Saat tengah malam Calistha tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena ia merasa mendengar suara yang begitu berisik dari halaman istana. Dengan penasaran, ia kemudian berjalan menuju balkon untuk melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana. Sekilas Calistha melihat ada begitu banyak rakyat kerajaan Khronos yang sedang berdiri di halaman istana sambil berteriak-teriak dengan riuh. Tampak di bawah sana obor-obor dinyalakan dengan begitu terang. Dengan penuh tanda tanya, Calistha terus mengamati semua hal yang berada di halaman istana. Tiba-tiba ekor matanya melihat seorang pria sedang tengkurap di atas tanah dengan darah yang telah bersimbah di seluruh tubuhnya. Ia kemudian semakin menyipitkan penglihatannya untuk melihat tubuh pria itu. Dan betapa terkejutnya Calistha setelah ia menyadari jika pria itu adalah Max. Kemudian dari sudut lain kerumunan itu, ia dapat melihat Aiden sedang menghunuskan pedangnya pada seorang wanita yang wajahnya telah ditutup oleh kain hitam, tapi ia tahu siapa wanita yang saat ini akan dieksekusi oleh Aiden.
"Tidak, jangan! Gazelle, Tiffany!" jerit Calistha histeris. Ia kemudian segera berlari keluar dari dalam kamarnya seperti orang kesetanan. Beberapa kali ia menabrak para pelayan yang sedang berlalu lalang di dalam istana. Tapi ia tidak peduli dan hanya terus berlari untuk menyelamatkan Gazelle dan Tiffany yang akan segera dieksekusi oleh Aiden. Kini seluruh wajahnya telah dipenuhi oleh air mata penyesalan. Semua ini adalah salahnya. Ia yang menyuruh Max dan Gazelle untuk membebaskan Tiffany, tapi sepertinya mereka bertiga tidak berhasil keluar dari dalam istana dengan selamat dan justru ditangkap oleh prajurit istana.
Setibanya di halaman, Calistha segera berlari menerobos kerumunan manusia yang sedang berteriak-teriak menghujati ketiga manusia yang telah di eksekusi oleh Aiden.
"Jangan! Jangan bunuh mereka. Jangan...."
Seketika Calistha merosot di atas tanah ketika ia melihat wanita terakhir telah dieksekusi. Tiffany... telah meninggal.
"Apa yang kau lakukan pada mereka? Kenapa kau membunuh mereka?" bisik Calistha lirih di bawah kaki Aiden. Sedangkan pria itu tampak begitu santai sambil memberikan pedangnya yang telah berlumuran darah pada Spencer yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Karena mereka adalah penyusup dan pengkhianat, juga tahananku. Ayo masuk, seharusnya kau tidak berada di sini."
Aiden langsung menyeret tubuh lemas Calistha begitu saja ke dalam istana. Kali ini Calistha terlihat seperti mayat hidup yang benar-benar tidak memiliki jiwa. Setelah Aiden menjatuhkannya di atas ranjang, Calistha hanya terus melamun sambil menangis dalam diam. Hatinya terasa begitu remuk dan hancur. Seharusnya mereka bertiga
tidak menanggung semua kesalahannya. Seharusnya mereka dapat hidup layak dan damai. Bagaiman keadaan sang ratu sekarang jika ia mengetahui jika putra satu-satunya telah mati? Sepanjang malam Calistha terus menangis di dalam kamarnya tanpa berniat untuk memejamkan matanya sekalipun. Sekarang ia tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan setelah Max, Gazelle, dan Tiffany meninggal. Ia benar-benar telah tersesat dan kehilangan arah tanpa mereka.
"Maafkan aku." bisik Calistha lirih pada udara kosong dan kesenyapan malam.
-00-
"Yang Mulia, bagaimana dengan pernikahan anda besok? Apa ratu akan baik-baik saja setelah kejadian mengerikan malam ini. Ratu pasti sangat terpukul dengan kejadian hari ini." ucap Spencer di dalam ruang pribadi Aiden. Sang raja saat ini tengah menyesap anggurnya dengan santai tanpa peduli pada kekhawatiran yang sedang mengganggu pikiran Spencer. Lagipula saat ini ia hanya sedang mengikuti alur permainan, jadi ia sama sekali tidak perlu ambil pusing dengan keadaan wanita itu yang masih syok dengan peristiwa eksekusi malam ini.
"Kenapa kau harus mengkhawatirkan Calistha. Tugas kita di sini hanyalah mengikuti alur permainannya. Sebenarnya bukan aku yang menginginkan ketiga manusia itu mati, tapi wanita itu sendiri yang menginginkan kematian bagi ketiga orang itu, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan pernikahanku besok. Lebih baik kau periksa lagi semua persiapan untuk pernikahanku besok. Jangan sampai rencana pernikahanku gagal hanya karena masalah sepele seperti ini."
"Baik Yang Mulia. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam." ucap Spencer sopan sebelum ia melangkah pergi, keluar dari dalam ruangan pribadi rajanya. Sembari menyesap anggur merahnya dengan nikmat, Aiden mulai bersiap untuk mendapatkan kilasan kejadian yang akan terjadi esok. Dengan perlahan Aiden mulai memejamkan matanya sambil menahan setiap rasa sakit yang mulai menusuk-nusuk kepalanya.
"Argghh........." erang Aiden tertahan sambil berpegangan pada pinggiran mejanya kuat-kuat. Cukup lama Aiden mendapat penglihatan mengenai kejadian di masa depan, hingga akhirnya ia dapat bernafas lega setelah semua penyiksaan yang menyakitkan itu akhirnya berhenti.
"Jadi begitulah akhir dari kisahnya." gumam Aiden tenang sambil menerawang jauh pada sudut-sudut kamarnya gelap.
-00-
Keeseokan harinya Calistha terlihat bagaikan mayat hidup yang kosong dan terlihat tak bercahaya. Berkali-kali Yuri mendesah kesal karena riasannya sama sekali tidak berefek pada wajah Calistha yang pucat dan kacau itu. Semalaman Calistha terus menangis sesegukan di dalam kamarnya dan sama sekali tidak tidur, sehingga kedua matanya kini terlihat begitu bengkak dan memerah. Akhirnya Yuri menyerah untuk mendandani Calistha dan memilih untuk segera membereskan semua perlengkapan riasnya. Ia merasa begitu frustasi dan tidak tahu lagi bagaimana cara memoles wajah Calistha yang tampak redup dan kacau itu.
"Yang Mulia saya pamit untuk pulang sekarang. Semoga pernikahan anda selalu diberkati Tuhan." doa Yuri tulus sambil memandang prihatin pada Calistha. Tak berapa lama, seorang dayang masuk ke dalam kamar Calistha untuk menjemput wanita itu. Saat ini sang raja telah menunggunya di aula istana untuk mengucapkan janji pernikahan di hadapan tetua kerajaan.
Dengan langkah lemah, Calistha terus dituntun untuk berjalan menuju aula istana. Sekilas dayang itu tampak khawatir dengan keadaan Calistha. Tapi, ia tentu saja tidak dapat melakukan apapun selain mematuhi perintah raja untuk membawa Calistha ke aula.
"Yang Mulia, kita telah tiba di aula."
Ketika Calistha muncul di pintu besar aula, seluruh mata langsung menatap pada Calistha dengan pandangan yang bermacam-macam. Ada yang memandang Calistha dengan acuh, ada pula yang memandang Calistha dengan iba. Kemudian setelah Aiden mengumumkan pada seluruh rakyatnya jika upacara pernikahannya akan segera dimulai, mereka semua langsung menghadap ke depan sambil menatap sang tetua yang sedang membacakan kata sambutan sebelum pernikahan dengan khidmat.
Perlahan-lahan Calistha mulai berjalan menyusuri karpet merah yang telah dipersiapkan untuknya. Berbagai macam kelopak bunga yang begitu indah menghujani tubuhnya dan mengiringi setiap langkah yang dilaluinya. Tapi, meskipun acara pernikahannya sangat mewah, ia justru merasa hampa. Andai saja ia dapat menolak pernikahan ini, maka ia lebih memilih untuk menolaknya karena sejak semalam ia terus dihantui oleh rasa bersalah yang begitu besar di hatinya. Bayangan tubuh Max, Gazelle, dan Tiffany yang bersimbah darah terus berputar-putar di dalam otaknya, membuat ia merasa pusing dan mual.
Tak terasa langkahnya sudah semakin dekat pada Aiden. Pria itu dengan gagah sedang menunggunya di atas altar sambil mengulurkan tangannya ke arah Calistha untuk menyambut wanita itu. Tiba-tiba perasaan marah dan benci memenihi diri Calistha hingga ia merasa begitu panas saat ia melihat wajah licik Aiden yang sedang menunggunya dengan senyuman palsu yang begitu memuakan. Ketika Calistha sudah berada di beberapa langkah di depan Aiden, pria itu langsung maju dan menarik tangan Calistha agar wanita itu segera menempatkan diri di hadapan sang tetua kerajaan yang terlihat sudah tidak sabar untuk menikahkan mereka berdua.
"Yang Mulia, apa anda telah siap untuk mengucapkan janji setia pernikahan?" tanya tetua kerajaan itu sambil mempersiapkan kitab kerajaan yang begitu usang. Dengan mantap Aiden mulai mempersiapkan diri untuk mengucapkan janji pernikahannya di hadapan seluruh rakyatnya dan juga di hadapan ratunya.
Setelah Aiden selesai dengan janji pernikahannya, tetua itu meminta Calistha untuk mengucapkan janji
pernikahan seperti yang dilakukan oleh Aiden. Tapi, Calistha justru terdiam di tempat sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Ia tidak mau menikah dengan pembunuh. Lebih baik ia mati daripada harus menikah dengan seorang pembunuh seperti Aiden.
"Aku tidak mau menikah dengan raja kalian yang kejam ini. Lebih baik aku mati daripada harus menanggung beban berat seumur hidupku!"
Sring
Tanpa diduga, Calistha langsung menarik pedang yang berada di pinggang Aiden. Seluruh tamu yang berada di sana langsung memekik heboh sambil memperingatkan Calistha agar segera membuang pedang itu. Tapi, Calistha terlihat sama sekali tidak peduli dan justru semakin mendekatkan pedang itu pada perutnya. Ia tidak ingin lagi hidup. Ia ingin mati sekarang juga.
"Jatuhkan pedang itu! Apa yang kau lakukan di masa sekarang akan memiliki dampak yang besar bagi masa depan." peringat Aiden keras. Namun, Calistha sama sekali tidak mempedulikan peringatan itu karena ia merasa sudah muak dengan segala hal yang berhubungan dengan pria itu.
"Aku tidak peduli! Kau pria kejam dan brengsek! Aku membencimu. Selamanya aku tidak akan pernah menikah denganmu."
Sret
Brugh
Seketika darah merembes dari gaun pink yang dikenakan oleh Calistha, menciptakan noda darah yang menggenang di atas lantai marmer yang sedang dipijaknya. Seluruh rakyat yang berada di sana langsung menjerit histeris setelah dengan begitu cepatnya mereka melihat calon ratu mereka mati bunuh diri di hari pernikahannya. Sementara itu, Aiden hanya terdiam di tempatnya dengan kaku sambil memandangi tubuh Calistha di depannya dengan wajah datar yang tak terbaca. Pria itu samar-sama hanya tersenyum sinis pada tubuh kaku Calistha sambil berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Sampai jumpa lagi, my queen."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
luthfie_18
tegang 😳
2020-06-24
0
Mutia Tiara
lah kok mati sih..🙄
2020-05-08
0