Calistha terus berjalan dengan tidak sabar menyusuri lorong-lorong panjang yang mengarah menuju ruang
pribadi Aiden. Sejak tadi pikirannya terus memutar kejadian-kejadian mengerikan yang dilakukan oleh Aiden di dalam mimpinya. Tapi, cepat-cepat Calistha menyingkirkan jauh-jauh semua pikiran itu, terlebih saat ia mengingat peristiwa ciumannya dengan Aiden yang terasa begitu nyata ia rasakan. Bahkan bibirnya kini terasa berkedut aneh ketika ia membayangkan bibir tipis Aiden sedang melumatnya lembut. Tapi, dengan naifnya Calistha terus menyangkal semua hal itu dari dalam kepalanya dan memilih untuk segera melupakan hal itu, karena sekarang ia harus meminta ijin pada Aiden untuk menemui Tiffany. Jangan sampai apa yang terjadi di dalam mimpinya terjadi di dunia nyata dan membuatnya semakin frustasi akan kehidupannya yang menyedihkan ini.
"Aku ingin bertemu dengan raja Aiden." ucap Calistha angkuh pada seorang penjaga yang sedang berdiri kaku di depan pintu besar ruang pribadi Aiden. Penjaga itu tampak melirik Calistha sekilas dengan wajah kakunya, dan setelah itu ia langsung mengijinkan Calistha untuk masuk ke dalam ruangan tuannya.
"Selamat pagi sayang? Bagaimana tidurmu semalam, apakah nyenyak?"
Dari balik kursi kebesarannya, Aiden tampak tersenyum menyeringai pada Calistha sambil mempersilahkan Calistha untuk duduk di kursi di depan meja kerjanya. Pria itu pagi ini terlihat begitu tampan dengan setelan kebesarannya yang berwarna hitam merah. Membuatnya semakin terlihat begitu kejam dan angkuh disaat yang bersamaan.
"Aku hanya ingin meminta ijin untuk menemui Tiffany. Apa ia masih berada di dalam sel tahanan?" tanya Calistha dengan mimik wajah khawatir. Saat ini ia benar-benar merasa takut jika mimpi itu akan menjadi nyata. Tapi, menurut Yuri, raja sama sekali belum menghukum seseorang sejak dua minggu yang lalu. Jadi ia merasa memiliki sedikit harapan akan hal itu.
"Aku tidak memberimu ijin untuk menemui saudara kandungmu di penjara. Untuk saat ini kau hanya harus fokus pada pernikahan kita esok pagi?"
"Apa? Jadi, kita benar-benar belum menikah? Dan... dan kau belum membunuh saudaraku?" tanya Calistha tidak percaya dengan wajah yang tampak berbinar-binar. Aiden mengernyitkan dahinya tidak mengerti sambil menatap sinis pada Calistha.
"Apa kau berhalusinasi lagi? Jelas-jelas pernikahan kita akan dilaksanakan esok pagi saat malam bulan purnama. Kuharap kau tidak mencoba kabur dari istanaku setelah ini." ucap Aiden datar dan dingin.
"Aku tidak akan kabur dari istanamu, tapi jika aku memiliki kesempatan, maka aku akan melakukannya. Jangan harap aku bersedia untuk menikah denganmu, karena aku sama sekali tidak mencintaimu." balas Calistha sengit penuh kemarahan. Aiden mencengkeram ujung meja kayunya dengan erat, mencoba untuk mengendalikan
amarahnya yang akan meledak sebentar lagi. Wanita itu, entah mengapa suka sekali memulai sebuah pertengkaran dengannya. Bahkan, disaat ia sedang mencoba untuk berdamai dengan wanita itu, ia tetap saja menyulut emosinya dengan kata-katanya yang pedas dan sinis itu. Sebenarnya apa yang salah dengannya? Kenapa wanita itu terus memandang jijik padanya, sedangkan wanita-wanita lain selalau berebut untuk menarik perhatiannya?
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau selalu menolakku dan menatapku seolah-olah aku adalah pria yang sangat menjijikan?" tanya Aiden dingin dan datar. Calistha tampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari Aiden karena ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Aiden akan menanyakan hal ini padanya.
"Aku... aku ingin kau menjadi pria yang baik dan tidak membunuh siapapun lagi." jawab Calistha sedikit berpikir. Jujur saja, ia tidak tahu apa yang ia inginkan dari Aiden. Apalagi ia tidak pernah tahu apakah alasan Aiden dibalik sikap kejam dan arogannya selama ini. Tapi, di dalam pikirannya hanya jawaban itu yang bergema di sana, selebihnya hanyalah ide-ide untuk mencoba kabur dari istana raja kejam itu.
"Baik? Bagaimana tolak ukurmu mengenai kebaikan seseorang?"
Lagi-lagi Aiden melontarkan sebuah pertanyaan sulit pada Calistha. Wanita itu kini tampak sedang memain-mainkan ujung gaunnya dengan gugup lantaran ia merasa bingung dengan jawaban yang akan ia berikan pada Aiden. Sebenarnya apa yang ia maksud dengan baik adalah sesuatu yang sederhana. Selama ini ia tumbuh besar di kerajaan Hora. Di sana semua orang yang tidak pernah membentaknya dan selalu menghormatinya adalah orang yang baik. Sehingga apa yang ia maksudkan baik di sini adalah kebaikan dasar yang dimiliki oleh seorang manusia. Hanya saja terkadang manusia telah memiliki kebaikan lain yang tingkatnya lebih tinggi dan
proses untuk mendapatkan gelar baik dalam dirinya pun juga lebih sulit. Dan mungkin hal itulah yang kini sedang dialami oleh Aiden. Kebaikannya bukan lagi kebaikan tingkat dasar. Ia memiliki kebaikan lain yang sifatnya lebih tinggi, namun hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya.
"Tentu saja baik menurutku adalah orang yang tidak pernah memperlakukan orang lain dengan kejam dan semena-mena sepertimu. Kenapa kau justru bertanya padaku? Apa selama ini kau tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan baik itu?" tanya Calistha bersungut-sungut. Aiden terkekeh pelan melihat ekspresi Calistha yang di luar dugaanya itu. Ia pikir Calistha dapat menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang memuaskan, tapi ternyata wanita itu tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan benar dan justru mengalihkannya dengan sikap meledak-ledaknya yang terlihat lucu. Aiden kemudian berpikir jika sebenarnya Calistha memang membutuhkan sebuah pelajaran hidup agar ia dapat membedakan antara kebaikan nyata dengan kebaikan semu.
"Aku hanya ingin mengetahui arti kebaikan menurut pandanganmu. Baiklah, lupakan saja. Jadi, kau
datang ke ruanganku sepagi ini hanya meminta ijin untuk bertemu dengan saudara perempuanmu?"
"Ya, aku ingin melihat kondisi Tiffany. Apa selama ini kau memberinya makan dengan layak? Aku... takut kehilangannya. Dia adalah satu-satunya saudara yang kumiliki."
Entah mengapa ia tiba-tiba mengatakan sedikit perasaanya pada Aiden. Semua itu terucap begitu saja, tanpa bisa ia cegah. Namun, hatinya yang seolah dingin dan selalu ketakutan, kini justru terasa lebih hangat setelah ia mengatakan apa yang ia rasakan pada Aiden. Dan, sebenarnya ia cukup sadar jika hal itu akan melemahkannya di hadapan Aiden.
"Jika kau takut kehilangannya, maka biarkan ia tetap di sana. Percayalah padaku, bahwa ia akan lebih aman berada di sana."
"Aman? Yang benar saja. Penjara itu gelap, lembab, dan juga kotor. Tiffany tidak akan pernah aman jika berada di dalam sana. Kenapa kau tidak mengeluarkan Tiffany dan membirkannya hidup bersamaku. Jika kau melepaskan Tiffany dan memberikan kehidupan yang layak untuknya, aku akan bersedia untuk menikah denganmu. Karena aku tidak mau memiliki hutang budi pada siapapun, jadi aku pasti akan menepati janjiku jika kau khawatir aku akan melarikan diri disaat pesta pernikahan berlangsung." ucap Calistha meyakinkan. Wanita itu tampak sangat berharap pada Aiden. Setidaknya ia ingin melihat kakaknya bebas dan menemukan kehidupannya yang layak di laur sana. Biarlah ia menjadi tawanan pria kejam itu, asalkan orang-orang yang disayanginya dapat hidup bahagia.
"Tidak. Apapun imbalan yang akan kau berikan padaku, aku tidak akan melepaskan Tiffany. Bahkan, aku sama sekali tidak akan memberikannya kehidupan yang layak di istanaku." jawab Aiden tegas dengan tatapan dingin dan menusuk. Pria itu kemudian langsung menyibukan dirinya lagi dengan berbagai macam laporan hasil panen dari berbagai wilayah kekuasaanya. Ia sedang tidak ingin membalas konfrontasi yang akan dilakukan oleh Calistha. Ia tahu jika sebentar lagi wanita itu akan kembali meledak karena ia dengan jelas telah menolak keinginan
wanita itu untuk membebaskan Tiffany. Tapi, semua itu tentu saja dilakukannya karena ia ingin melindungi Calistha. Sejak awal ia bertemu Tiffany, ia tahu jika wanita itu memiliki sesuatu yang sangat mengerikan dalam dirinya. Dan ia takut Tiffany akan mencelakai Calistha suatu saat nanti. Tapi, sayangnya wanita yang berada di depannya saat ini tidak bisa melihat adanya kelicikan dalam diri Tiffany. Wanita itu hanya menganggap orang-orang yang tidak pernah memperlakukannya dengan buruk adalah orang-orang yang baik. Padahal orang-orang itu hanya sedang menunggu kesempatan untuk menjegalnya dan membuatnya jatuh dengan sangat keras hingga ia tidak dapat bangkit lagi. Jadi, selagi Aiden masih mampu untuk melindungi Calistha, maka ia akan melakukan berbagai macam cara untuk melindungi wanita itu. Termasuk mengotori tangannya dengan darah orang-orang kejam itu sekalipun.
"Kenapa kau begitu jahat dan egois? Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu sehingga kau tega menyakiti orang lain?" tanya Calistha berapi-api. Kali ini kemarahannya sudah tidak dapat dibendung lagi setelah Aiden dengan tegas mengatakan padanya jika ia tidak bisa melepaskan Tiffany. Padahal ia sudah susah payah menurunkan harga dirinya dengan memberikan imbalan dirinya dan tubuhnya pada pria itu, tapi yang ia dapat justru penolakan tegas yang sama sekali tidak ingin dibantah. Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu? Kenapa ia sulit sekali untuk dipahami dan ditebak?
"Karena aku memiliki alasan tersendiri untuk melakukan hal itu. Lebih baik kau keluar dari ruanganku sekarang, karena kau telah mengganggu pekerjaanku." usir Aiden kasar dan langsung menyibukan dirinya lagi dengan berbagai macam laporan yang berserakan di atas mejanya. Calistha mengepalkan tangannya marah sambil memandang tak percaya pada Aiden. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak dengan sangat kejam oleh pria itu. Seharusnya sejak awal ia tidak memutuskan untuk menemui pria itu dan meminta kerendahan hatinya untuk melepaskan Tiffany. Ia kemudian bertekad pada dirinya sendiri, jika ia akan melepaskan Tiffany dari penjara itu, apapun yang terjadi. Bahkan, bila perlu, ia akan mengangkat senjata untuk melawan pria kejam itu.
"Kenapa kau masih berada di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk keluar?" tanya Aiden sinis tanpa memandang wajah Calistha sedikitpun. Dengan marah, Calistha berjalan keluar dari ruangan besar itu sambil menghentak-hentakan kakinya yang berbalut heels dengan keras ke atas karpet tebal milik Aiden, hingga tercipta bunyi debum yang cukup berisik dari langkah wanita itu. Tapi, Aiden berusaha untuk tidak peduli dan membirkan wanita itu melakukan apapun sesuka hatinya. Lagipula, ia yakin, sekuat apapun ia melarang wanita itu, maka Calistha justru akan semakin membangkang dan melawannya. Jadi, ia yakin jika setelah ini wanita itu pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk melepaskan Tiffanya dan kabur dari istananya sebelum pernikahannya berlangsung.
"Kita lihat, apa yang bisa kau lakukan setelah ini sayang?" gumam Aiden pelan penuh arti.
-00-
Pukul setengah sepuluh tepat, Calistha sudah bersiap di kamarnya untuk menunggu kedatangan Max. Jika apa yang terjadi di dalam mimpinya itu akan menjadi kenyataan, maka seharusnya Max akan datang sebentar lagi. Ya, baru saja ia menanyakan pada Sunny, kapan penari istana akan berlatih menari di halaman istana. Sunny kemudian menjawab jika hari ini penari-penari istana akan berlatih pukul sepuluh, sehingga menurutnya Max akan datang ke kamarnya sebelum pukul sepuluh.
"Cals."
Calistha langsung mendongakan kepalanya dengan cepat ketika tiba-tiba Max masuk ke dalam kamarnya dengan pakaian prajurit yang begitu mirip dengan mimpinya kemarin malam. Ia kemudian mendekati Max dengan wajahnya yang kaku dan pucat karena ia tiba-tiba teringat akan tubuh Max yang mengeluarkan begitu banyak darah saat Aiden membunuhnya. Sekarang ia mulai yakin jika mimpi itu seratus persen nyata dan melalui mimpi itu Tuhan seakan-akan sedang memberikan pesan untuknya agar ia dapat menyelamarkan Gazelle, Max, dan Tiffany.
"Max, dimana Gazelle?" tanya Calistha panik tanpa menghiraukan tatapan terkejut Max yang ditunjukan padanya. Tapi, Calistha berusaha untuk tidak mempedulikannya karena sekarang ia sedang mencoba untuk mengehemat waktu, agar semuanya berjalan dengan cepat, sesuai rencananya.
"Darimana kau tahu jika aku datang ke sini bersama Gazelle?"
"Itu tidak penting Max. Tapi, kita harus menemukan Gazelle sekarang juga karena nyawa kalian semua
dalam bahaya." ucap Calistha panik. Max kemudian berusaha menenangkan Calistha dengan menarik wanita itu untuk duduk di atas sofa empuk yang berada di dekat ranjangnya. Seketika bayangan di dalam mimpinya kembali berkelebat lagi di dalam otaknya hingga ia merasa mual karena ketakutan dan kepanikan itu terus menusuk-nusuk perasaannya saat ini.
"Tenanglah Cals. Ceritakan padaku, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu? Apa raja Aiden sudah mengetahui rencana penyamaran kami?"
Calistha menggelengkan kepalanya pelan di depan Max sambil memandangi wajah itu lekat-lekat.
"Max, aku... ahh, bagaimana caranya aku menjelaskannya padamu?" desah Calistha frustrasi sambil menggenggam ujung gaunnya gusar. Sedangkan Max yang sejak tadi tampak serius menunggu kelanjutan kata-kata Calistha tampak berusaha untuk menenangkan wanita itu dari kekalutan hatinya. Pria itu memegang pundak Calistha pelan dan menyuruh Calistha untuk sedikit tenang.
"Tenanglah, apa yang ingin kau katakan padaku? Mengapa kau tahu jika aku datang ke sini bersama Gazelle? Dan.. apa kau telah mengenal Gazelle?"
