Saat matahari telah condong ke timur, kedua kerajaan terlihat sudah bersiap di medan perang. Dari sisi kiri raja Khronos dan seluruh pasukannya sedang menatap seluruh prajurit kerajaan Hora dengan tatapan angkuh dari atas kuda mereka masing-masing. Aiden yang melihat raja Hora serta pangeran Max yang saat ini berada di barisan depan memberikan seringaian jahatnya pada kedua pria itu. Akhirnya setelah bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk berperang, ia dapat menemukan musuhnya yang sebenarnya. Musuh yang benar-benar menyembunyikan ratunya dari dirinya. Saat terompet telah dibunyikan, Aiden segera memberi aba-aba pada para prajuritnya untuk maju menyerang kerajaan Hora. Tak berapa lama area pasir yang gersang itu telah dipenuhi dengan suara gesekan pedang dan juga suara gdebum yang cukup keras dari setiap prajurit yang jatuh dari atas kuda mereka. Tetetsan darah dan potongan tubuh yang telah tercabik-cabik juga tampak berceceran di mana-mana. Aiden telah berhasil menumbangkan ratusan prajurit kerajaan Hora dengan menebas kepala mereka satu persatu. Kepercayaan dirinya akan kemenangan kerajaan Khronos langsung membumbung tinggi ke udara, membuatnya semakin bersemangat untuk menyerang setiap prajurit yang mencoba menyerangnya. Dari kejauhan, raja Hora tampak memacukan kudanya kearahnya sambil menghunuskan pedang panjangnya yang terlihat telah berlumuran darah. Raja tua itu terus maju tanpa gentar untuk melawan sang raja iblis. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi pada resiko yang akan ditanggungnya jika ia berusaha berurusan dengan raja kejam itu. Tapi, demi membela kerajaannya dan seluruh rakyatnya, raja Hora berani mengambil resiko mengerikan yang telah menantinya saat ini.
"Brengsek! Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan sekarang, kenapa kau menyerang seluruh kerajaan dan melenyapkan mereka semua? Apa kekuasaanmu belum cukup, hah?" bentak raja Hora sambil mengacungkan pedangnya ke arah Aiden yang sedang menatap ponggah pada raja Hora dari atas kudanya yang gagah.
"Hmm, aku.. sebenarnya sedang merencanakan sebuah kedamaian." jawab Aiden santai. Melihat gaya Aiden yang begitu sombong dan angkuh itu membuat raja Hora menjadi geram dan naik pitam. Tanpa aba-aba apapun, raja Hora langsung maju untuk menyerang raja Khronos.
Crash
Serangan itu berhasil dihalau oleh Aiden dengan mudah. Pria licik itu sedikit tersenyum miring pada raja Hora sebelum ia mengarahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang raja Hora dan membuat pria tua itu jatuh dari atas kudanya. Suara gdebum dan suara ringkikan kuda milik raja Hora terdengar begitu nyaring di tengah-tengah medan pertempuran. Beberapa prajurit kerajaan Hora tampak menoleh khawatir pada raja Hora yang saat ini telah terduduk di atas tanah dengan wajah yang masih mendongak pada raja Aiden dengan tatapan kebencian. Aiden kemudian mengarahkan pedangnya tepat pada urat leher raja Hora yang angkuh itu, bersiap untuk menebas kepala raja tua itu dengan cepat.
"Sebenarnya apa salahku? Kenapa kau menyerang kerajaanku secara tiba-tiba seperti ini?" tanya raja Hora murka, namun ia tidak bisa melakukan apapun selain bersimpuh di atas tanah karena pedangnya telah terlempar cukup jauh dari tempatnya berada sekarang.
