Time Freeze (Eight)

        Max memandangi suasana di dalam perkemahan kaum pemberontak dengan perasaan gamang. Dulu ia pernah mendengar kabar mengenai kaum pemberontak ini, tapi ia tidak pernah terlalu menggubrisnya karena pemberontak itu sama sekali tidak mengusik kerajaannya. Saat itu ia sempat berpikir jika kaum pemberontak adalah sekelompok orang-orang jahat yang selalu melakukan hal-hal negatif untuk melakukan balas dendam pada

kerajaan Khronos. Tapi, ternyata hal itu sama sekali tidak benar. Orang-orang yang bergabung di dalam kelompok ini adalah orang-orang baik yang menginginkan sebuah keadilan. Mereka berusaha mati-matian untuk meminta pertanggungjawaban dari raja Aiden atas semua perbuatan buruk yang dilakukan oleh raja itu selama ini. Tapi, jika ia melihat bagaimana sikap raja Aiden ketika datang ke kerajaannya, raja itu terlihat begitu angkuh dan sok berkuasa. Ia juga terlihat semena-mena terhadap semua wanita yang ia dapatkan dari berbagai kerajaan yang

dijajahnya. Jadi ia tidak heran jika kaum pemberontak itu begitu keras menentang setiap kebijakan yang dibuat oleh Aiden, meskipun sebenarnya mereka telah diberikan tempat yang layak jika mereka bersedia untuk tunduk pada raja kejam itu. Tapi, kemudian ia berpikir kembali, apakah semua ini dilakukan tanpa adanya suatu alasan dibaliknya? Mungkinkah ada sesuatu di masa lalu yang tidak diketahuinya hingga sekarang rakyat-rakyat itu menjadi korban atas kekejaman Aiden? Max terus memikirkan hal itu di dalam kepalanya sambil menghela napas berkali-kali. Sejujurnya selama ini ia tidak pernah ikut andil dalam memerintah kerajaan Hora. Ayahnya selalu melakukannya sendiri tanpa pernah melibatkannya sedikitpun, sehingga ia merasa begitu bodoh sekarang karena ia hanya mengetahui fakta-fakta yang terjadi di depannya, sedangkan fakta-fakta yang buram, ia sama sekali tidak tahu.

        "Huh, kenapa aku harus selemah ini?" gumam Max pelan pada dirinya sendiri.

        "Kau tidak lemah, kau hanya kurang terlatih."

        Tiba-tiba Gazelle mendekati Max sambil memberikan secangkir teh madu yang baru saja dibuat oleh nenek Smith yang terlihat cukup menggoda di tengah-tengah cuaca dingin yang begitu menusuk tulang mereka. Dengan senang hati Max segera meraih cangkir teh itu dan ia langsung meneguk isinya hingga menyisakan separuh cairan berwarna coklat muda yang begitu harum. Kini tubuhnya terasa lebih baik dan lebih hangat dari sebelumnya. Diliriknya Gazelle sekilas sambil menggumamkan terimakasih dan meminta wanita itu untuk bergabung dengannya untuk memandangi bintang-bintang yang tampak bersinar redup di tengah langit malam yang tampak mendung.

        "Kau tidak tidur?" tanya Max memecah keheningan diantara mereka berdua. Gazelle menoleh cepat ke arah Max dan menggelengkan kepalanya ringan.

        "Tidak, maksudku belum. Hari ini adalah jadwalku untuk melakukan jaga malam. Tapi besok pagi tugasku akan digantikan oleh orang lain. Jadi, aku bisa mengganti waktu istirahatku besok pagi. Lalu, bagaimana denganmu? Seharusnya kau beristirahat di tendamu bersama ibu ratu. Bukankah lukamu baru saja diobati. Kau harus banyak-banyak beristirahat."

        "Hmm, aku malu padamu. Seharusnya sebagai seorang pria aku dapat melindungi ibuku dan rakyatku. Tapi, aku justru dikalahkan dengan mudah oleh raja Aiden. Bukankah aku ini memang payah?" ucap Max dengan kekehan getir. Gazelle menatap lembut pada Max dan mengelus pundak Max pelan untuk memberikan kenyamanan pada pria itu. Apa yang dikatakan Max memang benar. Pria itu memang sangat payah karena ia dapat dikalahkan oleh Aiden dengan mudah. Tapi, ia juga tidak bisa menyalahkan Max begitu saja, karena dalam hal berperang dan strategi, Aiden memang jauh lebih unggul daripada Max. Bertahun-tahun Aiden belajar untuk

menjadi raja yang hebat untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah membunuh kedua orantuanya. Jelas sekali jika Aiden memang bukan lawan yang ringan. Jika Max ingin mengalahkan Aiden, maka pria itu memerlukan taktik dan rencana yang harus benar-benar matang.

        "Kau tidak salah, raja Aiden memang lawan yang tangguh. Wajar jika kau kalah darinya, mengingat bagaimana ia berlatih beladiri dan seni berpedang selama ini. Ia tipe pria yang sangat gigih dan pekerja keras."

Max mengernyitkan dahinya bingung sambil memandang Gazelle penuh tanya.

        "Darimana kau mengetahui semua itu?"

        "Aku mengetahuinya sendiri, karena dulu aku adalah bagian dari kerajaan Khronos." bisik Gazelle pelan sambil memandangn sekelilingnya untuk berjaga-jaga jika seseorang menguping pembicaraan mereka. Bertahun-tahun Gazelle menyembunyikan identitasnya dari kaum pemberontak karena ia merasa belum memiliki rekan yang benar-benar kuat untuk melawan Aiden. Sekarang setelah ia bertemu dengan Max, ia menjadi yakin jika Max adalah lawan yang seimbang untuk Aiden. Setidaknya Max hanya perlu sedikit diasah agar ia bisa sebanding dengan Aiden.

        "Maksudmu? Kau sebenarnya adalah salah satu rakyat kerajaan Khronos?"

        "Ya begitulah. Lebih tepatnya aku adalah putri dari menteri perang kerajaan Khronos. Dulu aku dan Aiden begitu dekat. Kami sering berlatih pedang dan beladiri bersama hingga aku merasa jika Aiden adalah sosok pria yang begitu sempurna untuk menjadi pasanganku. Sayangnya Aiden mendapatkan kutukan yang sangat mengerikan dari musuh-musuh ayahnya, sehingga ia tidak bisa menerima cintaku dan lebih memilih untuk mencari takdirnya agar ia dapat terbebas dari kutukan itu. Dan setelah aku tak memiliki harapan lagi, aku memutuskan untuk pergi dari kerajaan Khronos dan bergabung dengan kaum pemberontak agar aku bisa membuat Aiden sadar jika

aku adalah wanita yang berbahaya, jadi sudah seharusnya ia berhati-hati denganku dan tidak melukai perasaanku yang berharga ini. Sayangnya selama bertahun-tahun aku bergabung menjadi anggota dari kaum pemberontak ini, mereka semua tak sehebat yang kukira. Kekuatan mereka masih jauh dibawah parajurit-prajurit bangsa Khronos, sehingga kami tidak pernah bisa menghancurkan kerajaan Khronos hingga benar-benar hancur. Aku merasa, seluruh rencana yang selama ini telah kami susun akan diketahui dengan mudah oleh seluruh prajurit kerajaan Khronos. Itulah sebabnya kenapa kami tidak pernah menang melawan prajurit Khronos, apalagi Aiden."

        "Pantas saja Aiden begitu terobsesi pada Calistha, pria kejam itu hanya ingin memanfaatkan Calistha demi menghilangkan kutukannya. Benar-benar licik. Kita harus segera membebaskan Calistha dari kerajaan Khronos." ucap Max geram sambil mengepalkan kedua tangannya tidak terima. Meskipun saat ini ia masih terluka, tapi ia tidak peduli. Apapun akan ia lakukan demi membebaskan Calistha dari cengkeraman raja iblis itu.

        "Ya, Aiden hanya memanfaatkan Calistha untuk menghilangkan kutukannya. Dan setelah itu ia pasti akan membunuh Calistha, sama seperti wanita-wanita terdahulu yang didapatkan oleh Aiden dari berbagai kerajaan." ucap Gazelle terdengar begitu prihatin. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Gazelle sedang menyiapkan berbagai rencana jahat untuk menghancurkan Calistha dan juga untuk menyakiti Aiden. Ia ingin pria itu juga mengalami kesakitan yang sama seperti apa yang ia rasakan selama ini. Bertahun-tahun ia mencoba untuk melupakan setiap penghinaan yang dilontarkan oleh Aiden padanya.

