Siang hari, setelah berpamitan dengan nenek Lisa dan Yuri, Calistha dan yang lainnya segera melanjutkan perjalanan untuk menuju kerajaan Bibury. Sebenarnya perjalanan mereka sudah tidak terlalu jauh lagi, mereka hanya perlu berjalan melintasi hutan ini dan setelahnya mereka akan tiba di kerajaan Bibury. Selama perjalanan, Gazelle terus berceloteh pada Calistha mengenai kaum pemberontak yang telah bersiap untuk menyerang kerajaan Khronos dengan bantuan raja Bibury. Dan menurutnya penyerangan kali ini akan lebih berhasil karena mereka mendapatkan penambahan pasukan dari kerajaan Bibury.
"Kau bisa menyelamatkan saudaramu saat kami menyerang kerajaan Khronos nanti, jadi jangan khawatir. Kita pasti akan menang." ucap Gazelle yakin. Calistha hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Gazelle karena ia sudah merasa tidak bersemangat lagi setelah mendengar semua penjelasan dari Aiden yang memang belum terbukti kebenarannya. Tapi, sebagian hatinya tetap terusik dan ia takut jika apa yang dikatakan oleh pria itu ternyata benar adanya.
"Hey, kau sering sekali melamun sejak tadi, ada apa?" tanya Gazelle bingung. Biasanya Calistha selalu bersemangat dan tidak pernah menunjukan wajah murung seperti ini. Tapi, pagi ini Calistha terlihat tampak berbeda dan lebih banyak membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Entahlah, aku hanya merasa bingung dengan perasaanku. Apa kau dulu adalah bagian dari kerajaan Khronos? Max pernah memberitahuku jika kau memiliki dendam pada kerajaan Khronos. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Tatapan mata Gazelle tiba-tiba berubah menjadi serius dan Calistha dapat melihat adanya kilatan marah di kedua bola mata coklatnya. Wanita itu kemudian menceritakan semua hal yang menimpanya, hingga membuatnya merasa begitu marah dan ingin menghancurkan pemimpin kerajaan Khronos. Tapi tanpa sepengetahuan Calistha, sebenarnya apa yang dikatakannya hanyalah kedustaan belaka yang dibumbui dengan sebuah kelicikan di dalamnya.
"Aku pernah mengalami hal buruk di kerajaan itu. Sebenarnya aku adalah putri dari menteri perang. Sejak kecil aku sudah terbiasa tinggal di istana dan belajar ilmu beladiri bersama Aiden. Yah, sejak kecil aku sangat dekat dengan Aiden. Kami adalah sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Selain itu aku adalah satu-satunya teman yang ia miliki karena pelatihan beladiri kerajaan hanya bisa diikuti oleh anak raja dan anak para menteri. Tapi, saat itu anak laki-laki yang lain tidak terlalu menyukai Aiden karena Aiden memang memiliki sikap sombong dan berkuasa. Tapi, aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena aku merasa sifat itu memang wajar jika dimiliki oleh Aiden, mengingat ia adalah calon pewaris tahta kerajaan. Bertahun-tahun kami bersahabat hingga kami tumbuh dewasa dan Aiden mulai mendapatkan kutukan yang mengerikan itu. Setiap hari aku selalu mengunjunginya dan berusaha untuk menghiburnya agar ia tidak terus menerus merasa murung dan sedih. Lalu puncak kehancurannya adalah saat kedua orangtuanya meninggal, saat itu Aiden benar-benar merasa terpukul hingga ia selalu mengurung diri di kamarnya karena ia merasa semua petaka itu berasal darinya. Setiap malam Aiden sering menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan hingga pagi hari. Lalu, suatu malam aku datang mengunjunginya setelah selama seminggu aku tidak pernah mengunjunginya karena aku akan menikah dengan seorang pemuda, putra dari menteri ekonomi. Tapi, mungkin saat itu aku memang datang disaat yang tidak tepat. Saat itu Aiden sedang mabuk dan ia terlihat bukan seperti Aiden yang kukenal. Dengan kasar ia langsung menghempaskan tubuhku ke atas ranjang dan setelah itu ia melakukannya padaku. Ia... melecehkanku dan
meniduriku. Keesokan harinya, saat aku terbangun, aku menangis tersedu-sedu dihadapannya untuk meminta pertanggungjawaban darinya. Tapi, dengan kasar ia justru mengusirku dan menyebutku sebagai ******. Selain itu ia juga mempermalukanku dan keluargaku hingga keluarga menteri ekonomi membatalkan rencana pernikahanku dengan putranya. Aku yang merasa malu dan terinjak-injak akhirnya memutuskan untuk pergi dari kerajaan Khronos agar aku tidak menambah aib bagi keluargaku lagi. Sampai sekarang hatiku masih terasa sakit saat ingatan tentang kejadian malam itu muncul di kepalaku. Hiks, aku merasa kotor dan hina Cals. Dia telah mengambil kesucianku dengan paksa."
Calistha mengusap lembut lengan Gazelle yang saat ini tengah menangis di pundaknya. Max yang sejak tadi mendengarkan cerita dari Gazelle merasa turut prihatin atas musibah yang menimpa wanita itu. Ia sebagai seorang pria merasa begitu marah pada Aiden karena pria itu ternyata memiliki perilaku yang lebih rendah dari binatang. Sementara itu, Calistha merasa pikirannya mengenai Aiden langsung berubah setelah sebelumnya ia merasa sedikit bersimpati pada pria itu. Seharusnya ia memang tidak mempercayai pria itu begitu saja dan dengan mudahnya termakan setiap kata-kata yang diucapkan oleh pria itu.
"Gazelle, apakah kau tahu siapa yang telah membunuh kedua orangtua Aiden?"
Gazelle mendongakan kepalanya sambil mengusap bulir-bulir air mata palsunya dengan dramatis. Ia kemudian menyeringai menang dalam hati karena ia telah berhasil memperdaya Calistha. Dan setelah ini ia akan semakin menyakiti Calistha dengan jawabannya yang akan mengejutkan wanita itu.
"Ya, aku tahu. Tapi, mungkin ini akan sedikit melukaimu."
"Melukaiku? Kenapa?"
"Karena sebenarnya yang telah membunuh kedua orangtua Aiden adalah raja dan ratu dari kerajaan Kairos, yaitu orangtuamu."
Sontak Calistha membeku di tempat sambil menatap tak percaya pada Gazelle. Ia pikir Aiden telah menipunya, tapi mendengar Gazelle yang juga mengatakan hal yang sama padanya, membuat ia mau tak mau harus menelan pil pahit itu dengan perasaan hancur. Tapi, akal sehatnya yang lain mencoba menyangkal semua kebenaran itu dengan mengatakan jika kedua orangtuanya pasti melakukan pembunuhan itu karena memiliki alasan lain. Lalu hati kecilnya berteriak padanya, jika apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Aiden sekarang. Ia kemudian menjadi kalut dengan perasaannya sendiri yang seakan-akan sedang berperang untuk mempertahankan logikanya yang tepat. Gazelle yang merasa Calistha sudah termakan ucapannya langsung bersorak dalam hati. Setelah ini ia akan lebih mudah untuk menghancurkan Calistha karena perasaan wanita itu telah berhasil ia porak porandakan. Dan setelah ia berhasil mengatasi masalah Calistha, maka ia akan memanfaatkan Max untuk menjadi pengawal setianya, yang dapat ia perintah sesuka hati untuk melakukan berbagai macam hal. Dan setelah semua rencananya berhasil dilakukan, maka ia akan kembali muncul di hadapan Aiden untuk menertawakan pria jahat itu yang dulu juga pernah menghancurkan hatinya.
"Aiden, aku pasti akan membuatmu membayar semua sakit hatiku. Kau akan kubuat menderita secara perlahan melalui Calistha."
-00-
Malam harinya, mereka bertiga telah tiba di perbatasan kota Bibury. Saat mereka tiba, mereka semua telah ditunggu oleh prajurit kerajaan Bibury untuk diantarkan menuju istana raja Andrew. Selama perjalanan, Calistha terus berdecak kagum sambil mengamati seluruh pemandangan indah di kota Bibury. Dalam sekejap, ia merasa begitu mencintai kerajaan ini karena kerajaan ini sangat mirip dengan kerajaan Hora. Meskipun dari segi kecanggihan, kerajaan ini masih jauh tertinggal dari kerajaan Khronos, tapi kerajaan ini mampu memikatnya dengan suasana khas pedesaan yang begitu kental di area ini. Di kanan dan kiri jalan, rumah-rumah penduduk dibangun dengan sangat sederhana menggunakan batu bata yang disusun secara rapi dan juga cantik. Lalu, Calistha juga dapat melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain penuh suka cita di sebuah taman yang walaupun tidak luas, tapi tatanannya begitu indah. Max yang melihat Calistha begitu menyukai kerajaan ini langsung tersenyum lembut pada Calistha sambil menggenggam tangan wanita itu hangat. Ia tahu, saat ini Calistha sedang merindukan kerajaanya, dimana selama ini wanita itu sudah terbiasa dengan suasana hangat yang tercipta di kerajaan Hora.
"Apa kau merindukan suasana di Hora?"
"Ya, aku merindukannya. Andai saja raja kejam itu tidak menyerang kerajaanmu, kita pasti tidak akan terlunta-lunta seperti ini dan harus memohon perlindungan pada kerajaan lain." gerutu Calistha sebal. Tiba-tiba salah satu prajurit Bibury mengatakan pada mereka jika mereka telah tiba di istana Bibury, dan saat ini raja sedang menunggu mereka di ruang makan. Perlahan-lahan, Calistha dan Gazelle mulai melangkah keluar dari kereta kuda, diikuti oleh Max dibelakangnya. Setelah itu, seorang pelayan dengan seragam berwarna merah datang menjemputnya untuk mengantar mereka menemui raja Andrew, raja dari kerajaan Bibury.
Dengan gugup, Calistha mulai berjalan cepat sambil mengamati setiap lukisan dan hiasan dinding yang dipajang di sepanjang lorong menuju ruang makan. Lalu saat mereka telah tiba di ujung sebuah pintu besar, seorang pelayan langsung membukakan pintu itu untuk mereka. Saat pintu besar itu terbuka sepenuhnya, tampaklah sosok raja Andrew yang rupawan tengah tersenyum ke arah mereka sambil mempersilahkan mereka semua untuk bergabung bersamanya.
"Silahkan masuk, aku telah menunggu kalian cukup lama."
"Maaf Yang Mulia, kami datang dengan penampilan yang tidak pantas." ucap Max terlihat sungkan. Andrew menggeleng ringan sambil menghela tubuh Max untuk duduk di sebelahnya. Kesan pertama yang ditangkap oleh Calistha saat melihat sosok raja Andrew adalah ia merupakan pria yang tampan dan juga lembut, sangat berbeda dengan Aiden yang begitu kejam dan juga kasar.
Tapi, kau justru terlena dengan setiap sentuhannya. Calistha menggeleng-gelengkan kepalanya gusar saat hatinya dengan terang-terangan tengah mencemoohnya karena sikapnya yang terlihat seperti ****** saat di dalam mimpinya kemarin. Cepat-cepat ia melupaka semua bayangan mengerikan itu dari dalam kepalanya, dan memilih untuk segera bergabung bersama Gazelle yang telah duduk dengan nyaman di sebelah Max.
"Jadi, kau adalah putra mahkota kerajaan Hora?"
"Benar Yang Mulia, saya adalah putra dari raja Hora, nama saya Max. Dan ini adalah Calistha, salah satu putri dari kerajaan Kairos." ucap Max sambil memperkenalkan Calistha. Sedangkan Gazelle telah memperkenalkan dirinya sendiri sejak tadi. Calistha tersenyum manis pada raja Andrew sambil menganggukan sedikit kepalanya. Raja Andrew membalas senyuman Calistha dengan senyuman manisnya yang mampu membuat dadanya berdebar kencang. Namun, hal itu bukan berarti apapun. Ia hanya merasa gugup mendapatkan senyuman manis setulus itu dari pria asing yang baru saja ditemuinya.
"Kerajaan Kairos? Kukira raja Aiden telah meluluhlantahkan seluruh kerajaan itu beserta seluruh keluarganya. Maaf, jika aku telah membuatmu sedih." ucap Andrew merasa bersalah yang langsung ditanggapi Calistha dengan gelengan.
"Tidak apa-apa. Lagipula itu sudah lama berlalu."
"Ehem."
Tiba-tiba Gazelle berdeham pelan untuk mengarahkan semua perhatian mereka padanya. Lalu, dengan tenang ia mulai mengucapkan maksud dan tujuannya datang ke kerajaan ini bersama dengan kaum pemberontak dan juga Max serta Calistha pada raja Andrew.
"Maaf jika saya telah lancang Yang Mulia, tapi saya ingin menyampaikan sesuatu pada anda. Dan ini mengenai maksud kedatangan kami ke sini bersama dengan kaum pemberontak. Kami ingin meminta bantuan anda untuk menyerang kerajaan Khronos. Bukankah Yang Mulia juga membenci kerajaan itu? Jadi ada baiknya jika kita saling bekerjasama untuk menghancurkan kerajaan itu. Lagipula raja itu sangat kejam dan semena-mena. Beberapa hari yang lalu raja Aiden baru saja mengurung Calistha di istananya dan memaksa Calistha untuk menikahinya, padahal Calistha tidak mau menikah dengan raja Aiden."
Gazelle merasa puas setelah ia berhasil mengutarakan maksud tujuannya datang ke kerajaan ini. Lagipula ia sempat melihat raja Andrew sedikit tertarik dengan Calistha, sehingga ia memanfaatkan kondisi Calistha yang sebelumnya untuk memanas-manasi raja itu. Ia yakin, raja Andrew pasti akan menerima tawaran kerjasama ini dengan mudah dan cepat.
"Benarkah raja Aiden telah mengurungmu dan memaksamu untuk menikah dengannya?"
Calistha menagguk pelan, mengiyakan ucapan Gazelle sebelumnya yang sebenarnya tidak seperti itu.
Memang benar Aiden memaksanya untuk menikah dengam pria itu, tapi ia sama sekali tidak dikurung. Bahkan ia dilepaskan begitu saja untuk kabur bersama Gazelle dan Max. Jadi ia hanya berani mengangguk tanpa berani untuk berkata lebih jauh karena ia takut akan menciptakan kebohongan yang lain di depan raja Andrew.
"Hmm, ternyata ia memang sekejam itu. Sejujurnya sudah sejak lama aku menaruh dendam pada raja Aiden karena ia dengan kejam telah menyerang berbagai kerajaan dan membunuh seluruh penghuni istana. Kapan kalian akan melakukan penyerangan pada kerajaan Khronos?"
"Secepatnya Yang Mulia. Kami, para kaum pemberontak telah siap untuk menyerang kerajaan Khronos dalam waktu dekat." jawab Gazelle cepat. Wanita itu merasa di atas angin sekarang karena telah mendapatkan dukungan penuh dari raja Andrew. Lalu, setelah semua rencananya untuk memporak-porandakan seluruh prajurit kerajaan
Khronos berhasil, maka ia akan melaksanakan rencana berikutnya, yaitu membunuh Calistha tepat di depan pria itu dan membuat pria itu merasakan kesakitan yang selama ini ia rasakan.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mempersiapkan seluruh prajuritku untuk menyerang kerajaan Khronos. Ngomong-ngomong, sekarang kalian bisa beristirahat di kamar kalian yang telah disiapkan oleh pelayanku. Semoga kalian merasa nyaman tinggal di kerajaanku."
"Terimakasih Yang Mulia. Kami benar-benar sangat menghargai bantuan dari anda." tutup Gazelle hormat sebelum mereka semua berjalan pergi menuju kamar mereka yang telah disiapkan oleh pelayan raja Andrew. Sementara itu, di atas singgasananya, raja Andrew terus mengamati Calistha dengan mimik wajah yang sulit untuk
diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh raja itu mengenai Calistha, yang jelas Calistha merasa bulu kuduknya meremang ketika ia menyadari jika raja itu sedang menatapnya dalam diam.
-00-
Dini hari sekitar pukul tiga, rombongan raja Aiden telah tiba di perbatasan kerajaan Bibury. Salah satu
perwakilan dari kerajaan Khronos telah dikirim oleh Aiden untuk mengirmkan surat tantangan perang pada raja Andrew. Sementara itu, rombongan yang lain mulai menyiapkan tenda dan perbekalan untuk beristirahat malam ini. Jika kerajaan Bibury tidak menjawab tantangan itu hingga esok pagi, maka Aiden tidak akan menunggu-nunggu lagi untuk menyerang kerajaan itu. Karena Bibury adalah salah satu kerajaan yang bersih dari tindak kejahatan, maka ia memutuskan untuk menggunakan etika yang baik sebelum menyerang. Setidaknya ia telah memberikan kerajaan Bibury kesempatan untuk bersiap.
"Yang Mulia, tenda anda telah siap." lapor Spencer hormat sambil menunjuk tenda paling besar
yang berada di tengah-tengah perkemahan prajurit Khronos. Aiden kemudian mengarahkan kuda hitamnya ke arah tendanya untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Tapi, tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut dan sesuatu yang tidak diinginkannya kembali terjadi. Kilasan bayangan Calistha yang tengah meringkuk ketakutan di sudut ruangan sedang menari-nari di dalam otaknya. Sedangkan seluruh prajuritnya saat ini tengah terdiam bagaikan patung di sekitarnya. Aiden kemudian segera memacu laju kudanya sekencang mungkin untuk menyelamarkan Calistha yang sedang dalam bahaya.
"Tunggu aku, aku akan menyelamatkanmu ratuku."
-00-
Calistha tengah tertidur lelap di kamarnya yang baru dengan nyaman dan damai. Beberapa jam yang lalu, setelah mereka menyelesaikan makan malamnya dengan raja Andrew dan masuk ke dalam kamar masing-masing, ketiganya langsung jatuh tertidur dengan sangat nyaman di atas ranjang empuk mereka. Calistha yang merasa kelelahan langsung tidur begitu saja setelah ia mengganti gaunnya dengan gaun tidur tanpa mengunci pintu kamarnya terlebihdahulu, tanpa mengira jika malam ini seseorang akan menyelinap masuk ke dalam kamarnya untuk berbuat sesuatu yang tidak pantas padanya.
Raja Andrew tampak tersenyum puas saat ia berhasil masuk ke dalam kamar Calistha tanpa hambatan.
Bertahun-tahun ia menjadi raja dan tidak pernah menemukan wanita yang pas untuk menjadi ratunya, akhirnya kini ia dapat menemukan wanita yang tepat untuk mengisi kekosongan itu. Sejak pertama ia melihat Calistha masuk ke dalam ruang makan, hatinya terus berdesir kencang setiap kali kedua matanya menatap gerak-gerik Calistha yang begitu anggun dan gemulai. Malam ini bahkan ia tidak bisa tidur dengan nyaman karena di dalam kepalanya terus berputar-putar bayangan Calistha yang begitu cantik dan anggun. Ia kemudian memutuskan masuk ke dalam kamar Calistha secara diam-diam, untuk mengamati wanita itu ketika tidur. Tapi siapa sangka jika niat itu kini langsung berubah dalam sekejap saat ia melihat tubuh seksi Calistha yang hanya terbalut gaun tipis pendek sebatas paha. Dengan mata berkabut, Andrew berjalan pelan menghampiri Calistha yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Pria itu tanpa ragu langsung mengelus paha Calistha beberapa kali hingga membuat Calistha terbangun dan menjerit kaget.
"Ssstt, jangan berisik. Kau akan membangunkan seluruh penghuni istana ini."
"Aaapa yang anda lakukan di sini?" tanya Calistha takut sambil mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang transparan. Raja Andrew terkekeh pelan melihat reaksi Calistha yang begitu ketakutan di hadapannya.
"Aku ingin menemuimu, kukira aku telah jatuh pada pesonamu."
"Ja jangan sakiti saya. Anda bisa mencari wanita lain yang lebih cantik daripada saya Yang Mulia."
"Aku tidak bisa Calistha, hanya kau yang membuatku hampir gila dan tidak bisa tidur malam ini. Jadi, kau harus melayaniku malam ini."
Dengan kasar Andrew langsung menarik selimut tebal itu dari tangan Calistha, membuat Calistha takut dan langsung berlari turun dari ranjangnya. Sementara itu, Andrew tampak senang dengan reaksi Calistha yang menurutnya sedang berpura-pura menjadi seekor kelinci yang ketakutan sebelum ia berubah menjadi seekor ular yang berbisa.
"Jangan mendekat! Pergi kau raja sial." maki Calistha kasar sambil berjongkok ketakutan di sudut kamarnya.
"Hmm, menarik. Jadi seperti inilah sikapmu yang sesungguhnya? Aku menyukainya."
Dengan gerakan cepat, Andrew langsung menyergap tubuh Calistha yang sedang berusaha melompat dari kungkungan raja tampan itu. Tapi Andrew berhasil menarik ujung gaun tidur milik Calistha yang tipis dan membuat Calistha terduduk tak berdaya di hadapan pria itu dengan wajah ketakutan dan air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya.
"Aku tidak ingin bermain-main lagi denganmu ******. Jadi, cepat puaskan aku!" teriak Andrew keras sebelum ia merengkuh tubuh Calistha dan ******* bibir itu tanpa ampun. Aiden, tolong aku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Wulan Ndari
karyamu yg uda ku baca the best semua thor,,
2020-05-30
1
Mutia Tiara
kenapa gak mtk tolong max aja loh, akhirnya masih juga nyebutin nama aiden
2020-05-08
0