"Salahmu... kau menyembunyikan ratuku!" teriak Aiden marah sebelum ia mengayunkan pedangnya ke arah kepala raja Hora dan langsung membuat raja itu terkulai di tanah dengan darah yang terus mengucur dari lehernya. Dari kejauhan, pangeran Max langsung memacu kudanya dengan kencang sambil berteriak marah pada Aiden. Pria itu dengan brutal langsung mengarahkan pedangnya ke arah Aiden saat iamelihat ayahnya telah terkapar tak berdaya di bawah kaki kuda milik pria kejam itu.
Crash
Sring
Beberapa kali Max menyerang Aiden dan mencoba untuk menumbangkan raja kejam itu, namun dengan
mudah Aiden dapat menangkis setiap serangan itu hingga membuat Max semakin marah dan naik pitam. Pria itu terus berusaha untuk menjatuhkan Aiden dan memenangkan peperangan ini. Ia tidak terima jika raja muda itu juga menginjak-injak kerajaanya seperti ia menginjak-injak kerajaan yang lain.
Sret
Max berhasil melukai lengan Aiden dan membuat kulit pria itu sobek dan mengeluarkan darah. Aiden
yang melihat lengannya terluka menjadi begitu marah pada Max. Kini ia tidak ingin bermain-main lagi pada pangeran tampan itu. Kali ini ia benar-benar akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan satu-satunya keturunan raja Hora.
"Beraninya kau melukaiku! Akan kubunuh kau pangeran sombong!" teriak Aiden marah dan langsung menghunuskan pedangnya secara membabi buta ke arah Max. Peperangan itu terus berlangsung dengan sangat panas. Kedua pria muda itu sama-sama saling menyerang satu sama lain untuk merebutkan apa yang mereka inginkan.
Sring
Klang
Pedang milik Max jatuh ke atas tanah saat Aiden mulai menyerangnya dengan penuh perhitungan. Max
kemudian menatap tajam pada Aiden sambil mengepalkan tangannya dengan marah. Ia tidak akan kalah dengan semudah itu. Jika pedangnya telah jatuh, maka ia akan melawan Aiden dengan tangan kosong. Apapun yang terjadi, ia harus pulang dengan selamat dan membawa kejayaan untuk kerajaan Hora.
"Ayo kita bertanding tanpa menggunakan pedang."
"Huh, dasar licik! Kau sudah kalah dariku, jadi jangan coba-coba untuk bernegosiasi denganku." ejek Aiden remeh. Saat ini sebenarnya ia bisa menyerang Max dengan mudah. Tapi, ia tidak ingin membunuh Max sekarang. Ia ingin membawa Max ke dalam kerajaannya dan melihat pria itu hancur saat ia telah berhasil mengambil wanita yang dicintainya selama ini.
"Aku tidak akan membunuhmu sekarang, jadi jangan coba-coba untuk membuat kesabaranku habis dengan sikapmu yang sombong itu. Jika kau memerintahkan seluruh prajuritmu untuk mundur sekarang, maka prajuritku tidak akan menyerang kalian lebih jauh lagi. Apa kau tidak memikirkan nasib seluruh prajuritmu yang mati sia-sia di sini?"
"Tidak! Mereka semua akan berperang sampai akhir. Tak akan kubiarkan kau menginjak-injak harga diri kerajaan kami seperti itu. Lebih baik kami mati dengan cara terhormat daripada kami mati dengan cara memalukan seperti itu. Kami bukan pengecut sepertimu!"
Max berusaha kembali berdiri sambil menatap Aiden dengan penuh permusuhan. Tak sedikitpun ia pedulikan luka-luka sayatan yang saat ini memenihi seluruh tubuhnya dan menimbulkan rasa perih. Yang terpenting ia dapat melindungi kehormatan kerajaan Hora apapun yang terjadi.
Aiden sedikit menatap sebal pada pria sombong yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah ponggahnya. Ia tahu jika saat ini Max telah terluka cukup parah dibalik baju zirahnya. Tapi, kali ini ia akan mengabulkan permintaan pria itu untuk berkelahi satu lawan satu tanpa senjata sedikitpun. Akan sangat menyenangkan jika ia dapat mempermalukan pria itu sekali lagi dan membuatnya semakin menderita dengan harga dirinya yang terinjak-injak itu.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Kita bertanding satu lawan satu. Semuanya tahan serangan kalian. Jangan ada satu orangpun yang saling menyerang kecuali aku dan pangeran kalian!"
Max kemudian segera menyiapkan kuda-kudanya untuk menyerang Aiden. Raja kejam itu pun juga telah menanggalkan pedanya dan turun dari kudanya untuk menghadapi Max secara jantan. Meskipun ia tahu jika Max tidak akan mungkin menang melawannya, tapi ia akan mengikuti permainan pria itu sekarang.
"Majulah, dan serang aku." tantang Aiden santai. Merasa diberi kesempatan, Max segera maju ke depan untuk menerjang Aiden dengan pukulan kerasnya. Namun, Aiden dengan mudah langsung menghindar dari seranganMax dan justru menendang Max keras tepat di tulang kering pria itu, hingga ia tersungkur begitu saja ke atas tanah. Max mengerang keras sambil memegangi tulang keringnya yang terasa ngilu dan perih. Tapi, ia segera bangkit berdiri dan kembali menyerang Aiden.
"Keparat kau! Aku tidak akan menyerah dan akan membunuhmu."
Max mulai maju dan mengarahkan pukulannya ke wajah Aiden, namun pria itu berhasil menghindar dan menangkis serangan dari Max. Ketika Max sedang lengah, Aiden mengarahkan pukulannya pada perut Max hingga Max terbantuk-bantuk sebentar dan memuntahkan cairan merah pekat di atas tanah. Seulas senyum sinis tercipta di wajah Aiden ketika ia melihat lawannya yang tampak sudah kepayahan. Namun, dengan keras kepala Max mencoba untuk menyerang Aiden kembali, dan kali ini pria itu berhasil memukul wajah Aiden hingga Aiden sedikit terhuyung ke belakang. Setitik darah segar mengalir dari sudut bibir Aiden yang sobek. Aiden kemudian membalas Max dengan pukulan yang lebih keras ke arah dada pria itu, dan langsung membuat Max terbatuk-batuk dengan napas sesak yang tampak kepayahan. Ketika Max sudah mulai tumbang, Aiden menggunakan kesempatan itu untuk mengakhiri semuanya. Ia memberikan pukulan bertubi-tubi pada Max yang sudah tidak sanggup untuk melawannya, hingga pria itu kini terkapar tak berdaya di atas tanah, namun pria itu belum mati. Aiden memang sengaja membiarkan pria itu hidup agar ia dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana detik-detik kehancuran kerajaanya.
"Habisi semua prajurit Hora! Aku tidak mau kalian menyisakan seorang pun rakyat Hora untuk hidup." perintah Aiden tegas pada seluruh prajuritnya yang telah siap untuk menebas kepala setiap prajurit Hora. Max yang melihat hal itu hanya mampu menutup matanya pedih atas apa yang terjadi pada kerajaannya. Kini kerajaanya telah benar-benar runtuh. Bertahun-tahun nenek moyangnya membangun kerajaan ini untuk memperoleh kejayaan, kini semua itu langsung runtuh hanya dengan sekali serangan. Max kemudian membuka matanya kembali sambil bersiap untuk menghadapi kematiannya sudah semakin dekat. Pria itu tiba-tiba teringat pada Calistha dan ibundanya yang saat ini masih berada di dalam istana. Ia kemudian menitikan air matanya pilu karena ternyata ia telah gagal mempertahankan kehormatan mereka. Sekarang raja Khronos pasti akan mengambil semua harta kerajaan dan ibundanya untuk dibunuh. Max tak kuasa menahan kesedihannya sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Ia merasa begitu bodoh dan tak berguna. Ia lemah, dan ia dengan mudah dapat dikalahkan oleh raja Aiden yang kejam itu.