        "Apa kau memiliki rencana untuk membebaskan Calistha? Jika kau memilikinya, katakan padaku. Aku ingin membalaskan dendamku pada raja iblis itu dan juga membawa Calistha pulang ke dalam pelukanku. Ia pasti sangat sedih dan tertekan berada di dalam kungkungan raja iblis itu. Jika kau benar-benar memiliki rencana yang bagus,

aku pasti akan membantumu untuk menjalankannya karena dendamku pada Aiden juga sangat besar seperti dirimu." ucap Max berapi-api dan penuh emosi. Dibalik wajahnya yang tampak tenang, Gazelle sedang tertawa terbahak-bahak pada dirinya sendiri karena akhirnya ia dapat menjebak Max untuk ikut ke dalam permainannya. Melalui Max ia akan melakukan balas dendam pada Aiden. Ia akan membuat Aiden terpuruk karena ia kehilangan calon isterinya yang berharga itu. Lalu, ia akan membunuh Calistha tepat di depan wajah Aiden agar pria itu tidak bisa menyembuhkan kutukannya.

        "Untuk saat ini aku belum memiliki rencana yang pasti. Tapi, aku berencana untuk datang ke kerajaan Khronos dan bertemu dengan Calistha. Kita harus menyamar dan meminta bantuan Calistha sebagai orang dalam. Apa kau bersedia membantuku?"

        "Tentu saja, aku pasti akan membantumu. Aku akan ikut denganmu untuk datang ke kerajaan Khronos

dan menemui Calistha. Jadi, kapan kita akan berangkat menuju kerajaan Khronos?" tanya Max bersemangat. Ia merasa sudah begitu tidak sabar untuk bertemu Calistha dan melepas rindu pada wanita itu. Ia ingin segera merengkuh Calistha dan membawa wanita itu pergi sejauh-jauhnya dari kerajaan Aiden.

        "Besok kita harus pergi ke kerajaan Khronos dan menemui Calistha. Dua hari lagi Aiden pasti akan menikahi Calistha karena lusa adalah malam bulan purnama. Sebisa mungkin kita harus menggagalkan Aiden untuk menikahi Calistha agar kutukannya tidak pernah hilang. Apa kau setuju denganku?"

        "Ya, aku setuju. Kurasa luka di perutku juga sudah lebih baik dari sebelumnya, jadi aku akan ikut denganmu ke kerajaan Khronos." ucap Max mantap dan penuh keyakinan. Gazelle kemudian menggenggam telapak tangan Max kuat sambil mengangguk yakin pada pria itu jika mereka berdua pasti dapat menjadi sepasang partner yang handal untuk menjatuhkan kerajaan Khronos.

        "Baiklah. Lebih baik sekarang kau beristirahat agar besok kita dapat melakukan perjalanan menuju kerajaan Khronos."

        "Ya, aku akan beristirahat. Terimakasih Gazelle atas semua kebaikan hatimu. Aku tidak akan pernah melupakan seluruh jasamu."

        "Hmm, sama-sama. Selamat malam Max."

        "Selamat malam. Sampai jumpa esok pagi." bisik Max pelan sebelum Gazelle melangkah pergi dari tendanya yang kecil. Dibelakangnya sang ibu tengah tertidur lelap dengan wajah tuanya yang tampak begitu damai. Max kemudian mengelus pundak ibunya dengan lembut dan mencium kening ibunya cukup lama sebagai bentuk rasa

sayangnya pada wanita mulia yang telah melahirkannya ke dunia ini. Max kemudian berbisik pelan di telinga ibunya jika ia sangat menyayanginya dan setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di sebelah sang ibu sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala untuk menjadi bantal. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk mereka dan Max benar-benar akan mempersiapkan yang terbaik demi menyelamatkan Calistha dari cengkeraman raja iblis yang sangat kejam itu. Kali ini ia tidak akan kalah lagi dari raja Aiden. Ia pasti akan membawa Calistha kembali ke dalam pelukannya.

Tunggu aku Cals, aku pasti akan menyelamatkanmu.

