir istana dengan membawa sebuah surat dari ratu Kairos. Kemudian saat Calistha berusia tujuh belas tahun, raja meminta Calistha untuk menjadi dayang

utama yang bertugas sebagai dayang pangeran Max agar keberadaan Calistha tidak langsung terendus oleh raja Aiden. Sesuai dengan surat yang diberikan oleh ratu Kairos, raja Hora harus selalu melindungi Calistha dari incaran raja Aiden. Namun, sebenarnya keputusan untuk menempatkan Calistha di sisi putranya adalah keputusan yang salah. Karena tanpa mereka sadari, kedekatan dua manusia berbeda jenis itu justru berubah menjadi sebuah perasaan emosional yang menarik satu sama lain untuk semakin mendekat. Terkadang Calistha merasakan jantungnya akan melompat keluar ketika ia melihat wajah Max dari jarak dekat. Apalagi ketika Max sedang tidur, Calistha selalu menyempatkan diri untuk mengagumi wajah Max selama beberapa menit sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan pangeran tampan itu. Dan karena hari ini ia sedikit kesiangan, maka ia tidak

bisa melakukan rutunitas paginya sebelum membangunkn pangeran Max. Namun, itu bukan masalah besar. Toh, ia masih bisa mengamati wajah Max disaat pria itu membuka mata. Lagipula, saat membuka matapun Max masih tetap terlihat tampan di mata Calistha.

        "Cal, kau mengganggu waktu tidurku." rrang Max malas sambil berguling pelan ke arah kiri. Pria itu terlihat sedang mencari posisi yang nyaman agar tidak terkena sorotan sinar matahari yang begitu menyilaukan matanya. Melihat sikap menyebalkan Max, Calista segera beralih ke sisi ranjang yang lain untuk menarik tangan Max agar pria itu segera berdiri. Sepuluh menit lagi pria itu harus melakukan latihan pedang dengan menteri perang, menteri Dannis. Ia tidak mau disalahkan oleh menteri tua itu karena ia dinilai tidak becus dalam mengurus pangeran.

        "Max, ayo bangunlah. Menteri Dannis akan memarahiku lagi jika kau terlambat mengikuti pelatihan berpedangnya. Kau tidak ingin membuatku bersedih bukan? Jadi cepatlah bangun!" teriak Calistha nyaring di sebelah telinga Max. Pria itu refleks langsung membungkam bibir Calistha dan langsung menarik tangan wanita itu

hingga jatuh tepat di atasnya.

        "Putri, kau sungguh berisik." bisik Max lembut di hadapan Calistha, hingga membuat pipi wanita itu langsung bersemu merah. Sejak awal Max memang mengetahui status Calistha yang sebenarnya. Dan pria itu terkadang senang memanggilnya tuan putri jika ia sedang ingin menggoda wanita cantik itu.

        "Max, lepaskan aku. Kau harus segera bersiap untuk berlatih pedang. Ah, kau tidak akan sempat untuk sarapan di bawah." desah Calistha frustasi. Jika Max tidak sempat sarapan bersama dengan raja dan ratu di meja makan, maka ia harus membungkus semua makanan itu agar Max dapat memakannya di ruang latihan pedang. Tapi, jika pria itu tetap bersikeras untuk menahannya seperti ini, maka pekerjaannya akan

semakin terganggu dan tidak akan selesai.

        "Aku tahu Cal, kau yang terlambat membangunkanku. Tapi, aku sudah mandi dan sudah rapi dengan pakaian kebesaranku, apa kau tidak memperhatikannya?"

        Sejenak Calistha tampak tertegun di dalam kungkungan Max sambil mengamati tubuh pria itu intens. Ternyata sejak tadi ia terlalu terburu-buru hingga ia tidak menyadari penampilan Max yang sudah rapi.