"Bangun! Aku tidak akan membunuhmu dan akan tetap membiarkanmu hidup. Jadi berhentilah menangis
dan bangunlah. Kita akan pergi ke istanamu bersama-sama." perintah Aiden dingin dan datar sambil menarik kasar tangan Max yang telah terkulai lemah di atas tanah. Dengan lemas pria itu mulai menyeimbangkan tubuhnya dan berusaha untuk berdiri tegak di hadapan Aiden. Seluruh tulangnya terasa begitu ngilu dan sakit ketika ia memaksakan diri untuk berjalan menuju kudanya. Dilihatnya kini seluruh pasukannya telah mati dan habis. Tak ada seorang pun yang tersisa dari kerajaan Hora selain dirinya. Pria itu kemudian berusaha kuat dan mencoba untuk menaiki kudanya dengan susah payah. Setelah semuanya siap, raja Aiden segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyerbu kota dan istana kerajaan. Saat ini kerajaan Hora telah resmi menjadi milik kerajaan Khronos, jadi mereka semua berhak melakukan apapun pada seluruh rakyat kerajaan Hora, termasuk membunuhnya.
"Bunuh semua rakyat yang memberontak dan bawa seluruh rakyat yang patuh ke kerajaan Khronos,
mereka sudah menjadi bagian dari Khronos sekarang." ucap Aiden keras pad seluruh anak buahnya sebelum ia melesat pergi bersama kudanya yang gagah menuju istana utama untuk menjemput ratunya.
-00-
Di dalam istana, Calistha tampak begitu cemas sambil mondar-mandir kesana kemari. Sang ratu yang
saat ini sedang berdoa di atas singgasananya tampak menatap lelah pada Calistha yang sejak tadi terus berjalan kesana kemari tanpa melakukan sesuatu yang berguna. Tiba-tiba seorang prajurit istana menyampaikan pesan jika kerajaan Hora telah kalah dan kini raja Khronos sedang berada di halaman istana, dan sedang bersiap untuk memasuki istana. Mendengar hal itu, Calistha langsung berlari ke arah sang ratu dan meminta ratu untuk segera lari dari istana, karena raja kejam itu akan membunuh mereka semua. Tapi, ratu justru menggeleng keras dan tetap bersikeras untuk berada di kerajaanya meskipun sebentar lagi ia akan mati.
"Ratu, kumohon pergilah. Aku tidak ingin raja kejam itu melukai ratu. Kita masih memiliki waktu untuk pergi dan bersembunyi dari raja Khronos yang kejam itu."
"Tidak, aku tidak akan pergi kemanapun dan akan tetap berada di sini hingga ajal menjemputku. Lebih baik aku mati daripada aku harus hidup tanpa suami dan putraku." ucap ratu Hora tegas tanpa gentar sedikpun. Calistha kemudian berusaha menarik tangan sang ratu agar wanita paruh baya itu segera berdiri dari singgasananya, namun ratu justru menghempaskan tangan kecil itu begitu saja, hingga Calistha tersungkur jatuh dari atas singgasana ratu yang tinggi itu.
"Kau wanita pembawa sial! Semua ini terjadi karena ulahmu. Seharusnya dulu aku tidak menerimamu dan membiarkanmu menjadi gelandangan di jalanan. Kini kerajaan suamiku telah hancur begitu saja karena ia telah berusaha melindungimu dari raja Khronos yang kejam itu. Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Aku tidak akan pernah meninggalkan kerajaanku apapun yang terjadi." bentak ratu marah sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat pada ujung gaunnya yang menjuntai ke atas lantai. Setetes air bening meluncur turun dari kedua sudut mata Calistha setelah ia mendengar semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari bibir sang ratu. Padahal selama ini ratu selalu bersikap lembut dan tidak pernah sedikitpun berkata kasar pada siapapun. Kini untuk pertama kalinya sang ratu marah dan mencaci maki dirinya dengan begitu kejam dan menyakitkan. Calistha kemudian segera bangkit berdiri untuk berjalan pergi meninggalkan ratu Hora. Karena tak ada gunanya lagi ia berada di sana jika ratu Hora sudah tak menginginkan keberadaanya lagi di sana. Dengan lunglai, Calistha mulai berjalan keluar dari aula istana untuk melarikan diri. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, seorang pria dengan jubah hitam yang sedikit kotor menghadang jalannya memberikan senyuman sinid padanya. Pria itu dengan brengseknya mulai menatap tubuh Calistha satu persatu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Calistha yang melihat hal itu pun menjadi marah dan merasa terhina. Ia tidak terima jika ia dilecehkan seperti ini.
"Apa yang kau lihat! Minggir dari jalanku." teriak Calistha marah. Aiden tampak terkekeh pelan dengan reaksi Calistha yang sungguh sangat menggemaskan menurutnya. Hatinya kini dipenuhi perasaan bahagia yang meluap-luap karena akhirnya ia dapat menemukan ratunya yang telah lama ia cari. Dengan lancang, Aiden mulai membelai pipi mulus Calistha dengan lembut sambil tersenyum sinis ke arah Calistha yang semakin marah.
"Kau ternyata sungguh cantik. Aku sudah lama mencarimu, my queen."
"Huh, brengsek! Kau memang raja brengsek cabul yang sangat menjijikan. Lepaskan tanganmu dari wajahku atau aku akan memukul wajahmu." marah Calistha berapi-api. Aiden justru tergelak senang dengan sikap Calistha yang pembangkan ini. Rasanya akan sangat menyenangkan jika ia memiliki seorang ratu yang begitu agresif seperti Calistha. Kehidupannya pasti tidak akan terasa hambar dan datar.
"Maaf, tapi wajahmu sepertinya telah menjadi candu untukku. Aku tidak bisa berpaling darimu sedikitpun. Bahkan, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuhmu yang menggoda ini."
Plakk
"Kurangajar. Beraninya kau menamparku!" Teriak Aiden marah sambil mengusap pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan yang diberikan oleh Calistha. Sementara itu, Calistha tampak tidak takut sedikitpun dengan teriakan Aiden yang begitu mengerikan di hadapannya. Saat ini ia lebih merasa marah dan terhina dari pria itu karena raja kejam itu telah berani melecehkannya.
"Jika kau berani melecehkanku sekali lagi, aku akan membunuhmu dengan pedangku." balas Calistha berang dengan tangan yang sudah bersiap untuk menarik pedang peraknya keluar. Aiden kemudian tersenyum sinis pada Calistha sambil memberikan kode pada Spencer agar pria itu segera mengeluarkan tawanan utamanya.
"Keluarkan dia sekarang. Kita lihat, apa yang bisa dilakukan wanita ini jika ia melihat pria yang dicintainya sedang sekarat." ucap Aiden datar dengan wajah mengejek ke arah Calistha. Wanita itu tampak syok ketika akhirnya beberapa prajurit masuk ke dalam aula sambil menyeret Max yang tampak tak berdaya. Ratu Hora yang
sejak tadi hanya diam di atas singgasananya, kini mulai menjerit pilu ketika ia melihat putranya tampak menyedihkan dengan darah segar yang masih mengalir dari wajah dan seluruh tubuhnya. Wanita paruh baya itu hampir berlari untuk mendekati putranya, namun langkahnya langsung dihentikan oleh dua prajurit Khronos yang berwajah sangar.
"Tolong, jangan sakiti putraku. Bunuh saja aku. Kumohon, jangan lakukan apapun pada Max." teriak ratu Hora pilu dari atas singgasananya. Aiden menatap sinis pada wanita paruh baya itu. Saat ini ia tidak membutuhkan kedua manusia itu. Yang ia butuhkan adalah Calistha. Jadi, ia akan memanfaatkan dua orang itu untuk membuat Calistha bertekuk lutut padanya.
"A apa yang akan kau lakukan pada Max?" tanya Calistha terbata-bata. Tiba-tiba ia merasa begitu lega dan khawatir disaat yang bersamaan. Ia lega karena ternyata Max masih hidup, tapi ia khawatir karena raja kejam itu pasti akan melakukan sesuatu yang buruk pada pria yang dicintainya.
"Hmm, kira-kira apa yang akan kulakukan pada kekasihmu itu?" tanya Aiden datar, namun terdengar begitu mengerikan di telinga Calistha. Dengan kasar pria itu langsung mencengkeram dagu Calistha dan membuat wanita itu mendongakan kepalanya. Sekuat tenaga Calistha mencoba untuk melepaskan diri dari cengekeraman raja kejam itu, tapi cengkeraman itu begitu kuat, hingga ia justru merasa semakin sakit saat ia berusaha untuk melepaskan diri dari Aiden.
"Sayang tenanglah, kau justru akan melukai dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli! Bahkan jika aku mati sekalipun, aku tidak peduli! Lepaskan tangan kotormu dari wajahku, dasar cabul!" Pekik Calistha berapi-api. Merasa tersinggung dengan hinaan Calistha, Aiden justru semakin mendekatkan wajah ke arah Calistha dan mencoba menghirup dalam-dalam aroma tubuh Calistha yang manis. Seketika ia langsung teringat akan kalung perak yang ia temukan di tengah hutan kemarin. Sekarang ia sangat yakin jika pemilik kalung itu pasti adalah Calistha, karena benda itu juga menguarkan aroma yang sama seperti aroma tubuh Calistha saat ini.
"Kau sangat manis sayang."
Calistha tampak memandang jijik pada Aiden yang sedang mengendus lehernya dengan kurang ajar itu. Berkali-kali ia berusaha menggerakan tangannya untuk memukul tubuh pria itu, tapi raja kejam itu tetap tidak peduli dan justru semakin gencar mencumi setiap inci kulitnya yang terbuka.
Dari kejauhan Max tampak sedih memandangi Calistha yang sedang dilecehkan oleh raja Khronos. Rasanya ia ingin maju dan menerjang raja itu sekarang juga karena ia telah berani mengusik wanitanya. Tapi, di kanan kirinya, dua orang prajurit sedang mencekal lengannya yang terluka dengan begitu erat, hingga ia tidak dapat berbuat apapun selain menyaksikan kejadian menyakitkan itu dengan kedua matanya sendiri.
"Max, lihatlah. Aku berhasil mendapatkan wanitamu. Sekarang nikmatilah pertunjukannya."
Setelah mengucapkan hal itu, Aiden langsung ******* bibir Calistha kasar tanpa mempedulikan erangan tertahan Calistha karena ia berusaha untuk menghindari ciuman panas tersebut. Aiden kemudian menarik rambut Calistha keras, hingga wanita itu merintih kesakitan sambil membuka mulutnya yang sejak tadi telah ditunggu-tunggu oleh Aiden. Tanpa membuang-buang kesempatan, Aiden langsung ******* setiap inci bibir Calistha
dan menyelipkan lidahnya ke dalam sana untuk mencecap rasa manis yang dikeluarkan oleh Calistha.
Cukup lama mereka berciuman di tengah-tengah aula kerajaan Hora, hingga kemudian suara teriakan dari sang ratu menghentikan ciuman panas Aiden pada Calistha.
"Cukup! Jika kau menginginkannya, bawa saja gadis murahan itu sekarang! Dan lepaskan anakku sekarang juga." teriak ratu Hora keras, menyisikan sebuah rasa pedih di hati Calistha karena ia merasa telah dijual oleh sang ratu yang selama ini selalu dihormatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
INdah🌹
88
2023-08-31
0
Mutia Tiara
kasian max
2020-05-07
1