-00-

        Keesokan paginya Calistha terbangun dengan suasana hati yang sangat buruk. Bagaimana tidak, ketika ia membuka mata, seorang wanita dengan pakaian yang norak telah duduk di sebelah ranjangnya sambil mengamati setiap gerak-geriknya dengan mata aneh yang tampak menelisik. Merasa dipandangai dengan begitu intens, Calistha menjadi risih dan langsung menyuruh wanita itu untuk keluar dari dalam kamarnya. Namun, wanita itu tampak tak menggubrisnya sama sekali dan justru mengeluarkan berbagai macam kain sutra dari dalam sebuah peti besar yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba peti itu sudah berada di dalam kamarnya yang luas. Lalu tanpa sopan santun wanita itu segera menarik tangan Calistha untuk masuk ke dalam kamar mandi, dan tanpa diduga wanita itu langsung menceburkannya begitu saja ke dalam kolam air panas yang disiapkan untuknya, lengkap dengan sabun susu yang begitu wangi dan lembut. Tapi bagaimana mungkin ia dapat menikmati aroma wangi sabun susu itu jika ia masuk ke dalam kolam itu masih menggunakan gaun tidur lengkap dan ia juga belum menggulung rambutnya yang panjang agar tidak basah. Kemudian setelah ia selesai mandi yang terkesan dipaksakan itu, ia segera diseret menuju ranjangnya untuk memilih gaun mana yang akan ia kenakan untuk pesta pernikahannya lusa. Tentu saja Calistha langsung menolak semua gaun itu mentah-mentah karena ia sama sekali tidak setuju dengan rencana gila Aiden yang ingin menikahinya tepat di malam bulan purnama. Ia merasa pria itu mirip seperti siluman srigala karena ingin menikahinya di malam bulan purnama. Meskipun jika pria itu akan menikahinya di malam lain selain bulan purnama, ia juga tidak akan pernah mau.

        "Aku tidak mau mengenakan gaun-gaun itu. Aku tidak mau menikah dengan rajamu." teriak Calistha geram pada wanita berkulit coklat yang sedang memandang Calistha dengan dahi terangkat santai. Ia tampak tak memperdulikan teriakan nyaring Calistha dan justru mendorong Calistha untuk mengenakan sebuah gaun berwarna pink muda yang begitu cantik. Meskipun awalnya Calistha menolak, tapi ia tidak bisa berbuat apapun setelah wanita itu terus mendesaknya untuk mencoba gaun itu di tubuhnya.

        "Ya Tuhan, siapa wanita itu? Kenapa ia begitu menyebalkan? Arghhh, untuk apa aku harus mencoba gaun ini jika aku sama sekali tidak ingin menikah dengan Aiden. Dasar menyebalkan!" gerutu Calistha di dalam kamar mandi sambil mematut dirinya di depan cermin. Tiba-tiba Yuri masuk ke dalam kamar mandi sambil bertepuk

tangan kagum pada Calistha. Ternyata pilihannya memang tepat. Calistha benar-benar cantik saat menggunakan gaun berwarna pink muda itu. Ia yakin, sang raja pasti akan membayar mahal untuk gaun itu.

        "Wah, anda sangat cantik Yang Mulia calon ratu. Raja Aiden pasti akan terpesona melihat kecantikan ratu saat pesta pernikahan nanti. Apa anda menyukainya?" tanya Yuri begitu bersemangat. Calistha jelas-jelas menunjukan ketidaksukaannya pada Yuri dengan mendengus kesal di hadapan wanita itu. Ia dengan kasar segera mendorong Yuri untuk keluar dari dalam kamar mandi karena ia ingin mengganti pakaiannya dengan gaun biasa. Ia terlalu risih untuk menggunakan pakaian mewah itu di dalam kamarnya, meskipun ia akui jika gaun itu benar-benar indah dan sangat pas di tubuhnya.

        "Yang Mulia calon ratu, saya telah menyiapkan peralatan berdandan di luar untuk menghias wajah anda. Dimohon supaya anda tidak terlalu lama berada di dalam kamar mandi." teriak Yuri dari luar sambil bersenandung kecil. Dengan malas, Calistha segera menyeret kakinya untuk keluar dari dalam kamar mandi sambil melempar gaun pink itu dengan sembarangan ke atas ranjangnya. Sungguh ia sangat muak dengan kerajaan ini.

        "Dimana Sunny? Kenapa kau terus menggangguku dengan berbagai macam persiapan pernikahan yang

tak penting ini. Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali jika aku tidak akan menikah dengan Aiden. Aku membenci pria itu. Aku muak dengannya." marah Calistha pada Yuri. Namun, Yuri hanya menanggapi setiap kemarahan Calistha dengan berbagai macam lelucon dan tetap melanjutkan kegiatannya untuk merias

wajah Calistha. Bagaimanapun di sini tugasnya adalah untuk mempercantik sang calon ratu, jadi ia tidak akan terpengaruh pada setiap kemarahan yang dilontarkan oleh wanita itu.