"Begini Max, sebenarnya aku dan Gazelle adalah sepasang sahabat. Kami dulu sering berlatih pedang dan beladiri bersama di hutan terlarang. Lalu, mengenai mengapa aku mengetahui kau dan Gazelle akan datang ke sini karena semalam aku mendapatkan mimpi. Dalam mimpiku kau dan Gazelle sedang berusaha untuk membawaku pergi dari kerajaan Khronos karena besok raja itu akan menikahiku. Tapi, sebelum kalian membawaku pergi, aku memintamu untuk menyelamatkan Tiffany di penjara bawah tanah. Sayangnya, kalian tertangkap oleh pasukan raja kejam itu dan... dan... kalian bertiga dibunuh oleh raja kejam itu. Max, aku takut jika mimpiku itu akan menjadi nyata, karena beberapa hal dalam mimpi itu sudah terjadi sekarang. Apa Gazelle sedang menunggumu di taman istana?"
"Kami memang berjanji untuk bertemu di sana. Ada apa? Apa kau melihat apa yang ia lakukan di sana?" tanya Max berusaha tenang. Calistha tampak berpikir keras untuk mengingat-ingat apa saja yang ia ingat dalam mimpinya.
"Max, aku sebenarnya tidak melihat apa yang dilakukan Gazelle sama sekali di kerajaan ini. Aku hanya memintamu untuk menyelamatkan Tiffany, dan kemudian kau pergi ke penjara itu bersama Gazelle. Kita harus segera mencari Gazelle sekarang. Mungkin saja ia telah melakukan suatu kesalahan hingga kalian dengan mudahnya langsung tertangkap oleh pasukan raja Aiden. Kau tahu, menurutku penyamaran kalian sangat sempurna, tapi entah mengapa raja itu dapat menangkap kalian dengan mudahnya. Ayo Max, kita harus cepat." ucap Calistha tak sabar dan langsung berjalan cepat menuju pintu kamarya. Max kemudian segera mengenakan
helm prajuritnya lagi, dan berjalan tenang di belakang Calistha. Sesekali mereka berpapasan dengan beberapa prajurit lain yang tampak menatap mereka dengan wajah aneh. Max kemudian menyadari sesuatu, prajurit itu menatap aneh wajah Calistha karena wajahnya yang tampak panik dan terlihat terburu. Saat keadaan disekitar mereka cukup sepi, Max mulai mengulurkan tangannya untuk menghentikan langkah kaki Calistha yang lebar-lebar. Menurutnya ia harus memberitahu Calistha jika wanita itu tidak perlu sepanik itu, karena apa yang dialami oleh wanita itu hanya sebatas mimpi, semuanya belum tentu benar-benar terjadi saat ini.
"Cals, tenanglah. Sejak tadi prajurit-prajurit itu terus menatapmu dengan pandangan aneh mereka. Kuharap kau bisa sedikit mengatur emosimu. Lagipula apa yang ada di dalam mimpimu itu belum tentu akan menjadi kenyataan, mimpi hanyalah bunga tidur." ucap Max menenangkan. Tapi, Calistha justru tampak tidak suka dan
langsung menghela tangan Max begitu saja dari pundaknya. Sungguh ia merasa kecewa pada Max karena pria itu sama sekali tidak mempercayainya. Padahal ia sangat yakin jika mimpi itu akan segera menjadi kenyataan hari ini. Dan sebelum semua itu terjadi, ia hanya mencoba untuk memperbaiki semuanya. Ia tidak ingin kehilangan Gazelle, Max, dan Tiffany. Tidak dalam tusukan pedang raja Aiden.
"Apa kau tidak mempercayaiku? Apa kau pikir semua yang ku katakan padamu hanya lelucon?" tanya Calistha mulai emosi. Max menggelengkan kepalanya cepat dan berusaha untuk memegang pundak Calistha lagi. Tapi, wanita itu sudah terlanjur tersinggung dengan ucapannya dan ia langsung berjalan begitu saja meninggalkannya tanpa menoleh pada pria itu sedikitpun. Max kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah Calistha dalam diam, karena ia tahu jika Calistha saat ini sedang marah padanya. Jadi, tidak ada gunanaya jika ia terus menerus mengejar wanita itu dan meminta maaf. Lebih baik ia menunggu hingga emosi wanita itu mereda, dan setelah itu ia akan meminta maaf padanya.
"Yang Mulia."
Tiba-tiba sapaan sopan dan halus itu menghentikan langkah Calistha dengan tiba-tiba di depannya, hingga membuatnya hampir menabrak tubuh mungil Calistha. Melalui helm pelindungnya, Max dapat melihat jika pengawal setia Aiden sedang berjalan menghampiri Calistha sambil membungkuk hormat. Ketika akhirnya Spencer telah
berdiri di depan Calistha, pria berbaju merah itu sedikit melirik aneh pada keberadaan Max yang saat ini sedang berada di belakang Calistha. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu mengatakan jika ia hanya akan menggantikan tugas salah satu prajurit yang sedang sakit, bukan untuk mengawal Calistha berjalan-jalan seperti ini.
"Maaf Yang Mulia, saya mengejutkan anda. Apa anda sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Spencer sopan, namun sejak tadi ekor matanya tak henti-hentinya mengintai setiap pergerakan yang dilakukan oleh Max, hingga membuat Max sedikit tidak nyaman dan menjadi gugup.
"Aku hanya ingin melihat para penari di halaman istana."
"Apa Yang Mulia memang memerintahkan prajurit itu untuk mengawal anda, karena seharusnya prajurit itu berjaga di pintu gerbang sekarang." ucap Spencer dengan penekanan disetiap katanya, bermaksud untuk menyindir Max. Calistha yang melihat adanya gelagat aneh dari Spencer langsung memutar otaknya untuk menyelamatkan Max. Ia tahu jika saat ini Spencer sudah mulai curiga dengan keberadaan Max di dalam istana ini, jadi ia harus segera memberikan alasan yang tepat pada Spencer sebelum semua hal yang terjadi di dalam mimpinya menjadi kenyataan.
"Aku yang memintanya untuk menemaniku. Kurasa calon ratu sepertiku memang harus diberikan penjagaan yang ketat agar tidak ada seorang pun yang dapat melukaiku." jawab Calistha sedikit ponggah. Entah mengapa, semenjak ia berada di kerajaan ini, sikap ponggah dan sombongnya sering ia munculkan untuk memperkuat pertahanan dirinya. Karena ia merasa sebagai orang asing di dalam kerajaan ini, dan ia tidak memiliki siapapun di kerajaan ini yang akan membelanya. Sehingga penting baginya untuk menunjukan sikap berkuasa di kerajaan ini agar harga dirinya tidak diinjak-injak oleh orang lain.
"Ya, anda benar Yang Mulia. Tapi bukankah anda dapat meminta tolong pada salah satu penjaga yang memang ditugaskan untuk menjaga anda?" tanya Spencer lagi, berusaha untuk mengorek informasi yang sebenar-benarnya dari Calistha. Karena sebenarnya ia telah menaruh kecurigaan pada prajurit itu sejak tadi.
"Eee, penjaga itu sepertinya sedang sibuk. Lagipula aku tidak sengaja bertemu dengannya di lorong istana, dan ia mengatakan padaku jika ia adalah prajurit penjaga gerbang. Jadi, menurutku tidak ada salahnya jika aku pergi ke halaman istana bersamanya. Karena ia dapat langung kembali ke gerbang istana, sedangkan aku akan melihat pertunjukan tari dengan raja Aiden."
Tiba-tiba saja Calistha teringat akan mimpinya yang di dalamnya juga terdapat Aiden yang sedang berjalan di halaman istana bersama para menteri. Dan semoga saja siasatnya untuk membawa nama Aiden dalam pembicaraan ini akan berhasil.
"Benarkah? Kalau begitu selamat menyaksikan pertunjukan tari Yang Mulia. Saya permisi.
Dengan langkah anggun Calistha mulai berjalan meninggalkan Spencer yang masih setia menundukan kepalanya sambil memandangi pergerakan wanita itu melalui ekor matanya. Setelah dirasa Calistha telah pergi, Spencer mulai menegakan kembali tubuhnya sambil mengamati punggung tegap Max dengan perasaan aneh.
"Prajurit itu.. aku harus segera menyelidikinya." gumam Spencer pelan sebelum ia berjalan pergi menuju sayap kiri istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments