Time To Recover (Twelve)

        "Hhaahh, uhuk uhuk, dimana aku? Apa ini di surga?" gumam Calistha pelan sambil terengah-engah. Tiba-tiba wanita itu berjengit kaget ketika melihat Yuri yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.

        "Selamat pagi Yang Mulia. Saya kira anda masih terlelap. Maaf, tapi saya hanya ingin mempersiapkan anda untuk upacara pernikahan anda besok."

        "Yyyuri?"

        "Ah, rupanya Yang Mulia sudah mengetahui nama saya. Kalau begitu Yang Mulia bisa segera bangun sekarang dan bergegas ke kamar mandi. Dayang anda telah menyiapkan air panas dan berbagai wewangian di dalam kamar mandi untuk anda." ucap Yuri panjang lebar tanpa menghiraukan ekspresi wajah bingung yang tercetak jelas di wajah Calistha.

        "Dddimana aku? Apa raja Aiden telah memusnahkan semua mayat itu? Apa tubuh mereka dijadikan

santapan hewan buas?" tanya Calistha panik pada Yuri ketika tiba-tiba ia teringat pada Gazelle, Max, dan Tiffany. Kemarin ia terlalu sibuk menangis dan meratapi kesedihannya hingga ia lupa jika jasad mereka mungkin saja tidak

dimakamkan dengan layak oleh Aiden. Tapi ketika menatap wajah Yuri lagi untuk meminta penjelasan, wanita itu justru mengernyit bingung dengan raut wajah tidak mengerti.

        "Mayat siapa yang anda maksud Yang Mulia? Setahu saya raja Aiden tidak sedang mengeksekusi siapapun. Terakhir kali raja mengeksekusi seorang pembunuh keji dua minggu yang lalu. Apa pembunuh itu yang anda maksud? Tapi, pembunuh itu hanya berjumlah satu, tidak lebih." terang Yuri sungguh-sungguh dengan wajah tidak yakin. Calistha yang melihat kesungguhan di mata Yuri semakin mengernyitkan dahinya bingung sambil memejamkan matanya untuk mengingat-ingat kejadian disaat upacara pernikahannya dengan Aiden. Seingatnya kemarin ia sedang berjalan di altar dengan wajah murung dan penuh duka. Kemudian pria kejam itu mengucapkan janji suci pernikahan dan ia... mengambil pedang milik raja itu dan menusukkannya tepat di perutnya. Seketika mata Calistha terbuka sambil melompat turun dari ranjangnya. Wanita itu cepat-cepat berlari ke kamar mandi untuk melihat kondisi perutnya dengan Yuri yang terus mengekor di belakangnya.

        "Yang Mulia, anda harus segera mandi. Saya akan menyiapkan semua keperluan anda."

        "Berhenti di sana. Jangan masuk. Kau akan mendorongku ke dalam Jacuzzi bukan?" tanya Calistha dengan tatapan menyelidik pada Yuri. Wanita itu kemudian berhenti tepat di ambang pintu sambil tersenyum kikuk pada Calistha, tak menyangka jika wanita itu dapat membaca pikirannya dengan tepat.

        "Kenapa anda tahu apa yang akan saya lakukan Yang Mulia? Tapi... saya sama sekali tidak berniat untuk menyakiti anda. Saya hanya ingin mempersingkat waktu. Tolong jangan berpikiran buruk pada saya." ucap Yuri tidak enak sambil meremas kedua tangannya gugup. Calistha kemudian langsung menutup pintu kamar mandinya yang luas tanpa mempedulikan sosok Yuri yang masih setia berdiri di ambang pintu sambil meremas-remas kedua tangannya dengan bodoh.

        "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa.. kenapa aku berada di sini? Bukankah seharusnya aku mati?"

        "Yang Mulia? Jika anda membutuhkan saya, saya berada di sini untuk mempersiapkan segala keperluan anda." teriak Yuri dari luar dan berhasil membuat Calistha semakin gusar dengan wanita itu. Tanpa menghiraukan suara Yuri yang memekakan telinga itu, Calistha segera menyingkap gaunnya untuk melihat bagian perutnya yang pasti terdapat sebuah sayatan bekas tusukan pedang. Namun, ketika ia telah membuka seluruh gaunnya, bekas sayatan itu sama sekali tidak ada di sana. Perutnya tampak putih dan bersih tanpa bekas luka sedikitpun. Calistha kemudian mengacak rambutnya frustrasi sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang mungkin saja terjadi padanya. Tiba-tiba saja ia teringat akan perkataan Yuri yang mengatakan jika raja Aiden sama sekali tidak mengeksekusi siapapun kemarin, itu berarti Gazelle, Max, dan Tiffany masih hidup. Dengan cepat, Calistha segera

menyelesaikan mandinya agar ia dapat melihat kondisi Tiffany di penjara bawah tanah. Jika apa yang ia pikirkan benar, maka Tiffany pasti masih mendekam di dalam penjara.

-00-

        Setelah ia keluar dari dalam kamar mandi, Yuri langsung menarik tangannya dan mendudukan dirinya dengan paksa di depan meja riasnya yang besar. Meskipun ia sedikit risih diperlakukan seperti ini, tapi ia memutuskan untuk tidak peduli dan lebih memilih untuk memikirkan berbagai macam hal yang ada di otaknya. Calistha

kemudian melirik jam dinding yang tergantung di atas tembok di sisi kanannya. Jam itu masih menunjukan pukul enam pagi. Ia kemudian mencoba mengingat-ingat waktu kedatangan Max ke kamarnya. Tapi, sayangnya saat itu ia terlalu terhanyut dengan kebahagiaanya karena bertemu dengan Max, sehingga ia sama sekali tidak

berpikir untuk melihat jam dan memikirkan waktu kedatangan pria itu. Calistha kemudian mencoba mengingat hal lain yang sekiranya dapat membantunya untuk mengetahui waktu kedatangan Max. Lalu, tiba-tiba saja ia teringat akan suara berisik para penari yang kemarin sedang berlatih di halaman istana. Seingatnya saat ia sedang bercakap-cakap, ia sempat mendengar berbagai macam musik berisik, kemudian ia berjalan ke arah balkon diikuti oleh Max dibelakangnya. Sambil melirik Yuri, ia tampak menimbang-nimbang untuk bertanya pada wanita itu. Yah, meskipun ia tidak terlalu menyukai sikap berlebihan Yuri, tapi setidaknya wanita itu selalu menjawab pertanyaannya dengan tepat. Jadi, tidak salahnya jika kali ini ia juga menanyakan perihal penari-penari itu pada Yuri.

        "Mmm, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Calistha melalui cermin. Yuri yang sedang menata rambutnya, lantas mendongakan wajahnya sambil tersenyum pada Calistha.

        "Tentu saja Yang Mulia, saya akan sangat senang jika dapat menjawab pertanyaan anda."

        "Baikah. Apakah hari ini penari kerajaan akan berlatih menari di halaman kerajaan?" tanya Calistha dengan perasaan gugup. Entah mengapa ia sangat berharap semoga Yuri mengatakan ya, karena dengan begitu apa yang ia lihat di dalam mimpinya tidak salah. Dan apabila mimpi itu benar-benar akan terjadi hari ini, maka ia berpikir mungkin saja Tuhan sedang memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semua hal yang tidak bisa ia perbaiki di dalam alam mimpi.

        "Benar Yang Mulia. Hari ini para penari akan berlatih menari untuk merayakan pesta pernikahan anda dengan Yang Mulia raja. Apa anda tahu, raja telah menyiapkan pesta yang begitu mewah untuk merayakan pesta pernikahannya, selain itu raja juga telah memerintahkan seluruh menteri untuk membuat pesta rakyat selama tujuh hari tujuh malam agar semua rakyat dapat merasakan kegembiraan dan suka cita pernikahan Yang Mulia. Ahh, raja Aiden benar-benar raja yang baik dan sangat mengerti rakyatnya." puji Yuri tulus dan terlihat begitu senang.

Berbanding terbalik dengan Yuri, Calistha tampak mendecih tidak suka di depannya sambil membayangkan wajah Aiden yang kejam di dalam mimpinya. Bagaimana mungkin raja itu akan berpesta pora seperti itu setelah membunuh ketiga orang yang tidak bersalah dengan tangan dinginnya. Kali ini ia akan memperbaiki semuanya. Ia tidak mau kehilangan Max, Gazelle, dan Tiffany karena mereka bertiga adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.

        "Kurasa raja Aiden tidak sebaik itu. Bukankah selama ini ia selalu menumpahkan darah di kerajaan manapun? Bahkan kerajaanku sendiripun rata dengan tanah karena serangannya bertahun-tahun yang lalu. Apa menurutmu ia tetap raja yang baik setelah apa yang ia lakukan kepada semua orang dengan kejam?" tanya Calistha sakarstik. Wanita itu dengan jelas menunjukan sikap tidak sukanya pada Aiden di depan Yuri, tak peduli jika Yuri akan merasa tidak suka padanya, karena Yuri adalah pengikut setia sang raja kejam itu.

        "Yang Mulia, mungkin anda belum mengetahui bagaimana sifat raja Aiden yang sesungguhnya. Menurut para tetua di desa saya, apa yang dilakukan oleh raja Aiden memiliki alasan tersendiri. Raja tidak akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah begitu saja. Sebaiknya anda sedikit menurunkan ego anda dan mencoba untuk

menerima raja Aiden. Percayalah, raja Aiden bukanlah raja yang buruk Yang Mulia." saran Yuri bijak. Namun, dengan kesal Calistha justru menyingkirkan tangan Yuri yang masih mencoba untuk menyisir rambutnya. Wanita itu kemudian berjalan menuju beberapa gaun yang dibentangkan Yuri di atas ranjangnya. Reflek tangannya akan mengambil gaun berwarna pink yang berada di ujung ranjangnya, tapi karena ia merasa kesal pada Yuri, maka ia langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil gaun itu. Karena di dalam mimpinya Yuri begitu menyukai gaun itu saat ia memakainya, maka sekarang ia akan mengambil gaun berwarna keemasan yang memiliki lengan panjang serta berpotongan rendah. Meskipun ia akui, jika gaun itu sangat seksi dan ia akan terlihat seperti wanita ****** jika ia mengenakannya. Tapi, ia sedang kesal pada Yuri, maka ia akan membuat Yuri merasakan apa yang sedang ia rasakan saat ini dengan menggunakan gaun yang berbeda untuk acara pernikahan memuakannya besok.

        "Yang Mulia, menurut saya anda lebih cocok menggunakan gaun berwarna merah muda."

        "Aku tidak mau! Gaun itu terlihat norak dan murahan. Aku lebih menyukai gaun berwarna emas ini. Bukankah raja akan senang jika melihatku menggunakan gaun seksi ini." ucap Calistha sedikit kasar dan langsung berjalan cepat menuju ruang gantinya, meninggalkan Yuri yang tampak bingung dengan perubahan sikap Calistha yang menjadi kasar.

        -00-

        "Yang Mulia..."

        "Tolong jangan halangi aku, aku ingin menemui rajamu." ucap Calistha ketus pada Sunny yang tak sengaja berpapasan di depan pintu kamarnya. Dayang berperawakan imut itu lantas membungkam bibirnya rapat-rapat sambil menatap bingung pada tingkah Calistha pagi ini. Padahal ia hanya ingin memberitahukan pada wanita itu, jika ini adalah waktunya untuk sarapan. Tapi, melihat Calistha yang tampak buruk dan sedikit marah, membuat Sunny tidak dapat melakukan apapun selain diam dan membiarkan wanita itu menemui rajanya. Lagipula mereka berdua akan segera menikah, jadi tidak akan menjadi masalah jika Calistha ingin menemui Aiden. Setidaknya ia tidak akan mendapatkan hukuman jika membiarkan Calistha menemui rajanya.

        "Eh, apa yang kau lakukan di sini?"

        Tiba-tiba Yuri muncul dari dalam kamar Calistha sambil membawa berbagai perlengkapan makeupnya. Sunny

yang telah mengenal Yuri cukup lama, lantas tersenyum pada Yuri sambil menunjuk punggung Calistha yang sudah hampir menghilang dibalik pilar besar yang berdiri kokoh di kanan dan kiri lorong bangunan istana.

        "Hari ini Yang Mulia terlihat aneh. Kurasa ia memang tidak mencintai raja Aiden kita. Hmm,

padahal aku sangat mendukung rencana pernikahan mereka." ucap Yuri lesu sambil menatap lelah ke arah lorong panjang yang sebelumnya dilalui oleh Calistha. Sunny yang melihat tukang rias istana itu tampak lesu, lantas menaikan kedua alisnya bingung.

        "Maksudmu? Apa yang dilakukan Yang Mulia Calistha?"

        "Sejak pagi ia terus meracaukan hal-hal aneh. Dan juga, ia terlihat begitu membenci raja kita. Bukankah raja Aiden baik? Yah, walaupun ia memang terkenal kejam. Tapi, aku sangat yakin jika raja Aiden memiliki alasan tersendiri untuk melakukan hal itu. Bagaimana menurutmu?" tanya Yuri pada Sunny, bermaksud untuk meminta pendapat dari wanita mungil itu. Tapi, sepertinya Sunny sama sekali tidak sependapat dengan Yuri. Terbukti dari mimik wajah wanita itu yang langsung merengut sambil menggelengkan kepalanya cepat.

        "Menurutku raja Aiden memang kejam. Apa kau tahu, raja Aiden pernah diam-diam memasuki kamar nona Calistha dan..."

        "Dan apa? Ayolah, kau membuatku semakin penasaran." potong Yuri kesal.

        "Dan raja Aiden mencium nona Calistha hingga nona Calistha kehabisan nafas. Menurutku itu sangat kejam. Jika raja Aiden bersikap begitu kejam pada nona Calistha dengan mudahnya, maka bagaimana dengan rakyat biasa di luar sana yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan raja Aiden. Mereka pasti akan langsung dibunuh oleh raja dan prajurit-prajuritnya jika mereka memberontak."

        "Jadi kau melihat mereka berciuman? Ya Tuhan, itu pasti indah sekali. Jika nanti kau melihatnya lagi, kau harus segera memberitahuku." ucap Yuri girang dengan wajah anehnya yang membuat Sunny hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Padahal Yuri adalah salah satu tukang rias kerajaan dan penjahit gaun

putri-putri bangsawan yang cukup berbakat, tapi sayangnya wanita itu sering melakukan hal-hal aneh yang tidak seharusnya dilakukan oleh wanita-wanita seusianya, sehingga diusianya yang sudah setua itu, ia sama sekali belum memiliki kekasih. Berbeda dengan Sunny yang diam-diam sedang menjalin hubungan dengan juru masak istana. Tapi, meskipun begitu keduanya tetap akrab satu sama lain dan sering berbincang bincang bersama jika pekerjaan mereka telah selesai.

        "Ehem, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Sepertinya kalian sedang membicarakan raja dan calon isterinya."

        Tiba-tiba Spencer muncul diantara mereka dengan tatapan galak pada Yuri dan Sunny. Kedua wanita itu lantas tersenyum kikuk pada Spencer sambil berpura-pura merapikan gaun mereka yang sebenarnya sama sekali tidak kotor.

        "Tttuan Spencer, selamat pagi. Kami hanya sedang bercakap-cakap santai setelah menyelesaikan pekerjaan kami pagi ini." ucap Yuri tergagap sambil memandangi Sunny untuk meminta bantuan. Wanita mungil itu lantas segera menundukan kepalanya hormat pada Spencer, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Yuri sendiri bersama Spencer dengan raut wajah kesal yang sengaja ia sembunyikan.

           "Huh, apa yang ia lakukan? Seenaknya saja ia meninggalkanku di sini sendiri. Ya Tuhan, apa yang akan kukatakan pada tuan Spencer setelah ini?" batin Yuri bingung sambil terus menatap ujung sepatunya dengan gugup.

            "Jadi, apa yang sedang kau bicarakan dengan dayang itu? Kau sedang menggunjing raja dan Yang Mulia calon ratu?" tanya Spencer penuh selidik. Rasanya sekarang ia ingin segera berlari menjauh dari Spencer karena ia merasa begitu gugup berada di dekat pria itu. Entah mengapa, sejak pertama ia melihat Spencer di kerajaan ini, ia sedikit terpesona pada ketangguhan dan kesabaran pria itu dalam memenuhi segala keinginan rajanya yang terkenal memiliki watak kejam itu.

        "Eee, tuan saya masih memiliki pekerjaan lain yang harus saya lakukan. Kalau begitu saya permisi."

        Tanpa menunggu jawaban dari Spencer, Yuri langsung pergi begitu saja sambil mengangkat sedikit gaunnya agar ia dapat berjalan dengan cepat, menjauh dari Spencer.

        "Dasar aneh." bisik Spencer sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Terpopuler

Comments

INdah🌹

INdah🌹

44

2023-09-01

0

lihat semua
Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!