        "Dayang anda sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Setelah ini anda dan raja akan sarapan bersama di bawah, sehingga anda harus tampil cantik di hadapan sang raja, agar raja Aiden semakin tergila-gila pada anda Yang Mulia calon ratu."

        "Kenapa aku harus sarapan bersama pria kejam itu? Aku ingin sarapan di sini saja. Aku tidak mau bertemu dengannya."

        Yuri menjulurkan jari telunjuknya yang panjang tepat di depan wajah Calistha sambil menggerak-gerakan

jarinya ke kanan dan ke kiri. Wanita itu kemudian langsung menghujaninya dengan berbagai macam petuah yang menurut Calistha sangat menyebalkan itu.

        "Yang Mulia, anda tidak boleh berkata seperti itu. Bagaimanapun juga anda dan raja Aiden telah digariskan oleh Tuhan untuk bersama dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Anda dan raja Aiden adalah harapan kami. Saya dan seluruh rakyat kerajaan Khronos sangat yakin jika anda dapat membawa sebuah kedamaian untuk kerajaan ini dan juga untuk tuan Aiden. Tolong jangan kecewakan kami." mohon Yuri sambil menggenggam kedua tangan Calistha dengan erat. Wanita itu kemudian mengangguk kaku di depan Yuri sambil memandangi wanita berkulit coklat itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

        Bagaimana mungkin Aiden memiliki seorang rakyat yang sungguh sangat cerewet seperti ini? Ia benar-benar cerewet dan sangat menyebalkan. batin Calistha gusar sambil memandangi pantulan rambutnya di dalam cermin yang sedang disisir oleh Yuri.

        "Sepertinya kau sangat memuja Aiden, bukankah ia pria yang sangat kejam dan jahat? Apa kau tidak membenci Aiden seperti kebanyakan orang di luar sana? Bahkan aku sendiri pun sangat membenci Aiden, ia telah menghancurkan kerajaanku dan juga memporak-porandakan hidupku hingga aku tidak bisa hidup bahagia dengan pria yang kucintai.”

        Yuri menatap kedua manik Calistha dengan penuh arti melalui cermin besar yang menjulang di depan wanita cantik itu.

        "Nona, sungguh tuan Aiden tidak seburuk itu. Tuan Aiden adalah sosok pria yang baik. Mungkin saja anda belum menemukan sisi itu diri raja Aiden. Tapi pada akhirnya anda pasti dapat menemukannya di dalam diri raja Aiden. Percayalah padaku nona karena kami telah membuktikannya sendiri selama bertahun-tahun."

        "Sudahlah, hentikan semua omong kosongmu itu. Dan tolong tinggalkan aku sendiri di sini sebentar sebelum aku turun ke bawah untuk sarapan bersama."

        Setelah mendengar hal itu, Yuri segera berpamitan pada Calistha sambil mengumpulkan semua alat makeupnya yang tampak tercecer di atas ranjang milik Calistha. Dan setelah semua barangnya ia bereskan, Yuri segera melambai pada Calistha dan langsung menghilang keluar begitu saja dari kamar Calistha, menyisakan sebuah tanda tanya besar di dalam benak Calistha mengenai kebenaran dari semua ucapan Yuri tentang Aiden.

-00-

        Max dan Gazelle saat ini sedang berada di luar gerbang utama kerajaan Khronos. Mereka berdua sejak

tadi terus mengintai keadaan disekitar mereka dengan penuh semangat. Kilatan mereh karena marah tampak berkobar di mata Max kala ia melihat beberapa prajurit kerajaan Khronos sedang mencoba menghadangnya dan juga Gazelle. Mereka berdua kemudian mulai menyerang prajurit itu satu persatu dengan kemampuan beladiri mereka yang mumpuni. Sesekali Max megerahkan tendangan pada prajurit itu dan sama sekali tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk menyerangnya.

Bukkk

        Gazelle tersungkur di atas tanah setelah mendapatkan serangan dari salah satu prajurit kerajaan Khronos. Max yang melihat hal itu segera membantu Gazelle dan memberikan tendangan pada wajah prajurit itu hingga ia juga tersungkur ke atas tanah dengan hidung yang mengeluarkan darah.

        "Gazelle, apa kau baik-baik saja?" tanya Max khawatir sambil membantu Gazelle untuk berdiri. Wanita itu kemudian sedikit membenarkan letak penutup wajahnya yang merosot sambil mengangguk pada Max.

        "Ya, aku baik-baik saja. Cepat ambil pakaian mereka, kita harus menyamar sebagai prajurit untuk masuk ke dalam kerajaan Khronos." perintah Gazelle cepat dan mulai melucuti pakaian prajurit itu satu persatu. Setelah itu Max mengeluarkan pedang dari dalam sarung pedang milik prajurit yang jatuh pingsan itu, kemudian ia langsung menusuk dada para prajurit itu dengan pedang perak yang ia genggam hingga tidak ada satupun dari penjaga itu yang masih hidup.

        "Bagaimana, apa kau sudah siap?" tanya Gazelle pada Max yang tengah mengenakan penutup kepala milik prajurit penjaga. Max pun segera mengangguk cepat sambil berjalan mendahului Gazelle untuk membuka pintu gerbang istana yang cukup besar dan berat itu.

        "Ayo, waktu kita tidak banyak. Apa kau tahu dimana keberadaan kamar Calistha?" tanya Max sambil melihat kesana kemari. Sesekali mereka mengangguk pada beberapa prajurit yang mereka temui di jalan. Gazelle tampak berpikir sejenak sambil mengamati deretan jendela kamar yang berada di istana kerajaan Khronos. Refleks ekor matanya mengamati sebuah jendela besar yang berada di sayap kanan. Jendela itu tampak kosong dan tidak ada siapapun yang berdiri di sana. Ia kemudian menghela napas pelan, berusaha untuk membesarkan hatinya yang mulai goyah. Dulu ia sering sekali berada di depan jendela itu untuk mengamati pemandangan dari atas

kamar milik Aiden. Ya, jendela besar itu adalah jendela yang berada di dalam kamar Aiden. Tiba-tiba Gazelle menoleh ke arah bangunan di sayap kiri, disana terdapat sebuah jendela besar juga yang menghadap ke sebuah taman yang luas. Dengan penuh keyakinan Gazelle mengatakan pada Max jika jendela besar itu adalah jendela yang terhubung dengan kamar Calistha.

        "Kita harus berpencar untuk menemukan Calistha. Jika kau atau aku bertemu dengan Calistha, kita harus segera membawanya ke sini untuk memikirkan langkah selanjutnya. Berhati-hatilah, karena Aiden pasti akan memberikan penjagaan yang ketat pada Calistha karena ia adalah calon ratunya. Apa kau mengerti?" tanya Gazelle pelan di sebelah Max sambil terus mengintai keadaan disekitarnya. Max kemudian mengangguk dan langsung berjalan keluar dengan tenang untuk masuk ke dalam bangunan istana. Hal pertama yang Max lakukan ketika ia berada di dalam istana adalah ia menanyakan pada seorang juru dapur yang kebetulan sedang berjalan di depannya mengenai dimana letak kamar Calistha berada.

        "Apa kau tahu dimana letak kamar Yang Mulia Calistha? Aku adalah prajurit baru di sini, dan aku hendak menyampaikan pesan dari Yang Mulia Aiden."

        Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun juru dapur itu segera menunjukan letak kamar Calistha yang berada di lantai dua dan terletak di sebelah kiri lorong panjang. Setelah mengucapkan terimakasih, Max segera berjalan naik untuk menemui Calistha. Para prajurit yang berlalu lalang disekitarnya pun tampak tak menaruh curiga sedikitpun pada Max. Tapi, ketika Max melewati undakan tangga terakhir, Max bertemu Spencer. Dengan sedikit gugup Max mulai membungkukan tubuhnya hormat di depan Spencer sambil berdiri kaku.

        "Apa yang akan kau lakukan di atas? Bukankah kau prajurit penjaga gerbang?" tanya Spencer curiga. Dari balik baju prajuritnya, jantung Max terus berdetak dengan keras karena ia merasa begitu tegang. Ia tidak tahu jika Spencer akan langsung mengenalinya sebagai prajurit penjaga gerbang, mengingat seragam yang ia kenakan terlihat begitu mirip dengan seragam prajurit yang lain. Tapi, cepat-cepat ia menghilangkan kegugupan hatinya dengan berdeham sebentar sebelum ia menjawab pertanyaan dari Spencer.