        "Maaf, aku tidak melihatnya. Sekarang bisa kau turunkan aku?" pinta Calistha lembut dengan senyum manisnya yang cantik. Sesaat Max merasa terpesona dengan senyuman cantik itu. Tapi, cepat-cepat ia mengalihkan perhatiannya dari wajah Calistha dan langsung menurunkan wanita itu dari atas ranjangnya. Sejak awal Max telah menyadari jika Calistha juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi, ia tidak bisa menunjukan rasa cintanya pada Calistha, karena ia telah bertunangan dengan putri Victoria. Entah mengapa sejak awal ayahnya tidak tertarik untuk menjodohkannya dengan Calistha, dan justru menjodohkannya dengan putri dari

kerajaan lain, padahal di dalam kerajaannya sendiri terdapat seorang putri cantik yang sama berharganya dengan Victoria. Tapi, jika suatu saat ia memiliki kesempatan, ia ingin sekali menjadika Calistha sebagai isterinya, isteri yang sesungguhnya, bukan selirnya.

        "Tunggulah aku di meja makan, aku akan segera turun." perintah Max datar pada Calistha tanpa

menoleh sedikitpun pada wanita itu. Setelah mendengar kalimat perintah Max yang cukup jelas Calistha segera membungkuk hormat pada Max, dan pergi meninggalkan pangeran tampan itu sendiri di dalam kamarnya yang besar.

-00-

        Di meja makan, suasana tampak begitu ramai. Hari ini tunangan pangeran Max, putri Victoria, beserta dengan kedua orangtuanya datang berkunjung untuk membicarakan mengenai tanggal pernikahan putra putri mereka. Calistha yang melihat hal itu menjadi tidak bersemangat dan semakin lesu. Sekian lama ia memendam perasaan pada Max, tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas perasaannya dan justru akan menikah dengan wanita lain. Padahal ia sendiri merupakan seorang putri, tapi raja Hora tidak pernah sedikitpun memintanya untuk menjadi pendamping putranya. Raja itu justru menyuruhnya menjadi seorang pelayan demi melindunginya dari raja iblis, Aiden Altair. Tiba-tiba seluruh bulu kuduk Calistha meremang merinding ketika ia membayangkan sosok raja kejam itu. Sebagai seorang putri, ia tentu tahu siapa itu raja Aiden Altair. Dulu ketika ia berusia sepuluh tahun, gurunya pernah menceritakannya mengenai kekejaman raja dari kerajaan Khronos itu. Menurut gurunya, raja Aiden menjadi seperti itu karena ia mendapatkan kutukan dari salah satu musuh mendiang ayahnya. Calistha kemudian kembali mengingat bagaimana kisah menyedihkan raja Aiden yang diceritakan gurunya dulu. Jadi, sebenarnya

raja Aiden menjadi sosok yang sangat kasar dan kejam seperti itu, karena kedua orangtuanya dibunuh oleh salah satu raja yang merupakan sekutu dari kerajaan Khronos sendiri. Bisa dikatakan jika raja Khronos dulu telah dikianati oleh salah satu kerajaan sekutunya. Selain pengkhianatan, raja tersebut rupanya juga telah memberikan kutukan pada keturunan raja Khronos agar keturunan itu nantinya yang akan menghancurkan kerajaannya sendiri. Namun, ternyata kutukan itu tidak menyebabkan kerajaan Khronos hancur, justru kutukan itu menyebabkan

raja Aiden menjadi sosok pria yang memiliki nafsu membunuh yang begitu kental dalam dirinya. Dan apabila raja itu tidak menyalurkan hasrat membunuhnya, maka seluruh tubuhnya akan terasa remuk dan sakit. Membayangkan sosok raja Aiden yang kejam membuat Calistha menjadi marah. Ia tahu jika bertahun-tahun yang lalu raja Aiden juga datang ke kerajaannya dan memporak-porandakan seluruh kerajaan milik ayah dan ibunya. Lalu setelah berhasil meluluhlantahkan kerajaanya, raja iblis itu juga membunuh kedua orangtuanya dengan sangat kejam. Sayangnya saat itu ia masih terlalu kecil untuk memahami semuanya, sehingga ia tidak bisa berbuat apapun selain pergi dari istana itu bersama kusir kerajaanya menuju kerajaan Hora.

        "Calistha, dimana pangeran Max berada?"

        Calistha langsung berjengit kaget sambil menundukan kepalanya takut. Sungguh ia sangat malu sekarang, karena ia baru saja ketahaun sedang melamun oleh raja Hora. Putri Victoria juga tampak menatap Calistha dalam, menunggu wanita itu untuk menjawab pertanyaan dari calon mertuanya. Sejak awal Victoria memang tidak begitu menyukai Calistha. Alasannya tentu saja karena Calistha adalah dayang pribadi tunangannya dan juga satu-satunya wanita yang begitu dekat dengan tunangannya selain Yang Mulia ratu, sehingga Victoria terkadang bersikap begitu sinis pada Calistha untuk mengintimidasi wanita itu. Namun, biasanya Calistha akan berpura-pura mengabaikannya dengan bersikap biasa saja di depan Victoria.

        "Maaf Yang Mulia, pangeran Max sedang bersiap di kamarnya." jawab Calistha apa adanya sambil

tetap menundukan kepalanya. Raja Hora mengamati Calistha sejenak, kemudian ia kembali beralih pada Victoria yang tampak sangat ingin bertemu dengan putranya.

        "Victoria, jika kau ingin bertemu dengan putraku, kau bisa menemuinya di kamarnya."

        "Tidak perlu ayah. Aku sudah hadir di sini."

        Tiba-tiba Max datang dengan jubah kebesarannya yang berwarna hijau zamrud. Jubah itu begitu pas membalut tubuh tegap Max, hingga kedua wanita muda yang berada di meja makan tampak begitu terpesona dengan penampilan Max yang sangat tampan. Namun, Calistha cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain dan bersiap untuk menyiapkan kursi untuk Max.

        "Biar aku saja. Kau makanlah di belakang." ucap Max lembut pada Calistha ketika ia akan menarikan sebuah kursi untuk Max. Melihat itu, Victoria menjadi sangat cemburu dan begitu membenci Calistha. Sejak awal ia bertunangan dengan Max, ia sudah dapat merasakan adanya benih-benih cinta yang muncul diantara mereka. Namun, Max begitu pintar dalam menyembunyikan rasa sukanya pada Calistha, sehingga Victoria tidak pernah memiliki bukti untuk mengusir Calistha dari sisi Max. Setidaknya jika raja tahu jika Calistha menyukai putranya, raja Hora akan langsung menurunkan kedudukan Calistha menjadi dayang kelas rendahan atau menjadi pelayan biasa.

        "Max, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Victoria lembut dengan gaya anggun seorang putri. Max tersenyum singkat pada Victoria dan menggelengkan kepalanya perlahan sambil mengangkat piringnya tinggi-tinggi ke arah Victoria.

        "Tidak perlu, Calistha sudah menyiapkan makanan favoritku."

        "Kalau begitu, apa kau ingin mencicipi minuman anggur ini? Ini adalah anggur terbaik dari kerajaan kami. Kau pasti akan suka saat meminumnya." ucap Victoria lagi tidak mau menyerah. Ia harus bisa mengambil hati calon suaminya sebelum Max jatuh ke tangan Calistha.

        "Anggur? Sepertinya tidak. Aku lebih suka meminum segelas susu madu buatan Calista saat sarapan di pagi hari. Lagipula, anggur di pagi hari tidak bagus untuk kesehatan." balas Max sopan, namun berhasil membuat suasana hati Victoria menjadi memburuk. Wanita itu kemudian melanjutkan kembali acara makannya yang tertunda sambil bersumpah dalam hati, bahwa ia tidak akan kalah dari Calistha, apapun yang terjadi. Bahkan, jika perlu, ia akan menyingkirkan Calistha selama-lamanya dari kerajaan Hora jika wanita itu sudah berbuat melebihi batas.

        "Calistha, hidupmu di kerajaan ini tidak akan lama lagi." Batin Victoria kesal.

-00-

        "Spencer! Kemari kau."

        Aiden memanggil Spencer dengan keras dari dalam kamarnya sambil menyesap segelas anggur merah dengan nikmat. Di hadapannya telah terbentang sebuah peta yang menunjukan posisi geografis kerajaan Hora yang begitu strategis untuk melakukan penyerangan. Rupanya raja kejam itu benar-benar akan melakukan penyerangan ke kerajaan Hora dalam waktu dekat. Bahkan, beberapa jam yang lalu ia sudah membicarakan rencana penyerangan ini pada menteri perang. Dan menurut menteri perang, seluruh prajurit Khronos akan siap untuk berperang tiga hari lagi.

        "Yang Mulia memanggil saya?" tanya Spencer hormat sambil bersimpuh di depan Aiden. Pria kejam itu kemudian memberikan kode pada Spencer agar pria itu mendudukan dirinya di atas kursi di sebelahnya.

        "Duduklah, aku ingin membicarakan masalah kerajaan Hora dan Calistha." ucap Aiden dingin. Dengan patuh Spencer langsung duduk di sebelah Aiden sambil mengamati setiap sudut kerajaan Hora melalui peta yang dibentangkan oleh rajanya di atas meja.

        "Ada apa Yang Mulia? Apakah anda ingin mempercepat penyerangan?"

        "Tidak. Aku masih bisa menunggu untuk tiga hari kedepan. Lagipula, aku hanya ingin memberikan waktu pada wanita itu sebelum ia menjadi pendampingku di kerajaan Khronos."

        "Menunggu? Apa Yang Mulia yakin? Menurut salah satu mata-mata kita, saat ini putri Calistha sedang menyamar sebagai seorang dayang. Dan sepertinya putri Calistha juga memiliki hubungan khusus dengan pangeran Max. Apakah Yang Mulia tidak mengkhawatirkan hal itu? Maksud saya, putri Calistha telah mencintai pria lain. Akan lebih sulit bagi anda untuk membujuk putri Calistha agar bersedia menjadi pasangan anda Yang Mulia."

        Raja Aiden menoleh garang pada Spencer sambil membanting cangkir emasnya ke atas karpet dengan keras, menciptakan sebuah noda cipratan berwarna merah yang begitu mencolok di atas karpet yang berwarna keemasan.

        "Aku tidak peduli! Aku tidak perlu membujuknya untuk menjadi pasanganku, karena aku akan memaksanya. Dan jika ia berani menolakku, maka aku akan menggunakan wanita dari kerajaan Diamond itu sebagai ancaman. Bukankah mereka bersaudara? Aku yakin jika Calistha pasti tidak akan bisa menolak perintahku." geram Aiden marah. Spencer kemudian menunduk dalam di hadapan Aiden sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali. Ia sungguh telah lancang karena berani mencampuri urusan Aiden yang seharusnya bukan menjadi urusannya. Tapi, sebenarnya ia mengucapkan hal itu karena ia merasa begitu khawatir pada rajanya. Bertahun-tahun ia hidup dan mengabdi pada Aiden, membuat Spencer menjadi begitu tahu dan mengenal kepribadian Aiden secara menyuluruh. Bahkan, mungkin Aiden tidak bisa mengenali dirinya sebaik Spencer. Oleh karena itu ia hanya ingin memperingatkan Aiden mengenai kemungkinan adanya pergolakan setelah pria itu berhasil mendapatkan Calistha nantinya. Karena menurut mata-matanya, Calistha adalah tipe wanita pemberani yang akan sangat sulit untuk dikalahkan. Wanita itu meskipun selalu menunjukan sikap lembut dan ramah saat berada di dalam istana, namun sebenarnya wanita itu adalah wanita yang sangat pemberani. Menurut mata-matanya, Calistha sering pergi diam-diam keluar dari istana saat malam hari untuk menemui sekelompok pemberontak yang berada di perbatasan kerajaan Hora untuk berlatih beladiri, karena di dalam kerajaan Hora, Calistha tidak diberi kesempatan untuk melakukannya.

        "Spencer, katakan pada menteri perang, jika waktu penyerangan dimajukan. Besok saat matahari tenggelam kita akan berangkat menuju kerajaan Hora."

        Tiba-tiba Aiden mengubah rencana penyerangannya setelah ia memikirkan lebih lanjut mengenai apa yang dikatakan oleh Spencer padanya. Ia memang tidak seharusnya mengulur-ulur waktu terlalu lama untuk menunggu Calistha. Putri itu sama sekali tidak pantas mendapatkan keistimewaan darinya. Oleh karena itu ia harus segera mencari Calistha dan membuat wanita itu menjadi istrinya agar wanita itu dapat menjadi penawar bagi kutukannya yang sangat mengerikan itu.

        "Baik Yang Mulia. Akan saya laksanakan."

        Spencer kemudian pamit undur diri dari hadapan rajanya sambil membungkuk dalam sebelum berjalan keluar dari tempat peraduan rajanya yang agung. Ia berharap, semoga penyerangan mereka kali ini akan membuahkan hasil yang benar-benar nyata, sesuai dengan apa yang selalu diinginkannya selama ini. Karena sejujurnya ia sangat lelah hidupnya. Lelah dengan semua peperangan yang memuakan ini. Ia hanya ingin hidup damai di tanah kelahirannya serta memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia. Meskipun ia tahu, jika keinginannya yang terakhir itu tidak akan pernah terjadi padanaya. Namun, setidaknya ia ingin harapannya yang pertama benar-benar terwujud agar dunia ini dapat kembali damai seperti dulu.

-00-

        Di kerajaan Hora, Calistha sedang melamun sendirian di taman istana sambil mengamati barisan bunga mawar yang begitu cantik dan indah, yang tertata dengan begitu apik di dalam rumah kaca. Setelah Max menyuruhnya untuk pergi, Calistha segera berjalan menuju kebun untuk menikmati indahnya bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran di taman istana. Namun, sejak tadi pikirannya justru terus melayang pada Max.

Berkali-kali ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Max, dengan membantu seorang tukang kebun untuk memetik bunga mawar, atau membanu tukang kebun yang lain untuk memetik buah beri di kebun istana, tapi tetap saja Calistha tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Max. Apalagi saat ini mereka semua sedang membicarakan rencana pernikahan pria idamannya dengan putri Victoria, pikirannya menjadi semakin tidak fokus dan terganggu. Ia kemudian menyandarkan punggungnya dengan frustasi pada sandaran kursi kayu yang sedang ia duduki. Andai saja raja Aiden tidak memporak-porandakan kerajaannya, pasti saat ini ia akan hidup dengan bahagia bersama keluarganya yang lain. Terkadang saat tengah malam ia begitu merindukan ibunya dan juga saudarinya yang lain. Sudah lama sekali ia tidak bertemu mereka dan hanya pernah berkirim surat dengan Tiffany, kakak perempuannya yang begitu perhatian padanya. Tapi, sudah lebih dari seminggu Tiffany tidak mengirimkan surat lagi padanya. Padahal ia begitu merindukan sosok Tiffany dan ingin berbagi keluh kesah dengan wanita itu. Calistha kemudian mengusap tengkuknya gamang sambil menghela napasnya pelan.

Pluk

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Calistha langsung menolehkan kepalanya dengan waspada.

        "Pangeran." ucap Calistha kaget. Ia refleks langsung berdiri dari duduknya sambil membungkuk pelan pada Max.

        "Apa pangeran membutuhkan sesuatu?"

         "Tidak. Aku sudah mencarimu sejak tadi. Sepertinya kau sedang memiliki masalah, ada apa?" tanya Max penuh perhatian. Calistha tampak mengalihkan pandangannya kearah lain dengan canggung. Sungguh ia merasa begitu gugup sekarang. Meskipun Max memang selalu memperhatikannya, tapi tetap saja ia selalu dibuat gugup dengan sikap Max yang sangat perhatian ini. Tapi, meskipun begitu ia tidak tahu, apakah Max benar-benar memperhatikannya sebagai seorang wanita atau hanya memperhatikannya karena ia adalah pelayan dari pria itu.

        "Aku.. baik-baik saja." jawab Calistha apa adanya, namun terdengar ragu. Max mengangkat alisnya bingung sambil mengelus kepala Calistha pelan, membuat Calistha merasakan sengatan listrik yang begitu besar mengalir dari puncak kepalanya, kemudian turun hingga berkumpul di kakinya, membuatnya merasa lemas dan ingin jatuh merosot di hadapan Max.

        "Sungguh aku tidak apa-apa. Apa kau hari ini tidak berlatih pedang?" tanya Calistha mengalihkan perhatian. Kali ini ia memutuskan untuk tidak menggunakan bahasa formal, karena ia hanya ingin mengenang masa kecilnya bersama Max yang penuh canda tawa tanpa dibatasi oleh status seperti saat ini.

        "Aku akan berlatih pedang sepuluh menit lagi. Apa kau ingin mencoba berlatih pedang bersamaku?"

        Calistha menggeleng pelan sambil tersenyum lembut pada Max. Selama ini, tanpa diketahui oleh Max dan anggota kerajaan yang lain, Calistha diam-diam sering menyelinap keluar dari dalam istana untuk berlatih pedang dan beladiri di hutan terlarang yang berada di perbatasan terluar kerajaan Hora. Biasanya ia akan keluar pada pukul dua belas tepat dengan berjalan kaki hingga rumah kakek pemilik kuda yang berada di ujung desa. Kemudian ia akan melanjutkan perjalanannya dengan kuda hitam milik kakek Errol. Meskipun apa yang ia lakukan selama ini cukup beresiko, tapi ia telah berhasil melakukan hal itu selama tiga tahun terakhir. Awalnya ia tidak pernah berpikir untuk melakukan perbuatan terlarang itu tanpa sepengetahuan Max ataupun seluruh penghuni kerajaan yang lain. Saat itu ia tanpa sengaja bertemu dengan Erika di pintu masuk hutan terlarang ketika wanita itu baru saja diserang oleh kucing hutan. Karena Erika terluka, akhirnya ia bersikeras untuk membantu Erika pulang ke rumahnya. Dan setelah ia masuk ke dalam hutan terlarang itu, Calistha menemukan banyak sekali penduduk desa yang tinggal di

dalam tenda-tenda kecil di sana. Rupanya mereka semua adalah para penduduk yang berasal dari berbagai kerajaan yang diserang oleh kerajaan Khronos. Bisa dikatakan jika semua penduduk yang tinggal di sana adalah penduduk-penduduk yang memiliki rasa benci yang begitu besar pada raja Aiden. Melihat bagaimana menyenangkannya kehidupan disana, Calistha kemudian meminta ijin pada Erika untuk mengunjungi wanita itu di sore hari, saat ia tidak memiliki pekerjaan untuk mengawal pangeran. Lalu, ketika ia melihat Erika dan teman-teman wanitanya yang lain sedang bermain pedang, Calistha menjadi semakin tertarik dan ingin bergabung bersama para wanita itu untuk berlatih pedang. Dan akhirnya Calistha menetapkan jadwal berlatih pedang dan beladirinya sendiri saat tengah malam, karena jika sore hari ia hanya memiliki waktu kosong satu jam, sehingga ia tidak mungkin berlatih beladiri dan seni pedang di sore hari.

        "Calistha." Calistha tampak mengerjap-erjapkan matanya berkali-kali sambil memandang Max dengan pandangan bingung. Sepertinya ia terlalu asik melamun hingga ia lupa jika saat ini ia sedang berbicara bersama Max di dalam kebun istana.

        "Kau sepertinya melamun." Ucap Max tampak kecewa.

        "Maaf." ucap Calistha pelan dan penuh sesal. Max kemudian mengusap kepala Calistha sekali lagi sambil berbisik pelan di telinga wanita itu jika ia baik-baik saja.

        "Sudahlah, masih ada banyak waktu untuk mengatakannya. Sekarang masuklah. Aku ingin segelas lemon dingin setelah selesai berlatih."

        "Baiklah, saya akan membuatkannya untuk anda. Selamat berlatih pangeran." ucap Calistha ringan sambil melambaikan tangannya ke arah Max. Pria itu tampak tersenyum sekilas kearah Calistha, sebelum ia berlari pergi menuju area berlatih pedang yang berada di dekat istana permaisuri.

         Dari kejauha, Victoria tampak menahan marah sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat ke udara. Ia sungguh tidak suka dengan hubungan yang terjalin antara Calistha dan Max. Menurutnya Calistha sudah melebihi batas dan harus segera disingkirkan. Dengan licik Victoria mulai memikirkan bebagai macam rencana jahat yang dapat digunakannya untuk menyingkirkan Calistha dari sisi tunangannya selamanya.

        "Aku akan segera melenyapkanmu, Calistha!"

-00-

        Saat tengah malam, Calistha mulai bersiap untuk berangkat menuju hutan terlarang. Kemarin ia telah

berjanji pada Erika dan kawan-kawannya yang lain untuk berlatih pedang bersama dan juga menikmati segelas coklat panas buatan ibunda Erika yang sangat enak. Setelah ia memasukan seluruh perlengkapannya ke dalam tas kulit, Calistha segera berjalan mengendap-endap melalui pintu belakang istana yang biasanya tidak pernah dijaga oleh prajurit, karena pintu itu memang pintu khusus juru dapur yang biasanya digunakan oleh juru dapur untuk pergi ke pasar, karena memang letak pasar ada di belakang istana utama.

        Sambil menyusuri jalan setapak yang gelap dan dingin, Calistha mulai mengingat-ingat kejadian sore tadi ketika ia sedang mengantarkan minuman dingin pada Max selepas pria itu berlatih kuda. Ia hampir saja mati terinjak kaki Shine, kuda kesayangan Max karena Victoria yang tiba-tiba mengejutkannya dari belakang hingga minuman dingin yang ia bawa tumpah membasahi tubuh kuda coklat milik Max, dan membuat kuda itu meringkik terkejut dan langsung bergerak brutal hendak menginjaknya. Tapi, untung saja Max langsung sigap dan mengarahkan kudanya kearah lain, sehingga kaki-kaki Shine yang kuat itu tidak sempat menginjak tubuh Calistha

yang kecil dan rapuh itu. Tapi, ketika ia akan berjalan pergi untuk mengambil minuman yang baru, Victoria justru menatapnya sinis sambil berjalan dengan ponggah melewatinya.

        Sebagai seorang wanita, Calistha sangat tahu jika saat ini Victoria sedang cemburu padanya. Tapi, ia tidak bisa berbuat banyak karena ia sendiri juga memiliki perasaan lebih pada Max. Lagipula, hubungan antara dirinya dan Max memang mengharuskannya untuk selalu berada di dekat Max, sehingga Calistha benar-benar tidak bisa menjauhi Max untuk menjaga perasaan wanita itu.

        Tak terasa langkahnya sudah semakin dekat dengan rumah milik kakek Errol. Pria tua itu tampak sudah

menunggunya di luar kandang kudanya sambil melambaikan tangan keriputnya kearah Calistha. Ia pun menyambut dengan semangat lambaian tangan dari kakek errol, kemudian ia segera berlari kecil untuk mempercepa langkahnya agar segera tiba di depan kandang kuda milik kakek Errol yang bersih dan terawat itu.

        "Selamat malam, apa kudaku sudah siap?"

         "Tentu saja putri,

kuda anda sudah menunggu di dalam." balas kakek Errol dengan gelak tawa. Calistha menepuk bahu kakek Errol

pelan dan langsung melesat begitu saja memasuki kandang kuda milik kakek Errol yang bersih dan juga terawat. Disana ada empat kuda yang biasanya digunakan untuk membawa hasil kebun milik kakek Errol untuk ke pasar, termasuk kuda yang saat ini akan ia gunakan untuk mengunjungi Erika.

        "Kakek, aku pergi dulu. Terimakasih atas semuanya." pamit Calistha sopan pada kakek Errol sambil menuntun kudanya untuk keluar. Setelah itu ia segera menaiki kudanya dan langsung memacu kudanya dengan kencang, menembus jalanan hutan terlarang yang sudah dihafal oleh Calistha di luar kepala. Sepanjang perjalanan Calistha terus membayangkan bagaimana rasa coklat panas buatan ibu Erika yang begitu manis dan gurih. Ia merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya yang lain dan juga penduduk desa itu. Selama ini mereka cenderung ramah pada Calistha dan langsung menerima keberadaan Calistha dengan tangan terbuka.

        Kuda yang ditumpangi Calistha terus melaju dengan kencang, hingga akhirnya Calistha telah sampai pada tenda milik tuan Nick yang berada sejauh seratus meter dari tenda penduduk yang lain, karena di sini tuan Nick bertugas sebagai penjaga, sehingga ia memang ditempatkan di tempat yang lebih jauh dari yang lainnya agar tuan Nick dapat memberikan peringatan bagi penduduk yang lain jika sekiranya ada suatu bahaya yang mengancam warga desanya.

        Setibanya di depan tenda milik tuan Nick, Calistha langsung menghentikan kudanya dengan curiga

sambil menatap was-was pada sekitarnya. Saat ini tenda milik tuan Nick tampak rusak dengan sedikit tetesan darah yang tercecer di sekitar tenda. Calisthapun langsung memandang keadaan disekitarnya dengan lebih waspada sambil berpegangan pada tali pelana yang ia gunakan untuk mengatur laju kudanya.

        Sembari tetap berhati-hati, Calistha mulai berjalan pelan, masuk ke dalam hutan terlarang yang lebih dalam untuk mencari teman-temannya yang lain. Meskipun sejak tadi pikirannya terus memikirkan hal-hal buruk, tapi sebisa mungkin Calistha segera menyingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dari dalam kepalanya. Samar-samar Calistha melihat adanya sebuah cahaya yang begitu terang dibalik semak belukar lebat yang ada di depannya. Wanita itu dengan nekat, mulai berjalan mendekat sambil menyibak semak belukar itu sedikit demi sedikt. Namun, apa yang dilihatnya saat ini berhasil membuat Calistha menjadi panik, hingga ia hanya mampu mematung di tempat tanpa berniat sedikitpun untuk segera pergi dari sana, menyelamatkan dirinya.

        "Ya Tuhan. Itu... Kerajaan Khronos." bisik Calistha parau pada dirinya sendiri.

Terpopuler

Comments

Aditya

Aditya

Suka genre fantasi? masuk ke dunia lain, ada bumbu romance, CINTA ADIK KAKAK?! Kalian wajib baca:

EMPIRE

Mohon supportnya
Mohon ijin promo ya kak

2020-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!