Di meja makan, Calistha langsung mengambil posisi di sebelah Aiden. Sebenarnya ia tidak pernah mau
berada di sana, tapi ia terpaksa melakukannya agar ia dapat mengalihkan perhatian Aiden dengan lebih mudah.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Aiden sambil memotong daging steaknya. Calistha hanya membalas pertanyaan Aiden dengan anggukan singkat sambil berusaha menormalkan deru napasnya yang memburu.
"Apa kau baru saja berlari dari halaman depan?"
"Hosh hosh, menurutmu? Aku hanya hosh takut membuatmua menunggu terlalu lama." ucap Calistha terbata-bata. Aiden kemudian menyodorkan segelas air kepadanya, yang langsung diterima oleh Calistha dengan senang hati.
"Terimakasih."
"Hmm. Cepat habiskan makananmu sebelum semuanya menjadi dingin."
Calistha kemudian mulai mengambil peralatan makannya dengan ragu sambil mengamati beberapa prajurit dan penghuni istana yang lain yang sedang berlalu lalang disekitarnya. Tapi, sepertinya Max dan Gazelle sama sekali belum masuk ke dalam istana, sehingga ia dapat memakan makanannya dengan tenang. Tapi, saat ia akan mengangkat sendoknya untuk menyendok sayuran yang berada di piringnya, mata elang itu terus menatapnya dengan tajam, sehingga ia menjadi gugup dan langsung mengurungkan niatnya untuk melahap sayuran itu. Lagipula Aiden saat ini sedang mengmatinya dengan tatapan mata tajam, seperti sedang mencari sesuatu dalam dirinya.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Calistha tidak suka. Wanita itu mulai mengeluarkan sisi kerasnya lagi yang sangat menyebalkan itu.
"Sikapmu hari ini sedikit lebih lunak, apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dariku?"
Tanpa basa-basi sedikitpun, Aiden langsung menyerangnya dengan pertanyaannya yang begitu sulit untuk dijawab. Sebenarnya ia sama sekali tidak tahu mengapa hari ini ia menjadi sedikit lebih lunak pada Aiden, tapi yang jelas hal itu berkaitan dengan mimpinya. Hari ini ia hanya sedang berusaha untuk mencegah mimpinya itu agar
tidak menjadi nyata. Dan salah satu caranya adalah dengan bersikap sedikit melunak pada Aiden. Karena ketika ia menggunakan kekerasan pada pria itu, ia justru membuat Aiden semakin marah dan mereka berdua berakhir dengan sebuah pertengkaran hebat dan juga... ciuman panas yang sebenarnya sedang ia coba untuk lupakan.
"Aku sedang tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan diantara kita. Apa kau suka mendengarkan setiap kata-kata kejam dan pedas dariku?"
"Jika kata-kata kasar dan pedas berarti kau akan tetap berada di sisiku, maka aku lebih baik mendengarkan kata-kata itu. Aku sama sekali tidak keberatan mendengarkannya asalkan kau tidak sedang berusaha untuk kabur dari istanaku."
"Ya Tuhan, apakah kau selalu berpikiran buruk pada semua orang? Aku hanya sedang ingin berbaik hati padamu, jadi jangan coba-coba untuk memancing kemarahanku lagi." gerutu Calistha kesal sambil memotong-motong daging steaknya dengan kasar. Dari kejauhan Gazelle sedang memberikan kode pada Calistha agar wanita itu mengalihkan perhatian Aiden selagi mereka berjalan melewati mereka berdua. Dengan sigap Calistha langsung menegakan tubuhnya sambil melihat ke atas meja dengan bingung karena ia sama sekali tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Kemudian ia melihat semangkuk sup tomat di sebelah tangan kanannya yang masih mengepulkan uap tipis. Calistha berpura-pura akan mengambil sup itu dengan sendok emasnya yang berada di atas serbet makan yang berada di sisi kanan mangkuk sup itu. Lalu ia dengan sengaja menyenggol piring berisi mangkuk sup itu ke arah kanan, hingga kuah sup merah itu langsung mengotori lantai dan juga baju Aiden yang berwarna hitam.
Pyarr!
"Arghh, apa yang kau lakukan, dasar ceroboh!" umpat Aiden kasar. Refleks pia itu langsung bangkit berdiri sambil menatap murkan pada Calistha karena wanita itu baru saja menumpahkan kuah sup ke atas bajunya yang berharga.
"Mmaafkan aku. Aku akan membersihkannya."
Calistha mulai mengambil lap bersih yang berada di atas meja dan langsung mengusapkannya di atas pakaian Aiden yang kotor. Beberapa pelayan langsung berlari ke arahnya untuk membersihkan semua kekacauan yang telah diperbuatnya. Tapi, berkat kauh sup yang tumpah itu, Max dan Gazelle dapat melewati meja makan dengan mudah, karena semua perhatan sedang terfokus pada kekacauan yang baru saja dilakukan oleh Calistha.
"Kalian, berhenti!"
Tiba-tiba Spencer datang dari arah luar dan langsung berteriak nyaring di tengah-tengah ruang makan, membuat semua orang yang berada di sana langsung menatapnya dengan tatapan bingung. Mata hitam Aiden langsung menatap Spencer dengan tajam karena pria itu telah bersikap dengan tidak sopan.
"Apa kau sudah kehilangan sopan santumu Spencer?" desis Aiden marah dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Spencer kemudian menunduk hormat pada Aiden dan meminta maaf pada raja itu karena telah menganggu acara makan siangnya. Tapi, ia harus segera menghentikan Gazelle dan Max yang hendak masuk ke dalam penjara bawah tanah untuk membawa kabur Tiffany.
"Maafkan saya Yang Mulia, tapi kita telah kedatangan penyusup di ruangan ini."
Mendengar hal itu, baik Gazelle, Max, dan Calistha langsung membeku di tempat karena penyamaran mereka sudah diketahui oleh Spencer. Dengan gugup Calistha mencoba untuk meredam kekhawatirannya dengan deheman pelan, namun sepertinya itu sama sekali tidak mengubah apapun karena ia masih tetap gugup dan Spencer masih berdiri dengan gagah di sebelah mejanya.
"Penyusup? Berani-beraninya mereka masuk kemari. Tangkap mereka dan bunuh mereka sekarang juga."
Mendengar kata-kata mengerikan itu, wajah Calistha seketika langsung pucat pasi. Spencer langsung mengangguk hormat pada Aiden, dan setelah itu ia langsung memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menangkap Max dan Gazelle yang sudah berlari pergi menyelamatkan diri dari para prajurit yang hendak menangkap mereka. Aiden kemudian menatap Calistha tajam sambil mencekal pergelangan tangan Calistha karena wanita itu juga berniat untuk kabur darinya bersama dengan Max dan Gazelle.
"Jadi ini maksud dibalik sikap lunakmu hari ini?"
"Lepaskan! Memangnya kenapa jika aku ingin pergi dari kerajaan ini? Aku muak tinggal di sini. Aku ingin bebas dan ingin menjalani kehidupanku sendiri berdasarkan pilihanku. Aku tidak mau menjadi isterimu apalagi menjadi penawar dari kutukanmu. Kau jahat dan aku lebih senang kau mati daripada hidup dengan sangat
kejam seperti ini." sembur Calistha tak berperasaan dan langsung membuat emosi Aiden memuncak. Pria itu semakin erat mencengkeram pergelangan tangan kanan Calistha hingga memerah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Calistha dan justru menyuruh Calistha untuk pergi.
"Pergilah. Tapi, jika suatu saat aku dapat menangkapmu, maka kau tidak akan pernah bisa keluar dari istana ini lagi."
"Huh, kupastikan padamu, aku pasti tidak akan pernah tertangkap olehmu atau oleh pasukanmu. Karena sebelum hal itu terjadi, aku pasti sudah lenyap dari dunia ini."
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Calistha segera berlari keluar untuk mencari Gazelle dan Max. Mereka tadi telah sepakat untuk menggunakan pintu tua yang tesembunyi di balik patung raja dan ratu khronos terdahulu untuk keluar dari kerajaan terkutuk itu. Sedangkan Aiden hanya terdiam di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Ia tahu, apa yang dilakukannya kali ini terkesan terlalu ceroboh karena ia telah melepaskan Calistha begitu saja bersama Max dan Gazelle. Tapi, ia yakin suatu saat nanti ia pasti dapat membawa Calistha ke dalam pelukannya lagi. Anggap saja semua ini hanya sekedar permainan untuk menghiburnya. Tapi, setelah
ini, ia bersumpah tidak akan pernah bermain-main lagi pada Calistha. Namun, sejujurnya ia lebih senang melihat Calistha yang penuh keberanian dan berapi-api seperti saat ini, daripada Calistha yang pemurung saat ia membunuh ketiga teman-temannya yang ia anggap baik itu.
"Selamat bersenang-senang Cals." gumam Aiden miris sambil mengingat-ingat masa depannya yang sebentar lagi akan berubah.
-00-
Seluruh penghuni istana menjadi heboh setelah Calistha menusukan pedang itu pada perutnya. Spencer dan beberapa prajurit yang lain tampak sedang berusaha menenagkan para wanita yang langsung menjerit histeris. Sedangkan Aiden masih tetap bergeming di tempatnya sambil menatap nanar pada tubuh Calistha yang bersimbah darah. Entah harus berapa lama lagi ia bersabar dengan segala kutukan dan rintangan ini. Bahkan saat penwar kutukannya telah berada di depan matanya, ia tetap saja tidak bisa menyembuhkan kutukannya. Sang tetua kerajaan kemudian turun dari podium dan langsung menepuk pundak Aiden pelan.
"Bersabarlah anaku, ujianmu pasti akan segera berakhir dan tergantikan dengan masa depan yang indah." ucap sang tetua menenangkan. Aiden hanya menanggapi ucapan tetua kerajaan itu dengan senyum getirnya yang ia paksakan.
"Yang Mulia, bagaimana dengan....."
Tiba-tiba semua orang yang berada di ruangan itu berhenti bergerak. Begitupun dengan jam besar yang berada di sudut kiri aula yang saat ini sedang berhenti berputar. Aiden kemudian berjalan menghampiri tubuh kaku Calistha yang tergeletak di dekat kakinya. Dengan lembut Aiden mengangkat kepala Calistha dan memberikan
sebuah kecupan dalam di bibir Calistha.
"Semuanya baru akan dimulai sayang. Selamat datang di kehidupanku yang rumit dan membosankan ini."
Perlahan semua orang yang berada di ruangan itu menjadi mengabur dan semuanya tampak memudar satu persatu. Tubuh Calistha yang berada di dalam rengkuhan Aiden juga perlahan-lahan mulai memudar dan semuanya tampak seperti sedang mundur ke belakang. Sembari merasakan detik-detik kemunduran waktu, Aiden mulai memejamkan matanya dan berharap dalam hati, semoga masa depannya akan menjadi lebih indah setelah ini.
"Kau dan aku, kita tidak akan mati dengan mudah"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments