Bloody Sword (Ten)

        Aiden dan beberapa menterinya sedang berjalan melintasi taman untuk membicarakan berbagai macam rencana pembangunan yang akan mereka lakukan di kerajaan Hora. Sesekali Aiden menghentikan langkahnya sambil menggeleng tegas ketika salah satu menterinya memberikan usulan yang tidak sesuai dengan rencananya. Dari jauh pria itu melihat Calistha sedang berjalan dengan tergesa-gesa dengan seorang prajurit dibelakangnya. Aiden kemudian tersenyum sinis pada Calistha sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, namun sarat akan kekejaman dari balik wajahnya yang tampak pias.

        "Yang Mulia, bukankah itu calon isteri anda? Apa kita akan menghampirinya dan menyapanya. Lagipula, kami merasa perlu memperkenalkan diri pada calon ratu." ucap menteri ekonomi sopan. Aiden kemudian mengangguk samar dan langsung berjalan menghampiri Calistha yang tampak belum menyadari kehadirannya sebelum salah satu menterinya berteriak sambil membungkuk hormat pada Calistha.

        "Selamat siang Yang Mulia calon ratu."

        Calistha berjengit kaget ketika ia tiba-tiba dihadang oleh beberapa menteri dan juga... Aiden. Wanita itu tampak gugup dan ketakutan. Ia mengira jika mereka semua datang untuk menangkapnya dan juga Max yang saat ini sedang berdiri di belakang tubuhnya dengan baju prajurit lengkap dan juga penutup kepala. Tapi, semua

ketakutan itu langsung lenyap ketika salah satu menteri itu membungkuk hormat padanya sambil memperkenalkan diri dengan sopan.

        "Maaf membuat anda terkejut, perkenalkan saya adalah menteri ekonomi. Dan ini adalah rekan-rekan saya sesama menteri." tunjuk menteri itu pada beberapa rekannya yang juga ikut membungkuk untuk memberi hormat pada Calistha. Calistha kemudian tersenyum manis pada para menteri itu dan langsung menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi, para menteri itu tampak saling bertatapan satu sama lain sambil melirik raja mereka yang sejak tadi hanya mengamati mereka dengan mata elangnya yang tajam.

        "Apa yang kalian tunggu, calon ratu kalian sedang mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Apa kalian tidak pernah belajar mengenai etika dan sopan santun?" Ucap Aiden sinis sambil menatap tajam mereka semua. Cepat-cepat menteri ekonomi itu membalas uluran tangan Calistha sambil memperkenalkan namanya dengan formal.

        "Maafkan saya Yang Mulia, saya hanya tidak terbiasa." ucap menteri ekonomi itu tersipu malu. Calistha tersenyum maklum menanggapi ucapan menteri ekonomi itu karena ia sudah menduga jika Aiden selama ini terlalu keras pada mereka, sehingga mereka terkesan kaku dan terlalu menunduk hormat padanya.

        "Tidak apa-apa, aku mengerti." jawab Calistha tulus. Sembari para menteri itu bersalaman dengan Calistha, tiba-tiba Aiden mengarahkan tatapan menelisiknya pada Max sambil meneliti tubuh pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu tanpa diduga, Aiden maju ke depan untuk mengampiri Max sambil menepuk bahu Max pelan.

        "Wah, kau sungguh prajurit teladan, kau bersedia mengawal calon ratu untuk berjalan-jalan di taman meskipun pekerjaanmu adalah penjaga gerbang istana. Setelah aku dan Calistha menikah, aku akan mengangkatmu untuk menjadi pengawal setia ratuku, apa kau bersedia?" tanya Aiden tenang, namun hal itu justru membuat Max

dan Calistha sama-sama terdiam gugup. Bahkan, Max merasa kesulitan untuk bernapas karena ia terlalu takut dengan penyamarannya. Ia benar-benar merasa terancam karena tiba-tiba Aiden mendekatinya dan menawarkan sesuatu yang menggiurkan untuk ukuran seorang prajurit, namun tidak untuknya.

        "Ya, saya siap." jawab Max lantang, namun terdengar adanya nada kegugupan disetiap kalimatnya. Aiden kemudian beralih pada Calistha sambil mengulurkan tangan kanannya pada wanita itu. Dengan ragu, Calistha menerima uluran tangan itu, meskipun ia merasa bingung dengan maksud Aiden yang tiba-tiba mengulurkan tangan padanya. Ia pikir Aiden akan menjabat tangannya juga, sama seperti ia menjabat tangan para menteri itu, tapi ternyata dugaanya salah. Aiden justru menarik telapak tangannya kuat dan langsung membuat tubuh kecilnya membentur tubuh kokoh Aiden yang keras.

        "Aa ada apa?" tanya Calistha gugup. Ia merasa begitu canggung berada di dekat Aiden saat semua orang tengah menatap ke arahnya dengan pandangan menggoda yang penuh arti. Bahkan seluruh wajahnya kini terasa memanas dan memerah. Membuat Calistha merasa semakin malu dan ingin segera pergi dari taman itu. Dari balik topi prajuritnya, Max sedang menahan kesal karena Aiden dengan sesuka hatinya memeluk tubuh Calistha di hadapannya. Tak bisa ia bayangkan jika besok pria itu akan menikahi Calistha, ia pasti akan menjadi orang pertama yang menolak pernikahan tersebut, karena selamanya Calistha hanya miliknya.

        "Besok aku dan Calistha akan menikah. Aku harap kalian datang tepat waktu untuk menjadi saksi sebuah peristiwa besar di kerajaan ini. Dan jangan lupa untuk mengumumkan hal ini pada seluruh rakyatku, karena aku ingin mereka turut merayakan hari besarku. Apa kalian mengerti?" tanya Aiden datar, namun tersirat sebuah pesan misterius yang membuat kedua alis Calistha mengernyit bingung. Jelas-jelas pria itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi sayangnya ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh pria itu. Ia pun akhirnya memilih untuk melupakan segala kecurigaanya dan segera beralih pada Max yang sedang berdiri kaku di sebelah Aiden. Tanpa sengaja kedua mata Max tengah menatap dalam pada kedua matanya untuk meminta bantuan. Calistha kemudian berdeham beberapa kali untuk menetralkan kegugupannya dan setelah itu ia mulai angkat bicara untuk menyelamatkan Max.

        "Ehem, lebih baik kau kembali pada pekerjaanmu. Aku akan pergi ke taman sendiri. Lagipula aku pasti akan sangat aman karena Yang Mulia Aiden ada bersamaku." ucap Calistha penuh arti pada Max. Pria itu kemudian segera berjalan pergi dari hadapan Aiden dan Calistha serta para menteri yang lain dengan membungkuk

hormat terlebihdahulu. Setelah Max benar-benar pergi, Calistha dapat mendesah lega di sebelah Aiden sambil tersenyum manis pada para menteri. Ia yakin, setelah ini Max pasti akan menyelamatkan Tiffany. Sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, malam ini Max dan Gazelle harus mengeluarkan Tiffany terlebihdahulu, dan ia akan menyusul mereka untuk kabur dari istana ini tengah malam nanti. Tanpa ia sadari, sejak tadi Aiden terus mengamati setiap ekspresi wajahnya dengan wajah datar yang tak terbaca. Entah apa yang ada di dalam pikiran Aiden saat ini, namun ia terlihat begitu mengerikan dengan wajah datarnya yang sejak tadi terus mengintai setiap pergerakan Calistha seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.

        "Yang Mulia, kami mohon pamit untuk melanjutkan pekerjaan kami. Selamat siang dan semoga anda berdua diberikan kebahagiaan yang besar oleh Tuhan."

           Setelah para menteri itu pergi, Calistha segera berjalan pergi meninggalkan Aiden sendiri yang masih berdiri menatapnya di tengah-tengah halaman istana. Aiden yang merasa diabaikan begitu saja oleh Calistha, lantas segera memanggil wanita itu dengan keras hingga mau tak mau Calistha harus menghentikan langkahnya dan berbalik pada Aiden.

        "Calistha, aku masih membutuhkanmu." ucap Aiden datar. Dengan malas Calistha kembali berjalan menghampiri Aiden sambil mendongakan wajahnya penuh keangkuhan.

        "Ada apa? Cepat katakan, karena aku ingin berjalan-jalan di taman." ucap Calistha ketus. Mendengar nada suara Calistha yang begitu ketus dan sama sekali tidak menghormatinya, Aiden menjadi sedikit emosi. Pria itu hampir saja ingin membentak Calistha dan memberi pelajaran pada wanita itu, tapi ia kemudian teringat akan saran Spencer yang memberinya masukan agar ia sekali-sekali bersikap lembut pada Calistha agar wanita itu sedikit melunak padanya.

        "Aku ingin kau menemaniku makan siang."

        "Tidak mau, aku masih merasa kenyang." tolak Calistha mentah-mentah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Melihat Calistha yang begitu angkuh dihadapannya membuat Aiden mengeratkan giginya marah. Sungguh egonya sebagai seorang raja merasa terinjak-injak oleh penolakan wanita itu. Padahal untuk meminta wanita itu menemaninya makan siang, ia rela membuang seluruh egonya. Tapi, dengan tidak tahu dirinya Calistha justru langsung menolaknya mentah-mentah seperti itu. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Jika wanita itu memutuskan untuk bersikap membangkang dihadapannya, maka cara satu-satunya untuk menaklukan wanita keras kepala itu adalah dengan jalan kekerasan. Tidak ada cara lain.

        "Aku tidak menerima penolakan. Sekarang juga kau harus menemaniku makan siang di ruang makan istana." Tanpa aba-aba, Aiden langsung menarik pergelangan tangan Calistha kasar dengan sedikit menyeret tubuh wanita itu yang terus meronta di belakangnya.

        "Lepaskan! Sudah kubilang, aku tidak mau makan siang bersamamu. Aku ingin pergi ke taman." teriak Calistha meronta-ronta di dalam genggaman tangan Aiden, membuat suasana disekitar mereka begitu ribut dan mengundang perhatian dari para prajurit maupun para pelayan istana yang secara kebetulan melewati mereka sambil sesekali mencuri-curi pandang pada pasangan yang akan menikah esok pagi itu.

        "Disini aku adalah raja, maka kau tidak berhak untuk menolak perintahku karena kau hanyalah wanita biasa yang secara kebetulan membawa karunia yang dapat menghilangkan kutukanku, jadi jangan pernah menilai dirimua terlalu tinggi di sini." bentak Aiden kasar dan berhasil membungkam bibir Calistha rapat-rapat. Wanita itu tampak begitu tersinggung dengan ucapan Aiden hingga ia merasa ingin menangis. Namun sekuat tenaga ia menahan setiap gejolak kepedihan di dalam hatinya agar ia tidak terlihat sebagai wanita lemah dan cengeng dihadapan pria kejam yang saat ini sedang menyeretnya untuk masuk ke dalam istana. Dalam hati ia bersumpah akan segera membalas semua perbuatan keji pria itu dan membuatnya menderita.

        "Kenapa diam? Apa kau telah menyadari posisimu sekarang? Apa kau merasa tersinggung dengan perkataanku?" tanya Aiden bertubi-tubi pada Calistha dengan nada sinis. Calistha yang merasa begitu terluka hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat sambil meremas erat telapak tangannya yang bebas dari cekalan tangan Aiden. Wanita itu kemudian mendongak tajam menatap punggung tegap Aiden yang berada di

depannya. Dengan sekali hentakan ia berhasil melepaskan genggaman tangan Aiden sambil menatap marah pada pria itu.

        "Tersinggung? Huh, memangnya apa yang kau katakan padaku? Apakah perkataanmu penting untukku? Cih,

kau terlalu percaya diri jika kau menganggapku tersinggung, karena aku sama sekali tidak tersinggung. Aku hanya marah padamu karena kau selalu memaksakan semua kehendakmu pada orang lain tanpa memikirkan perasaan mereka sedikitpun. Apa kau sadar jika tindakanmu itu sangat egois dan sangat memuakan. Kau itu sangat menjijikan." marah Calistha berapi-api hingga nafasnya terengah-engah tak beraturan. Ia terlalu emosi dengan segala macam penghinaan dari pria itu padanya, dan ia sudah terlalu lelah untuk menahan semua rasa sakit hatinya selama ini.

        "Menjijikan? Apa kau tidak pernah menyadari jika kau dan seluruh keluargamu adalah kumpulan orang-orang yang paling menjijikan di muka bumi ini. Jika kau tidak memiliki karunia istimewa di dalam dirimu, sudah pasti kau tidak akan mungkin bernafas hingga saat ini. Kau pasti sudah mati ditanganku sejak dulu bersama dengan kedua orangtuamu yang menjijikan itu. Jadi, jangan pernah merendahkanku dan mencelaku dengan kata-kata kasarmu itu jika pada kenyataanya harga dirimua tidak lebih tinggi daripada para ****** yang selama ini kubunuh!" bentak Aiden kasar tepat di depan wajah Calistha hingga membuat wanita itu syok. Ia tidak menyangka jika pria itu akan membalasnya dengan kata-kata yang lebih menyakitkan daripada kata-katanya yang kasar. Meskipun ia tidak mengenal ayah dan ibunya dengan baik, karena saat itu ia masih sangat kecil untuk mengingat semua hal yang terjadi di masa kanak-kanaknya, tapi ia yakin jika kedua orangtuanya adalah orang yang baik.

        "Jangan pernah menghina keluargaku di hadapanku karena kau tidak tahu apa-apa tentang mereka." desis Calistha marah dengan tatapan mata tajam yang menghunus tepat dikedua manik mata Aiden.

        "Tidak mengetahui apapun? Bukankah pernyataanmu itu sangat cocok dengan keadaanmu saat ini? Jika

aku memang tidak tahu apapun tentang kerajaan ayahmu yang brengsek itu, lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kau tahu bagaimana bentuk kerajaanmu? Apa kau tahu bagaimana sifat ayahmu yang sombong itu ketika memerintah di kerajaannya, apa kau tahu hah? Jawab!" bentak Aiden keras di depan wajah Calistha, hingga

wanita itu hanya mampu memejamkan matanya untuk meredam perasaan marah, sedih, dan terhina yang berkumpul menjadi satu di dalam dadanya. Ia kemudian membuka kedua matanya cepat dan langsung menatap kedua manik mata Aiden dengan garang.

        "Meskipun aku tidak mengingat mereka semua dengan jelas, tapi sebagai seorang anak, aku sangat yakin jika kedua orangtuaku adalah orang-orang yang baik. Setidaknya mereka berdua tidak menghilangkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah seperti dirimu. Kau iblis. Kau raja iblis yang paling kejam yang pernah kutemui."

        Aiden memandang geram pada Calistha. Wanita itu benar-benar begitu keras dan sangat sulit untuk ditaklukan. Bahkan meski ia tidak pernah mengetahui seluruh kebenarannya sekalipun, wanita itu begitu berani menyuarakan keyakinannya jika kedua orangtuanya adalah orang yang baik. Sayangnya keyakinan itu sama sekali tidak benar. Karena pada kenyataanya mereka berdua adalah iblis yang sebenarnya. Iblis yang telah merenggut kedua orangtuanya dan dalang dibalik setiap kekacauan yang terjadi beberapa tahun terakhir ini.

        "Terserah apa katamu. Aku hanya ingin berpesan padamu, semoga kau tidak mengambil pilihan yang salah dalam hidupmu, karena apa yang kau pilih di masa sekarang akan menentukan masa depanmu, dan masa depan dunia ini. Camkan itu." desis Aiden marah sambil berjalan pergi meninggalkan Calistha begitu saja yang langsung jatuh terduduk di tempatnya sambil menangis sekeras-kerasnya. Untung saja saat ini ia berada di sebuah lorong yang sepi, sehingga ia tidak perlu malu pada para pelayan atau para prajurit yang berlalu lalang disekitarnya

karena saat ini ia sedang menangis, menumpahkan segala macam sesak yang sejak tadi terus menghantam hatinya hingga ia merasa kesulitan untuk bernapas.

-00-

        Saat malam hari, Calistha lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar tanpa berniat sedikitpun untuk keluar, meskipun sejak tadi Sunny terus membujuknya untuk keluar dan makan malam bersama dengan raja Aiden. Tapi penyebab dari kemurungannya hari ini adalah pria kejam itu, jadi ia semakin tidak mau untuk makan malam di meja makan jika pada akhirnya ia harus bertemu dengan pria itu.

        "Nona, saya membawakan makan malam anda."

        Sunny meletakan sepiring daging panggang dengan saus asam manis di atasnya dengan sepiring kentang tumbuk yang begitu harum dan menggoda untuk disantap. Tapi kali ini nafsu makannya sedang hilang entah kemana, sehingga makanan yang tampak menggoda itu terlihat biasa saja di mata Calistha.

Cklek

        Tiba-tiba pintu coklat itu terbuka perlahan, membuat Calistha langsung meloncat sigap untuk melihat siapa orang yang telah masuk ke dalam kamarnya tanpa meminta ijin terlebihdahulu. Biasanya Sunny ataupun pelayan yang lainnya akan selalu meminta ijin dengan sopan padanya sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya. Jadi, ia cukup was-was dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya tanpa permisi.

        "Kenapa kau tidak memakan makananmu?"

        Aiden masuk ke dalam kamar Calistha dengan gaya ponggahnya yang begitu memuakan. Ia berdiri tepat di

pinggir ranjang Calistha dengan tubuh menjulang yang begitu mendominasi dan tampak angkuh. Melihat Aiden sedang berdiri di tepi ranjangnya, Calistha memutuskan untuk memunggungi pria itu dan sama sekali tidak mau menatap wajahnya, padahal saat ini Aiden sedang mengajaknya berbicara. Dengan gusar Aiden meraih pundak Calistha dan langsung menyentaknya keras, hingga Calistha terpaksa membalikan tubuhnya ke arah pria itu dengan sebelah bahunya yang terasa nyeri karena perlakukan kasar raja kejam itu.

        "Apa yang kau lakukan di kamarku? Pergi kau dari sini. Keberadaanmu di sini justru akan membuatku semakin sakit." usir Calistha kasar dengan mata yang berkilat-kilat marah. Aiden memandang wanita itu tak peduli, dan justru mendudukan dirinya di atas ranjang Calistha sambil meraih nampan makanan milik Calistha yang sama sekali belum tersentuh.

        "Makan. Aku tidak mau melihatmu sakit, jadi makanlah makanamu sekarang juga selagi aku masih mencoba untuk bersabar menghadapi semua tingkah kekanakanmu ini." ucap Aiden datar sambil meletakan nampan makanan itu di atas pangkuan Calistha. Namun, tanpa diduga, Calistha justru melemparkan nampan makanan itu begitu saja, hingga seluruh isi nampan itu tumpah di bawah ranjangnya dan menciptakan sebuah noda saus yang begitu besar di atas karpetnya.

        "Aku tidak mau makan! Kau tidak berhak mengatur hidupku."

        "Beraninya kau membuang makanan yang dibuat oleh rakyatku. Dasar wanita tak tahu diri. Aku sudah mencoba untuk bersabar menghadapi semua tingkah lakumu yang bar-bar ini, tapi kau justru terus megujiku dengan berbagai macam sikapmu yang sangat kekanakan dan memuakan itu. Apa kau memang berusaha untuk memancing kemarahanku, hah?" teriak Aiden murka di depan Calistha sambil mencengkeram rahang mungil itu kuat-kuat, membuat Calistha merintih kesakitan sambil terus menerus memukul dada kokoh Aiden dengan kedua tangannya yang bebas.

            "Pelayan, ambilkan makanan yang baru sekarang!" Teriak aiden murka pada Sunny yang sudah bergetar ketakutan di ambang pintu. Wanita mungil itu segera berlari terbirit-birit untuk mengambilkan menu makanan baru untuk Calistha. Sementara itu, Aiden masih terlihat murka di depan Calistha, namun ia tidak lagi mencengkeram rahang wanita itu. Ia telah melepaskan cengkeraman tangannya dari rahang Calistha beberapa detik yang lalu dan membuat Calistha langsung meringis kesakitan sambil mengelus kedua rahangnya yang terasa ngilu.

        "Awas jika kau kembali membuang makananmu. Jika kau melakukannya lagi, aku akan menyuruhmu untuk menjilati semua makanan yang telah kau tumpahkan di atas lantai istanaku. Tak peduli seberapa kotor makanan itu, tapi kau memang harus belajar untuk menghargai hasil jerih payah orang lain."

        Calistha menunduk takut di depannya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Ia sekarang merasa

begitu lemah dan takut pada Aiden. Seumur hidupnya ia sama sekali tidak pernah menghadapi kemarahan yang sebegitu mengerikan seperti ini. Biasanya Max hanya membentaknya sekali jika pria itu sedang lelah, kemudian keesokan harinya pria itu pasti akan langsung meminta maaf padanya sambil memberikannya sebuket bunga

atau gaun yang indah. Tapi, kini pria yang membentaknya adalah raja Aiden. Raja yang paling kejam dan bengis di muka bumi ini. Ia tidak yakin jika raja itu akan meminta maaf padanya setelah ini, setelah apa yang dilakukan oleh pria itu padanya.

        Di sisi lain, Aiden sedang menatap Calistha dalam sambil menunggu Sunny untuk membawakan makanan

yang baru bagi Calistha. Sejak tadi kedua manik matanya terus mengamati gerak-gerik Calistha yang saat ini terlihat begitu lemah dan rapuh. Tiba-tiba sebuah penyesalan menyusup ke dalam hatinya dan membuat hatinya terasa begitu sesak dan pedih. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti wanita itu. Ia hanya merasa geram dengan segala tingkah laku Calistha yang terus menerus melawannya, padahal sejak awal ia telah berusaha untuk bersikap lembut pada wanita keras kepala itu. Tapi, pada akhirnya semua sikap lembut itu justru berakhir dengan sangat tidak menyenangkan seperti ini. Andai saja ia adalah pria normal, ia pasti bisa menahan seluruh gejolak emosinya dengan mudah. Tapi... ia bukan pria normal. Yah, setidaknya kutukan itu benar-benar telah merubahnya menjadi seorang monster yang kejam dan hampir kehilangan seluruh perasaan manusianya.

        "Yang Mulia, ini makanan anda." ucap Sunny dengan nada bergetar sambil meletakan nampan berisi makanan itu di atas pangkuan Calistha. Setelah mendapat usiran halus dari Aiden, Sunny segera berjalan cepat keluar dari dalam kamar majikannya yang mencekam itu. Ia sendiri tidak tahu bagaimana nasib Calistha nantinnya melihat

rajanya sedang sangat murka pada wanita itu. Dalam hati Sunny hanya mampu berdoa, semoga Tuhan senantiasa melindungi majikan barunya yang rapuh itu.

        Di dalam kamar, setelah kepergian Sunny, Aiden masih bungkam sambil memandangi Calistha dengan intens yang tampak murung sambil memandangi makanannya dengan sorot mata kosong dan tak berminat.             "Sekarang makan makananmu."

        Dengan tangan bergetar akibat menahan gejolak emosi dan gejolak kesedihan di dalam dadanya, Calista

mulai meraih garpu serta pisau yang diletakan Sunny di sebelah piring bundarnya untuk memotong daging. Perlahan-lahan ia memotong daging sapi itu dan langsung memasukannya ke dalam mulut. Meskipun daging sapi itu masih mengepulkan asap panas yang dapat membakar lidah, ia tampak tidak peduli dan lebih memilih untuk langsung menelannya bulat-bulat, meskipun hal itu jelas akan membakar lidahnya. Tapi ia sama sekali tidak peduli. Toh saat ini hatinya jauh terasa lebih sakit daripada lidahnya. Justru dengan adanya makanan panas itu, ia merasa sangat bersyukur karena ia sedang ingin menyakiti bagian tubuhnya yang lain agar tidak hanya hatinya yang merasakan kepedihan.

        "Apa kau ingin membakar lidahmu? Berikan garpu dan pisau itu, aku akan menyuapimu dengan tanganku sendiri agar kau tidak bertindak bodoh dengan melukai dirimu sendiri."

        Tangan kokoh itu langsung merebut garpu serta pisau dari tangan Calistha begitu saja, dan dengan

cekatan Aiden langsung memotong-motong daging sapi itu menjadi beberapa bagian yang sekiranya tidak terlalu besar bagi mulut Calistha yang mungil. Ketika Aiden menusukan daging sapi itu dan menyodorkannya di depan mulut Calistha, wanita itu tampak ragu sambil memandangi potongan daging itu cukup lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membuka mulutnya dan menguyah potongan daging itu dengan perasaan getir.

        "Bukankah itu lebih baik? Daripada kau menyakiti dirimu sendiri, lebih baik kau menyimpan tenagamu untuk hari pernikahan kita besok pagi. Aku tidak ingin melihat calon ratuku terlihat jelek saat pernikahan berlangsung."

        "Mengapa kau bersikap seperti ini padaku? Kenapa kau tiba-tiba mempedulikanku jika pada kenyataanya kau sangat membenci keluargaku?"

        Tiba-tiba Calistha mendongakan wajahnya ke arah Aiden dengan seluruh wajahnya telah dibanjiri oleh air mata.

        "Hapus air matamu. Aku tidak akan terpengaruh dengan air mata bodohmu itu." ucap Aiden datar sambil menyodorkan sepotong daging di depan mulut Calistha. Tapi wanita itu justru mendelik tajam ke arah Aiden tanpa mau membuka mulutnya sedikitpun.

        "Aku tidak akan membuka mulutku jika kau tidak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau masih mempedulikanku? Kenapa kau tidak membiarkanku mati?" Tanya Calistha sekali lagi dengan air mata yang kembali meluncur turun membasahi kedua pipinya. Dengan malas, Aiden mulai meletakan piring itu di tempatnya dan langsung membawa Calistha ke dalam pelukannya.

        "Karena kau adalah ratuku, maka aku harus selalu melindungimu dan memastikan dirimu baik-baik saja."

        Calistha kemudian mendongakan wajahnya ke arah Aiden sambil mengernyit tidak mengerti. Kenapa kali ini pria itu mengucapkan dengan lebih tulus dan terlihat berbeda. Apakah apa yang dikatakannya benar?

        "Benarkah? Kau akan melindungiku? Tapi, kau justru selalu menyakitiku." isak Calistha pelan. Wanita itu kembali menangis di depan Aiden hingga membuat pria itu merasa tidak tahan dan akhirnya langsung mendekatkan wajahnya untuk ******* bibir merah Calistha yang sudah dipenuhi oleh air mata. Jika wanita itu tidak percaya dengan ucapannya, maka ia akan membuktikannya dengan tindakan. Ia harap kali ini Calistha dapat memahami kesungguhan hatinya dan dapat memilih jalan yang tepat untuk masa depan yang lebih baik. Masa depan yang jauh dari peperangan dan pertumpahan darah.

        Aiden terus ******* bibir merah Calistha dengan lembut. Awalnya Calistha hanya diam dan tidak membalas ciuman itu. Tapi setelah cukup lama dan Aiden terus memperlakukannya dengan lembut, akhirnya ia menyerah dan lebih memilih untuk membalas setiap lumatan yang diberikan oleh Aiden. Ia tidak tahu apakah ini jenis ciuman penuh cinta antara pria dan wanita atau hanya ciuman biasa untuk menghibur hatinya, yang pasti ciuman ini terasa begitu lembut dan mampu membuat hatinya bergetar entah karena apa.

        Setelah cukup lama mereka berciuman, Aiden kemudian melepaskan tautan diantara mereka sambil memberikan kecupan kecil di sudut bibir Calistha yang terasa bagai candu baginya.

        "Tidurlah. Aku akan meminta pelayan untuk membersihkan semua kekacauan ini."

        Dengan patuh, Calistha mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya dengan Aiden yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut merah yang terasa begitu lembut dan ringan di tubuhnya.

        "Selamat tidur my queen." bisik Aiden sambil memberikan kecupan selamat tidur di dahi Calistha. Setelah itu Aiden segera berjalan pergi dari kamar Calistha dengan berbagai macam perasaan yang membuncah di hatinya.

        "Sisi manusiaku kembali." batin Aiden tidak percaya.

        Ditengah-tengah perasaan bahagianya yang membuncah, tiba-tiba Spencer datang dengan terburu-buru menemuinya sambil membungkuk hormat dengan wajah yang tampak kacau.

        "Ada apa? Mereka benar-benar melakukannya?" tanya Aiden datar sambil memasang wajah piasnya lagi.

        "Benar Yang Mulia. Gazelle dan Max sedang berusaha kabur sambil membawa nona Tiffany. Tapi mereka

sedang menunggu Yang Mulia ratu di gerbang tersembunyi istana. Apa kami harus menangkap mereka semua sekarang?"

        "Ya, bawa mereka semua ke halaman istana dan siapkan upacara eksekusi untuk mereka." perintah Aiden datar dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Spencer sambil melirik misterius pada pintu coklat di belakangnya yang merupakan ruang pribadi Calistha.

Terpopuler

Comments

luthfie_18

luthfie_18

sejauh ini bagus bgt crtanya semngt thor

2020-06-24

0

Mutia Tiara

Mutia Tiara

so sweet calista dan aiden

2020-05-08

1

lihat semua
Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!