        "Maaf tuan, saya sedang melakukan patroli menggantikan salah satu prajurit senior yang sedang sakit." Jawab Max tampak gugup. Ia tidak tahu apakah alasannya itu terdengar masuk akal atau tidak bagi Spencer karena pria itu adalah pengawal setia raja Aiden, sehingga ia pasti sangat tahu siapa saja prajurit yang sedang izin hari ini.

        "Sakit? Oh, aku memang menerima laporan dari salah satu prajurit jika prajurit Felix sedang sakit dan ia mengatakan padaku jika pekerjaannya hari ini akan digantikan oleh prajurit lain, jadi prajurit itu adalah kau?" tanya Spencer menelisik seluruh tubuh Max dari ujung kepala hingga ujung kaki. Max mengangguk kaku di depan Spencer sambil menundukan wajahnya dalam.

        "Kalau begitu cepat kau periksa semua bangunan di istana ini, sepertinya ada seorang penyusup yang datang kemari dan ingin mencelakai Yang Mulia Calistha. Jangan kecewakan raja Aiden, apa kau mengerti?"

        Max mengangguk tegas pada Spencer sambil berdiri kaku di hadapan pria itu. Rasanya kakinya sudah

tidak sabar untuk segera melangkah ke atas, menuju kamar Calistha. Dalam hati Max menggerutu kesal karena Spencer yang tiba-tiba muncul dan mengganggu jalannya seperti ini.

        "Baiklah, lanjutkan tugasmu. Semoga berhasil."

        Setelah Spencer berlalu pergi, tanpa sadar Max menghela napas lega dan langsung berjalan cepat menuju arah kamar Calistha berada. Lorong yang dilewatinya tampak begitu sepi dan hanya ada beberapa penjaga yang berdiri di sana. Ia pikir apa yang dikatakan oleh Gazelle benar, ternyata tidak. Di sini Aiden sama sekali tidak memberikan penjagaan yang ketat pada kamar Calistha. Semuanya tampak sama dan normal.

        Akhirnya Max tiba di depan kamar Calistha dengan perasaan menggebu-gebu yang bercampur dengan perasaan bahagia. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Calistha, dan ia benar-benar sudah tidak sabar untuk hal itu.

        "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang prajurit yang berdiri di depan pintu kamar Calistha. Max kemudian membungkuk hormat pada prajurit itu sebelum ia menyampaikan berita bohong yang dibawanya.

        "Raja Aiden ingin aku menyampaikan pesan pada Yang Mulia Calistha."

        "Baiklah, silahkan masuk."

        Max sedikit memandang tak percaya pada prajurit itu karena ia dengan mudahnya langsung dipersilahkan

masuk tanpa menanyainya lebih lanjut. Sungguh, hari ini pasti adalah hari keberuntungannya. Tanpa ragu, Max segera masuk ke dalam kamar Calistha yang didominasi oleh warna emas dan merah itu. Dari ujung pintu, Max dapat melihat siluet punggung Calistha yang sedang melamun di dekat jendela besar kamarnya tanpa menyadari kehadirannya sedikitpun. Dengan pelan dan perasaan yang membuncah, Max segera berjalan menyeberangi kamar milik Calistha yang sangat luas itu untuk memberikan kejutan pada wanita yang dicintainya. Ia yakin, wanita itu pasti akan sangat terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba ini.

Grep

        Calistha menegang kaku di tempatnya ketika sepasang tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan suara hembusan napas yang terdengar begitu keras di telinganya. Refleks Calistha menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat siapa yang telah berani memeluknya seperti ini. Dan betapa terkejutnya ia setelah ia melihat wajah Max sedang tersenyum lembut ke arahnya sambil berbisik pelan.

        "Calistha, aku merindukanmu." bisik pria itu mesra sambil mencium pipi Calistha lembut.

        "Max." bisik Calistha parau dengan mata yang berkaca-kaca bahagia.

Episodes
1 Khronos, Kairos, Hora (One)
2 Khronos, Kairos, Hora (Two)
3 The King Of Khronos (Three)
4 The King Of Khronos (Four)
5 The King Of Khronos (Five)
6 The King Of Khronos (Six)
7 Time Freeze (Seven)
8 Time Freeze (Eight)
9 Bloody Sword (Nine)
10 Bloody Sword (Ten)
11 Bloody Sword (Eleven)
12 Time To Recover (Twelve)
13 Time To Recover (Thirteen)
14 Time To Recover (Fourteen)
15 Time To Recover (Fifteen)
16 The Lost Queen (Sixteen)
17 The Lost Queen (Seventeen)
18 The Lost Queen (Eighteen)
19 Haste Makes Waste (Nineteen)
20 Haste Makes Waste (Twenty)
21 Haste Makes Waste (Twenty One)
22 Hold The Torch (Twenty Two)
23 Hold The Torch (Twenty Three)
24 Hold The Torch (Twenty Four)
25 Pain In The Ass (Twenty Five)
26 Pin In The Ass (Twenty Six)
27 Pain In The Ass (Twenty Seven)
28 Pain In The Ass (Twenty Eight)
29 Evil Shadow (Twenty Nine)
30 The Evil Shadow (Thirty)
31 The Evil Shadow (Thirty One)
32 Stay Beside Me (Thirty Two)
33 Stay Beside Me (Thirty Three)
34 Stay Beside Me (Thirty Four)
35 Stay Beside Me (Thirty Five)
36 Blooming Flower (Thirty Six)
37 Blooming Flower (Thirty Seven)
38 Blooming Flower (Thirty Eight)
39 Red Heart (Thirty Nine)
40 Red Heart (Fourty)
41 Red Heart (Fourty One)
42 Time That We Used (Fourty Two)
43 Time That We Used (Fourty Three)
44 Time That We Used (Fourty Four)
45 Time That We Used (Fourty Five)
46 Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47 Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48 Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49 Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50 Still Stuck In That Time (Fifthy)
51 Still Stuck In That Time (Fifty One)
52 My Mysterious One (Fifty Two)
53 My Mysterious One (Fifty Three)
54 My Mysterious One (Fifty Four)
55 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57 King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58 Have A Blast (Fifty Eight)
59 Have A Blast (Fifty Nine)
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Khronos, Kairos, Hora (One)
2
Khronos, Kairos, Hora (Two)
3
The King Of Khronos (Three)
4
The King Of Khronos (Four)
5
The King Of Khronos (Five)
6
The King Of Khronos (Six)
7
Time Freeze (Seven)
8
Time Freeze (Eight)
9
Bloody Sword (Nine)
10
Bloody Sword (Ten)
11
Bloody Sword (Eleven)
12
Time To Recover (Twelve)
13
Time To Recover (Thirteen)
14
Time To Recover (Fourteen)
15
Time To Recover (Fifteen)
16
The Lost Queen (Sixteen)
17
The Lost Queen (Seventeen)
18
The Lost Queen (Eighteen)
19
Haste Makes Waste (Nineteen)
20
Haste Makes Waste (Twenty)
21
Haste Makes Waste (Twenty One)
22
Hold The Torch (Twenty Two)
23
Hold The Torch (Twenty Three)
24
Hold The Torch (Twenty Four)
25
Pain In The Ass (Twenty Five)
26
Pin In The Ass (Twenty Six)
27
Pain In The Ass (Twenty Seven)
28
Pain In The Ass (Twenty Eight)
29
Evil Shadow (Twenty Nine)
30
The Evil Shadow (Thirty)
31
The Evil Shadow (Thirty One)
32
Stay Beside Me (Thirty Two)
33
Stay Beside Me (Thirty Three)
34
Stay Beside Me (Thirty Four)
35
Stay Beside Me (Thirty Five)
36
Blooming Flower (Thirty Six)
37
Blooming Flower (Thirty Seven)
38
Blooming Flower (Thirty Eight)
39
Red Heart (Thirty Nine)
40
Red Heart (Fourty)
41
Red Heart (Fourty One)
42
Time That We Used (Fourty Two)
43
Time That We Used (Fourty Three)
44
Time That We Used (Fourty Four)
45
Time That We Used (Fourty Five)
46
Like A Moth To A Flame (Fourty Six)
47
Like A Moth To A Flame (Fourty Seven)
48
Like A Moth To A Flame (Fourty Eight)
49
Still Stuck In That Time (Fourty Nine)
50
Still Stuck In That Time (Fifthy)
51
Still Stuck In That Time (Fifty One)
52
My Mysterious One (Fifty Two)
53
My Mysterious One (Fifty Three)
54
My Mysterious One (Fifty Four)
55
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Five)
56
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Six)
57
King Aiden and Queen Calistha (Fifty Seven)
58
Have A Blast (Fifty Eight)
59
Have A Blast (Fifty Nine)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!